Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Keanehan


Pelatihan selama sebulan berakhir dengan cepat. Blue mengumpulkan semua budak dan memberinya tugas.


"Aku ingin semua mengukir nama di tempat kalian pijak. Bawalah beberapa batu disini untuk menemani perjalanan, ingat 2 tahun dari sekarang kita akan kumpul di Kerajaan Kuala!"


Blue memberikan pidato di depan semua orang. Semua perkataannya lembut dan penuh makna, para budak yang awalnya tidak punya kekuatan sekarang menjadi petarung yang hebat.


"Baik!" jawab semua orang.


Hanya Melvin dan Ihsan yang tinggal di kamp untuk melanjutkan latihannya. Sedangkan budak yang lain berjalan ke arah yang berbeda untuk mengumpulkan pasukan.


Tujuan Blue yang pertama sudah selesai, ia membutuhkan tenaga kerja untuk menarik beberapa orang berbakat ke sisinya.


Dua tahun itu waktu yang diberikan Blue untuk menimba pengalaman di tanah dewa. Mereka semua memegang lambang Fairy Dance di setiap langkahnya.


"Melvin, kamu pergilah ke Kerajaan Kuala. Bimbing semua anggota Moldova menjadi dewa yang kuat."


"Baik, Tuan!"


Melvin Moldova, satu bulan lalu dia hanyalah budak yang tidak bisa melawan Dewa Sangat Rendah. Namun sekarang ia bisa berjalan dengan dada membusungkan untuk menyambut seluruh keluarganya.


Ketika dalam perjalanan, ia terlihat tersenyum manis.


...[Melvin Moldova...


.........


...Ras : Manusia...


...Tingkat : Dewa Tinggi.]...


"Ihsan, apa kamu punya tempat pulang?"


"Tidak, semua keluargaku mati di medan perang." Ihsan masih dingin seperti biasa, berbeda dengan Agni yang meledak-ledak seperti anak naga lainnya.


"Bocah ayo bertarung lagi, sepertinya otakmu masih belum benar!" teriak Agni yang sangat percaya diri sambil menunjuk Ihsan.


Blue dan Moris meliriknya seperti curiga karena pipi Agni terlihat terluka. Ya benar, Ihsan bisa memukul Agni di pertarungan sebelumnya.


Ihsan adalah monster yang menyerap semua teknik musuhnya. Tidak hanya menyalin setiap teknik, Ihsan bisa mengubahnya sesuai dengan kondisi tubuhnya.


Bakat ini sama persis dengan Blue, karena itulah dia layak dijadikan sebagai investasi masa depan.


"Ayo."


Agni melepaskan aura api yang meledak-ledak. Kepalan tangannya tebang mendekati Ihsan.


Disisi lain Ihsan tampak tenang dan melebarkan kedua tangannya. Teknik tai chi digunakan untuk membelokkan serangan lawan.


Api Agni berbelok sehingga hanya ada tangan kecilnya. "Jangan meremehkanku bocah!"


Meskipun tangan Agni tidak diselimuti api, dia masih keturunan Naga Api. Jadi kulitnya mengeras dan menghantam pipi Ihsan.


Bukannya takut dan menerima serangan begitu saja, Ihsan menatap tajam ke arah lawan dan mengayunkan lengannya ke pipi musuhnya.


"Teknik yang sama tidak akan bekerja!" teriak Agni meningkatkan tekanan di tangannya.


Ihsan tahu itu tidak bekerja, tetapi ia masih terus melanjutkan hingga tubuhnya terdorong sebelum tangannya sampai.


Agni yang tersenyum tipis tidak menyangka kaki Ihsan sudah berada di sebelah kanan kepalanya.


"Buk..."


Suara tendangan Ihsan yang tidak terlalu keras. Agni menunduk dan tiba-tiba aura panas mulai naik.


"Bagus bocah, kau berhasil membuatku bersemangat!"


Sebuah kepulan api membentuk naga yang cukup besar. "Roar!" suara dari naga terdengar.


