
Arief berteriak mencoba mengendalikan kekuatan dalam tubuhnya, sayang kekacauannya terlalu kuat karena perasaannya tidak tenang.
Mata Arief berubah menjadi merah darah, tubuhnya mulai menghitam dan kuku di setiap jarinya memanjang.
Giginya taringnya terlihat tajam, kesadaran Arief sepenuhnya hilang. Kakinya melangkah dan langsung sampai di depan Doni, serangan telapak tangannya menghantam tubuh lawan.
Doni Baskoro tidak sempat bereaksi, dia terkena serangan telak dan terbang puluhan meter. Aries Hardiman tidak melalukan pergerakan apapun, tetapi Arief menyerangnya.
Bukannya terluka, Aries Hardiman hanya diam menerima serangan. "Anak muda, apa hanya ini kekuatanmu?"
Arief menggeram dan melancarkan serangan yang lebih kuat. Tanah di lapangan markas Fairy Dance hancur, keganasan Arief di saksikan semua anggota Fairy Dance lainnya.
Namun mereka lebih terkejut dengan seorang pria tua bernama Aries Hardiman yang tidak bergerak meskipun tanah di sekitarnya hancur.
Doni yang tidak tahu apa yang terjadi mencoba menghentikan Arief dengan tangannya. Namun Arief bisa menghempaskannya dengan satu serangan.
"Hei, bukannya kau terlalu lemah?" ungkap Aries Hardiman mengejek Si Hitam yang tak terkalahkan di eranya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, bagaimana dengan anakku!" teriak Doni dengan suara khawatir. Dia tahu organisasi seperti apa Seven Soul, ia tidak pernah melihat kemanusiaan di dalamnya. Hanya ada orang kuat tanpa ada satupun yang lemah.
Bahkan beberapa menggunakan darah saudaranya untuk menjadi kuat dengan cara bertarung dengan gila. Meskipun tidak ada pembunuhan di lingkungannya, Doni sadar betul mereka tidak akan memberikan kesempatan pada musuh.
Jika anaknya adalah musuh yang harus dihilangkan, Doni tidak tahu harus berbuat apa. Makanya ia berusaha keras untuk menyadarkannya.
Tidak mau menyerah, Doni terbang dengan kecepatan terbaiknya. Ia menggunakan segala segel yang ia pelajari untuk menyadarkan anaknya. Namun semua usahanya gagal, Arief masih mengamuk dan menghancurkan setiap objek yang dia lihat.
Yuliana mendekati Doni dan bertanya, "Mengapa anak kita jadi seperti itu?"
"Aku tidak tahu. Jangan mendekatinya, dia sangat kuat!"
Doni juga khawatir, segera menyembuhkan teman-teman Arief yang dilukainya. Dalam sekejap semua tulang parah telah kembali seperti sedia kala.
Sosok wanita cantik mendekati Aries Hardiman, dia adalah Shen Haise. "Jadi ini kejutan yang ingin kau tunjukkan?"
"Seperti yang diramalkan, akan ada sosok yang menjadi pusat kekacauan. Dengan ini gerbang menuju dunia atas akan terbuka lagi."
"Memang benar ini akan cocok untuk kalian para kultivator, tapi akan menjadi bumerang bagi manusia pada umumnya. Aku sudah memasang simbol yang bertahan 100 tahu dan sosok pria aneh bernama Amir menghancurkannya!"
"Aku pikir dia adalah pusat kekacauan, siapa yang menyangka ternyata pria itu malah menjadikan dirinya tembok hidup untuk para monster."
"Lupakan soal itu, sekarang kendalikan bocah bernama Arief itu. Kekacauan disini sudah lebih dari cukup!"
Aries Hardiman langsung bergerak, telapak tangannya yang besar mencengkram kepala Arief dan menjatuhkannya ke tanah. "Tenanglah, Nak!"
Simbol aneh langsung menutupi semua pandangan, Doni dan Yuliana juga tidak dapat melihat kondisi anaknya.
Langit tiba-tiba menjadi gelap, petir menyambar di seluruh dunia. Hujan menghapus semua debu dan siang telah menjadi malam yang gelap hanya dalam beberapa menit saja.
Shen Haise menyentuh kepala Arief, matanya langsung terbuka lebar tidak percaya apa yang dia lihat. "Dia bukan dari aliran waktu ini. Jadi ini yang dia maksud!"
Dia yang dimaksud Shen Haise adalah sosok pria tampan yang menjadi bosnya atau pemimpin Seven Soul.
Aries Hardiman menoleh ke arah Shen Haise, ia tidak mengatakan bahwa Arief dari masa depan. Namun sosok wanita didepannya langsung mengetahuinya dengan sekali pegang. Ini melebihi pemikiran manusia biasa.
Ekspresi Shen Haise menjadi sedikit murung melihat kondisi Arief yang seperti ini. Kekuatannya langsung mengangkat energi kekacauan dan menenangkannya.
Cahaya terang menembus langit, semua orang di seluruh penjuru dunia melihatnya karena dunia dilanda kegelapan.
Tepat setelah cahaya itu menembus langit, tiga pria muncul di sebelah Shen Haise. Satu pria tampan yang tidak punya tandingan dengan baju berwarna biru laut, satunya pria besar dengan tubuh besar dan kulit hitam. Satunya lagi sosok pria berotot yang mengenakan masker menutupi mulutnya.
"Kerja bagus, Haise. Sekarang tunjukkan rencanamu!"
