
Pertarungan 3 Iblis Neraka diganggu oleh pasukan titan yang bertujuan untuk balas dendam. Liem terbang tinggi ke langit dan menciptakan sebuah simbol raksasa yang belum diketahui orang lain kecuali dirinya dan Uranus.
Raja titan melihat sosok Satan dengan tatapan rasa dendam, ia mengingat semua pembunuhan yang dilakukannya pada Raja Titan terdahulu atau ayahnya sendiri, tidak sampai disitu, Satan juga mengambil jantungnya dan dijadikan sumber energi baru.
Tangannya yang sangat besar langsung menghantam Satan dan Azazel yang masih bertukar pukulan, Raja Titan tidak menahan kekuatannya. Tiga Gunung langsung menghilang dari tempatnya, tanah dewa gemetar menerima serangan terkuat Raja Titan.
Azazel bukan orang bodoh, ia melompat dan segera berpindah ke tempat yang lebih aman. Matanya terbuka lebar karena seorang titan bisa menggunakan aura yang menyelimuti tubuhnya. “Sejak kapan para titan belajar menggunakan aura. Ini aneh,” gumamnya pelan.
Tanpa menanggapi pernyataan Azazel, sebuah pukulan titan lainnya mengarah padanya yang masih belum siap menerima serangan. Azazel dikirim jatuh hingga tubuhnya menancap di tanah.
Satan menghentikan pukulan Raja Titan dengan tangannya, berkat bantuan Jantung Raja Naga dan Raja Tita, ia memiliki fisik yang sangat kuat. Bahkan kekuatan penuh Raja Titan bisa dihentikannya.
“Sangat tidak terduga, aku suka ini!” teriaknya yang sudah menikmati perang besar tanah dewa.
Zeus yang terbang di langit tanpa sadar gemetar, semua orangnya mati di tangan pasukan Fairy Dance. Ditambah lagi lautan monster dari Tartarus berhasil ditarik keluar dan mereka semua menuruti perkataan Blue.
Sosok pria tampan dengan bekas cakaran muncul di sebelah Zeus, pria itu adalah Raphael yang telah keluar dari Dunia Buatan. Perlu diketahui bekas cakaran itu berasal dari Raul yang menjadi guru pertarungan tangan kosongnya.
“Apa kau sudah menikmati hari tuamu?” tanya Raphael dengan tatapan tenang, ekspresinya sangat datar. Namun bayangan tentang kematian ibunya dan semua saudaranya muncul di pikirannya, Uranus mengatakan jika hal itu terjadi Raphael harus mengendalikan dirinya.
Raphael menghela napas sebelum Zeus menjawab pertanyaannya, ia harus mengendalikan emosinya. Jika berhasil mengendalikan emosimu di depan musuh paling kau benci, maka kejayaan akan menghampirimu.
Zeus menyempitkan mata, ia sempat lupa dengan wajah anaknya sendiri karena anaknya terlalu banyak. “Apa kau bocah Raphael yang tidak punya kekuatan bawaan?”
“Ya, kala itu kau membunuh seluruh keluargaku.”
“Sekarang ayo bantu aku menghadapi musuh yang mengepung kita!”
Raphael menggelengkan kepala dan menghilang dari tempatnya berdiri, tubuhnya tiba-tiba berada di belakang Zeus dan pedang berwarna kuning langsung menusuknya.
Tubuh Zeus sangat kuat, tetapi entah mengapa pedang kuning milik Raphael bisa menembus kulitnya dengan sangat mudah. “Apa yang kau lakukan, Sialan!” teriak Zeus sambil melemparkan pukulan pada Rapahel.
Setelah menerima pukulan Raphael jatuh ke tanah hingga lingkungannya bergetar, tanah-tanah beterbangan dan hancur menjadi debu. “Itu untuk ibuku yang telah kau siksa hingga mati, percayalah aku tidak akan melupakan tusukan pedangmu pada ibuku!” katanya sambil mengeratkan giginya.
Zeus tidak percaya darah dagingnya sendiri menusuknya dari belakang, meskipun tusukan pedang Raphael melukainya itu bisa sembuh dalam sekejap mata.
“Sial, padahal aku ingin mengalahkanmu sendiri. Tapi dengan kekuatanku sekarang, tidak mungkin itu bisa terjadi!” ungkap Raphael yang menyadari bahwa dirinya masih kurang untuk melawan Zeus. Oleh karena itu, sosok pria lainnya muncul di sebelahnya, dia tidak lain adalah Yami.
Raphael mengambil pedang yang sebelumnya dilempar Zeus ke tanah. Meskipun tidak terlalu tajam, pedang itu bisa menembus pertahanan Zeus yang di kenal sangat kuat. Ibunya membuat pedang ini khusus untuk Raphael, ia memberikannya ketika nyawanya sekarat.
Pedang itu mempunyai banyak unsur, salah satunya adalah menghilangkan pertahaan tubuh Zeus. Walaupun bisa menembus pertahanan Zeus, Raphael membutuhkan Buku Neraka untuk melukai jiwa ayahnya itu.