"Ini bahaya, Agni hampir kehilangan kesadarannya." Moris mencoba menolongnya tapi dihentikan Blue.


"Tunggu sebentar, dia akhirnya berhasil mendapatkan lawan yang sepadan kan?"


Ya, Agni akan bertarung dengan serius. Pepohonan di sekitar mulai mengiring dan terbakar.


Keringat Ihsan mulai bercucuran, ia tidak punya teknik untuk melawan hawa panas sekuat ini. Namun matanya memancarkan cahaya ketenangan, ia memperhatikan setiap udara dan membelokkan panasnya.


Kuda-kuda dasar yang diperlihatkan Agni pertama kali ia gunakan, Ihsan bener-bener tidak tahu bagaimana melawannya.


Hembusan napasnya terlihat tenang, Ihsan berfokus pada serangan selanjutnya.


Agni menghilang dari tempatnya, ia langsung menghantam Ihsan hingga terbang beberapa meter jauhnya. Tidak sampai disitu, ia menyerang terus menerus seperti orang gila.


Ihsan terus berdiri dan mencoba menyesuaikan kondisi tubuhnya. Hal yang patut ditiru semua orang adalah ketenangannya, aura dalam tubuhnya tidak goyah.


Seiring berjalannya waktu, serangan Agni mulai tidak efektif. Hal itu karena Ihsan sudah terbiasa dan memprediksi serangan super cepat yang dia terima. Matanya terus terbuka untuk melihat pergerakan lawan.


Namun setiap kelebihan pasti punya batasannya, Ihsan tidak bisa bertahan lebih dari 5 menit. Ia mengedipkan mata dan pukulan kuat mendarat di dadanya.


"Sudah cukup, bocah ini pingsan."


Tidak hanya pingsan, Ihsan terluka parah karena pukulan di dadanya membuat konsentrasinya bubar.


Blue memberikan ramuan penambah HP dan MP untuk memelihara kekuatannya. Ihsan masih belum bisa sadar, tapi lukanya mulai sembuh dan tidak membahayakan nyawanya.


Moris tidak begitu kaget dengan kemenangan Agni, ia hanya sedikit bingung dengan kekuatan tuannya. Agni adalah seorang Dewa Puncak yang siap menerobos ke Maha Kuasa. Namun serangan terkuatnya itu dihentikan dengan satu tangan saja.


Jika Moris ada di posisinya, tangan kirinya pasti akan hancur berkeping-keping. Perlu diingat, Agni adalah keturunan Ras Naga Api.


Yuri datang dan membawa Ihsan ke ruang pengobatan, lukanya terlalu serius. Jika bukan Ihsan, mungkin saja mereka akan mati karena semua ototnya hancur.


Ela dan Elvy segera keluar dari ruang penyimpanan, keduanya menggunakan simbol khusus untuk membantu penyembuhan.


Blue tersenyum ke arah Agni. "Jangan merasa bersalah, pertarungan kalian memang sangat menarik."


Dalam segi tingkat Agni jauh di atas Ihsan, tetapi caranya menghindari kesalahan fatal, Ihsan patut untuk dipuji.


Satu bulan, hanya butuh satu bulan untuk ihsan menjadi monster yang begitu mengerikan. Total ada 93 Batu biru yang sudah diserap, sekarang dia ada di tingkat Dewa Puncak.


Tidak akan ada yang percaya seorang budak berusia 16 tahun menjadi dewa tinggi. Namun semua itu terjadi karena Ihsan memang mengerikan.


Waktu berlalu tanpa ada yang berubah, satu bulan waktu yang dibutuhkan Ihsan untuk bisa menggerakkan tubuhnya.


Setelah bisa bergerak, Ihsan langsung berlatih dengan keterbatasannya. Kakinya terlihat sangat kaku dan tangannya hanya bisa bergerak sedikit.


Agni melihatnya dari samping, ia tampak sangat menyesal tidak bisa mengendalikan kekuatannya.


"Maafkan aku, Bocah."


