
Dihadapan Raja Hollow semua harus tunduk, dia adalah penguasa lantai 10. Artinya untuk masuk ke lantai 9 harus membunuh atau membuatnya menyerahkan kunci masuk.
Untuk pilihan kedua sepertinya sedikit mustahil, tetapi Blue tidak mau menghadapai Raja Hollow untuk sekarang.
Bukan karena dia kuat, tetapi poin berkembang biaknya terlalu tidak masuk akal.
...[Raja Hollow...
...Berkembang Biak : 2 Miliar.]...
"Baiklah, jangan membuat kerusuhan. Para raksasa mulai membentuk koloni, jangan biarkan mereka masuk ke wilayah ini. Wen kau yang akan bertanggung jawab."
Keputusan Raja Hollow tidak sesuai dengan harapan Wen, jadi ia tampak tidak senang. Namun mendengar perintah Raja Hollow, Wen tidak bisa menolak.
Hollow kekar yang melawan Wen sebelumnya juga ditugaskan di wilayah sebaliknya. Raja Hollow sangat bijaksana, jadi Blue harus berhati-hati.
"Raksasa membentuk koloni, ayo segera cari tahu!" Blue menggunakan Gate dan menuju arah Wen bertugas.
Sembari mengikuti perjalanan Wen, Blue menemukan bahwa manusia setengah Hollow itu sangat kejam. Tidak hanya membunuh tentaranya yang melawan, ia juga membunuh kerabatnya.
Di sepanjang perjalanan, Wen juga memangsa Hollow gelandangan. Meskipun nyawa mereka tidak lebih dari 100, itu sudah cukup memuaskan rasa laparnya.
Efek samping dari penggunaan teknik Hollow milik Wen adalah rasa lapar memakan sesamanya. Jadi tidak mungkin dirinya terus berdampingan dengan Hollow.
Sebenarnya Wen mencari cara untuk membunuh Raja Hollow, ia sudah menyiapkan beberapa prajurit khusus layaknya cimera. Prajurit itu terbuat dari troll dan raksasa, jadi kemampuan fisiknya sangat baik. Ditambah lagi ada teknik Hollow yang dikembangkan monster buatan itu.
Blue mengikuti mereka dari belakang, butuh 1 bulan untuk sampai di ujung perbatasan wilayah Hollow.
Wen menyuruh para prajuritnya menyebar dan memantau keadaan. Blue disisi lain sedang bersantai memperhatikan gerak gerik mereka.
"Kenapa mereka lambat sekali!" ucap Bee yang mulai bosan melihat pergerakan lambat para Hollow.
"Habiskan saja itu makanan di mulutmu." Blue menjawabnya dengan sinis.
Wen dengan tatapan kejam melihat sekelompok raksasa. Tanpa menunggu lama ia membuat kerusuhan seorang diri, pedangnya berayun terus menerus menghancurkan semua bangunan musuh.
Karena dia lemah, Wen tidak mungkin menggores kulit kapten raksasa. Jadi ia membuat masalah dengan para prajurit.
Pertunjukan menarik terlihat, Wen menebas kaki para raksasa hingga mereka jatuh. Setelah jatuh pedangnya langsung menusuk mata mereka.
Karena Wen punya kecepatan yang lebih dibandingkan kekuatannya, ia berlari terus menerus dan mengorbankan nyawanya untuk mengembalikan staminanya.
Trik ini sangat sederhana, tetapi Wen berhasil menumbangkan puluhan raksasa tingkat prajurit. Tidak hanya membunuhnya, ia juga menyerap energi kegelapan yang ada di tubuh raksasa.
Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata semua makhluk yang ada di Tartarus memiliki energi kegelapan. Bagi mereka yang bisa mengendalikannya, maka kesadarannya masih ada, jika tidak maka mereka menjadi monster gila.
Untung saja Dwi dan Eka punya energi Kekacauan dan Kehampaan, jadi mereka tidak akan terkontaminasi energi kegelapan.
Melihat Wen membasmi raksasa lemah, terbesit ide cemerlang dari Bee. "Tidak ada yang menarik disini, bagaimana kalau kita menarik perhatian para raksasa."
Blue mengangguk, ia sebenarnya juga mulai bosan karena hanya memburu beberapa Hollow rendahan.
Tubuhnya menghilang layaknya debu tertiup angin, ia segera muncul di kamp pasukan raksasa. Tangannya yang ringan langsung menyerang salah satu kapten ras raksasa dengan tulang Hollow.