Shen Haise dan tiga pria itu menghilang dari pandangan semua orang Aries Hardiman tampak terkejut melihat sosok yang paling dia kagumi muncul di depannya lagi.
Simbol mulai memudar, Aries Hardiman memberikan pil kebugaran dan langsung mengikuti Shen Haise. Arief tergeletak di tanah dengan kondisi stabil.
"Mereka petinggi organisasi, aku tidak tahu semuanya."
Tidak ada orang yang tahu, bahkan Doni Baskoro tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam simbol buatan Haise. Namun sosok Yuliana dapat melihatnya dengan jelas, ada tiga orang pria yang muncul setelah cahaya terang menembus langit.
Jawaban Doni hanya tebakan semata, ia tidak mau terlihat bodoh di depan istrinya. Keduanya langsung menghampiri Arief yang tak berdaya di tanah.
Baju yang compang camping memperlihatkan sebagian besar tubuh Arief yang terbentuk sempurna. Semua yang melihatnya sepakat Arief adalah pria ideal untuk wanita di eranya.
Doni segera memeriksa kondisi anaknya, ia tidak menemukan sedikitpun kelainan. Bahkan energi kekacauan yang ada di tubuhnya bisa bergerak bebas tanpa melukai induknya.
"Bawa dia masuk!" ucap Jessica yang bergerak cepat.
Leon dengan sigap langsung menggendong Arief tanpa menunggu perintah lainnya. Ia tidak tahu mengapa Yuliana dan Doni tidak segera membawanya masuk.
Kamar Arief sudah dilengkapi simbol untuk penyembuhan. Jadi kesembuhan Arief bisa dipercepat.
Doni yang mahir pembuatan simbol terkesima dengan susunan simbol yang rapi dan padat. Meskipun pengetahuan yang luas, Doni tidak dapat menyangkal dia masuk kalah dengan anaknya.
Jelaslah, Arief sudah hidup 50 tahun sebelum kebangkitannya. Jadi pengetahuannya tidak kalah dengan Doni di dalam markas Shen.
Tidak lama setelah beristirahat di kamarnya, Arief membuka matanya. Ia melihat sosok Yuliana dan pria yang menjadi lawannya.
"Jangan mengatakan apapun, dia ayahmu. Aku sudah melakukan tes sedetail mungkin, jangan meragukan keputusanku!" bentak Yuliana.
Tanpa sadar air mata menetes dari ujung dua mata Yuliana, dia tidak menyangka anaknya sangat menyayanginya padahal mereka hidup susah selama 15 tahun.
Yuliana juga tahu anaknya tidak pernah punya uang saku yang cukup untuk bermain dengan anak sebayanya. Lebih parahnya Arief tidak punya teman kecuali Leon di sekolahnya.
Bahkan Yuliana tahu hampir semua teman kelasnya tidak menyukainya karena Arief terlalu pintar dan dewasa dibandingkan anak seusianya. Bakatnya sudah terlihat ketika ia berumur 9 tahun, pengetahuan sudah melebihi seorang guru lulusan sarjana.
"Ibu..."
"Diam!!!" bentak Yuliana sambil memeluk anaknya itu. Meskipun dia punya banyak uang sekarang, Yuliana masih bisa merasakan rasa sakit yang dialami anaknya.
Tidak hanya mental karena di ejek teman-temannya yang punya ayah, tapi juga tekanan ekonomi yang melilit kehidupannya.
Arief tersenyum, dia ingin mengatakan ibu aku bahagia bisa mempunyai sosok ibu sepertimu. Namun setiap kali ia ingin membuka mulutnya, pelukan Yuliana semakin erat.
Doni hanya diam dan memandangi keduanya, ia menunggu waktu yang tepat untuk bercerita. Leon, Jessica, dan Amelia keluar dari ruangan. Mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi dari gestur semua orang.
Leon hanya bisa tersenyum bahagia melihat teman yang selalu ada di sampingnya punya seorang ayah. Ia teringat ejekan setiap anak yang mengatakan Arief adalah anak haram.
"Selamat, Bro!" gumamnya pelan.
Jessica dan Amelia pergi ke arah yang berbeda, mereka tidak mau menunjukkan sisi lemahnya pada orang lain. Keduanya menangis hingga ingusnya menetes berkali-kali.
Leon yang melihat keduanya menangis hanya diam karena tidak punya jalan untuk pergi ke ruangnya. Ke kanan ada Jessica dan ke kiri ada Amelia, ia merasa jika mendekatinya pukulan ataupun tendangan akan melayang ke wajahnya.
"Sebaiknya aku menunggu mereka pergi," gumamnya pelan. Dia tahu wanita yang sedang lepas kendali lebih mengerikan daripada biasanya, ia teringat Salju yang memukulinya hanya karena menjatuhkan popcorn yang akan mereka makan di bioskop.
Meskipun Leon lebih kuat, entah mengapa Salju menjadi lebih ganas dan mengerikan ketika marah. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri.
"Ya, pilihanku tidak salah." Leon masih membela pilihannya.
Arief melirik ke arah pria yang terus melihatnya. "Apa yang kau lakukan, berikan aku pelukan Bajingan!" katanya dengan nada lembut.
Doni tersenyum dan tanpa pikir panjang memeluk Yuliana dan Arief secara bersamaan. "Maafkan aku, ini akan menjadi kebohongan terkahir ku!"
"Jangan membuat janji palsu, kau membohongiku selama 57 tahun sialan!"
"Maaf."
Tidak ada yang sadar Arief mengatakan yang sesungguhnya, ia sebenarnya sudah hidup selama 57 tahun.