
Pembicaraan mereka sedang diperhatikan beberapa orang, Blue bisa menyadarinya karena banyak aura yang mendekat.
Liem yang sadar akan hal tersebut langsung mengibaskan tangannya. Sebuah pelindung muncul untuk mengamankan pembicaraan.
Sebenarnya mereka tidak peduli dengan pembicaraan Blue dan Alfaro, tapi mereka memperhatikan Kitty yang berwujud kucing.
"Sebaiknya kita bergerak masing-masing. Aku akan mendukungmu dari belakang." Alfaro berdiri dan meninggalkan restoran.
Meskipun ia hanya Dewa Sangat Rendah, otoritasnya sebagai hakim dipandang sangat tinggi. Jadi keamanannya di dalam desa bisa terjamin.
Blue melirik seseorang yang ada di lantai satu, ia memperlihatkan ekspresinya yang tersenyum manis. "Apa kau punya bisnis denganku?" tanya Blue menggunakan telepati.
Keterampilan telepati sudah umum di tanah dewa, jadi wajar saja mereka semua bisa menggunakannya. Karena Blue adalah pemain pertama yang masuk tanah dewa, ini sedikit menarik minat para penduduk asli.
"Tidak ada yang penting, ayo bicara diluar."
Pria berbaju coklat itu pergi meninggalkan meja dan keluar dari restoran. Blue tidak mau meninggalkan masalah yang besar, ia mengikutinya keluar desa.
Keduanya saling berhadapan, Blue berhenti 5 meter di depan lawan bicaranya. "Apa di sini cukup?"
Pasalnya Blue dan pria berbaju coklat itu telah masuk ke dalam hutan cukup dalam.
Pria berbaju coklat berbalik dan segera melepas topi jerami yang dia kenakan. "Apa hubunganmu dengan Alfaro?"
"Tidak ada, aku baru bertemu dengannya hari ini!"
"Mana mungkin orang keras kepala sepertinya berbicara dengan orang tak dikenal. Jangan berbohong dan katakan yang sesungguhnya!"
Blue menggelengkan kepala. "Sudah aku katakan, kami tidak punya pertemanan. Kebetulan tadi kita bertemu di pinggiran desa."
Mata pria berbaju coklat memancarkan cahaya berwarna kuning. Ia menggunakan mata dewa untuk mengintip informasi dari lawan bicaranya.
Namun ekspresinya langsung berubah ketika melihat tanda tanya besar di sebelah Blue. Matanya terbuka lebar untuk meningkatkan fokusnya.
Blue tersenyum tipis untuk memprovokasi lawan bicaranya. "Orang lemah sepertimu tidak akan bisa melihat statusku. Sepertinya Dewa Ebisu sudah tidak sabar menungguku."
Pria berbaju coklat langsung menarik sebuah pisau dari bajunya. Kakinya melangkah dengan cepat dan menikam Blue dengan senjata rahasia milik Dewa Ebisu.
Sayangnya Blue bukan pemain biasa, salah satu Dual Secret Sword langsung menghentikan serangan itu. Kemudian pedang lainnya menusuk pria berbaju coklat.
Meskipun tidak dapat membunuh seorang dewa, kerusakan pasti yang ditimbulkan Dual Secret Sword memberikan rasa sakit. Ditambah lagi energi kekacauan yang menusuk sampai ke darahnya.
Pria berbaju coklat melompat mundur untuk mengamankan dirinya. Alisnya mengerut karena ia sama sekali tidak merasakan energi dewa, tapi entah mengapa rasanya sangat menyakitkan.
Blue tersenyum tipis menatap pria berbaju coklat, meskipun terlihat tenang, sebenarnya ia cukup terkejut dengan kejadian tidak terduga ini.
Walaupun sudah menggunakan Dual Secret Sword dengan maksimal, HP musuhnya tidak kurang sama sekali.
