Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Rencana Penyerangan


Aliansi raksasa terbentuk, meskipun begitu Keluarga Gong tidak bergeming sedikitpun. Mereka percaya bahwa kekuatannya sudah cukup untuk membelah aliansi musuh.


Blue akan terlibat dalam pembuatan robot dan senjata mana. Itu dilakukan supaya Zaha bisa memproduksi robot penghancur dengan cepat.


Satu bulan berlalu, perang dingin antara aliansi guild dan Fairy Dance semakin mencair. Para guild yang menentang Fairy Dance mulai merasakan apa ditabur.


Leon secara khusus menyatakan perang pada siapapun yang terlibat dalam pengeroyokan Fairy Dance. Tidak tanggung-tanggung, ia menghancurkan lebih dari 100 guild hanya untuk memperingatkan orang.


Semua desa diambil, banyak pemain di bantai terus menerus hingga levelnya turun puluhan.


Leon tegas mengatakan, "Aku sudah mengatakannya. Fairy Dance bukan guild rendahan yang membiarkan musuh kecil menjadi besar. Kami sebagai guild profesional tidak punya dendam pada pribadi manusia, tetapi kami akan menghancurkan guild yang mengkhianati kita!"


Pernyataan berani itu mengundang beberapa super guild untuk menguji ketahanan Fairy Dance di 4 benua utama.


Mereka melancarkan beberapa serangan hingga memberikan kerusakan. Anehnya tepat sehari setelah super guild menyerang dengan cabang guild, penyerangnya langsung rata.


Entah itu desa ataupun sumber daya mereka di rampok habis-habisan. Hampir semua cabang guild penyerang langsung terlilit hutang.


Lebih anehnya bank yang memberikan hutang langsung memberikan jatuh tempo dan tidak mau memberikan pembiayaan lagi.


Sektor bisnis Keluarga Gong di dunia nyata mulai mengalami kendala karena berkurangnya konsumen. Beberapa peraturan baru membuat mereka harus gulung tikar.


Disisi lain Blue baru menyelesaikan proyek besar pembuatan robot penghancur dan beberapa senjata sihir.


"Akhirnya selesai. Ayo lihat permukaan," ucap Blue sambil menarik otot punggungnya.


"Oke, Bos!" jawab Zaha dengan semangat.


Mereka berdua mengurung diri di laboratorium bawah tanah selama masa perang dingin. Jutaan robot penghancur muncul di tanah Desa Sahara.


Blue menganggukkan kepala melihat Desa Sahara sudah di promosikan ke tingkat 5. "Kehadiran Bunny sangat membantu administrasi seluruh desa."


"Benar, aku tidak bisa fokus dalam pengurusan desa karena banyak misteri yang harus aku pecahkan." Zaha membenarkan pernyataan Blue.


Keduanya langsung menuju gedung administrasi, mereka menemui Bunny untuk menanyakan desa yang sudah berhasil Fairy Dance kuasai.


"Ada 1134 desa yang Fairy Dance kuasai. 800 diantaranya masih tingkat 1 karena guild pengurusnya tidak melihat prospek positif kedepannya."


"Terus tingkat selanjutnya?" tanya Blue.


"200 tingkat 2, 100 tingkat 3, dan 20 tingkat 4. Sisanya anda bisa menebaknya sendiri dari guild mana." Bunny tersenyum lebar layaknya psikopat yang menyiksa musuhnya.


"Singa Langit mungkin akan segera angkat kaki dari Benua Tengah." Blue memperjelas pernyataannya Bunny.


Disisi lain, Jessica telah berhasil merekrut banyak anggota yang bersedia perang melawan seluruh dunia. Mereka terdiri dari para preman dan beberapa penjahat kelas kakap.


Dengan kuasanya, Jessica merekrut banyak pembunuh yang ada di dalam penjara. Mereka semua takut dengan sosok wanita cantik berkacamata yang terus mengomel ketika bertarung.


Berkat ketakutannya itu, banyak penjahat mulai merubah dirinya dan bergabung dengan Fairy Dance. Sekarang guild ini bukan kumpulan manusia suci yang tidak melakukan PK pada pemain lainnya.


Blue membiarkan itu karena mereka hanya perlu minta maaf dan memberikan kompensasi jika musuh melakukan komplain. Sayangnya saat ini masih ada perang dingin antara Fairy Dance dan seluruh aliansi keluarga gong. Jadi tidak ada satupun pemain yang melakukan komplain karena terkena PK.


"Sepertinya wilayah kita semakin luas. Bagaimana dengan pergerakan pasukan aliansi?" tanya Blue.


Bunny menggelengkan kepala. "Mereka mulai diam dan bersembunyi. Hanya Singa Langit yang kadang muncul di raid dan langsung terbunuh oleh pasukan Fairy Dance."


"Sepertinya menarik, aku akan ikut dalam kobaran api dingin ini!" ucap Blue sambil tersenyum manis.


"Bos, aku ingin ikut perang juga!" seru Zaha dengan semangat juang.


