Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Rasa takut Nadia


"Maafkan aku kak Devan. Maafkan aku yang sudah tega menukar sempel rambut mereka berdua. Aku lakukan ini demi kebaikan semuanya. Karna biar bagaimanapun, Kak Bima lebih membutuhkan mereka" Ucap Sifa dalam batinnya


Flashback off


Bima dan Leon yang mendengar itu langsung merasa terkejut dengan apa yang baru saja Sifa katakan. Bima sempat tidak percaya jika Sifa akan melakukan hal itu untuknya.


"Terimakasih Sifa. Terimakasih kamu sudah meu melakukan itu untuk kakak. Padahal kan kak Devan adalah kakak kandung kamu" Ucap Bima sambil memeluk Sifa erat


"Kak, Seperti yang sudah aku katakan. Kak Devan memang kakak kandungku, Tapi sejak kecil aku sudah bersama dengan kak Bima. Jujur, Aku lebih menyayangi kak Bima dari pada kak Devan" Ucap Sifa sambil membalas pelukan Bima


"Lagian menurutku, Kak Bima lebih membutuhkan mereka berdua. Aku masih sangat ingat bagaimana kak Bima menyayangi mereka yang masih dalam kandungan. Jadi kak Bima berhak bahagia bersama kak Mala juga mereka" Ucap Sifa lagi


"Lalu bagaimana caranya kita ngambil mereka?" Ucap Bima pada Sifa


Sifa tak langsung menjawab. Wanita itu masih menatap Bima dan Leon secara bergantian. Lalu wanita itu mengatakan rencana yang sudah terbesit dalam benaknya.


"Apa kita minta secara baik-baik saja. Aku yakin kak Devan pasti mau mengembalikan mereka" Ucap Bima pelan


"Tidak kak. Aku tidak setuju itu. Kita harus memberikan sedikit pelajaran pada kak Devan. Dia sudah tega menyembunyikan Langit dan Bintang tanpa memberi tahu kakak juga kak Mala. Aku mau kak Devan juga merasakan hal yang sama" Timpal Sifa cepat


Mendengar perkataan Sifa, Bima dan Leon mengerutkan keningnya. Kedua laki-laki itu tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Sifa.


"Maksudnya bagaimana Sif?" Tanya Leon yang terlihat begitu penasaran


"Iya, Kita harus kasih kak Devan pelajaran. Kita akan mengambil Langit dan Bintang tanpa sepengetahuan kak Devan. Intinya kita melakukan seperti dia yang sudah sengaja menyembunyikan hal ini dari kak Bima juga kak Mala"


"Heran, Padahal dia tau bagaimana kak Mala dan kak Bima menghawatirkan keberadaan mereka berdua. Kesel aku tuh. Apa dia lupa kalau kak Bima sampai harus hanyut di sungai demi menemukan keberadaan mereka berdua" Ucap Sifa lagi


"Iya Sif. Aku sependapat dengan kamu, Kok bisa Devan melakukan tes DNA tanpa mengatakan pada Mala dan Bima. Apa dia gak mikir perasaan Mala dan Bima ya"


"Entah. Tapi aku kecewa sama kak Devan. Bisa-bisanya seperti itu" Timpal Sifa


"Apa kamu tau di mana tempat mereka?" Tanya Bima tiba-tiba


"Tau, Memangnya kenapa kak?"


"Aku akan meminta anak buahku untuk mengambilnya malam ini juga"


"Tapi kak. Apa itu tidak kecepatan?"


"Lebih cepat lebih baik"Ucap Bima sambil menatap Sifa


"Baiklah kak. Tapi jangan sampai ada yang curiga kalau kita yang sudah mengambil bocah itu"


"Tenang saja. Anak buahku paling bisa main cantik"


Setelah mengatakan hal itu, Bima langsung mengambil ponselnya. Pria itu menghubungi Reno untuk menjalankan aksinya malam ini juga. Tanpa di jelaskan, Reno sudah bisa mengerti apa maksud Bima.


Tak berselang lama, Bima langsung bisa mendengar suara Reno dari ujung telpon.


πŸ“ž:Halo tuan muda. Ada apa? Kenapa telfon di tengah malam seperti ini. Apa ada yang harus aku lakukan?


πŸ“ž:Ambil mereka malam ini juga. Nanti saya akau sherlock


πŸ“ž:Baiklah tuan muda. Tidak perlu sher lokasi tuan. Saat ini saya sudah ada di depan tempat pak Devan menyembunyikan mereka berdua.


πŸ“ž:Kenapa tidak mengabarkan kepadaku?


πŸ“ž:Mohon maaf tuan. Saya tidak enak hati untuk mengabarkan malam-malam seperti ini. Takut mengganggu


πŸ“ž:Baiklah. Segera lakukan apa yang sudah aku perintahkan. Kamu sudah tau kan bagaimana caranya?


πŸ“ž:Tuan muda tenang saja. Saya tau apa yang harus saya lakukan


Setelah itu, Bima langsung memutuskan sambungan telponnya. Pria itu menatap Sifa dan Leon yang saat ini juga sedang memperhatikannya.


"Bagaimana. Apakah mereka bisa?" Tanya Leon begitu penasaran


"Tentu. Seperti yang sudah aku katakan pada kalian berdua. Mereka paling bisa aku andalkan"


"Bagus kalau begitu"


Di Tempat Nadia


Entah kenapa malam ini Nadia merasa hawanya sangat dingin dan membuatnya ingin segera tidur. Setelah memberikan susu pada kedua bayi itu dan melihat mereka sudah tertidur pulas. Akhirnya Nadia juga ikut merebahkan tubuh nya dan langsung memejamkan kedua matanya.


