Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Pelayan Osiris


Pertandingan Nomor 76 dan 98 segera dimulai, keduanya tampak serius untuk mengambil kemenangan.


Dikalangan budak petarung sangat menguntungkan jika mereka bisa menang dalam liga pertandingan. Barang siapa yang memenangkan satu pertandingan, mereka akan mendapat makanan yang layak. Jika kemenangannya terus berlanjut, akan ada banyak keistimewaan yang didapatkan.


Salah satunya nomor 76 yang sudah mendapatkan ruangan pribadi serta keuntungan lainnya.


"Nak, sebaiknya kau segera menyerah!" ucap Nomor 76.


Meskipun samar Blue bisa merasakan nomor 98 mempunyai aura dewa. Bisa dibilang dia adalah seorang Dewa Sangat Rendah atau bahkan setengah langkah menjadi dewa. Tapi kemenangan tidak ditentukan oleh aura dewa atau semacamnya.


Dengan sedikit trik Blue mengirim telepati, walaupun di dalam area pertarungan sudah dipasang simbol anti telepati, Blue bisa menerobosnya karena punya Sistem Merah atau Kekacauan.


"Hei, kawan. Apa kau ingin menang?" tanya Blue.


Meskipun sudah mendapat pertanyaan yang jelas, nomor 98 tidak menjawab. Dia tampak serius sambil mengepalkan tinjunya, tanpa rasa takut ia berlari seperti anak kecil dan mengayunkan lengannya.


Tinju nomor 98 berhasil mendarat ke wajah musuh, tapi tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. Nomor 76 masih berdiri tegap tanpa terpengaruh sedikitpun.


Dalam ruang pribadi tidak hanya mempunyai makanan yang enak, di sana juga mendapatkan banyak obat untuk memperbaiki tubuhnya. Berbanding terbalik dengan budak tanpa kemenangan, mereka hanya makan seadanya tanpa ada perbaikan tubuh.


Sistem merah sama sekali tidak bisa digunakan, Blue mengerutkan alisnya karena informasi langsung masuk ke dalam otaknya. "Bagaimana budak tanpa sumber daya bisa memiliki aura dewa, pasti dia bukan orang sembarangan." Blue mencoba meyakinkan dirinya bahwa informasi yang tiba-tiba masuk ke dalam pikirannya.


Seperti yang diharapkan dari budak yang bisa mengeluarkan aura dewa, nomor 98 mengepalkan tangannya dan meninju untuk kedua kali.


Nomor 76 sempat ketakutan dan melompat mundur, meskipun aura musuhnya kuat ia bisa menghindari serangannya dengan mudah.


"Bagaimana bocah ini bisa sekuat ini! Aku harus membunuhnya."


Karena merasa terancam, Nomor 76 langsung melepaskan kekuatannya. Karena di dalam arena pertandingan tidak diizinkan menggunakan senjata, keduanya saling memukul dengan tinjunya.


Sampai akhirnya nomor 98 terjatuh dengan napas kembang-kempis, matanya tampak tidak percaya dirinya bisa dikalahkan.


"Tunjukkan padaku!" teriak pemuda cungkring nomor 98.


"Bagus, sekarang berdirilah, lakukan setiap kata-kataku."


Blue membingungkan nomor 98 mengendalikan aura dewa untuk menyembuhkan stamina dan memperkuat tubuhnya. Hanya dalam 2 detik ia merasakan perbedaan kekuatan dari pria cungkring.


"Dia pasti jenius!" gumam Blue dari bangku penonton.


Melihat lawannya menjadi lebih stabil membuat Nomor 76 sedikit panik, ia berlari dan mengayunkan lengannya. Pukulan terkuatnya melayang ke wajah nomor 98, tetapi serangannya bisa dihindari dengan mudah.


Blue terus membimbing, nomor 98 belajar dengan sangat cepat. Sayangnya dia masihlah anak muda yang suka berontak, kesalahan kecil membuatnya terpeleset dan wajahnya terkena pukulan telak.


Nomor 98 tergeletak lemas, dia tidak dapat melanjutkan pertandingan. Kemenangan di pegang nomor 76, Blue salah perhitungan karena ini pertama kalinya Sistem Merah tidak membantunya.


"Yah aku mengaku kalah, Tuan Muda. Tebakan anda sangat baik." Blue memuji pria gendut di sebelah.


"Haha, jangan terlalu sopan kawan. Kamu pasti baru pertama kali kesini, nomor 76 sangat kuat. Dia sudah menang 11 kali berturut-turut sebelum ini."


Blue sedikit ceroboh karena tidak memeriksa musuhnya. Meskipun dengan satu lirikan mata Blue bisa melihat lawan belum merasakan aura dewa, dia lupa untuk menilai seluruh kekuatannya.


"Aku dengar mereka budak, apa ada cara untuk membelinya?" tanya Blue.


"Tentu saja ada, ayo ikuti aku." Tuan muda gendut itu berjalan dengan santai melalui pintu belakang, dengan lambaian tangan saja para penjaga langsung mengetahui siapa dirinya.


