Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Kekuatan Rifan


Pria paling kuat di kelompok mereka terlihat putus asa karena skill yang paling dibanggakan tak berguna.


Rifan berpikir keras dan memutar otak untuk menutupi kelemahannya, sampai akhirnya ia terpikirkan sesuatu yang ekstrim.


Naga Racun yang terluka parah melihat Rifan dengan tatapan aneh. Firasatnya mengatakan akan terjadi hal buruh padanya.


Benar saja, Rifan langsung terbang ke arah Naga Racun dan menyerapnya. Inilah salah satu keistimewaan dari gelarnya sebagai Demigod, sang tuan dapat memakan bawahnya.


Siapapun yang dimakan tidak akan pernah kembali lagi ke dunia. Gelarnya bernama Pemakan Segalanya.


Blue tersenyum manis dan membiarkan itu terjadi, karena dia tahu keterampilan ini sangat sulit untuk dibatalkan. Bahkan dengan kekuatannya sekarang, sangat beresiko menggangu jalannya skill itu.


Dewa Cahaya yang panik langsung berdiri dan menghapus semua formasi ujian. Matanya menatap tajam ke arah Rifan dan menggunakan kekuatan penuh untuk membatalkan keterampilan itu.


Bukannya batal, kekuatan Dewa Cahaya malah tersedot hingga 10%. "Sialan, aku akan membunuhmu!" teriaknya dengan panik.


Naga Racun yang dicalonkan sebagai Dewa Cahaya selanjutnya dilahap hingga kering. Rifan tertawa keras hingga seluruh bagian mulutnya terlihat.


"Ini namanya kekuatan!" teriaknya.


Asap berwarna hijau muncul dari sekujur tubuhnya, ini adalah teknik terlarang Naga Racun. Karena sekarang digunakan pemain, teknik ini tidak akan membahayakan pemain tersebut, beda cerita jika Naga Racun menggunakannya. Besar kemungkinan Naga Racun akan binasa.


Blue tidak panik sama sekali, berbeda dengan Kamal dan musuhnya yang langsung mundur setelah terkena kerusakan beruntun.


Asap hijau itu mengandung racun yang dapat memberikan kerusakan terus menerus. Anehnya Blue yang ada di tengah-tengah racun tidak terkena sama sekali.


Sepatu Raja Es membantunya membekukan semua Racun di dalam tubuhnya. Jubah Raja Api membakar semua es yang mengandung racun, jadi tidak akan ada kerusakan sedikitpun.


Hal yang paling mengejutkan adalah Bee juga sama seperti Blue. Ia terus berdiri tegap meskipun racun menyelimuti setiap sela tubuhnya.


Jika Blue membakar semua racun, Bee sebaliknya. Dia menyerap semua racun dan membuatnya semakin ganas, sehingga bisa memakan racun disekitarnya. Awalnya ia tampak kesakitan, tapi setelah 2 menit semuanya terlihat normal dan Bee bertambah kuat.


"Sepertinya kau dapat manfaat dari orang gila itu?" tanya Blue.


"Lumayan, aku bisa dapat energi gratis. Jangan terlalu cepat membunuhnya, aku masih harus naik tingkat!" jawab Bee dengan suara pelan.


Sayangnya Dewa Cahaya berpikir lain, ia terjun dari langit dan mengarahkan tinjunya ke Rifan. Bukannya terbang, Rifan menangkap kepalan Dewa Cahaya dengan tangan kirinya.


"Aku jadi kecewa, ternyata Dewa Cahaya hanya sekuat ini!" kata Rifan memprovokasi Dewa Cahaya.


Ketika tangannya bersentuhan dengan Rifan, Dewa Cahaya merasakan kekuatan di dalam dirinya keluar secara perlahan. Tidak hanya Energi Kehidupan yang ia kumpulkan setiap saat, tetapi jumlah mana miliknya juga turun. Keterampilan ini lebih menyakitkan daripada milik Blue.


Tangan Dewa Cahaya langsung di tarik dan mengeluarkan sebuah pedang berwarna putih yang mirip dengan Bee.


