
Blue menatap Raja Iblis tingkat 3 itu dengan serius, sebenarnya ia masih bisa mengalahkannya dengan sedikit usaha. Namun ia berpikir untuk berpura-pura dan membuat musuh lainnya lengah.
Pupil matanya melirik ke arah kanan, ia melihat Liem yang sudah bersiap dengan keterampilan bom api miliknya.
"Baiklah, aku tidak akan menghentikan pertarungan mereka." Blue mengembalikan pedang ke tempatnya, ia berjalan ke arah Raja Iblis yang tanpa senjata.
"Aku akui kau mempunyai nyali yang tinggi." Raja Iblis juga berjalan mendekat, tangannya langsung bersiap pertarungan jarak dekat.
Blue juga menggunakan kuda-kuda beladiri yang ia kenal sebagai baguazhang. Tatapan matanya menajamkan dan telapak tangannya mulai aktif menyerang.
Raja Iblis mencoba membuat pergerakan pertahanan. Namun pergerakan musuhnya sangat aneh sehingga membuatnya kewalahan.
Blue tersenyum tipis untuk memprovokasi musuhnya, ia menggunakan tangan kosong untuk membuat kerusakan kecil tapi terus menerus.
Setelah pertarungan tangan kosong beberapa saat, Raja Iblis mulai tak sabar karena ia sama sekali tidak bisa menyerang maupun menangkis. Ia akhirnya menggunakan sihir berskala besar hingga membuat sekitarnya meledak.
"Manusia bajingan..!"
Sebelum menyelesaikan perkataannya, 100 jarum menusuk punggungnya dan ledakan super besar terjadi di dalam tubuhnya.
Raja Iblis mulai marah, ia menoleh kebelakang dan Blue menancapkan dua pedang ke tubuhnya. "Lebih baik perhatikan musuhmu dengan benar!" ucapnya pelan.
"Kau pikir ini bisa melukaiku?"
"Tentu bisa."
Raja Iblis melebur menjadi api, tubuhnya menghilang dan muncul kembali beberapa meter di depan Blue.
"Kau lihat, serangan mu tidak berpengaruh padaku!"
Blue tidak menjawab, ia mendekat dan mengayunkan pedangnya terus menerus hingga raja iblis itu sadar ada yang berkurang darinya.
Merasa tidak aman, Raja Iblis terbang ke atas dan mencari apa yang hilang dari dirinya. Blue tidak membiarkan itu terjadi, ia mendekat dengan sayap hitam dan mengayunkan pedangnya terus menerus.
Ayunan pedangnya terasa aneh karena Blue menggunakan teknik Pedang Kaku yang jarang diketahui orang. Ditambah lagi pengalamannya yang cukup mempuni membuatnya bisa merubah target serangannya berubah-ubah.
Raja Iblis sama sekali tidak berkutik, ia hanya bisa menerima kerusakan terus menerus. Perlu diingat setiap ayunan pedang blue menghasilkan 6000 kerusakan pasti.
Untuk memperpanjang pertarungan, Blue tidak menggunakan skill apapun. Ia hanya mengayunkan pedangnya tanpa henti. Dengan menyelimuti pedangnya dengan prana, ayunan Blue tampak berat hingga membuat Raja Iblis mulai kesakitan.
"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Raja Iblis yang kebingungan tubuhnya terasa sangat sakit.
"Siapa yang tahu!" jawab Blue sambil mengangkat kedua bahunya, sesekali ia melihat pertarungan Terry dan Yami yang sebentar lagi selesai.
Tentu saja Yami yang mendominasi pertarungan, Terry menggunakan seluruh kekuatannya untuk bertarung melawan pangeran pertama.
Sampai akhirnya pangeran pertama tertusuk pedang di perutnya. Seteguk darah segar keluar dari mulutnya.
"Awalnya aku tidak memperhatikanmu, sialan ternyata aku mati di tangan adik keduaku!" ucap pangeran pertama sambil tersenyum.
"Aku tak tahu mengapa harus melakukan ini, tetapi jika adikmu ini tidak menghentikan mu, pasti akan banyak korban yang berjatuhan!"
Pangeran pertama tertawa terbahak-bahak. "Haha, aku tidak pernah menyangka kau memikirkan rakyat yang sebentar lagi akan dikuasai iblis."
"Setidaknya aku masih berusaha disisi manusia dibandingkan denganmu!" ucap Terry sambil menarik pedangnya.
Pangeran pertama tergeletak di tanah, tidak mungkin untuknya diselamatkan. Yami memasukkan lagi pedangnya, ia menatap tubuh dingin musuhnya.
Blue tidak tersenyum dan menggunakan Blade Dance untuk mengakhiri musuhnya. Kecepatannya semakin tinggi karena sayap hitam digunakan dengan maksimal.
"Tidak...!" teriak Raja Iblis yang sudah kehilangan nyawanya.
