
Azazel bangkit dari tidurnya, ia tekena pukulan telak. Namun pukulan itu tidak bisa membunuhnya. Senyumnya semakin lebar, kedua tangannya menyerupai Venom.
"Ayo coba teknik yang sama seperti bapakmu!" kata-kata Azazel terdengar sangat kasar dan terkesan menghina.
Namun Venom dan Dagon bukan bocah kemarin sore, mereka cukup baik dalam mengendalikan emosinya.
Venom melirik Dagon dan keduanya saling mengangguk, Dagon menggunakan keterampilan andalannya. Ratusan monster ikan muncul dari tanah, tubuh mereka terbuat dari air tapi berwarna hijau.
Bermodalkan tombak, panah, dan pedang, semuanya bergerak maju meskipun hanya setara Dewa Tinggi.
30 anak panah terbang menghujani Azazel yang belum bergerak dari tempatnya. Tapi anak panah itu tidak dapat menjangkau targetnya dengan benar.
Sebuah pelindung tak kasat mata muncul disekitarnya. "Apa kau bercanda?" ucap Azazel yang meremehkan kekuatan Dagon.
Meskipun lemah, Dagon tampak tidak peduli dan mengendalikan monster ikan lainnya menyerang Azazel.
Trisula yang genggam tangan kanannya langsung berayun, Azazel mengalahkan semua monster ikan dalam sekali serang.
Sayangnya para monster ikan itu hanyalah pengalihan, Venom dari langsung sudah melesat menuju Azazel.
"Dark Meteor!"
Kedua kaki Venom diselimuti aura berwana hitam pekat. Ini adalah efek samping dari penggunaan energi kekacauan dan kehampaan yang dimiliki Blue.
Sebelum membuat pergerakan, dua kaki Venom mendarat tepat di dada Azazel. Namun kekuatan sebesar itu masih belum cukup merobek kulit monster bernama Azazel.
Venom meningkatkan kapasitas energinya, tetapi Azazel sudah sadar dan menangkap salah satu kaki lawannya.
Lengannya segera menegang, Azazel siap membanting Venom. Namun dihentikan oleh seorang prajurit monster ikan.
Dagon memberikan efek tambahan pada rekamnya itu, sehingga Venom bisa melepaskan diri dari genggaman Azazel.
Tepat setelah kakinya berhasil terlepas, Venom memberikan tendangan acak ke wajah Azazel. Meskipun tidak memberikan kesukaan besar, tendangan itu dapat menjatuhkan martabat raja iblis neraka.
"Bang...!" suara tendangan kaki kanan Venom mendarat tepar di pipi Azazel.
Dengan wajah yang tampak kesal, Azazel mengumpat. "Bajingan, aku akan membunuhmu!" katanya sambil menggerakkan tangannya untuk menangkap Venom lagi.
Namun usahanya gagal karena monster ikan yang memukul lengannya dengan pedang. Meskipun tidak menghasilkan kesukaan apapun, serangan pedang dapat menurunkan kecepatannya.
"Sialan!" teriaknya Azazel sambil menggerakkan tangan lainnya. Tangan kirinya menangkap kepala monster ikan dan menghancurkannya.
Sayangnya itu berhasil mengulur waktu Venom untuk menyelamatkan diri. Azazel melihat Dagon dengan tatapan kesal, ia benar-benar tidak menyangka akan terdesak karena dua bayi yang baru lahir.
Perlu diingat Venom punya umur ribuan tahun, itu sudah ditambahkan umurnya di Dunia Buatan. Sedangkan Dagon jauh lebih tua karena ia prajurit yang ikut berperang melawan Ras Venom.
Kali ini mereka tidak bisa menggunakan cara yang sama. Venom dan Dagon harus memutar otak karena Azazel sudah marah.
Mata merah yang hampir keluar dari tempatnya tiba-tiba berubah menjadi biru api. Matanya kembali seperti semua dan sayap kecil di punggungnya membesar.
Tubuhnya yang awalnya bongsor seperti beruang kekenyangan berubah wujud menjadi sosok iblis neraka yang sesungguhnya. Tubuh ramping dengan otot yang terbentuk rapi. Rambut panjang berwarna hitam serta terurai hingga punggung.
"Sudah lama aku tidak bertarung dengan serius. Ayo mulai babak selanjutnya!" ucap Azazel dengan suara tenang layaknya pria muda yang bertenaga.
Venom merasakan ancaman yang nyata, ia sama sekali tidak bisa melihat batas kekuatan musuhnya.