Kemudian Blue menggunakan Pemecah Pikiran untuk menyembunyikan tubuhnya. Ia mengendalikan bayangannya untuk bunuh diri di depan kapten ras raksasa.
Ledakan besar terjadi di pusat kamp, semua prajurit ras raksasa panik mendekatinya. Meskipun ledakannya tidak kuat, kapten ras raksasa tetap terluka.
"Sialan, kalian sudah berlebihan!"
Kapten Raksasa mengambil senjatanya yang berubah gada besar. Gada itu terbuat dari baja padat yang bisa membunuh manusia dengan sekali serang. Beratnya tentu saja tidak masuk akal, tetapi mereka adalah ras raksasa kuno.
Pasukan ras raksasa mendekati kamp Wen. Mereka semua tampak marah melihat segerombolan Hollow yang menyerap energi kegelapan.
Agunan gada milik Kapten Raksasa langsung membunuh 100 Hollow. Teriaknya terdengar nyaring, "Waaa..."
Prajurit raksasa lainnya menyerang, mereka semua menggunakan gada menghancurkan tubuh para Hollow. Meskipun hidup terus, Hollow punya batas untuk bangkit.
Blue muncul di sebelah Bee, ia tampak sangat tenang sembari bibirnya terangkat. "Gini jadi lebih seru, ayo lihat seberapa baik Wen bertarung."
Wen yang berhadapan dengan Kapten Raksasa tampak kebingungan. Seharusnya ia tidak memancing keributan dengan sosok kuat didepannya.
"Tuan..."
Sebelum menyelesaikan perkataannya, Gada Kapten Raksasa sudah menghancurkan tubuh Wen.
Dalam beberapa detik tubuhnya bangkit lagi, Gada besar yang terbuat dari baja padat menghantam tubuhnya. Sekali lagi Wen tewas sebelum beraksi.
Karena Kapten Raksasa tidak punya celah negosiasi, Wen akhirnya memilih untuk menyerang. Kecepatannya memang tidak tinggi, tetapi itu cukup untuk menghindari serangan biasa lawannya.
Kapten Raksasa membunuh Wen ratusan kali, tetapi staminanya masih tersisa banyak. Berbanding terbalik dengan Wen mulai putus asa.
"Sial, aku akan mengingat penghinaan ini!" teriaknya. Meskipun nyawanya lebih dari 2 juta, ia tidak mungkin membuangnya cuma-cuma.
Blue mengangguk, ia merasakan aura Ranai sudah berkembang. Tidak hanya temperamennya yang membara, tetapi semangat bertarungnya juga meningkat.
"Ini akan menjadi pertarungan menarik," kata Blue sembari turun dari langit. Ia menghadang Kapten Raksasa mendekati pertarungan Wen dan Ranai.
"Minggir kau manusia lemah!" teriak Kapten Raksasa sembari mengayunkan senjatanya secara vertikal.
Blue dengan santainya menghentikan serangan itu dengan tangan kanan. Dengan bantuan Tangan Dewa yang tak terlihat, ia menghentikan serangan lawan tanpa menghancurkan pijakannya.
"Hei tenanglah, aku tidak mau bermusuhan denganmu!" Blue mencoba mencari celah negosiasi, tetapi kapten raksasa tidak memperdulikannya.
Tanpa pikir panjang ia mengayunkan gada di tangannya, Kapten Raksasa tidak memberi ampun pada musuhnya.
Blue menghela napas, ia tidak menyangka harus berhadapan dengan raksasa rendahan. Kapten Raksasa setara dengan Dewa Puncak, jadi Blue bisa mengatasinya tanpa berkeringat.
Tujuannya bukan mengalahkan raksasa, ia ingin melihat Ranai bertarung setelah pelatihan tertutup.
Serangan yang bertubi-tubi tiba-tiba berhenti, Kapten Raksasa yang menggila jatuh tanpa mengatakan apapun.
Blue tidak membunuhnya, ia hanya menggunakan simbol untuk mengurung energi disekitar Kapten Raksasa. Kelemahan terbesar ras raksasa ada pada staminanya.
Mereka bisa terus mengayunkan senjata karena sirkulasi energinya sangat cepat. Makanya Eka diajari untuk memadatkan energinya dibandingkan menghambur-hamburkan energi seperti yang dilakukan Kapten Raksasa.
Jatuhnya Kapten Raksasa membuat semua prajurit ketakutan, mereka langsung melepaskan senjatanya.
