Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Asura vs Blue (3)


Asura sudah kehilangan sebagian darahnya, kulitnya mulai memerah karena teknik pengembangan Dewa Perang miliknya.


Blue tampak santai, tapi sebenarnya ia tidak melepas sedikitpun kewaspadaannya. "Jangan banyak omong, ayo serang aku!" katanya sambil memberi isyarat provokasi.


Sebagai Dewa Perang, Asura tidak pernah merasa terhina seperti ini. Ia langsung melesat dengan kecepatan terbaiknya, satu bulu merak mendahului tinjunya.


Blue terkejut melihatnya, ia sempat membuka lebar matanya. Namun tubuhnya bergerak sesuai dengan perintahnya.


Bulu merak yang setajam pedang milik Asura lewat begitu saja, tapi tinju miliknya berhasil mendarat tepat di pipi Blue.


Pukulannya terdengar sangat keras, tanah-tanah disekitar beterbangan. Gelombang udara menghempaskan Blue hingga membentur gunung.


Namun setelah ledakan besar, Blue muncul di belakang Asura dan menikam dengan Dual Secret Sword.


"Bagaimana bisa?" tanya Asura yang tidak percaya dengan situasi ini. Padahal ia yakin telah menerbangkan Blue dengan tinjunya.


Blue tidak menjawab untuk memperkuat misteri yang sudah dibuat. Setelah berhasil menusukkan Dual Secret Sword, Blue meninggalkan pedangnya tertancap di tubuh Asura.


Blue melompat ke belakang, ia menjaga jarak sekitar 20 meter jauhnya.


Asura mencoba menarik pedang yang menancap di punggungnya. Namun pedang itu tidak bergeming sedikitpun, sehingga HP Asura berkurang sedikit demi sedikit dan memberikan efek perih.


Sembari mengeratkan giginya, ia menarik sekuat tenaga. "Lepaslah sialan!" teriaknya.


Blue tersenyum tipis, ia memerintahkan Dual Secret Sword untuk kembali menghilang dan melepas tikamannya.


Asura terengah-engah, ia mengatur napasnya dan mencoba berdiri tegap. Namun darahnya terus bercucuran dari punggungnya.


"Ini menyenangkan manusia!" teriak Asura sambil tersenyum lebar. Kulitnya semakin merah seiring dengan darah yang keluar dari tubuhnya.


72 %, itulah HP yang dimiliki Asura saat ini. Meskipun hanya berkurang 28%, Asura tampak sangat kesakitan. Hal itu karena teknik Dewa Perang miliknya mengharuskan rasa sakit.


Asura sendiri bukan orang normal, ia sangat menyukai rasa sakit dan membuatnya menjadi sebuah kenikmatan.


Bulu merak yang bertengger di punggung Asura mulai lemas, 8 ujung bulu merak mengarah pada musuhnya.


Bersamaan dengan langkah kaki Asura, delapan bulu merak mekar dan membentuk sebuah pedang.


Blue sadar setiap bulu merak itu sangat kuat, akhirnya ia memutuskan untuk menghindari setiap serangannya.


Karena terus menghindar, Blue dapat menyisakan konsentrasi untuk memperhatikan pergerakan Asura. Ia tidak ingin kesalahan kedua terulang kembali.


Meskipun hanya bayangan yang terkena pukulan Asura, Blue bisa memperkirakan kerusakan yang diterima bayangannya sangat besar. Jadi tidak ada salahnya memperkecil resiko.


Blue berkelok kelok menghindari bulu merak yang menyerangnya, Matanya tetap melihat Asura yang berhenti beberapa kali.


Latihannya dengan para monster pohon langsung diterapkan. Tanpa menggunakan indera penglihatan, Blue berhasil menghindar serangan musuh.


"Bagus!" teriak Asura.


Tepat setelah menyelesaikan perkataannya, tinju Blue mendarat di pipi dewa Asura.