Tanpa rasa ragu, Dewa Cahaya langsung mengayunkan lengannya. Tanah yang dilewati sayatan pedangnya terkoyak, Blue melompat mundur supaya tidak terkena dampaknya.


Rifan masih tertawa terbahak-bahak, ia menggunakan dua tangannya untuk memblokir serangan pedang suci milik Dewa Cahaya.


Sayatan pedang Dewa Cahaya mengenai Rifan, tapi tidak menimbulkan kerusakan. "Bodoh, kau pikir serangan lemah itu bisa membunuhku!"


Tidak dapat dipungkiri, keterampilan istimewa Rifan sangat merepotkan. Dewa Cahaya tidak memperhatikan teknik yang digunakan Blue untuk melukai Rifan, jadi dia harus melakukan percobaan sendiri.


Bukan tidak melihat, Dewa Cahaya hanya tidak memperhatikan pertarungan Blue dan Rifan. Ia hanya melihat anaknya Naga Racun yang dihajar Bee seperti anak kecil.


Pedang suci yang awalnya hanya satu tiba-tiba bertambah dan menjadikannya 8, Dewa Cahaya tidak menahan auranya sedikitpun. 11 pemain yang ada disekitar langsung terjatuh dan mengeratkan giginya.


"Sialan, apa yang dilakukan dewa cahaya?" seru seorang wanita Penyembuh yang tak punya pertahanan tinggi. Darahnya berkurang terus menerus, tapi untungnya ia masih bisa menggunakan skill penyembuhan.


Nasib sial dialami para penyihir yang memfokuskan dirinya ke serangan, mereka hanya pasrah dan menunggu ajalnya.


Kamal seorang pendekar pedang, ia tidak khawatir akan mati dalam waktu dekat. Dalam pertarungan ini ia sudah menyiapkan ramuan penambah HP dan MP cukup banyak. Jadi harusnya Dewa Cahaya dapat mengalahkan Rifan.


Blue berdiri tegap tanpa menerima kerusakan, sudut bibirnya terangkat, rencana licik berputar di kepalanya. "Haruskan aku membunuh mereka semua?" katanya sambil melirik sekelompok orang yang berbaring.


"Tidak punya malu kau, Blue. Kami tidak bisa bergerak dan kau ingin membunuh kami!" teriak salah seorang pria yang tampak sangat tua.


"Bukannya kalian kelompok yang ingin membunuhku?"


Pertarungan Rifan dan Dewa Cahaya berlangsung seimbang. Rifan bisa mengimbangi kekuatan Dewa Cahaya karena ia punya perisai tak kasat mata yang menghilangkan semua kerusakan.


Sedangkan Dewa Cahaya hanya menyerang terus menerus hingga staminanya terkuras. Blue tidak membantu sama sekali, ia hanya melihat dan memanfaatkan situasi sebaik mungkin.


"Apa kita harus memberi tahu kelemahannya?" tanya Bee.


"Tunggu sampai orang tua itu kelelahan, para malaikat di atas juga siap menyergap kapan saja, jadi perhatikan sekelilingmu."


Seperti yang dikatakan Blue, para Malaikat itu akan langsung membunuh para pemain jiwa Dewa Cahaya dirugikan. Mereka hanya diam karena belum menerima perintah.


Sampai akhirnya Kamal berteriak keras, "Gunakan serangan dua arah!"


Dewa Cahaya mendengar dan langsung mempraktekkannya. Dua pedang menusuk dua arah yang berbeda, Rifan tidak dapat memblokir keduanya bersamaan.


"Sial, bocah itu punya mulut bodoh!" kata Bee sambil memandang Kamal yang mulai berlutut. Hal itu menandakan bahwa kekuatan Dewa Cahaya mulai menurun.


Blue tersenyum manis. "Apa kau pikir Rifan semudah itu dikalahkan?"


Tepat setelah mengatakan itu, Rifan menabrak ranah dan darah keluar dari sekujur tubuhnya. Anehnya pria gila itu masih tertawa terbahak-bahak.