Di samping itu, Blue mendapatkan poin pengalaman yang cukup besar karena membunuh iblis level 400an.
"Dulu Venom harus level 700 baru bisa naik menjadi raja iblis tingkat 3, sekarang ada kecoak sok kuat yang bisa mencapainya. Mungkin ada pembaruan rahasia." Blue menggerutu curiga dengan pembaruan sistem.
Terry mengangkat mayat kakaknya dan mengubur di depan kediaman pribadinya. Ia memejamkan mata sambil memberikan penghormatan terkahir.
Blue tidak mempunyai urusan dengan pangeran pertama yang sudah mati, ia segera menggeledah kediaman pangeran pertama untuk mencari kuncinya.
Tidak butuh waktu lama untuk pria pengguna mata dewa tersebut bisa menemukannya. "Siapa yang akan menyangka pangeran pertama menyembunyikan kuncinya di pakaian dalam kesukaannya."
Setelah mendapatkan kunci pertama, ia hanya perlu mencari kunci keempat. Namun menemukan kunci keempat seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
Terlalu banyak faktor untuk mencurinya dari pangeran keempat. Blue harus mencarinya satu persatu kemudian baru menghadapinya.
Sekarang tujuannya tidak lain adalah mengalahkan pangeran ketiga. Karena tidak mempunyai banyak sekutu, harusnya Terry bisa menyelesaikannya dengan bantuan Yami dan Rafaela.
Blue mendekati Terry yang masih merenung di depan makam kakaknya. "Sudahlah, kamu harus menguatkan hatimu."
"Blue, aku akan menemui ayahanda dan menceritakan semua kejadian ini. Jika ia menghukum ku, tolong selamatkan kedua adikku!"
Terry sudah memutuskan untuk menceritakan semua kejadian pada raja yang berbaring lemah di atas kasur. Blue tidak menghentikannya karena itu bisa memantapkan niatnya.
"Aku akan mendukung semua keputusanmu, tetapi tugasku bukan mengatasi atau menyelamatkan mereka. Tugas itu harusnya ada di benakmu." Blue meninggalkan Terry di depan makan pangeran pertama.
Setelah beberapa saat berjalan, Bee muncul dari ruang penyimpanan. "Apa kau membiarkan pria kecil itu pergi begitu saja?"
"Memangnya apa yang bisa aku lakukan?"
"Rekayasa kondisinya supaya melayanimu seutuhnya, bukankah itu cara yang kau gunakan selama ini."
"Aku tidak akan melakukannya," jawab Blue sambil membuang wajahnya.
Rekayasa kondisi yang dimaksud Bee adalah membunuh raja yang berkuasa sekarang. Dengan begitu, Terry akan marah besar dan menginginkan kekuatan yang lebih besar. Blue akan muncul sebagai pahlawan dan membantunya menyerang semua musuhnya.
Cara yang dimaksud Bee sangat efektif untuk mencari pengikut setia. Namun Blue masih punya sisi keadilan dan kemanusiaan.
Liem dan Kitty akan meningkatkan levelnya di sarang monster lainnya, mereka memburu banyak monster dengan sangat cepat. Dengan pengawasan Yami dan Rafaela, Blue tidak perlu khawatir dan meninggalkannya.
Blue sendiri masuk ke sarang monster yang berbeda, ia sudah lama tidak memperhatikan levelnya. Sekarang ia masih level 215, Blue akan mencoba berburu monster level 220.
Bukannya sombong, status Blue terlalu tinggi untuk ukuran levelnya. Makanya ia terus berburu di wilayah monster berlevel tinggi. Sayangnya pembaruan sistem menghentikan perkembangannya yang berlebihan, sekarang ia harus membunuh monster kecil untuk mendapatkan poin pengalaman.
"Musuhku kali ini hanya seekor kucing kecil." Blue menatap segerombolan harimau mata merah yang siap menerkam makamnya.
Segerombolan harimau langsung berlari ke arah Blue yang berdiri tegap. Mereka menggunakan cakar dan taring untuk melukai mangsanya.
Sayangnya Blue bukan daging yang lunak, ia mengayunkan pedangnya dengan kecepatan super tinggi. Ia langsung menggunakan sayap hitam untuk menuju ruang bos.
Disaat ia mengayunkan pedang, Blue masih sempat menggerutu. "Sial, mereka terlalu lemah!"
Setiap ayunannya berhasil membuat harimau kesakitan. Meskipun kerusakannya tidak terlalu besar, musuhnya tidak bisa menyaingi kecepatannya.
Sesampainya di ruangan bos monster, Blue masih tidak puas dengan pertarungan yang membosankan ini.
"Sialan, ini tuntutan pekerjaan!"
Meskipun tidak suka, Blue harus menaikkan levelnya untuk segera menemukan musuh yang lebih kuat. Ditambah lagi ia sedang mengumpulkan banyak poin status dari 10 ribu kombat.