
Raja Hollow mengambil perang, ia langsung menerjang musuhnya dengan pedang yang sudah di tingkatkan. Ayunan pedangnya memang tidak cepat tapi punya kerusakan yang cukup tinggi, tapi itu belum cukup untuk melukai Lich.
“Jadi kalian para Hollow yang dikabarkan!” kata Lich dengan santainya.
Sudah dapat dipastikan setelah Mata Dewa digunakan, Lich yang mengendalikan monster bukan pemain melainkan seorang penduduk pribumi yang sudah mendapat berkah dari Odin. Dengan kata lain Lich itu adalah bawahan Odin yang menjadi pemeras darah manusia untuk dijadikan tumbal.
Raja Hollow menyempitkan matanya, ia yakin pedangnya sudah mengenai musuh. Namun tidak muncul kerusakan atau sensasi menebas.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Raja Lich yang merasakan bahwa musuhnya lebih kuat dari Raja Lich.
“Apa pentingnya tahu siapa aku, lebih baik kalian siap-siap kehilangan banyak nyawa!”
Seperti yang dikatakan Lich, satu ayunan lengannya langsung membunuh kelompok Hollow, walau tidak ada yang tahu apa yang dilakukan Lich, Blue merasa ada yang aneh dengan kekuatannya.
“Mungkinkah itu otoritas?” ucap Blue yang menonton dari kejauhan.
Raja Hollow bangkit lebih cepat dari lainnya, nyawanya masih terlalu banyak untuk mati dalam beberapa hari. Jadi ia tidak akan mengendorkan serangannya dan menggunakan serangan sia-sia.
Sampai akhirnya Blue menghentikan kelompok Hollow. Dia berdiri di depan Lich yang menutupi wajahnya dengan penutup kepala. Meskipun tidak bisa melihat ekspresinya, Blue menyadari bahwa Lich sedang tersenyum.
“Tidak ada gunanya menyembunyikan identitasmu, apa Odin sudah tidak sabar dan mulai ikut campur?” tanya Blue mencoba menarik pembicaraan yang lebih menarik.
Lich sedikit tercengang mendengar identitasnya langsung terbongkar, padahal ia ingin bermain manusia misterius lebih lama. “Huh, tidak asyik. Tuan sudah bergerak karena kau sudah keterlaluan dan memancing malapetaka ke dunia!” jawabnya setelah menghela napas.
“Malapetaka?”
“Bahkan kau tidak sadar apa yang diberikan kakek tua itu. Anggap saja ini sebagai saran, segera berikan kekuatan itu pada tuan dan semua masalah selesai!”
Blue segera sadar bahwa kekuatan ramalan yang diberikan peramal tua padanya sangat penting untuk Odin. Oleh karena itu mereka mulai bergerak dan ikut campur dalam perang.
“Tentu saja aku tidak mau, ancaman seperti itu tidak bisa menakutiku!”
“Terserahlah, toh semua akan berjalan sesuai ramalannya. Satan yang menjadi monster malapetaka akan datang sebentar lagi, lebih baik persiapkan pasukanmu!”
“Sejak kapan bawahan Odin sangat perhatian, aku pikir kalian adalah kelompok yang menginginkan perang?” tanya Blue sambil tersenyum untuk menggali informasi lebih lengkap.
Lich melampaikan tangannya dan berkata, “Jangan terlalu berharap mendapat informasi dariku!”
Lambaian tangannya tidak hanya untuk mengusir Blue, tetapi untuk memanggil beberapa monster tambahan. Walaupun monster yang menyerang kota sudah lebih dari ratusan ribu, Lich tidak puas dengan hanya menghancurkan kota, ia ingin membunuh semua pemain dan teman-teman Blue.
Melihat Lich meninggalkan tempatnya, Blue segera menarik Dual Secret Sword dan menggunakan keterampilan Gelombang Kejut untuk memberikan serangan kejutan. Namun serangannya tidak efektif melawan Lich manusia yang sudah memadatkan tubuhnya.
Hanya dengan satu tangan kiri, ia menghentikan seluruh gelombang serangan Blue. Lich melihat ke arah Blue dan mengarahkan telapak tangan padanya, 20 gelombang kejut mengarah pada Blue.
“Dikembalikan?” tanya Blue yang terkejut melihat serangannya memantul.
“Otak babi, kau tidak melihatnya. Aku menyerap dan mengembalikannya!” teriak Lich yang tidak terima keterampilannya di rendahkan.