Permintaan maaf dari Agni sangat tulus, ia memberikan sekotak makanan yang dibuatnya.


"Terima kasih," kata Ihsan sambil tersenyum.


Bukannya merasa frustrasi karena tubuhnya terluka parah, Ihsan malah berterimakasih karena ia sadar bahwa masih ada langit di atas langit. Jika saja Agni tidak memukulnya hingga sekarat, mungkin Ihsan akan menjadi pria sombong dan berpuas diri dengan bakatnya.


Senyum keduanya tampak sangat hangat, Ihsan terus mencoba menggerakkan ototnya. Setidaknya butuh 1 tahun untuknya kembali ke kondisi normal.


Blue harus memukulnya seperti itu terluka para untuk mengembalikan mental dan konsentrasinya. Awalnya Ihsan sangat bersemangat, tetapi akhir-akhir ini dia tampak bosan karena gerakan Agni bisa diprediksi.


"Hei kalian berdua, ayo makan." Blue berteriak dengan suara lantang dan penuh semangat.


Setelah makan, Blue dan kelompoknya akan melanjutkan perjalanan untuk mencari kelompok lainnya.


Ihsan membawa tongkat untuk membantunya berjalan. Sekarang ada 4 orang yang berjalan bersamanya.


"Yuri akhir-akhir ini kau jadi pendiam?" tanya Moris di sampingnya.


"Aku sedang memahami sebuah konsep." Yuri sebenarnya memperhatikan setiap gerakan masternya.


Blue sosok aneh yang bisa menciptakan banyak teknik dan mengajarkannya pada anak berusia 16 tahun. Anehnya hanya dalam dua bulan bocah 16 tahun itu setara dengannya ketika melayani Dewa Keberuntungan.


Konsep yang dikatakan Yuri menjurus ke sebuah pemahaman. Sebagai seekor rubah berekor 9, Yuri harus memahami sesuatu sebelum menjadi monster mistik. Jika penggalang itu tidak diterobos, selamanya kekuatannya akan berhenti di sini.


Perjalanan tidak berakhir sia-sia, Blue dan kelompoknya bertemu kelompok pedagang yang menyusuri hutan.


"Halo Paman, aku Blue dari Kerajaan Kuala. Apa disini ada desa terdekat?" tanya Blue dengan suara sopan.


Meskipun sudah sopan, karavan pedagang itu tampak sangat ketakutan. Mereka memandang Blue seperti seorang bandit yang akan menyerangnya.


"Tentu ada Tuan, disebelahnya sana." Kusir dari karavan itu menunjuk arah utara.


"Apa kalian juga singgah di desa itu?"


"Tidak, tuan. Kami harus segara keluar hutan sebelum malam."


Setelah mendengar jawabannya, seorang pria gendut dengan dandanan mewah mengeluarkan kepala dari kereta. "Apa yang kalian obrolkan, cepat jalan hari sudah mulai petang!"


Kusir menarik keretanya, ia tidak mau para bandit menghadangnya. Blue tidak merasakan ada orang lain di sekitar, jadi dapat dipastikan jalur ini aman.


Karena sudah merasa aman, Blue meninggalkan mereka dan menuju desa terdekat.


Dua penjaga menghentikannya untuk melihat identitasnya. Blue mengeluarkan identitas biasa untuk menghindari perhatian yang tidak perlu.


"Tuan silahkan masuk."


Perlakuan mereka tampak sopan pada Blue dan kelompok, berbeda dengan kelompok petualang dibelakang.


"Masuk!" ucap penjaga.


Hari sudah gelap, karavan yang sebelumnya menunjukkan jalan belum juga sampai. Blue mencari penginapan dekat dengan gerbang untuk berterima kasih padanya.


Setelah menunggu beberapa menit, karavan itu masuk dengan tubuh yang terluka parah. Barang dagangan mereka habis dirampok.


"Menarik, para bandit itu punya kemampuan." Blue merasa tertipu karena ia tidak melihat adanya trik.