Dagon yang melihat Venom termenung langsung menepuk pundaknya. "Dia belum menggunakan 100% kekuatannya, jangan lengah dan lakukan yang terbaik."
Venom tersenyum. "Sepertinya aku sudah hilang akal. Tidak mungkin musuh ras Venom hanya iblis neraka lemah. Inilah alasan mengapa seluruh keluarga venom hancur!"
Senyumnya menghilang, Venom tampak fokus mengendalikan kekuatannya. Namun sebelum mereka bereaksi, Azazel sudah mengambil leher keduanya.
"Haha, ternyata sangat mudah membunuh kalian!" Azazel langsung meremas tangannya, seketika leher Venom dan Dagon patah.
Manusia biasa akan langsung mati jika terkena serangan itu. Namun Venom berhasil merubah wujudnya menjadi cairan darah berwarna hijau, begitu pula dengan Dagon yang berubah menjadi air.
Untuk berjaga-jaga Venom dan Dagon muncul di tempat yang cukup jauh. Namun Kebangkitan mereka langsung di ketahui Azazel dan menangkap lehernya lagi.
Venom dan Dagon mencoba melepaskan genggam Azazel dengan kedua tangannya. Namun usahanya sia-sia karena wujud sempurna Azazel tidak bisa diremehkan.
"Ayolah, aku ingin bermain lebih lama." Azazel menyombongkan dirinya, ia harus mengakui dua musuhnya kali ini cukup merepotkan. Bahkan ayah Venom tidak bisa memojokkannya hingga ke titik ini.
Monster air muncul di belakang Azazel dan menusukkan pedangnya. Namun ujung pedangnya tidak bisa menembus kulit punggung Azazel.
"Apa aku tergigit semut?" ucapnya sambil menengok kebelakang. Ekor yang selama ini disembunyikan muncul dan menampar monster air hingga hancur berkeping-keping.
Venom dan Dagon mengagungkan kepala, keduanya menggunakan racun dan mendorong tubuhnya keluar dari genggaman lawan. Usahanya berhasil karena Azazel sedikit tidak fokus pada keduanya.
Venom dan Dagon langsung berlari ke dua arah berbeda, mereka mengulur waktu dan menyembuhkan lukanya.
Sayangnya Azazel tidak bercanda kali ini, sebuah tangan tak kasat mata langsung menggenggam keduanya. Hal ini sama persis seperti Saint Martha menangkap Blue dan kelompoknya.
"Ugh bayi-bayi manis ku mau melarikan diri."
Tepat setelah mengatakannya, sebuah rudal berkekuatan nuklir menghantamnya. Venom dan Dagon dengan cepat menyelimuti tubuhnya dengan energi jiwa.
Punggungnya terlihat merah, bahkan ada beberapa darah keluar dari sudut tangan dan punggungnya.
"Senjata apa itu?" ucap Azazel mengalihkan pandangannya pada sebuah robot setinggi 2 meter melayang di langit.
Venom dan Dagon menggunakan keterampilan menyelamatkan diri, keduanya berubah menjadi air dan darah.
"Mainan menarik apa ini," ucap Azazel yang tidak peduli dengan Venom dan Dagon lagi. Ia dengan cepat sampai di depan robot dan memegang lehernya.
Karena kurangnya informasi, Azazel mengira dengan menekan leger robot bisa menghentikan pergerakannya.
Sayangnya itu kesalahan besar, salah satu tangan robot langsung menembakkan laser yang bisa menghanguskan sebuah desa. Azazel yang tidak siap menerima serangan langsung terbelalak.
Perutnya berlubang karena serangan barusan, sudut bibirnya keluar segelintir darah. "Hoho, mainan yang menarik!" tangannya langsung meremas leher robot hingga putus.
Namun kepala robot terbang menjauh, begitu pula dengan tubuhnya yang menangkap kepala dan menyatukannya kembali.
Tanpa merubah ekspresinya, robot itu berhasil utuh kembali dengan bantuan Batu Mana berwana Ungu di dalamnya.
Azazel tersenyum manis, ia tidak pernah menyangka ada sosok bongkahan besi bisa bergerak sesuai perintah dan sulit dihancurkan.
"Ayo sedikit bereksperimen." Azazel mulai tertarik dan mengepalkan tangannya. Aura berwarna merah menyelimuti tinjunya, bahunya menegang dan tinjunya terbang kembali arah robot.
Bukannya menghindar, robot itu menggunakan sebuah formasi pertahanan yang sudah ada di dalam programnya. Karena sumber dayanya terbuat dari Batu Mana terkuat, formasi pertamanya sangat kuat.