Blue tidak ingin menghadang serangan, ia lebih baik menghindar untuk menghemat kekuatan dalam tubuhnya. Dia hanya turun ke tanah untuk menghindari serangan gelombang kejut.
Lich yang tidak tertarik dengan pertarungan satu lawan satu segera pergi. Meskipun ia sebenarnya menjadi titik serang dari para Hollow.
Raja Hollow memimpin pasukannya untuk membuat serangan gabungan, 26 sayatan pedang langsung menghantam musuhnya. Sekali lagi semua sayatan pedang di hentikan dengan tangan kirinya, tanpa peringatan Lich langsung mengembalikannya.
Raja Hollow dan pasukkannya tidak punya waktu untuk menanggapinya, mereka langsung terbelah dan kehilangan satu nyawanya. Dalam beberapa detik saja mereka sudah bangkit, hal itu karena status mereka sudah meningkat cukup banyak.
“Sepertinya ini lebih sulit dari yang kita kira!” ucap Raja Hollow yang belum menemukan titik terang kemenangan.
Blue tersenyum tipis, ia menemukan petunjuk untuk mengalahkan musuhnya. Tangan kirinya bisa menyerap gelombang atau mungkin serangan mana. Bukankah solusinya sangat sederhana, Blue hanya perlu menyerangnya secara fisik.
Langkah Cahaya digunakan, tubuh Blue tiba-tiba muncul di dekat Lich dan Dual Secret Sword langsung menusuk musuhnya. Namun siapa yang menyangka Lich sudah mempersiapkan Mana Shield untuk melindungi tubuhnya.
“Seperti yang diharapkan dari manusia. Kalian sangat cepat beradaptasi, baiklah aku akan menanggapi permintaan kalian!” kata Lich yang merasa bahwa Blue dan pasukannya ingin melawannya.
“Haha, aku tidak menyangka masih ada Lich yang sangat kuat di dunia ini!” ungkap Blue sambil tertawa.
“Apa kau mulai gila karena seranganmu tidak berpengaruh padaku?” tanya Lich yang tidak diketahui namanya.
“Siapa yang tahu!”
Dual Secret Sword mengubah wujudnya menjadi bentuk sempurna setelah memakan 9 bulu merak milik Asura. Aura berwarna ungu kehitaman menyelimutinya, teknik jiwa sudah turun tangan.
“Sombong sekali kau, Manusia!”
“Bukankah kau juga manusia?”
“Haha ....”
Sebelum menyelesaikan tawanya, Blue sudah sampai di depannya dan tinju tangan kanan segera mendarat ke pipinya. Lich yang tidak menyadari keberadaannya kaget hingga matanya hampir keluar.
“Apa?”
Blue tersenyum tipis, tebakannya ternyata benar. Lich tidak bisa melihat dengan jelas karena matanya berwarna agak terang, itu artinya ia setengah buta dan mengandalkan deteksi mana untuk menentukan posisinya.
“Hei aku di sini!” ucap Blue yang sudah siap meninju lawannya menggunakan tangan kanan.
Rahang kanan bawah Lich terkena serangan telah dari pukulan musuh, ia tidak bisa mengetahui keberadaan Blue karena alasan yang sangat tidak masuk akal. “Bagaimana kau melakukannya?”
Blue tidak menjawab karena dia masih dalam keadaan menyembunyikan aura dalam tubuhnya, jika ia menjawab maka Lich bisa mengidentifikasi kekuatannya dengan mudah. Sebelum itu terjadi, Blue akan memukuli Lich hingga wajahnya lebih jelek darinya.
Perlu diketahui paras Lich itu sangat tampan, Blue bisa melihatnya menggunakan Mata Dewa. Jadi sebelum membuka penyamarannya, Blue berniat memukulinya hingga wajahnya tidak berbentuk. Namun rencananya segera gagal karena Mana Shield digunakan untuk menghentikan tinju Blue.
Tepat setelah Mana Shield digunakan, Dual Secret Sword menusuk Lich dari belakang. Anehnya Mana Shield yang digunakan Lich tidak efektif dan Dual Secret Sword langsung menusuk perutnya.
“Benar seperti inilah manusia yang dikatakan dalam ramalan, baiklah ayo mulai serius!” kata Lich sambil melepaskan mana di sekitar tubuhnya. Penutup kepala yang selama ini menyembunyikan wajahnya terbuka dan matanya tampak putih layaknya seorang Saint.
