
Tim Blue sudah siap dengan senjatanya masing-masing, tapi tiba-tiba muncul sosok pria hitam dengan tubuh sangat tinggi. Dia tidak lain adalah Iblis Kecil yang sudah lama mengurung diri di Dunia Buatan.
Tubuh kekar dan kulit hitam membuat Iblis Kecil terlihat sangar dan menyeramkan, ditambah lagi pedang besar yang menggantung di punggungnya menjadikannya sosok yang sangat mengerikan.
9 Malaikat melawan kelompok Blue dan Nakamoto. Blue langsung melompat dan memberikan serangan pada salah satu malaikat paling lemah, malaikat itu tidak lain yang menyambut mereka di gerbang.
Ayunan pedang di tangan kanannya membuat malaikat itu sedikit terdorong dan terkena luka dalam, sang malaikat langsung bergerak dan menghasilkan energi kehidupan untuk menyelimuti tubuhnya.
Mata Dewa milik Blue sangat istimewa, ia langsung menyadari bahwa energi kehidupan yang digunakan sang malaikat milik Dewa Cahaya yang dirampas untuk menyembuhkan dirinya.
Blue menoleh ke arah Bee, ia mengirimkan telepati untuk menanyakan kejanggalan ini. “Apa para malaikat itu mengkonsumsi energi kehidupan milik Dewa Cahaya?” tanyanya.
Bee menjawab dengan santai. “Sejujurnya aku tidak tahu, tapi yang pasti para malaikat itu tidak pernah terluka ataupun sakit karena mereka sangat kuat.”
“Jadi begitu, aku mulai paham konsepnya!”
Pedang di tangan kiri Blue terbang dan menikam malaikat yang sedang menyembuhkan dirinya. Tidak hanya menusuk malaikat tepat di dadanya, Dual Secret Sword menyerap energi yang berkeliaran di tubuh malaikat.
Pemberitahuan sistem membuatnya semakin yakin bahwa energi kehidupan Dewa Cahaya sedang digunakan.
...[Berhasil menyerap energi Dewa Cahaya, semua status +1. Serap lebih banyak energi dewa untuk meningkatkan Dual Secret Sword.]...
Pedang yang menusuk dada malaikat mengirimkan energi pada Dual Secret Sword terus-menerus, jadi ia tidak perlu bingung mencari energi dewa. Dengan satu pedangnya, Blue akan menghadapi semua malaikat.
“Ayo lakukan!”
Blue dan Bee bergerak bersamaan untuk mengalahkan malaikat paling kuat, keduanya mengayunkan pedangnya bergantian hingga menciptakan sayatan pedang dan harmoni serangan yang serasi. Nakamoto dan Cat juga melakukan hal yang sama, tapi kombinasi serangan mereka tidak bisa menyaingi Blue.
Pedang suci milik Bee semakin terkontaminasi energi kekacauan, warnanya mulai menghitam hingga sekarang berwarna abu-abu. Bee tidak masalah dengan itu karena sekarang ia memutuskan untuk berpetualang dengan rekan-rekannya dibandingkan menjadi Dewa Cahaya selanjutnya.
Keduanya tersenyum dan terus menggerakkan tangannya, serangan berturut-turut Blue dan Bee membuat sang malaikat mengkonsumsi energi kehidupan yang terlalu banyak hingga Dewa Cahaya mulai menyadari keanehannya.
Matanya langsung melihat 9 malaikat yang dipukuli Blue dan kelompoknya, mereka semua tidak langsung dibunuh karena malaikat secara naluri mengkonsumsi energi milik Dewa Cahaya.
“Bajingan, pengecut!” teriak Dewa Cahaya yang langsung merubah targetnya, ia segera berlari dan membunuh salah satu malaikat.
Blue dan rekan-rekannya mundur beberapa langkah, mereka ingin melihat apa yang ingin dilakukan Dewa Cahaya pada malaikat yang melayaninya selama ribuan tahun.
