
Liga Langit di lantai pertama selesai, Blue mendapat keuntungan yang melimpah. Batu mana kuning di tas penyimpanannya sudah melimpah, jadi Blue tidak perlu menghitungnya lagi.
Lucas berdiri dan segera meninggalkan gedung liga langit. Karena sudah menang banyak, ia mencoba menggunakannya secepat mungkin.
Untuk menyewa ruang pelatihan, Lucas menghabiskan 20 Batu Mana Putih. Dengan cepat ia masuk ke dalam ruangan, Blue juga mengikutinya tapi masuk ke ruang yang berbeda.
"Tempat yang sangat menarik." Blue melihat kanan dan kiri, ia merasakan asanya aura dewa yang melimpahkan.
Liem dan Kitty masuk ke ruangan yang berbeda-beda. Keduanya menggunakan wujud manusia sempurna untuk menyamarkan identitas. Merasakan ruangan yang kaya akan aura dewa, Liem dan Kitty langsung menyerapnya dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Perlu diingat, Liem dan Kitty mendapatkan pengajaran langsung dari pengetahuan Blue tentang teknik jiwa. Meskipun Liem adalah titisan Lucifer, ia masih menggunakan pengajaran Blue karena lebih efisien.
Berbeda dengan mereka berdua, Blue malah tertarik dengan simbol dewa yang dipasang. Tangannya meraba dinding dan merekam semua goresannya untuk dirinya sendiri.
"Ini tidak benar, pasti ada sesuatu yang lebih rumit!"
Energi jiwa dilepaskan untuk mencari simbol utama dari gedung ini. Ia segera duduk dan fokus mempelajari setiap goresan dan ukiran yang saling terhubung.
Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya Blue mendapatkan titik terang. Ternyata ada Batu Mana berwarna Merah di bawah gedung, semua simbol penting terukir di batu tersebut.
Jadi inilah penyebab utama mengapa tanah dewa malah miskin aura. Semua aura dewa telah di serap gedung pengumpulan aura, bukannya berpikir positif, Blue malah menduga bahwa ini memang sengaja dibuat.
Tanpa menunggu lama Blue langsung keluar ruangan dan berbicara dengan penjaga gedung. "Tuan, siapa yang membangun gedung mewah ini?"
"Apa kau tidak tahu? Pemilik gedung disini tidak lain adalah Moris!"
Blue langsung teringat pada sosok dewa yang memberikan keterampilan Gate ketika petualangannya dimulai.
Moris adalah dewa netral yang tidak memihak siapapun, ia menguasai 2 Kerajaan dan 12 Kota. Selain itu Moris juga punya asosiasi pedagang yang di makanan Heaven Merchant atau sering disebut Perkumpulan Pedagang Surgawi.
Kekayaannya tidak kalah dengan para Hakim Agung, pengaruhnya juga tidak kalah dari Hades ataupun Dewa Kehidupan Osiris.
Meskipun Moris mempunyai kekuatan dan kekuasaan, entah mengapa dirinya dikucilkan. Blue segera mencari tahu informasi tersebut di bar terdekat.
Ia segera masuk dan memesan beberapa minuman penghangat tubuh. "Paman, aku pesan 2 gelas jumbo!"
Seorang pria berjenggot mendekatinya, Blue segera tersenyum dan menyodorkan satu gelas pada pria tersebut.
"Oh, kau anak muda yang pengertian. Jadi apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin informasi tentang Moris."
"Harganya sangat mahal, kau tidak bisa menggunakan Batu Putih!"
Batu Putih yang dimaksud adalah batu mana, penduduk biasa menyebutnya seperti itu.
Blue tersenyum dan menyodorkan satu Batu Mana Kuning dari perjudian di Liga Langit. "Jangan meremehkan tuan muda ini!"
Pria berjenggot tersenyum manis dan menarik Batu Kuning kedalam kantong khusus. "Moris adalah pendiri kota ini!"
"Semua orang juga tahu itu, dimana dia sekarang?" tanya Blue pelan.
"Tidak ada yang tahu dimana dia sekarang, tapi rumor mengatakan Hades menculiknya dan menyekapnya di suatu tempat. Ketika salah satu kota atau kerajaan Moris di serang, Hades akan menyingkirkan para penyerang dan menjatuhi hukuman berat pada penjahat."
Blue mengerutkan alisnya, ia sama sekali tidak kepikiran sampai kesitu. Jika memang Moris disekap, Zeus dan Hades akan segera bertempur.
"Apa untungnya Hades menyekap Moris yang netral?"
"Mungkin kau baru disini, Moris punya julukan sang reformasi. Pemikirannya tidak kalah dari Athena, sayangnya dia selalu kalah di hadapan dewi kejam itu!"
"Dewi Kejam?"
"Athena selain bijaksana, ia juga dikenal sangat kejam. Tidak ada musuhnya yang selamat dari genggamannya. Rumor mengatakan dia adalah orang yang membunuh Posaidon, calon suaminya!"
Blue hanya tersenyum kecut, sebenarnya dialah yang mengirim Posaidon ke alam neraka. Namun kebenaran ini tidak ada yang tahu, jadi Blue lebih memilih diam.
"Harga yang kau bayar hanya cukup untuk ini, sebaiknya jangan mencari gara-gara dengan Hades dan sekutunya." Pria berjenggot meminum bir di dalam gelas dengan sekali tegukan. Kemudian dia pergi sambil melambaikan tangannya ke Blue.