"Ini dia, rasa sakit yang aku inginkan!"


"Sial, pasti dia psikopat!" teriak Kamal yang tidak menyangka akan ada orang segila itu.


Rifan langsung meningkatkan kekuatannya, aura di sekujur tubuhnya tumbuh dan menyembuhkan setiap lukanya. Tiga tanduk muncul di kepalanya, dipundaknya juga muncul tanduk aneh yang mempunyai mata memandang ke belakang.


Pandangannya menjadi 360 derajat, bisa dibilang Rifan tidak punya kelemahan sedikitpun. Hanya Blue yang tahu bagaimana membongkar trik sederhana dari perisai tak kasat mata milik Rifan.


"Ayo orang tua, serang aku!"


Dewa Cahaya menyerang dari dua arah lagi, bedanya satu pedangnya menusuk depan dan 7 lainnya menikam dari belakang. Namun hasilnya kali ini berbeda, Rifan tertawa terbahak-bahak dan memantulkan kerusakan yang diterima pada Dewa Cahaya.


Tidak main-main kerusakan yang dipantulkan mencapai 50%. Jadi Dewa Cahaya menerima serangannya sendiri.


Hal aneh terjadi sekali lagi, HP Rifan tidak berkurang sedikitpun. Hal itu bisa terjadi karena perisai itu muncul secara otomatis ketika Rifan memandang sesuatu. Karena sekarang pandangannya 360 derajat, perisainya akan muncul terus menerus.


"Hanya ini kekuatanmu, kalau begitu besok aku akan membunuh Zeus!" teriak Rifan penuh percaya diri.


Salah satu orang yang dirumorkan pernah membunuh Dewa adalah Rifan. Orang yang tidak bisa terkena serangan, tapi setelah kelemahannya terekspos semua orang mulai memburunya. Tidak hanya super guild yang mengepungnya, bahkan guild kelas satu yang punya dendam bisa melakukannya.


Dewa Cahaya memberikan isyarat pada malaikat untuk membunuh semua orang di ruangan ini. Ia akan menggunakan kekuatan rahasia miliknya.


Sesuai permintaannya, 9 Malaikat langsung membunuh 9 orang yang paling berpengaruh, kecuali Blue, Kamal, dan Nakamoto.


Dalam beberapa detik mereka semua mati dan dikirim ke Rumah Kebangkitan. Blue langsung melangkah ke tubuh Nakamoto yang tidak bisa bergerak.


Dengan kekuatannya dan Bee, mereka menahan serangan 6 malaikat. Disisi lain Kamal tertusuk 3 malaikat dan berubah menjadi transparan.


Blue sedikit bingung karena tidak ada notifikasi Kamal mati. Namun ia tahu Kamal pasti menggunakan sebuah trik untuk memalsukan kematiannya supaya tidak terkena hukuman sistem.


"Jangan berontak dan mati saja!" teriak ketua malaikat.


Blue melirik Nakamoto dan mengibaskan lengannya. "Sampai kapan kau berbaring, kita dalam masalah besar."


Formasi aneh langsung terbentuk, Nakamoto dan Cat bisa berdiri lagi seperti sedia kala. Namun 9 malaikat juga tidak tinggal diam, mereka sudah dalam proses menyerang.


Bee membuat sebuah perisai transparan untuk melindungi semua. Tepat ketika serangan malaikat membentuk perisai itu, semuanya terdorong kebelakang, sedangkan Bee langsung memuntahkan seteguk darah segar.


"Sudah tidak ada waktu untuk mengukur waktu. Ela sembuhkan Bee dan kita bunuh para malaikat itu!"


Ela dan Elvy muncul dengan cepat, mereka menggunakan stelan baju Fairy Dance yang sudah disempurnakan Jessica khusus untuk mereka.


Dengan cekatan Ela menyembuhkan Bee dan Elvy membuat formasi untuk menekan kekuatan para malaikat. Raul, Drakula, Yami, Emma, Naga Angin, Kitty, Liem, Eka, dan Dwi langsung muncul di sekelilingnya.