Domain Dewa : Penguasa Benua

Domain Dewa : Penguasa Benua
Pergi


Meskipun Ela masih sangat muda, kemampuannya dalam pengobatan sudah setara dengan Anthony. Sudah kita ketahui semua Anthony adalah seorang Dryad yang punya kemampuan penyembuhan.


Tiga orang itu terluka parah, mereka tidak dapat sembuh dalam waktu dekat. Sebenarnya Blue ingin membawa mereka ke Dunia Buatan, tetapi niatnya dibatalkan karena Blue belum yakin ketiganya setia.


Sembari menunggu mereka sembuh, Blue berjalan-jalan melihat perbaikan Kerajaan Damaskus. Beberapa kesatria kerajaan mengarahkan pembangunan.


Liem dam Kitty yang ada di belakang mengerutkan alis melihat pada pekerja yang menyusun bata secara manual. Padahal ada sihir yang dapat membantu mereka.


"Paman mengapa anda tidak menggunakan sihir?" tanya Liem yang mulai bersosialisasi dengan penduduk sekitar.


"Para penyihir itu sibuk, mereka terluka parah karena perang kemarin."


Liem tahu bahwa itu adalah kebohongan, dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Matanya melirik ke arah Blue untuk menanyakan sesuatu. Namun sebelum bertanya Blue sudah mengagungkan kepala.


Senyum manis muncul di wajah Liem, kedua tangannya di rentangkan. Batu bata tersusun rapi dengan bantuan sihirnya. Dia berbaur dengan para pekerja yang tidak bisa mengumpulkan aura dewa. Mereka semua bekerja keras membangun kediaman yang damai.


Kitty malah fokus pada para wanita yang memasak di dapur, mereka menggunakan bahan makanan biasa tanpa menggunakan sihir. Hatinya tergerak dan berjalan mendekati mereka dalam wujud kucing.


Tepat setelah berdiri di depan para wanita, ia merubah wujudnya menjadi manusia. Para wanita itu mengacungkan pisaunya karena takut.


"Aku tidak akan melukai kalian. Ngomong-ngomong apa yang kalian masak?" tanya Kitty dengan suara lembut. Dia teringat Athena yang membantu rakyat jelata untuk membuat masakan para pekerja.


Dengan pengalamannya, Kitty berbaur dengan para wanita untuk menyajikan masakan yang enak. Karena Kitty pengguna sihir, ia bisa menggoreng dengan sangat baik.


Blue tidak menggangu mereka berdua, ia meneruskan perjalanan menuju istana. Ketika di perjalanan, Blue menemukan sesuatu yang menarik.


Sekelompok anak kecil memukuli gelandangan yang mengenakan baju lusuh. Blue tidak menghentikannya, ia hanya kagum dengan keteguhan hatinya melatih mental dan emosi.


...[Hektor...


...Pangeran yang telah jatuh dari Kerajaan Troya. Semua keluarganya dibunuh dan menyisakan dirinya sendiri dengan kutukan dari Pasukan Zeus....


...Gelar : Dewa Perang (Tersegel).]...


Hektor adalah pangeran yang berhasil menahan gempuran dari pasukan Zeus, Athena juga ikut andil dalam peperangan tersebut.


"Hei anak-anak..." Blue belum menyelesaikan perkataannya, tapi anak-anak kecil itu segera lari karena merasa bersalah.


"Paman, apa kau baik-baik saja?" tanya Blue melihat Hektor yang terkapar di tanah.


Napasnya tak teratur, Hektor seperti mayat hidup yang dikutuk untuk tidak mati. Tubuhnya kering hingga bentuk tulangnya terlihat dari luar.


"Nak, dunia ini sangat tidak adil. Semua orang yang aku cintai di ambil Tuan!" ucap Hektor.


Tuan yang dimaksud Hektor adalah Zeus yang berkuasa kala itu. Karena keluarganya menolak kekuasaan Zeus, mereka semua dimusnahkan.


Kutukan yang ia dapatkan bukan berasal dari pasukan Zeus melainkan dari Osiris. Hades pernah memberinya penawaran untuk menjadi kuat dan membalas dendam. Namun Hektor menolak karena ia sudah melihat betapa kejamnya Tuan.


Blue duduk di sebelah Hektor yang masih terbaring. "Ya aku juga merasakannya. Namun menjadi putus asa dan berdiam diri bukan gayaku, lebih baik mati di tangan musuh dibandingkan hidup dalam kesengsaraan."