Pedang suci milik Dewa Cahaya berlumuran darah karena ia membunuh 8 malaikat yang terbang di langit, kemudian ia langsung menatap satu malaikat yang tertusuk pedang di dadanya.
“Jadi kau pelakunya!” teriak Dewa Cahaya langsung menghunuskan pedangnya untuk menikam sang malaikat.
Rifan yang tidak tahu apa-apa memanfaatkan situasi dan menyerang pedang Dewa Cahaya hingga terpental beberapa meter. Keduanya saling melihat dengan tatapan tajam dan penuh permusuhan.
Satu malaikat yang menjadi sumber energi gratis berhasil diselamatkan, Blue tersenyum manis melihat Rifan dengan ceroboh menyelamatkannya. Awalnya Blue memang bersedia melepaskan malaikat itu, ia sedikit kasihan kesetiaannya dibayar dengan pembunuhan sepihak.
“Lawanmu aku, jangan membuat pergerakan bodoh!” seru Rifan yang mulai melangkah maju dan menghantam Dewa Cahaya dengan tinjunya. Kedua mahkluk aneh itu saling melukai dan Blue hanya diam menunggu kesempatan, ia tidak mau ikut campur karena salah satu di antara mereka akan segera menjadi musuhnya.
“Menurutmu siapa yang akan menang?” tanya Blue pada Bee yang memperhatikan pertarungan dengan saksama.
“Tentu saja Dewa Cahaya akan menang, tapi entah mengapa aku merasakan kengerian yang dipancarkan manusia bernama Rifan itu!”
“Sekarang dia sudah menjadi manusia setengah iblis, jika biasanya pemain bisa merubah wujudnya menjadi iblis, Rifan malah memelihara Raja Iblis di dalam tubuhnya. Setahuku Raja Iblis di dalam tubuhnya adalah Behemoth Sang Penguasa Daratan.”
“Darimana kau tahu?” tanya Bee yang tidak punya pengetahuan tentang raja iblis tersebut.
“Auranya sangat familier, sebagai penguasa tanah dia sangat kuat jika bertarung di tanah. Kau tau artinya apa,Kan?”
“Jadi selama ini kau sudah tahu orang itu tak terkalahkan di tanah...” Bee tidak menyelesaikan perkataannya karena sudah menemukan jawabannya.
Pertarungan mulai menunjukkan hasil, Dewa Cahaya merasa kelelahan karena energinya terkuras. Matanya terlihat sayu dan pedang sucinya mulai meredup, ternyata tidak hanya Blue yang menyerap energinya, Rifan juga menyerap sedikit demi sedikit ketika menyentuh Dewa Cahaya.
“Sialan, sekelompok manusia bajingan!” teriak Dewa Cahaya yang tidak terima kekalahannya.
Rifan mendekat dan mengayunkan tinjunya hingga mengenai muka Dewa Cahaya yang tidak sempat menghindar. Dewa Cahaya terbang puluhan meter dan darah mengucur dari hidung dan mulutnya.
“Ternyata hanya ini Dewa Cahaya yang ditakuti Zeus. Sungguh disayangkan ternyata aku lebih kuat!” ungkap Rifan dengan penuh percaya diri, padahal 60% kekuatan Dewa Cahaya telah di sedot habis Dual Secret Sword.
Blue menyadari ada yang aneh ketika memegang Dual Secret Sword, ia merasakan bahwa evolusi selanjutnya akan segera terjadi. Sebagai tuannya, Blue tidak mau mengungkapkan kekuatan pedangnya pada Rifan maupun Kamal yang bersembunyi entah dimana.
Meskipun teknik pendeteksi Blue sangat baik, ia masih tidak bisa menemukan Kamal. Padahal aslinya Kamal benar-benar mati dan dikirim ke Rumah Kebangkitan, tapi ia punya keterampilan khusus yang membuatnya menghindari hukuman sistem.