Blue memperlihatkan dari belakang, ia merasa ada yang aneh dengan perilaku pria gendut itu. Meskipun seorang pangeran ia tampak sangat jahat dan penuh dengan trik.


Sampai akhirnya Blue dan Pria Gendut masuk ke sebuah ruangan khusus, 5 penjaga segera keluar karena mereka tidak punya hak.


Tepat setelah para pengawal keluar, sosok pria tua dengan jenggot panjang serta kacamata bulat menghampiri mereka. "Tuan Muda Salem ada keperluan apa datang kesini?" tanyanya dengan senyum yang begitu menakutkan.


Blue tanpa sadar mengaktifkan Mata Dewa untuk menggali informasi darinya. Informasi lengkap tentang pria tua itu langsung masuk ke dalam pikirannya, Blue sedikit terkejut karena dia adalah salah satu pelayan Osiris.


Semakin banyak Osiris membangkitkan mahkluk hidup baik itu manusia atau yang lainnya, kekuatannya akan terus bertambah. Itulah alasan mengapa ia tampak sangat muda dan tampan.


"Aku membawa barang bagus, berapa nilainya?" tanya Tuan Muda Salem.


Pria tua itu melirik ke arah Blue menggunakan Mata Dewa, ia tidak bisa melihat identitas maupun statusnya. "Apa kau yakin dia berkualitas?" bisik pak tua.


"Aku sudah mengujinya dengan barang itu, tidak mungkin pilihanku salah."


"Baiklah, aku akan segera memprosesnya. Jangan buat dia waspada!" Pak tua kembali untuk melakukan sesuatu.


Sedangkan Tuan Muda Salem mendekati Blue dan berkata, "Tunggu sebentar, dia sedang mempersiapkan tempatnya."


Blue berpura-pura tidak mendengar, ia sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi. Namun untuk melihat apa yang ingin dilakukan pelayan Osiris.


Setelah menunggu 5 menit, Blue dan Dalem disuruh masuk untuk melihat beberapa budak untuk dijual. Blue langsung memilih pria yang tergeletak di tanah, dia adalah nomor 98. Karena masih pingsan, nomor 98 akan diproses setelah dia bangun.


"Tuan harga pria muda ini cukup mahal, dia masih cukup baru disini."


"Lupakan tentang harga, aku bisa membayar berapapun." Blue tersenyum tipis sambil menyombongkan dirinya.


"Baiklah, Tuan. Mari ke ruang tunggu sebentar."


Formasi perangkap terlihat tapi belum diaktifkan, Salem dan Pak Tua tersenyum lebar. Mata mereka tampak memancarkan aura jahat.


"Apa maksudnya ini?" tanya Blue yang masih berpura-pura tidak tahu. Dia ingin melihat seberapa kuat formasi dari pelayan Osiris.


Sesuai dugaannya ruangan ini adalah sebuah jebakan untuk memurnikan jiwa seseorang. Sebelum dimurnikan, mereka harus terluka parah. Makanya Salem dan Pak Tua menarik pedangnya.


"Tidak perlu takut kawan, kematian sudah ada di depan matamu. Jangan melawan dan ayo lakukan dengan cepat."


Pak Tua dan Salem langsung menyerang dengan pedang. Karena belum mendapatkan apa yang dia inginkan, Blue berpura-pura terkena serangan dan memasang wajah panik.


"Bajingan!" umpatnya.


Pak Tua mengangkat satu tangannya, salah satu simbol diaktifkan. Pergerakan Blue dikurangi hingga 60%.


...[Pergerakan anda di kurangi 60%.]...


...[Kekuatan simbol terlalu lemah, anda tidak terpengaruh.]...


Blue tahu simbol disini lemah tapi siapa yang menyangka dia bisa lolos tanpa menggunakan simbol perlawanan.


Untuk memaksimalkan aktingnya, Blue berpura-pura melambat. Dia perlahan berlari keluar dari formasi.


"Kawan formasi ini milik dewa Osiris, tidak mungkin manusia seperti kita bisa menembusnya!" kata Salem yang masih tersenyum jahat.


Blue tersenyum tipis setelah memegang susunan simbol di seluruh ruangan. Dia punya sistem yang dapat merekam semua goresan di dingin.


Karena merasa sudah cukup, Blue mencoba bangkit dan menarik dua pedangnya. Tapi ia mengurungkan niat dan memasukkan pedangnya lagi karena melihat Pak Tua melempar pedang yang bagus.


Sarung tangan elastis miliknya sudah sangat kuat, jadi ia menangkap pedang yang dilempar padanya.


"Sepertinya main-mainnya sudah selesai. Ayo lakukan dengan cepat!"


Pedang yang dilempar ternyata adalah salah satu artefak kelas Dewa Puncak. Jika dijual harganya pasti sangat mahal, bahkan bisa membuatmu kaya raya.


"Tidak mungkin, bagaimana pedang suci di pegang manusia baisa?"


Blue merasakan ada sesuatu yang aneh dengan pedang itu, ia mencoba lebih berkonsentrasi dan mendapatkan bahwa energi di dalam pedang masuk kedalam tubuhnya.


"Mungkinkah tubuhku menyerap energi pedang?"