"Nak, kau masih hidup beberapa tahun. Jadi jangan samakan pendapat kita!"


"Tuan, aku memang masih muda. Namun apa kau merasakan kekuatanku tidak kalah denganmu di masa jayamu."


"Haha, memang kau tahu siapa aku?"


"Hektor, Pangeran Kerajaan Troya."


Hektor yang mendengar namanya disebut tersenyum manis. "Terima kasih karena masih mengingat namaku. Kau tahu, Tuan sudah menghapus sejarah kerajaan Troya sejak kepunahannya."


"Aku tidak tahu, yang pasti Kerajaan Troya adalah pembuat simbol yang sangat mahir."


Hektor tersenyum manis mendengar seseorang menyebutkan nama kerajaan dan kelebihannya. Namun pembuat simbol hanyalah manusia lemah dimatanya, semua simbol rahasia sudah digunakan waktu perang Troya.


Zeus sebagai pemimpin pasukan musuh menerobos semua formasi rahasia Kerajaan Troya dengan petir suci miliknya. Ingatan pembantaian muncul di kepala Hektor hingga ia meremas rambutnya.


"Argh..."


Blue tidak melakukan apa-apa, ia hanya tersenyum dan mengatakan sebuah kiasan. "Seekor harimau yang lama di kandangnya hanya akan menjadi tontonan para pengunjung. Apa kau tahu mengapa harimau itu terus didalam kandang? Ya, karena mereka tidak punya pilihan dan takut melawan pemilik kandang."


Blue sebenarnya ingin mengatakan bahwa Hektor masih bisa berdiri tegap dan membalaskan dendam keluarganya. Namun Hektor malah memilih menjadi harimau di kandang kebun binatang.


Hektor masih terus meremas rambutnya, ia hanya ingin hidup tentram dan tidak memikirkan balas dendam. "Pergi!"


"Baiklah, aku menunggumu ke Restoran Bulan di ujung jalan. Semoga kamu tidak melewatkan kesempatan ini!"


Blue beranjak pergi meninggalkan Hektor yang belum bangun dari tempatnya.


"Mengapa?"


Hektor masih tidak menerima kematian seluruh keluarganya, tapi kekuatan Zeus tidak masuk akal. Mana mungkin ia bisa membunuhnya dengan kekuatan sekarang.


Langkah kaki Blue terhenti untuk kesekian kalinya, ia melihat banyak orang berkerumun membagikan makanan gratis. Senyumnya tampak manis karena Shira telah sembuh dan mencoba membagikan makanan ke rakyatnya.


"Kau masih seperti dulu." Blue berkata dari kejauhan, Shira mendengarnya meskipun ia tidak menoleh.


"Apa kau ingin kesempatan kedua?"


Pria tua yang sedang menyamar meninggalkan barisan dan berhenti memberikan makanan. Karung makanannya diberikan pada salah satu kesatria kerajaan yang menyamar juga.


Shira mendekati Blue dengan senyum manis. "Terima kasih bantuannya, tapi aku sudah tidak punya niat untuk bertarung lagi."


"Aku menghargai keputusanmu, tapi pintu pasukan kami selalu terbuka untukmu." Blue meninggalkan Kerajaan Damaskus bersama pasukannya.


Oberon belum sembuh sepenuhnya, ia akan tinggal di Kerajaan Damaskus untuk melindunginya.


Agni, Yuri, dan Moris masih belum sadarkan diri. Ketiganya masih dalam perawatan Ela di tempat persembunyian.


Blue bersama Liem, Kitty, Yami, dan Rafaela menuju tempat persinggahan selanjutnya. Kali ini mereka harus ekstra hati-hati karena tempat tujuannya adalah Moskow salah satu kerajaan terbesar nomor 3 di tanah dewa.


Penguasa Moskow adalah Osiris, kali ini Blue tidak ingin gegabah dengan membuat serangan. Namun tujuannya tidak lain hanya untuk mengumpulkan informasi dan memberikannya pada Moris dan Oberon.


"Yami dan Rafaela, bergeraklah ke utara. Liem dan Kitty bergerak ke selatan, sedangkan aku akan ke barat."


Blue berjalan sendiri karena ia percaya diri bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup. Berbeda dengan Yami dan Liem yang membutuhkan bantuan.