Sekarang ia sadar, darah milik para dewa tidaklah sedikit. Terbukti 100 ribu kerusakan tidak dapat menggerakkan bar darahnya.
"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya pria misterius berbaju coklat. Meskipun kerusakan yang dihasilkan Blue tidak seberapa, ia merasa regenerasinya berhenti tidak bergerak.
"Bukan apa-apa," jawab Blue dengan santainya. Dual Secret Sword kembali ke genggamannya, ia tidak memberikan celah dan segera menusuk musuhnya.
Karena Blue hanya ingin menguji lawan, ia tidak menggunakan kekuatan penuh. Makanya pria berbaju coklat itu bisa menghindarinya.
Melihat musuhnya menghindar dengan keterampilan khusus, Blue menajamkan matanya menggunakan Langkah Cahaya dan menebas musuhnya.
Sayatan pedang menghantam pria berbaju coklat. Kerusakan sebanyak 20 kali muncul di atas kepala musuhnya, keterampilan ini biasa di sebut Gelombang Kejut.
Musuh terlihat panik, ia mundur beberapa langkah. Sayangnya Kitty sudah menyusun simbol peledak skala besar.
Tepat ketika musuh menginjak tanah, ledakan muncul dan memberikan kerusakan besar pada tubuh pria berbaju coklat.
Ini sudah di luar nalar, seorang pendatang tanah dewa memberikan kerusakan terus menerus pada seorang veteran. Meskipun terlihat aneh, Blue bisa melakukannya.
Kecepatan Blue sedikit dinaikkan, musuhnya kewalahan. Senyum tipis muncul di raut wajahnya, Blue terlihat menikmati pertarungan.
Darah seorang dewa terus turun, itu karena Dual Secret Sword bisa menghentikan regenerasi dewa sepenuhnya.
Hanya ada ayunan pedang dan ledakan dimana-mana, anehnya pria berbaju coklat itu tidak dapat menemukan kesempatan untuk menyerang.
"Tunggu, aku bukan musuh!"
Blue tidak menghentikan serangannya. Ia sudah melihat bahwa kesetiaan pria di depannya hanya untuk Dewa Ebisu.
"Aku ada di pihak Raphael, ini salah paham!"
Blue tersenyum, ia tidak menghentikan serangannya. "Jangan bercanda, apa kau pikir bisa membohongiku, Yuji Sang Tangan Kanan Dewa Ebisu."
Siapa yang tidak terkejut mendengar informasinya dibongkar. Yuji yang panik langsung mengeluarkan artefak Dewa Keberuntungan, Kalung Ebisu.
Tidak hanya keberuntungannya yang naik, tetapi statusnya menjadi dua kali lipat dari sebelumnya. Blue tidak terkejut, karena ia sebelumnya hanya menggunakan 20% kekuatannya.
Yuji mencoba merubah wujudnya menjadi seekor rubah dengan kalung keberuntungan. Tubuhnya membesar dan menarik perhatian para penduduk tanah dewa.
Sedikit demi sedikit orang mulai berdatangan, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa manusia hewan dan manusia punya perselisihan.
Kitty merubah wujudnya menjadi manusia, ia menghentakkan kakinya. "Langkah Pertama!"
Gravitasi di sekitar Yuji meningkat drastis, tubuh rubah besar menghantam tanah hingga tidak bisa berdiri.
Liem menempelkan kedua telapak tangannya, matanya terpejam. "Segel 9 Gerbang!"
9 gerbang muncul di langit dan menyegel rubah raksasa. Segel itu terletak di kepala, empat kaki, ekor, dan tiga di badan.
Tidak hanya menyegelnya, Darah Yuji terus berkurang bahkan kesadarannya mulai pudar karena Liem dan Kitty tidak memberinya kesempatan.
Disisi lain Blue juga bukan orang baik, ia melemparkan sebuah kertas supaya Yuji lepas kendali dan mati penasaran.