Blue tidak tahu Kamal punya itu, ia terus waspada pada sekitarnya supaya Kamal tidak mendapat keuntungan dari pertarungan ini.
Sosok pria berkulit hijau dipanggil Blue dari Dunia Buatan, dia tidak lain adalah Dagon yang sudah menjadi sekuat Anthony di Dunia Buatan,
“Hamba siap menjalankan tugas, tuanku!” ucap Dagon sambil berlutut di depan Blue. Ia sekarang menyadari bahwa kekuatan Blue tidak dapat dibandingkan dengan mahkluk lainnya.
Energi di dalam Dunia Buatan semakin tebal seiring bertambah kuatnya Blue, sehingga Dagon tahu seberapa cepat tuannya berkembang.
“Aku tidak punya banyak tugas, jaga tempat ini dengan area samudra!”
“Baik, Tuan...” tiba-tiba Dagon menghentikan perkataannya karena merasakan energi yang begitu familier.
Matanya langsung melotot melihat sosok manusia yang menyerupai Lucifer dalam wujud manusia. Karena merasa tertekan, Dagon tanpa sadar melepaskan auranya. Dia mencoba membuktikan bahwa dirinya lebih baik dibandingkan manusia.
“Apa yang kau lakukan kadal!” ucap Liem dengan nada sedikit kasar.
Naga bicara itu mengingatkan Dagon bada sosok besar yang selalu menendang bokongnya ketika berkunjung, dia tidak lain adalah Raja Iblis terkuat Lucifer.
“Tuan, apa anda tahu dia itu...”
“Ya, aku tahu. Jangan buang waktumu dan segera pasang area samudra!”
Entah mengapa Blue merasakan ada sosok yang memperhatikan mereka dari jarak jauh. Ia melepaskan auranya untuk mengetahui siapa dia, tapi tidak ada sosok pemain yang ditemukan.
Dagon segera menggunakan area samudra untuk membuat perangkap supaya Dewa Cahaya dan Rifan tidak bisa keluar dari wilayah ini. Energi berwarna biru laut membentuk sebuah formasi dan mengurung semua orang, sebelum Dagon mati tidak ada orang yang bisa menghancurkannya dari dalam, kecuali orang itu punya kekuatan yang sama seperti Zeus atau Baal.
“Sialan aku tidak akan memaafkan kalian manusia rendahan!” teriak Dewa Cahaya yang sudah tidak punya harapan menang. Pedang Suci yang paling dia banggakan redup dan 9 malaikat yang melayaninya telah mati.
Rifan tertawa terbahak-bahak, ia menertawakan Dewa Langit yang berlutut di depannya. “Mana kesombongan mu sebelumnya?”
“Bajingan!”
Pedang suci milik dewa cahaya di rebut, lehernya di tarik. Tangan Rifan mengeluarkan asap berwarna hijau, semua jiwa dan kekuatan yang tersisa darinya diserap habis hingga kering.
Tepat sebelum dia meninggal, sosok pria mengenakan pakaian putih segera menusuknya dari belakang. Orang itu tidak lain adalah Kamal yang mengenakan pakaian yang dapat menghilangkan hawa keberadaannya.
Keputusan bodoh Kamal membuat Blue menganalisis pakaian aneh itu, mulai sekarang dia tidak akan terkecoh oleh trik yang sama.
...[Selamat pemain Kamal berhasil membunuh Dewa Cahaya, Gelarnya sebagai Dewa Cahaya akan diwariskan padanya.]...
Blue tidak peduli dengan gelar, ia langsung berlari dan mengambil kotak yang dijatuhkan Dewa Cahaya. Meskipun ada puluhan barang yang jatuh, Blue hanya mengambil satu yang tampak sederhana.
Kamal langsung mundur karena dia sadar tidak bisa mengalahkan Rifan maupun Blue dalam kondisinya saat ini.
“Bagus, kalian berhasil membuatku marah!” ucap Rifan sambil mengambil benda yang dijatuhkan Dewa Cahaya.