"Untuk sekarang aku ada tugas untukmu. Kuasai seluruh wilayah timur dan bantu Emma menaklukkan musuh."


Bunny tersenyum mendengarnya. "Sebenarnya aku ingin mengatakan pasukan di wilayah Timur mengalami beberapa masalah. Sepertinya sekarang tidak perlu karena anda sudah mengetahuinya."


Blue tertawa kecil. "Haha, markas besar tujuh mawar ada di hutan timur Kerajaan Banyuwangi. Tidak mungkin Emma bisa memukul besi dengan sebilah kayu."


"Bahkan anda sudah mengetahuinya."


"Dia sangat bersemangat. Aku menantikan hasil kerjamu!" ucap Blue pelan.


Setelah mengetahui situasi dengan membaca laporan dari Toma dan beberapa mata-mata, Blue siap untuk bertindak.


"Cola, Rina, Lina, Argya datanglah ke Desa Koral. Ayo serang pelabuhan Singa Langit!" kata Blue dari pesan guild.


Mereka berempat langsung meninggalkan tugasnya dan segera pergi ke Desa Koral. Keempatnya sudah berkembang hingga Blue tidak bisa mengenali penampilannya.


Seorang pria berambut coklat susu dan mengenakan topeng putih mendekati Blue. "Seperti Raid pertama kali, seharusnya kau mengajakku!"


Blue tersenyum tipis. "Peranmu sangat penting di dalam guild, tidak mungkin bagiku mengganggumu!"


"Pertanyaan bodoh, aku tidak pernah merasa diriku penting!"


Pria itu tidak lain adalah Leon yang sedang menyamar. Tujuannya tidak lain untuk menyembunyikan diri dari musuhnya.


Cola telah berhasil menembus level 207 dan mendapatkan kelas keempat tingkat Legenda. Ini jauh berbeda dari kehidupan sebelumnya.


Rina dan Lina mendapatkan kelas yang sama persis, menurut ingatannya kelas itu tingkat Legenda hampir mistik.


Blue memandang Rina dan Lina. "Wow, kelas Gemini!" serunya.


"Sialan, kamu selalu menelanjangiku dengan mata kuning itu!" ucap Rina dengan nada bercanda. Berbanding terbalik dengan Lina yang terdiam malu di belakang.


"Tidak seperti itu, aku hanya memeriksa kekuatan kalian."


Rina dan Lina level 208. Sekarang mereka tidak hanya bisa mendukung dari belakang, tetapi bisa memberikan kerusakan layaknya penyihir.


Argya tentu saja tidak perlu ditanyakan, ia sekarang level 210. Kelasnya membuat Blue tercengang, karena kelas Mistik telah didapatkannya.


"Jangan mengeluarkan kata dari mulutmu, aku sudah tahu apa itu!" sahut Argya dengan nada bercanda.


Pandangan Blue beralih ke Leon, ia hanya bisa menghela napas karena tidak ada kejutan sama sekali.


"Bajingan, ada apa dengan helaan napas itu!" ucap Leon sambil merangkul pundak Blue.


Leon punya 3 kelas Legenda dan 1 kelas Biasa. Padahal sebelumnya kelas Langka itu adalah kelas Rendah.


"Haha, tidak ada yang spesial darimu. Bahkan setelah sebulan kau hanya naik satu level!" seru Blue mencoba membebaskan diri dari rangkulan sahabatnya itu.


"Aku punya kondisi yang sangat sulit. Sama halnya denganmu yang belum naik satupun level!" ejek Leon dengan nada bercanda.


Setelah beberapa saat bercanda, Blue membahas tentang rencana penyerangan pelabuhan di wilayah selatan.


"Sial, kala itu aku terlalu lemah untuk merebutnya." Leon mengingat pertemuannya dengan Singa Langit membahas pelabuhan mereka berdua.


Namun Singa Langit ingin memilikinya sepenuhnya. Dan akhirnya negosiasi dimenangkan mereka karena lebih menguntungkan.


"Sudahlah, aku sudah mempersiapkan armada untuk penyerangan." Blue membuka peta yang memperlihatkan pelabuhan yang akan di rebut.


"Garis merah ini apa?" tanya Rina yang cukup kritis.


"Apa kalian lupa cabang guild Karang yang dipimpin Buana?"


Leon langsung mengingatnya. "Jadi cabang itu menghasilkan pasukan tempur!"


"Siapa bilang kita menggunakan pasukan, kita akan menunjukkan kekayaan." Blue mengatakannya dengan tegas.


"Bos, jangan bercanda. Singa Langit punya uang lebih banyak dari kita!" sahut Cola yang tidak paham dengan arus pembicaraan.


Blue menunjukkan laporan pembuat kapal terbang yang dilakukan Buana secara diam-diam. "Apa kalian masih menganggap ini mustahil?" tanya Blue.


Sayangnya hanya Leon yang mengerti kode bahasa ini. Cola menggaruk punggung kepala, sedangkan Rina dan Lina hanya bisa mengerutkan kening. Disisi lain Argya tidak peduli dan siap menjalankan penyerangan kapan saja.