Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Rencana Bima


Winarto mengangguk paham Dengan ucapan Bima. pria paruh baya itu mengatakan jika dirinya yang akan mengantarkan Bima kebandara, Karna haru sudah malam. oleh karena itu Winarto dan Alundra yang akan mengantarkan Bima.


" Bagaimana nak, apa kamu mau di antar oleh ayah sama bunda, inikan sudah malam, jadi biar kami berdua yang akan mengantarkan kamu ke bandara, Apa sudah memesan tiket pesawat?"


" Baiklah ayah, bunda, terimakasih sudah mau mengantarkan Bima, Bima langsung naik jet pribadi yah, kebetulan Bima juga bisa bawa jet pribadi"


" Yasudah, apa kita berangkat sekarang?"


" Sebentar ya yah, Bima ambil barang-barang dulu di atas"


Setelah mengatakan hal itu, Bima kembali naik ke atas, pria itu masih ingin memandang wajah damai istrinya sebelum kembali ke Aussie karna sebuah urusan mendesak,


Bima duduk di atas ranjang. pria itu memandangi wajah Mala tanpa mau berkedip sedetikpun, " Aku pergi dulu ya sayang, minggu depan aku akan kembali dan menjemput kamu, ada masalah mendesak yang mengharuskan aku kembali malam ini juga" ucap Bima pada Mala yang sedang terlelap damai


" Selamat tidur wanitaku. maafkan aku jika tidak membangunkan kamu" pungkasnya lagi sambil mengusap perut buncit Mala, dan meninggalkan ciuman singkat di sana, terakhir Bima juga mencium kening Mala cukup lama.


Bima keluar dari dalam kamarnya, pria itu benar-benar akan kembali ke negaranya malam ini juga. kira-kira masalah apa yang terjadi sehingga mengharuskan Bima kembali tengah malam begini.


" Kamu sudah siap nak?" tanya Alundra setelah Bima tiba di ruang tengah.


" Sudah bunda,"


Tiga puluh menit kemudian. mobil yang di bawa pak Winarto sudah tiba di area bandara, pria itu memarkirkan mobilnya dan ikut mengantar sang menantu hingga ke dalam.


Ditengah malam seperti ini. ternyata masih banyak orang berlalu-lalang di bangunan itu. " Bima pamit ya, ayah, Bunda, Bima titip istri Bima ya" pekik Bima sambil mencium punggung tangan Alundra dan Winarto secara bergantian.


" Kalau soal Mala, kamu tidak perlu khawatir nak, ayah dan bunda akan selalu menjaganya, kamu hati-hati di jalan ya"


" Iya ayah, assalamualaikum"


" Waalaikum salam" balas Alundra dan Winarto secara bersamaan.


Bima melangkahkan kakinya menjauh dari kedua mertuanya. sedangkan mereka berdua masih terus menatap kepergian Bima hingga jet pribadi Bima benar-benat take off meninggalkan kota jakarta.


Setelah itu. Winarto mengajak Alundra untuk segera pulang, karna hari sudah menunjukkan tepat di tengah malam,


Mobil Pak Winarto berjalan dan mulai menjauh dari bangunan itu, karna memang sudah larut malam, oleh karena itu tidak banyak kendaraan yang melaju di jalanan.


" Ayah, Apa ayah liat bagaimana wajah Bima tadi saat keluar dari dalam kamarnya?"


" Iya, memangnya kenapa bunda?"


" Gak papa sih yah, Yang bunda tangkap dari wajah Bima, sangat terlihat jelas, jika dia begitu mencintai Mala,"


" Ayah juga sepemikiran dengan bunda"


" Alhamdulilah ya yah, anak kita dapat suami yang begitu tulus, baik, sopan lagi"


" Iya bunda Alhamdulilah,"


" Tadi bunda liat, wajah Bima terlihat sangat berat meninggalkan Mala dirumah, kira-kira ada masalah apa dengan perusahaannya ya yah. sampai-sampai Bima pulang tengah malam begini,"


" Entahlah bun, ayah juga gak tau soal itu, tapi semoga saja urusannya cepat selesai,"


" Iya ayah, Amin"


Tak terasa mobil pak Winarto sudah tiba di depan rumahnya, kedua paruh baya itu langsung masuk ke dalam kamar dan istirahat,






Jam sudah menunjukkan pukul 05:00 pagi, dengan langkahnya yang lebar, Bima dengan cepat tiba di mobil yang akan mengantarnya ke perusahaan yang Bima dirikan sendiri.


Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang tekhnologi. " Cepat antar saya ke sana" ucap Bima dengan suara beratnya.


" Baik pak" balas Rio dan langsung melajukan mobilnya kesebuah perusahaan yang sedang terdapat masalah besar"


Satu jam kemudian, mobil itu sudah tiba di perusahaan milik Bima sendiri, perusahaan yang dia bangun sejak lima tahun yang lalu,


Dengan langkah cepat, Bima menyusuri aula perusahaannya dan langsung naik keruang meeting, dan disana ternyata sudah ada beberapa karyawan kepercayaan yang diminta hadir oleh Bima.


" Selamat pagi semuanya"


" Selamat pagi pak"


" Kita mulai meeting nya" ujar Bima tegas


Meeting itu berjalan selama tiga puluh menit, sangat mudah untuk Bima menemukan cara untuk menjebak tikus yang sudah bermain-main dengannya.


Entah apa yang akan pria itu lakukan, jika sampai pelakunya tertangkap, siapa yang tidak kenal Albima. pria itu tidak pernah main-main dengan siapapun yang sudah mengusik ketenangannya, apalagi soal data penting perusahaan.





Malam berlalu, pagi ini Mala menggeliat namun sangat susah untuk membuka kedua matanya, wanita itu masih terus menutup tubuhnya dengan selimut yang membuatnya jadi semakin males untuk beranjak dari sana.


Ternyata Mala belum menyadari jika tidak ada siapapun yang menemani tidurnya malam tadi. sinar matahari sudah mulai masuk melalui celah gorden kamarnya, hal itu membuat Mala segera membuka kedua matanya yang masih terasa begitu berat,


" Jam berapa ya, kok sinar matahari sudah terik"


" Bima juga kenapa tidak membangunkan ku"


Mala mencoba panggil-panggil Bima, namun sudah tidak ada siapapun di dalam kamarnya selain dirinya sendiri.


Akhirnya Mala memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya, setelah tiba di bawah, ternyata sang bunda sudah selesai menyiapkan sarapan pagi ini, bahkan wanita paruh baya itu baru mau ke atas untuk membangunkan Mala, tapi Mala sudah turun duluan.


" Morning" ucap Mala dengan suara seraknya.


" Selamat pagi sayang, sini duduk sarapan dulu, baru juga bunda mau ke atas buat bangunin kamu, eh taunya kamu sudah turun duluan."


" Iya bunda, Oh iya, bunda liat Bima gak,? soalnya tidak ada dikamar"


Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut sang anak, membuat Alundra menatap ke arah suaminya.


" Bunda" panggil Mala lagi, karna sang bunda belum juga menjawab pertanyaannya.


" Bima sudah kembali ke Aussie nak" ucap Winarto cepat.


" Kembali ke Aussie, kapan? kenapa Mala tidak dibangunin"


" Katanya suami kamu tidak tega buat membangunkan kamu nak, ada urusan mendadak, tapi satu minggu lagi dia akan menjemput kamu katanya" jelas sang ayah dengan nada pelan.


" Urusan mendadak. tentang apa ayah, dan jam berapa Bima berangkat?"


" Ayah juga tidak tau pasti, tapi kalau tidak salah, urusan perusahaan, tadi malam jam 23:00."


" Jam 23:00. jam segitu kan Mala baru saja tidur"


" Sudah nak, kami makan dulu"


Mala tak lagi menjawab perkataan sang ayah, wanita itu hanya mengangguk patuh dengan ucapan Winarto.