Sekarang Raphael tidak perlu khawatir karena teknik jiwa yang dia pelajari sudah cukup untuk melukai orang yang paling ia benci. Ditambah dengan Yami yang bisa membelah ruang, pertarungannya sudah pasti dimenangkan. Namun ada perasaan bahwa kekuatannya dan Yami belum cukup untuk mengalahkan Zeus.
Yami melihat sedikit keraguan yang terlihat di mata Raphael. “Jangan ragu dan lakukan saja, semua orang di Fairy Dance akan mendukungmu!” katanya memberikan pendorong tambahan.
Yami dan Raphael siap menyerang musuhnya, mereka menggunakan satu pedang dan memberikan serangan kombinasi yang sempurna. Sayatan Yami tercipta dari ayunan pedangnya, Raphael berlari layaknya anak panah yang lebas dari busurnya.
Kecepatan sayatan dan tubuh Raphael hampir sama, tetapi sayatan pedang berhasil mencapai Zeus terlebih dulu. Zeus mengerahkan tangannya dan menghancurkan sayatan pedang dengan sangat mudah, tapi tangannya tiba-tiba berdarah.
“Jadi semua orang dari Fairy Dance punya kekuatan misterius yang bisa mencegah regenerasi. Ini akan semakin menarik, ayo serang aku anakku!” teriak Zeus terlihat sangat senang dengan perkembangan situasi yang semakin kacau.
Raphael muncul dan mengayunkan pedangnya, Zeus menangkap pendangnya dengan tangan kiri dan memberikan serangan balasan dengan tangan kanan. Raphael melepaskan pedangnya dan memutar tubuhnya untuk menghindari serangan lawan. Tidak lupa kaki kanannya bergerak dan memberikan serangan ke tengkuk Zeus.
Tendangan keras berhasil mengenai tengkuk Zeus, tanpa diduga Zeus hampir tersungkur karenanya. Ketika ingin membuang pedang di tangan kirinya, Zeus merasa telapak tangannya terasa perih. Raphael menaik pedangnya dengan kekuatan penuh.
“Argh, sialan aku akan mengingatnya!”
Raphael dengan cepat menusuk Zeus dengan kekuatan penuh. Zeus menanggapi dan melepaskan energi kematian untuk menghentikan serangan lawan, tapi pedang Raphael tetap saja menusuk jantungnya hingga tembus ke punggungnya.
Zeus tidak tahu mengapa semua sistem pertahanan tubuhnya tidak dapat berfungsi di depan pedang berwarna kuning milik Raphael. “Sebenarnya pedang apa itu?” tanya Zeus dengan suara lirih.
“Bukankah kau sudah tahu?” tanya Raphael.
“Sial, jadi itu pedang buatan ibumu!”
Pedang Raphael di angkat tinggi-tinggi, ia akan segera memenggal kepala ayahnya yang akan segera berakhir. Zeus tidak mau berakhir seperti ini, ia melepaskan segel dalam tubuhnya dan mengorbankan umurnya untuk kekuatan.
Raphael tersenyum tipis. “Sepertinya kau sedikit terlambat orang tua!”
Liem dari langit selesai mengaktifkan susunan formasi raksasa, semua musuh Fairy Dance akan terkena efek membatu selama 5 detik dan pertahanan tubuhnya akan menurun drastis.
Kesempatan itu langsung dimanfaatkan untuk menghancurkan Satan dan Azazel yang hanya bisa mempertahankan dirinya. Meskipun seperti itu, tidak ada yang bisa membunuhnya.
Raphael mengayunkan pedangnya, sosok wanita cantik dengan perisai di tangan kirinya menghentikan pedangnya. “Apa ini imbalan yang kau berikan pada orang tuamu?” katanya.
“Tidak terduga, kau ternyata berhasil keluar dari ruang tanpa batas. Pasti kau terikat janji dengan orang tua itu?” tanya Raphael pada Athena yang menghentikan serangannya dengan sangat mudah.
“Tidak juga, aku hanya ingin membalas sedikit budi orang tua ini dan segera meninggalkan tanah dewa.” Athena mengungkapkan tujuannya, ia menghindari pertanyaan yang lebih dalam.
Blue dan Saint Martha muncul di belakang Raphel. Mereka melihat cahaya Athena yang semakin terang dan pemahamannya telah meningkat drastis.
“Apa kau yakin sudah memantapkan pihakmu, Athena?” tanya Blue dengan tatapan tajam.
Athena memejamkan matanya dengan penuh perasaan. “Siapa yang tahu, setidaknya aku akan mempertahankan keyakinanku seperti dirimu.”
“Baiklah, aku akan menerima keputusanmu!”
Blue menarik Dual Secret Sword dan bersiap bertarung, pertarungan antara guru dan murid akan terjadi. Siapa yang menjadi pemenang belum ada kejelasan tapi jika diukur dari kekuatan, Blue bisa membunuh Athena dengan cukup mudah. Namun seburuk-buruknya murid, tidak mungkin membunuh gurunya dengan perasaan rela, khususnya untuk Blue yang selalu menghargai gurunya.