Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Venom


"Apa kau yakin?" tanya Blue memastikan perkataan Liem. Tidak bisa dipungkiri Liem adalah mantan Raja Iblis, jadi harusnya pengetahuannya cukup dalam.


"Aku bisa merasakan energi neraka yang familier, itulah mengapa aku bisa keluar dari Dunia Buatan." Liem sudah bisa bicara santai, sebelumnya ia sangat formal pada tuannya.


Liem mendekatkan tangannya pada gerbang lantai 3, ia menutup matanya dan merasakan aliran energi yang sangat familier.


"Mundur!" teriak Liem memberikan peringatan.


Ledakan besar dari dalam gerbang terjadi, beberapa Hollow tidak sempat merespon dan mati di tempat. Ela melindungi semua Blue dengan Mana Shield, walaupun sebenarnya ledakan itu tidak bisa melukai Jubah Raja Api.


"Haha, bagus ada manusia yang layak datang kesini." Sosok bayangan hitam keluar dari asap ledakan gerbang.


Sosok itu semakin jelas, ia mempunyai tiga tanduk dan kulit berwana putih. Gigi taringnya cukup panjang hingga keluar dari bibirnya. Kukunya cukup panjang dan meneteskan cairan berwarna hijau.


Blue memiringkan kepalanya. "Sepertinya aku pernah melihatnya."


Setelah beberapa detik berpikir, Blue teringat sosok Venom dalam wujud sempurnanya. Tampilannya sama persis dengan iblis didepannya, hanya saja Venom sedikit lebih tinggi darinya.


"Venom, Datanglah!" ucap Blue pelan.


Venom langsung muncul dan menghadap Blue. "Sepertinya tidak ada pertempuran disini, apa yang ingin kau lakukan?" tanyanya.


Blue menunjuk iblis yang keluar dari gerbang lantai 3. "Lihat ke sena, apa kau mengenalnya?" tanyanya.


Venom menoleh kebelakang, perasaan yang familier muncul. Benar saja, situasi ini adalah reuni keluarga Venom yang menghuni Lantai 3.


"Aku pikir kau sudah mati." Venom dengan santainya mengatakan itu, ia hampir kehilangan rasa simpatiknya. Pasalnya Ayah Venom sangat kerasa dalam mendidiknya.


Ayah Venom mengelus dagunya. "Kau anakku yang ke berapa?" tanyanya dengan muka mengesalkan.


"Bungsu, anak paling lemah yang kau buang sebelumnya." Venom menjawabnya tanpa ekspresi. Meskipun dia dibuang, rasa ingin balas dendamnya sangat kuat.


"Oh, kau bocah lemah yang tidak bisa menggunakan racun." Ayah Venom mengatakannya dengan gamblang.


"Yah, aku dari dulu memang yang paling lemah. Tapi sekarang membunuhmu hanya butuh satu tangan!" ucap Venom sambil menyempitkan matanya.


Ayah Venom tertawa keras. "Kau masih saja sombong seperti dulu, ayo tunjukkan padaku!"


Venom tidak bergerak, ia mengarahkan telapak tangannya ke arah lawan. Setelah beberapa saat, Venom meremas tangannya tapi tidak sampai mengepal.


Ayah Venom yang sangat percaya dengan ketahanan tubuhnya langsung berteriak kesakitan, "Argh.. "


"Jika ayah selemah ini, maka saudara-saudaraku pasti lebih lemah." Venom meledek kekuatan ayah dan saudara-saudaranya.


Tubuh yang sangat dia banggakan retak, Ayah Venom tidak bisa melihat tangan dewa yang diciptakan Venom. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya.


"Tidak banyak, aku hanya ingin membunuhmu!" ucap Venom tanpa rasa bersalah.


"Haha, dengan kekuatan ini pasti kau sudah membunuh Lucifer dan Raja Neraka lainnya!" ungkap Ayah Venom.


Sebagai tanggapan, Venom menggelengkan kepala. "Tidak, Lucifer masih hidup. Dia di sana," kata Venom sambil menunjuk Liem.


"Apa sekarang aku dilibatkan dalam urusan keluarga?" tanya Liem tampa ekspresi. Berbeda dengan Lucifer yang senang kerusuhan, Liem lebih senang kedamaian.


Ayah Venom langsung mengarahkan pandangannya ke Liem, tapi ia tidak bisa menemukan jejak Lucifer.


Tubuh Liem awalnya memang sangat lemah karena dibuat dari simbol. Namun sekarang tubuh itu menyerupai manusia seutuhnya karena terendam dalam energi alam Dunia Buatan.


"Apa maksudmu?"


Liem melangkah maju. "Karena hubungan kalian tidak terlalu baik, apa aku harus membunuhnya?" tanyanya dengan suara lirih.


Setelah mendengarnya, Venom dengan kecepatan tinggi langsung berdiri di depan Liem. "Meskipun aku membencinya, tidak ada yang boleh membunuhnya kecuali aku!" katanya dengan ekspresi serius.


Liem mengangkat sudut bibirnya, ia merasakan hawa membunuh dari Venom. Namun hawa membunuh lawannya sama seperti anak baru lahir kemarin sore.


"Haha." Liem tertawa kecil.


Mendengar tawa Liem, memicu aura racun milik Venom. Aura berwarna hijau kehitaman muncul di sekelilingnya. Tangannya meneteskan racun yang lebih mematikan dari Ayah Venom.