Anehnya ia memancarkan energi kegelapan yang sangat pekat, Blue teringat sosok yang tampak sama sepertinya. Meskipun tidak sama persis, tetapi mata Saint itu tampak sama seperti Rafaela.
“Rafaela datanglah!”
Sosok Saint yang mempunyai 8 sayap muncul di belakang Blue, Rafaela sudah berhasil membuka segel terakhirnya yang membautnya menjadi Saint yang bisa menyembuhkan semua orang. Mata keduanya tampak sama, tetapi Rafaela bisa melihat dengan baik. Berbanding terbalik dengan Lich yang berada di depannya.
“Oh, akhirnya ada keturunanku yang berhasil mencapai Saint. Sangat disayangkan kau punya tuan yang sangat lemah!” kata Lich mengejek Blue.
Rafaela sangat cerdas, ia tahu musuhnya sedang memprovokasi. “Setidaknya tuanku tidak pernah membuangku sepertimu!”
Seperti yang dikatakan Rafaela, Lich yang berdiri di depan Blue adalah Saint yang di buang tuannya dan berakhir di bawah perintah Odin. Makanya susunan energinya sangat aneh dan tidak teratur, jika dibiarkan mungkin dia akan segera mati. Karena itulah ia membutuhkan energi kematian manusia untuk menekan umurnya dan menambah kekuatannya.
Lich sudah sering mendengar ejekan itu dari banyak Saint. “Apa kau tahu, semua orang yang mengatakan itu pasti akan mati di bawah kakiku!” kata Lich sambil menatap tajam ke arah Rafaela.
“Sayang sekali, aku menjadi musuhmu. Jika Saint yang lain mungkin kau punya kesempatan untuk menang, Kakak!” kata Rafaela dengan suara pelan.
“Untuk ukuran adikku kau memang sombong. Tapi baiklah, demi orang tua kita aku akan membunuhmu!”
Lich dan Rafaela sudah membangkitkan ingatan mereka secara penuh, jadi satu sama lain bisa mengingat kehidupan masa lalunya. Mereka sebenarnya adalah makhluk abadi yang terus bereinkarnasi, kali ini adalah reinkarnasi ke 3 mereka.
Riwayat mengatakan Lich selalu menang, sedangkan Rafaela selalu mati di bawah kakinya. Namun di kehidupan ini takdir tidak menentu, Rafaela berkembang terlalu cepat dan menyusul Lich yang sudah hidup ribuan tahun.
Rafaela melebarkan sayapnya, sebuah pedang keadilan muncul di tangan kanan dan perisai di tangan kirinya. Delapan sayap yang berada di punggungnya melebar dan menutupi cahaya di medan perang.
“Apa yang terjadi?” tanya Reza sambil melihat ke langit.
“Bukankah itu Rafaela!” sahut Dona yang pernah bertarung bersamanya.
“Tetap fokus, kita harus bertahan sebelum pasukan bantuan sampai!” teriak Adam mencoba mengembalikan fokus rekan-rekannya. Sejujurnya dia juga penasaran dengan kekuatan yang ditunjukkan bosnya, tetapi tugasnya sebagai wakil ketua harus dijalankan.
Lich tidak mau kalah, ia melepaskan sayap berwarna putih di kanan dan hitam di kiri. Jumlahnya tidak kalah dengan Rafaela, 8 sayap berhasil di keluarkan dan menutupi cahaya di medan perang.
“Sepertinya ini menjadi akhir dari pertarungan kita!” ucap Lich.
“Jangan banyak bicara, kalaupun aku kalah di kehidupan ini. Tinggal mengulang dan mencarimu lagi!” ungkap Rafaela yang sudah kalah 2 kali.
“Huh, kau masih saja bodoh seperti sebelumnya. Apa kau tidak tahu ini adalah dunia terakhir kita?” tanya Lich.
“Terserah, setidaknya tidak ada penyesalan di dalam kehidupanku ini!” jawab Rafaela segera mengayunkan pedangnya ke arah Lich.
Sebuah sayatan pedang muncul dan mengarah ke Lich yang berdiri santai. Tangan kirinya segera menyerap sayatan pedang yang menyerangnya. Namun sesuatu yang aneh terjadi, tangan kirinya tidak dapat menyerap kekuatan musuh dengan sempurna.
“Apa?” kata Lich terkejut.