"Bam," suara benturan tinju dan kulit pipi terdengar keras.


Blue segera menarik tangannya dan melompat mundur. Tangannya melambai memberikan isyarat pada Dual Secret Sword. Namun tepat sebelum Dual Secret Sword menyerang, Blue menghentikannya.


"Kau pikir aku tidak tahu!" ucap Blue dengan nada mengejek.


Asura berdiam diri berharap punggungnya tertusuk lagi. Setelah tertusuk, ia akan mengendalikan energinya menjadi benda lengket. Sehingga Dual Secret Sword yang terkena energi lengket dapat di deteksi dimana letaknya.


Sayangnya Blue punya Mata Dewa yang sangat mengesankan, jadi ia bisa mencegah hal tersebut terjadi.


Dual Secret Sword masih melayang di sekitar Asura, tetapi tidak menyerang untuk sementara.


Karena Asura tidak bergerak dan fokus menciptakan energi lengket, Blue mengambil Batu Mana dari dalam ruang penyimpanan.


"Mari pesta kembang api!" teriak Blue memberikan isyarat pada semua robotnya.


Tidak mau kalah dengan para robotnya, Blue melempar Batu Peledak untuk memberikan kerusakan jarak jauh.


Peluru dan rudal di tembak terus menerus. Semuanya berhasil mengenai target karena Asura hanya diam.


Melihat kesempatan yang diberikan, Blue semakin ganas. Ia melempar dengan kecepatan yang lebih tinggi.


Asura masih belum bergerak, ia sudah kehilangan banyak HP tapi masih setia menunggu Dual Secret Sword menyerangnya.


Blue tersenyum tipis, ia terkesan dengan kegigihan Asura. Meskipun dalam sekejap ia kehilangan 20% HPnya, Asura masih fokus menunggu Dual Secret Sword.


Karena ingin menang, Blue sendiri juga tidak mau menyerah dengan Dual Secret Sword. Hal itu bisa menjadi bumerang untuknya sendiri.


Waktu berlalu, Asura masih berdiri dan menunggu serangan Dual Secret Sword. Disisi lain Blue sedikit kewalahan karena Batu Mana yang menjadi sumber energi para robot mulai terkuras.


Meskipun energi mereka bisa terisi otomatis, serangan bertubi-tubi tidak memberi mereka waktu untuk meregenerasi energinya.


"Berhenti!"


Blue melangkah mendekati Asura, ia tersenyum manis melihat musuhnya yang membatu.


"Apa yang terjadi dengan semangatmu sebelumnya?" tanya Blue dengan nada provokasi.


Asura melirik ke arah Blue, ia sedang menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan rencananya.


Blue yang mendekat tidak sadar bahwa ia masuk dalam jebakan. Tangan kanan Asura menghilang dan tiba-tiba muncul mencekik Blue.


Tenaga Asura sangat kuat, ia langsung mengangkat tubuh Blue yang cukup kecil dibandingkan dengannya.


"Akhirnya aku menangkapmu, tikus sialan!" kata Asura sambil mengeratkan gigi karena kesal.


"Turunkan aku ayo bertarung dengan jantan!" kata Blue mencoba mencari jalan keluar terbaik.


Sayangnya Asura sudah berubah dalam wujud yang hampir sempurna, artinya ia hampir ke hilang setengah HPnya.


"Haha, kau tidak akan bisa menipuku!" ucap Asura yang langsung meremas leher Blue hingga membiru.


Setelah beberapa saat, Asura menyadari ada yang salah dengan genggaman tangannya. Ia segera melepaskan cengkeraman dan melompat ke belakang.


Sayangnya itu sudah terlambat, Blue masuk dalam mode bertarung. Jubah Raja Api mengeluarkan warna emas yang menyilaukan.


8 sayap hitam muncul di punggungnya, ada aksen emas di setiap patahannya.