Liem tidak merubah ekspresinya sedikitpun. "Kalian selalu menggunakan trik licik seperti biasa."


Venom melepaskan serangan, tangan kanannya segera mengarah ke wajah Liem. Ia tidak menurunkan sedikitpun kekuatannya.


"Meskipun lemah, ini masih menyakitkan." Liem mengatakannya dengan sangat santai. Racun mematikan menyebar ke seluruh tubuhnya, jika dibiarkan pasti dia akan mati.


Namun Liem membiarkan racunnya menyebar ke seluruh tubuh. Setelah beberapa saat semua kulitnya berwarna hijau.


"Kenapa kau tidak melawan?" tanya Venom.


"Bodoh, aku masih hamba yang setia pada tuanku." Liem masih menikmati rasa sakit yang di akibatkan racun.


Liem melakukan ini bukan tanpa alasan, ia sedang melatih tulang dan seluruh tubuhnya terhadap racun kuat. Sayangnya itu tidak dapat dilihat Venom.


"Kenapa kalian bertarung disini?" tanya Blue yang baru datang.


"Venom menyerang ku tanpa alasan." Liem mengatakan kejadian sesungguhnya.


Namun Venom merasa bahwa Liem ingin menyingkirkannya dari Pasukan Blue. "Apa-apaan, kau yang menghinaku dulu!" teriak Venom.


Blue melambatkan tangannya. "Aku melihat semuanya dari awal. Venom bocah ini ingin melatih emosimu, jadi cobalah mengerti."


Setelah mengatakannya, Liem melepaskan teknik jiwa. Ia melepaskan semua racun Venom dengan sangat mudah. "Aku lebih segar sekarang," kata Liem dengan nada santai.


Ayah Venom tidak percaya Lucifer menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Racun yang selalu ia banggakan tidak bisa mengalahkannya. Padahal awalnya ia berhasil menyegel Lucifer.


"Aku sudah melupakan dendam masa lalu, jadi jangan membenciku." Liem tiba-tiba muncul di depan wajah Ayah Venom.


Melihat kecepatan tinggi Liem, Venom langsung menoleh ke belakang. Ia tidak percaya penjagaannya bisa dilewati dengan mudahnya.


"Sekali lagi kau kecolongan, Liem memanfaatkan emosimu untuk membuat celah. Bocah itu sangat licik, tidak berbeda jauh dengan lawan-lawan kita selanjutnya."


Venom mengangguk, ia sekarang sadar bahwa banyak yang harus diperbaiki dalam dirinya. "Baik, Tuan."


Ayah Venom berteriak dari kejauhan, "Apa yang kau katakan bocah bau!"


Harga diri keluarga Venom tercoreng karena anaknya melayani manusia. Ayah Venom tidak terima anak terkuatnya melayani manusia rendahan.


"Ayah, aku menjadi sekuat karena bantuannya. Jangan menghalangi kepercayaan ku!" kata Venom tanpa melihat ayahnya.


Blue menepuk pundak Venom. "Tidak perlu terlalu formal, aku menghargai setiap keputusanmu."


Ayah Venom tidak bisa mengerti apa yang terjadi. Dia tidak percaya anaknya menjadi budak manusia rendahan.


"Bukankah kau juga budak manusia itu!" teriak Ayah Venom sambil menunjuk Blue.


Liem mengangguk. "Apa salahnya, bersama dia sekarang aku melampaui kekuatanku sebelum. Sebentar lagi juga ada pertunjukan yang lebih bagus dari perang kita."


Ayah Venom mengerutkan alisnya, ia rusak mengetik mengapa para Iblis kuat itu mengikuti Blue.


Liem yang baik hati menjelaskan cerita awal mula Blue bisa menjadi seperti ini. Ia yang sebelumnya sangat senang dengan perang malah banyak bicara.


Setelah mendengar cerita Liem, Ayah Venom mengerti mengapa Blue bisa menjadi tuan Liem dan anaknya.


"Anak bernama Raphael itu di lantai paling bawah, aku bisa mengantar kalian." Ayah Venom menawarkan jasanya.


Keluarga Venom masih berkembang di Tartarus, tetapi racun mereka semakin lemah seiring berjalannya waktu. Ayah Venom berencana keluar dan membuat kerusuhan di lantai 2.


Meskipun sudah mengambil alih lantai 2, dia tidak bisa menaklukkan lantai 1 karena penjaganya terlalu kuat.


Keluarga Venom akhirnya memutuskan untuk naik ke lantai 12 dan keluar dari Tartarus. Namun setelah bertahun-tahun, ia baru berhasil menembus lantai 4.


"Bukankah ini akan menarik, aku bantu mengalahkan Typhon!" ucap Liem dengan penuh semangat.


Ayah Venom masih belum terbiasa dengan sikap Lucifer yang berbeda 180 derajat dari sebelumnya.


"Bagus, kita dapat teman lagi. Ayo masuk lebih dalam."


Karena Ayah Venom sudah membersihkan lantai 2 dan 3, Blue dan pasukannya langsung menuju lantai 1 dan bertemu Typhon yang agung.


"Bodoh apa yang kau lakukan sendiri!" teriak Raphael mencaci maki Blue.


"Diamlah, Bodoh. Siapa suruh kau ditangkap!" ucap Blue dengan nada tinggi.