Tiga kelompok berpencar mengumpulkan informasi, Blue selalu masuk ke restoran atau bar untuk para petualang. Ia duduk dan memesan dua gelas minuman seperti biasa.


"Nak, minum terlalu banyak bisa membuatmu mabok!"


"Paman, aku punya resistensi alkohol yang cukup tinggi." Blue menjawabnya dengan santai, racun saja hampir tidak bisa menembus pertahanan tubuhnya, apalagi alkohol kecil.


"Sepertinya kau pendatang baru disini?"


"Bagaimana kau tahu, Paman?"


"Minuman disini sangat keras, anak muda sepertimu tak akan kuat!"


"Mau taruhan? Jika aku tidak bisa menghabiskan dua gelas akan kubayar 2 kali!"


Blue menantang pemilik bar untuk memanaskan situasi, perkataannya menarik perhatian beberapa orang yang sedang minum bersama teman-temannya.


"Bocah, sepertinya kau sangat percaya diri. Aku ikut!" ucap seorang pria besar sambil membanting 5 Batu Mana putih di atas meja.


"Bukan gayaku membuli anak kecil, tapi kau harus diberi pelajaran!" teriak salah seorang pria tua sambil menaruh 5 Batu Mana Putih.


Pemilik bar tidak mau ketinggalan dan membuat taruhan pada semua orang yang hadir. "Tentu saja aku akan bertaruh pada diriku!" teriak Pemilik Bar.


Blue mengeluarkan 5 Batu Mana Putih untuk membuat suasana lebih meriah. "Aku memang masih muda, tapi masalah minim aku adalah juaranya."


Dua gelas botol berisi minuman paling keras disajikan di meja setiap peserta. Semua orang langsung meminum dengan kecepatan yang tidak masuk akal.


Sebelum menghabiskan satu gelas mereka tampak kehabisan napas dan mulai berhalusinasi. Blue hanya meminumnya dengan santai, sudut bibirnya sedikit terangkat karena sebenarnya dia curang.


Sebelum diminum, semua gelas sudah diberikan simbol tak terlihat untuk meningkatkan daya alkohol pada minuman. Sedangkan Blue malah menurunkan kadar alkohol miliknya, sehingga bisa minum dengan santai.


Beberapa menit berlalu, Blue membanting gelas keduanya ke meja. "Huh, aku menang kawan!" teriaknya dengan nada tinggi.


Blue mencoba untuk memanipulasi tubuhnya sehingga terlihat sedikit mabok. Berbeda dengan pemilik bar dan pria besar mereka terkapar di atas meja tak sadarkan diri.


Pria tua di depan Blue tersenyum manis karena ia belum mabok tapi berhenti meminumnya lagi. "Anak muda yang menarik, pasti kau bukan orang bisa!"


"Tidak kakek, aku hanya pemuda biasa yang sedang mencari informasi."


Jawaban Blue tidak terdengar orang disekitarnya, Kakek tua itu langsung bisa menyadari bahwa Blue bukan orang sembarangan.


"Aku kalah!"


Kemenangan berhasil di raih, Blue segera meninggalkan meja dan menghampiri kakek tua yang melawannya.


"Kakek pasti anda sudah tahu apa maksud kedatanganku, berapa biaya yang harus aku bayar?"


Kakek tua itu melihat ke kanan dan ke kiri. "Ikuti aku!"


Mereka berdua berjalan cukup jauh, tidak ada yang bisa mengikutinya karena melewati beberapa portal rahasia.


Sayangnya Blue bukan penduduk pribumi, ia bisa menggunakan fitur Domain Dewa untuk merekam setiap pergerakan dan kode yang harus digunakan.


Setelah beberapa jam, Kakek tua menghentikan langkahnya. "Jangan berisik dan ikuti saja aku!"


Kakek tua membuka sebuah pintu rahasia menuju ruang bawah tanah. Keduanya masuk tanpa mengatakan sepatah katapun.


Blue bisa menyadari ada ukiran aneh di sepanjang lorong, meskipun penasaran ia tidak bisa memeriksanya saat ini.


Sampai akhirnya Kakek Tua berhenti di depan pintu kecil dan mengetuknya 3 kali. "Ini aku."


Blue masuk ke dalam ruangan, sosok pria tua yang duduk di kursi roda tersenyum padanya. Pria itu adalah Dewa Peramal, Orakel.


"Selamat datang kekacauan!"