Tinju Azazel dihentikan dengan sempurna, aura yang menyelimuti tangannya terbelah hingga mengakibatkan pohon dan tanah di belakang robot hancur.
"Hoo..."
Azazel memberikan tekanan yang lebih tinggi, ia menciptakan sebuah bola energi di telapak tangannya. Setelah menunggu beberapa saat, ia melemparkannya pada si Robot.
Namun hasilnya sama, kekuatan penghancur Azazel tidak bisa menggores tubuh si robot.
Karena sudah menerima serangan berkali-kali, Si Robot merubah kakinya menjadi jet. Ia bisa terbang sesuka hatinya dengan kecepatan tinggi.
Tinju Si Robot berhasil mendarat di pipi Azazel. Bukannya terpental dan kesakitan, Azazel malah mengelus lengan Si Robot dan mempelajarinya.
"Menarik, semua susunan tubuhnya terbuat dari logam. Tapi logam apa yang bisa menampung kekuatan sebesar itu. Manusia memang menarik!"
Azazel bergumam senang melihat penemuan yang begitu hebat. Jika saja dia punya robot ini 1 juta saja, mungkin dunia akan tunduk padanya.
"Jangan bermimpi!" ucap salah seorang wanita yang mendengar gumamnya. Dia adalah Zaha yang menggunakan stelan tempur mecha.
Dua senapan laser di tangannya langsung menghujani Azazel yang masih belum puas dengan keingintahuannya.
"Apa kau yang menciptakan robot ini?" tanyanya. Tapi sebelum mendapat balasan, laser bertubi-tubi menyerangnya.
Azazel mengibaskan lengannya, bedu yang menghalangi pandangannya segera hilang. "Hoo... Serangan kali ini sedikit lebih sakit."
Tubuh Azazel berlubang dimana-mana, tetapi ia masih hidup menutup lubang di tubuhnya dengan mudah.
Azazel yang penasaran dengan Zaha langsung mengerahkan tangan tak kasat mata dan menangkap lawannya.
Zaha yang merasa tubuhnya tertarik langsung merubah arah pendorong ke depan. "Boost!" teriaknya dengan sekuat tenaga.
Normalnya tidak ada yang bisa melas dari Azazel, tetapi teknologi yang dikembangkan Zaha berhasil melepaskan dirinya. Hal ini tidak lepas dari peran Serly yang mengajarinya simbol kuno.
Azazel melihat tangannya terluka, senyumnya melebar dan matanya melotot. "Bagus, muncul lagi lawan!"
Karena suka dengan pertarungan, Azazel lupa akan pasukan yang dia pimpin. Fairy Dance sampai di wilayah Kerajaan Kuala, mereka langsung bergegas melakukan tugasnya.
Leon sebagai pusat komando tidak bisa berdiam diri, dengan keterampilan pedangnya ia menghancurkan semua cimera tingkat rendah dan menengah. Sedangkan untuk tingkat tinggi membutuhkan lebih banyak pemain.
Jessica yang lama tidak muncul tiba-tiba terbang di atas langit bersama dengan 9 rekannya, salah satunya adalah Nidia.
"Apa ini benar-benar perang?" tanyanya pada anggota kelompok. Jessica melihat semua bangunan kerajaan luluh lantah sejajar dengan tanah.
Tembok megah yang awalnya berdiri tegap sekarang tinggal puing-puing. Istana yang berdiri tegap di tengah kerajaan kehilangan jati dirinya, hanya tersisa beberapa atap lancip.
"Ayo!" ucapnya tegas.
Dua tombak segera muncul di tangan kanan dan kiri. Jessica melesat menghancurkan semua musuh yang menghalanginya.
Amelia yang memimpin pasukan tempur barisan depan memukul setiap musuh yang terlihat. Tidak main-main, ia menggunakan kekuatan penuh pada setiap pukulannya. Walaupun itu mengakibatkan kerusakan lebih parah, Amelia harus mengakhiri perang ini secepat mungkin.
Tidak hanya para pemain yang tumbang, tetapi lebih dari puluhan ribu prajurit pribumi tewas. Belum lagi penduduk yang tidak bersalah dan tak punya kekuatan untuk melawan.
Disisi lain Arief masih pingsan di atas mesin virtual, sosok Shen Haise muncul dan menggendongnya ke kamar.
"Kau terlalu memaksakan dirimu."
Shen Haise sangat mirip dengan Yuliana, hingga Arief mengigau dan memeluknya. "Ibu, jangan tinggalkan aku lagi."
"..."