Disisi lain Blue merasa curiga dengan pria berjenggot, dia merasa ada sesuatu yang ditutupi. Karena penasaran, Blue meninggalkan minumannya dan segera mengenakan topeng khas Fairy Dance.
Langkah kakinya tak terdengar, Blue mengikut pria berjenggot yang ternyata adalah seorang pendekar setara dengan Dewa Tingkat Menengah. Dari awal Blue tidak mau percaya sepenuhnya, tetapi informasi yang diberikan pria itu merujuk pada kebenaran.
Pria berjenggot melihat kiri dan kanan, ia membuat sebuah simbol aneh dan pintu terbuka dari sela-sela batu.
"Simbol ini tidak mudah."
Blue membuka rekaman vidio dan menirunya dengan teliti, setelah lima menit ia berhasil membuka pintu rahasia.
Tanpa rasa takut Blue segera masuk dan mendapati dua patung penjaga. Langkahnya berhenti lagi, ia menggunakan Mata Dewa untuk memastikan itu aman.
Setelah mengaktifkan mata dewa, ternyata memang tidak ada jebakan sama sekali. Namun ada sebuah simbol yang merekam keberadaannya, Dual Secret Sword langsung terbang dan menghancurkannya.
Sayangnya itu menjadi langkah ceroboh, keberadaan Blue sepenuhnya diketahui pria berjenggot.
"Anak muda yang keras kepala, sepertinya dia belum puas dengan informasinya."
Sosok pria tua di sebelahnya mengerutkan kening. "Sepertinya aku mengenalinya."
"Anda serius? Pria itu mencoba mencari informasi rahasia tentangmu."
"Untuk sekarang jangan membuat masalah, dia tidak mungkin sampai sini."
"Baiklah," kata pria berjenggot, kemudian ia segera keluar dari ruang rahasia.
Berbeda dengan Blue yang masih berusaha keras untuk memecahkan simbol yang ada di dalam ruang rahasia. Meskipun sudah beberapa jam, ia belum mendapatkan kemajuan apapun.
Karena sudah terdesak, ia memanggil Bee dan Elvy. Keduanya langsung keluar dalam wujud lebah dan sebuah hamster berwarna putih.
"Sepertinya kau sedang kesusahan," ejek Bee yang selama ini memperhatikan dari dalam ruang penyimpanan. Karena pandangan di ruang penyimpanan lebih luas, ia sudah menemukan beberapa petunjuk.
"Kuncinya ada di sudut kanan simbol, ada beberapa simbol pengalihan. Gunakan mana atau aura untuk menghilangkannya." Elvy malah memberitahu kartu as Bee yang ingin dibanggakan.
"Hei sialan, kenapa kau mengatakannya!"
Sebelum Elvy menjawab, Blue sudah membuka kunci untuk masuk ke ruang selanjutnya. Meskipun dia tidak marah pada Bee, Blue merasa ada yang mengawasinya dari tadi.
"Apa kau masih ingin bersembunyi?" tanya Blue tanpa mengetahui lawan bicaranya.
Tidak ada jawaban sama sekali, Blue sempat goyah dengan pendiriannya. Namun instingnya mengatakan bahwa ada sosok dewa yang sedang menontonnya.
Setelah berdiam diri selama 30 menit, akhirnya pria tua muncul dari kekosongan. Lelaki tua itu tidak lain adalah Moris yang telah menjadi Dewa Puncak.
"Aku tidak menyangka akan bertemu dengan anda secepat ini, Tuan." Blue membungkukkan badannya untuk memberikan penghormatan pada Moris.
"Nak, sebenarnya siapa kau ini?"
"Blue, pemain yang anda berikan keterampilan Gate."
Mata Moris langsung melebar, ia tidak percaya pemain yang beberapa tahun lalu masih seorang bocah sekarang ada di tanah dewa.
"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Moris yang menganggap kejadian ini hanyalah tipu daya musuhnya.
Blue tersenyum dan menggunakan Gate tepat di depan Moris. "Aku sudah meningkatkannya menjadi level 16!"
Moris sedikit terkejut, padahal keterampilan yang ia berikan tidak mungkin dikembangkan sampai sejauh itu. Dia segera menyadari bahwa bocah didepannya bukan pemain biasa.
"Bagus, sekarang berikan bayarannya!"
"Apa anda juga lupa sebenarnya Gate adalah hadiah untukku setelah menyelesaikan satu misi. Padahal anda memberikan 3 misi, sungguh dewa yang kejam."
Blue mengarang cerita supaya mendapat simpati dari Moris. Bukannya simpati, Moris kalah marah dan menunjuk Blue.
"Bohong, aku tidak pernah melakukannya!"
Blue berwajah bersalah. "Tuan, mungkin anda lupa. Gate hanyalah skill sampah yang tidak bisa digunakan oleh pemain biasa sepertiku!"
Moris memang sudah tahu syarat penggunaannya adalah penggunaan mana yang berlebihan. Blue bisa menutupi kekurangan mana dengan kekayaannya.
"Hehe."
Setelah mendengar ocehan Blue tentang keluh kesahnya, Moris mencoba melarikan diri ke ruangannya.
Blue belum kehilangan senyumnya, ia sudah menghapal semua simbol jebakan dan penghalangnya. Jadi mengejar Moria bukan sesuatu yang sulit karena dewa didepannya bukan seorang petarung.
Moris tersenyum tipis dan melihat belakang. Ia merasa senang karena Blue tidak bisa mengimbanginya. Namun setelah menengok ke sisi lainnya, ia melihat Blue dan dua rekannya saling mengobrol dan memecahkan semua simbol jebakan.