Tanah bergetar karena lari para raksasa semakin cepat. Blue sekarang bisa memastikan bahwa para raksasa sebenarnya hanyalah pengecut. Buktinya mereka meninggalkan kaptennya yang belum mati.
Blue mengalihkan pandangannya pada pertarungan Ranai dan Wen yang belum dimulai sejak tadi.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Blue dengan ekspresi aneh.
Bee muncul disebelahnya dengan kacamata hitam serta kotak makanannya. "Bukankah kau juga sering melakukannya. Berdiam diri memandangi musuh sampai kau yakin bisa menang!"
Blue hanya bisa tersenyum kecut, ia sebenarnya tidak ingat karena ia harus fokus pada lawannya.
Ranai mulai bergerak, pedang pendek di punggungnya segera ditarik dan menebas Wen menjadi dua.
"Kau belum tidak belajar, Ranai!" ucap Wen yang merasa dirinya di atas angin.
Ranai tidak menjawab, ia terus menebas dengan kecepatan tinggi. Tanpa terasa Wen sudah mati 10 kali, tapi tidak Ranai masih sangat tenang.
Wen merasa ada yang aneh, ia segera memeriksa Poin Berkembang Biaknya. Matanya terbuka lebar, ia baru mati 10 kali tapi poinnya berkurang 100.
Meskipun belum sempurna, Blue sangat bangga pada muridnya. Dengan sedikit arahan Ranai berhasil menguasai salah satu teknik Celah Dimensi.
Wen yang tercengang langsung mengumpat, "Bajingan! Apa yang kau lakukan."
Ranai tidak menjawab, ia menghilang dan menebas leher Wen dengan sangat cepat. Seketika Wen tewas lagi, nyawanya berkurang 10 poin.
"Sialan, kau meremehkan ku!" teriak Wen marah dengan keadaan. Ia merasakan ancaman dari Ranai karena nyawanya berkurang tidak normal.
Ditambah lagi Ranai tidak kelelahan sedikitpun setelah menggunakan tekniknya. Pedang pendek berwarna merah menebas Wen terus menerus.
Pembantaian sepihak terlihat, Wen berusaha sekuat tenaga melukai lawannya. Namun pedan Wen selalu luput dan Ranai menebasnya.
Dalam beberapa menit saja, Wen telah mati ratusan kali. Jika terus melakukan ini, Wen akan musnah dalam beberapa hari saja.
Ranai tampak tenang dan terus menggunakan pedang pendeknya. Setelah dilihat lebih dekat, pedang pendek Ranai memancarkan aura yang merah. Itu adalah teknik celah dimensi yang tidak memakan mana melainkan konsentrasi.
Dasaran Ranai tentang konsentrasi sudah sangat baik, jadi menggunakan keterampilan celah dimensi berulang kali bukan masalah untuknya.
Sebaik apapun Blue, dia hanya berumur 60 tahunan. Berbeda dengan Ranai yang sudah ratusan tahun.
Jadi tingkat konsentrasi mereka terpaut cukup jauh. Meskipun begitu Blue tidak mau kalah hanya karena kalah umur, makanya dia bertekad menggunakan teknik jiwa untuk seterusnya.
Ranai mengedarkan energinya secara efisien, jadi konsentrasi dan staminanya dapat dihemat. Ditambah lagi kemampuannya untuk meregenerasi mana membantunya pulih.
Hidup di Tartarus ratusan tahun ternyata tidak ada ruginya. Setelah ratusan tahun di penjara Tartarus, Ranai mulai terbiasa dengan Mana yang sedikit. Jadi pengendalian Mananya sangat baik.
Wen tampak panik, ia sedang menghadapi monster yang tidak bisa kelelahan. "Jangan mendekat Brengsek!" katanya sambil mundur beberapa langkah.
Tidak hanya kaum raksasa yang pengecut, ternyata kaum Hollow juga begitu. Mereka semua hanya peduli dengan nyawanya tanpa memperhatikan urusan bersama.
Melihat Wen yang sudah putus asa, Blue muncul di sebelah Ranai. "Aku tidak akan menghentikanmu, lakukan saja!"
Sebaliknya Blue malah mendukung keputusan Ranai. Sedangkan ia menghadang sosok Hollow yang mendekati mereka.
Ranai tanpa ampun membunuh Wen terus menerus. Ia tampak sangat dendam dengan monster bernama Wen.
Blue menyapa sosok Hollow yang cukup kuat. "Hei, sedang apa Raja Hollow ada disini?" tanyanya dengan santai.