Seperti yang diharapkan Blue dan teman-temannya, Yuji berteriak hingga kehilangan kesadarannya.
"Teman-teman, monster raksasa menyerang desa. Ayo bunuh dia!" teriak Blue dengan nada sedikit panik.
Karena mendengar suara ketakutan, para penduduk desa segera menarik pedangnya dan menyerang Yuji.
Tanpa melalukan apa-apa, Blue melihat darah musuhnya berkurang terus menerus. Tidak lupa ia juga memberikan sedikit kerusakan setiap 10 detik supaya regenerasinya berhenti.
Karena banyaknya orang yang menyerang, tubuh Yuji menjadi transparan kemudian meledak berkeping-keping. Blue tersenyum karena Dual Secret Sword mendapatkan energi dewa untuk pertama kalinya.
...[Selamat Blue telah menjadi pemain pertama yang membunuh Dewa Rendah.]...
...[Dual Secret Sword merasa senang karena energi jiwanya sangat enak.]...
Disisi lain, Dewa Ebisu melihat papan nama Yuji yang meledak tampak sangat marah. "Siapa kau sebenarnya, aku tidak akan memaafkanmu!"
Kakinya langsung melangkah keluar ruangan, ia tidak mau menunda waktu untuk membalaskan tangan kanannya.
"Kenapa terburu-buru," ucap sosok pria tua.
Kakinya melayang, dia adalah sosok dewa yang menjadi salah satu hakim agung di Pengadilan Surgawi. Dibelakangnya ada Alfaro yang sudah babak belur karena interogasi.
Awalnya Alfaro tidak mau mengaku bahwa penyerangnya adalah Dewa Ebisu. Blue dan dia berencana mengulur waktu sampai persiapan perang selesai.
Namun Hakim Agung merasakan keanehan dan menyuruh bawahannya memeras informasi dari Alfaro. Sayangnya keinginan untuk hidup Alfaro lebih tinggi dibandingkan dengan kerahasiaan informasi.
"Hakin Agung, aku tidak punya waktu untuk ini. Tolong minggir!"
"Apa yang terjadi? Aku tidak pernah melihatmu gelisah seperti ini." Matanya bergeser pada papan nama yang jatuh di lantai. Siapapun pasti sudah tahu bahwa salah satu orang Dewa Ebisu telah tewas.
Alfaro di belakang Hakim Agung sedikit terkejut melihatnya. Padahal dia dan Blue baru saja berpisah, tapi pria aneh dan dua rekannya itu bisa membunuh Yuji.
Meskipun tidak masuk akal, Alfaro hanya bisa percaya karena Blue adalah satu-satunya yang berani memprovokasi Dewa Ebisu.
Hakim Agung tidak mau memberikan ini terus berlanjut. "Tolong kerja samanya, Dewa Ebisu. Aku datang kesini hanya untuk memastikan apa kau menyuruh anak buahmu menyerang Alfaro?"
Nadanya tampak tenang tapi aura yang dipancarkan menekan Dewa Ebisu hingga tidak bisa berkata apa-apa. Hal itu membuat Hakim Agung tersenyum.
"Artinya kau tidak dapat membantahnya. Jadi siapa yang menyuruhmu melakukan ini?"
"Maaf Hakim Agung, bisa kita teruskan pembicaraan ini nanti saja apa. Mayat Yuji akan segera hilang!"
Dewa Ebisu langsung menghilang, dia berusaha susah payah menemukan jiwa Yuji untuk dibangkitkan kembali.
Tidak butuh waktu lama untuk Dewa Ebisu menemukan jiwa Yuji yang sangat lemah. Blue sudah tahu ini akan terjadi, makanya ia bersembunyi dan melihat wajah Dewa Ebisu.
Karena ini bukan waktu yang tepat untuk membuat kerusuhan, Blue memilih untuk bersembunyi sementara waktu.
"Apa Alfaro berkhianat?" gumam Blue pelan.