Blue menjadi sangat tampan dengan rambut putih sepanjang punggungnya. Matanya tampak sayu dan memancarkan ketenangan sejati.


Asura tidak peduli dengan tekanan musuh. Bahkan jika ada Satan yang menekannya dengan hawa membunuh, Asura masih bisa menyerang tanpa rasa takut.


Tepat sebelum bulu merak menyentuh jubahnya, Blue segera bergerak dan menampar Asura hingga berputar beberapa kali.


Asura yang terkejut langsung melihat wajah musuhnya. Namun sebuah sepatu berwarna putih salju sudah ada di depan mukanya.


Blue menendang Asura layaknya sebuah bola sepak, ia segera mengejarnya tepat setelah di tendang.


Asura melepaskan energinya sekali lagi untuk menstabilkan pijakan. "Bagus manusia, kau memang yang terbaik!"


Blue muncul di depan Asura dan menendang perut lawannya dengan dua kaki.


"Ugh...." Asura hampir muntah karena tendangan dua kaki tadi sanga menyakitkan.


Setelah sekian lama tidak bertarung dengan serius, Asura akhirnya mulai mengakui lawannya.


Lingkaran yang muncul di belakang punggungnya mulai berputar. Sebuah cahaya warna warni muncul membentuk segi lima.


Blue punya firasat ini bukan keadaan yang menguntungkan untuknya. Akhirnya ia mencoba untuk berlari sejauh mungkin.


Namun, Asura berhasil mengejarnya dan melepaskan pukulan ke punggung Blue hingga ia terpelanting.


"Ugh...."


Blue hampir muntah darah, ia menghantam tanah di bawah hingga lingkungan disekitar bergetar.


Asura tampak kehilangan kesadaran, yang ada sekarang hanyalah insting bertarungnya. Namun nyatanya Asura bisa mengendalikan emosinya dalam batas tertentu. Jadi dengan kekuatan besar seperti itu, Asura masih sadar.


Blue harus lebih berhati-hati, ia langsung menggerakkan kakinya dan berlari menjauh. Alasan sebenarnya ia berlari bukan karena takut, tapi karena ada sebuah desa di belakangnya. Jadi Blue memilih untuk menjauh.


Tidaknya terlihat seperti seorang pahlawan, padahal nyatanya tidak. Bangunan dan rumah sanga menggangu penglihatan, sehingga itu akan menyulitkan untuk pertarungan.


Setiap kali Asura menginjakkan kakinya di tanah, lingkungan bergetar layaknya seperti gempa bumi.


Blue terbang rendah menggunakan Sayap Hitam, ia tidak menggunakan kecepatan terbaiknya karena untuk kepentingan lainnya.


Setelah cukup jauh dari desa, Blue memunculkan satu pedangnya. Namun Asura tidak bisa dibohongi untuk kedua kalinya.


Asura sudah siap akan serangan dari segala arah, raut wajahnya memancarkan ketakutan.


Blue tidak bisa menggunakan serangan diam-diam, ia sadar bahwa lainnya sudah siap daripada sebelumnya.


Untuk menciptakan ilusi yang lebih bagus, Blue menggunakan Pemecah Pikiran sekali lagi.


Ia membelah dirinya menjadi tiga, sehingga dua lainnya akan siap dengan tindakan tak terduga.


"Kau sangat pandai belajar ya!" ucap Blue mencoba mengulur waktu.


Asura menjawab dengan singkat, "Bodoh!"


Dia mengisyaratkan bahwa dirinya ingin menyalahkan seseorang. Orang yang ingin disalahkan tidak lain adalah Blue itu sendiri.


Asura berlari sekali lagi, ia memanfaatkan cahaya di lingkaran dewa untuk membuat celah. Sayangnya rencananya gagal, Blue tidak berkedip sama sekali.


"Bukankah ini hanya mainan anak-anak?" tanya Blue memprovokasi lawannya.