Hawanya benar-benar mengajak Nadia untuk tidur lebih cepat.Tanpa dia sadari, Ternyata sudah ada beberapa orang yang mengintai di sekitar.


Bukan hanya Nadia. Namun Alex juga sudah pergi sejak 1 jam yang lalu. Malam ini ada hal penting yang harus Alex urus dan membuatnya harus meninggalkan Nadia tanpa penjagaan.


Siapa sangka jika orang suruhan Bima ternyata sudah di sana. Pasalnya sama sekali tidak ada yang mencurigakan di tempat itu. Alex merasa tempat itu sudah benar-benar aman.


"Ambil posisi sesuai dengan yang sudah kita sepakati" Ucap Reno pada mereka semua


"Baik pak"


Anak buah Reno berjalan mengendap agar Nadia tidak menyadari keberadaannya. Ternyata tidak terlalu sulit untuk masuk ke dal kamar Nadia. Karna wanita itu tidak sedang mengunci pintu.


"Bagus. Pintunya tidak di kunci. Sepertinya ini akan sangat mudah membawa kedua bayi itu"Ucapnya dalam batin


Tak lama kemudian, Orang itu sudah ada di dalam kamar Nadia. Bisa terlihat jelas jika Nadia saat ini sedang tidur sangat nyenyak. Melihat itu membuatnya dengan cepat langsung berjalan ke arah kedua bayi mungil yang ternyata sedang bermain.


Namun anehnya. Mereka berdua sama sekali tidak menangis dan mengeluarkan suaranya. Kedua orang itu membawa bayi itu dengan sangat hati-hati agar Nadia tidak sampai terbangun.


"Hati-hati" Ucapnya


"Iya. Lebih baik sekarang kita cepat keluar dari sini sebelum wanita itu bangun"


Di luar, Reno sudah menyiapkan mobil agar nanti bisa langsung segera pergi dari sana. Tepat seperti apa yang di inginkan. Kedua anak buah Reno bisa membawa keluar kedua bayi itu tanpa membuat curiga orang lain.


Di tempat itu ternyata ada CCTV. Namun untungnya salah satu dari mereka menyadari sebelum mereka benar-benar pergi dari sana.


"Ada CCTV di sana pak" Ucapnya pada Reno sambil menunjuk ke arah CCTV


"Kamu urus semuanya. Pastikan tidak ada sedikitpun jejak yang tertinggal" Perintah Reno pada mereka


"Baik pak"


*****


Tanpa terasa malam berlalu. Nadia membuka kedua matanya pelan. Wanita itu merasa ada yang aneh dengan pagi ini. Pasalnya kedua bayi itu tidak ada suaranya dari semalem.


Namun ternyata Nadia mengira jika mereka berdua sedang tertidur. Wanita itu bangun dan langsung berjalan ke arah box bayi yang saat ini sudah kosong. Tidak ada siapapun di sana. Melihat itu membuat Nadia merasa sangat panik.


"ya ampun, Kemana mereka berdua. Apa mereka sedang bermain? Tapi gak mungkin. Mereka kan belum bisa berjalan masih bayi" Ucapnya sambil mencari kedua bocah itu di setiap sudut kamar. Namun hasilnya nihil, Karna sudah tidak ada siapa-siapa di sana.


"Aduh bagaimana ini. Apa yang harus aku katakan pada Devan. Kalau sampai dia tau mereka berdua tidak ada, Nanti yang ada aku. Bisa di bunuh. Aduh bagaimana ini"


"Apa maksud kamu?" Suara Devan yang terdengar tiba-tiba


Mendengar suara itu membuat Nadia menjadi semakin panik. Wanita itu membulatkan kedua saat melihat sosok Devan ada di sana.


"K...kamu kenapa sudah ada di sini Van?"


"Tidak penting. Apa maksud kamu. Dimana mereka berdua?" Tanya Devan sambil menatap Nadia tajam


Nadia yang mendapat tatapan tajam seperti itu tentu saja menjadi semakin takut. Apa yang harus Nadia katakan pada Devan. Sungguh wanita itu menjadi semakin tegang. Terlalu bingung dengan apa yang terjadi.


Nadia menjadi semakin takut saat Devan berjalan ke arah box bayi. Namun dengan cepat Nadia menghadang langkah Devan agar tidak kesana. Melihat tingkah Nadia tentu saja membuat Devan merasa curiga.


"Jangan kesana Van. Mereka sedang tidur. Iya mereka sedang tidur. Jangan ganggu mereka. Kasian kalau sampai mereka terbangun"


"Lebih baik kita keluar sekarang. Iya lebih baik kita keluar agar tidak mengganggu tidurnya baby twin" Ucap Nadia lagi


Melihat tingkah aneh Nadia membuat Devan mengerutkan keningnya. Ada apa dengan wanita ini. Pikirnya


"Kamu ini kenapa Nadia. Aku hanya ingin melihat mereka berdua. Sejak semalam pikiran ku tidak enak. Aku takut terjadi apa-apa sama mereka. Aku hanya ingin memastikan keadaan mereka saja"


"Ta..."


Perkataan Nadia terpotong saat Devan sudah tiba di box bayi. Kedua mata Devan membelalak saat tidak menemukan siapa-siapa di box itu.


"Kemana mereka Nad?" Tanyanya sambil membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Nadia


Mendengar pertanyaan Devan membuat Nadia terdiam sejenak. Rasa takut semakin menjalar ke seluruh tubuh saat melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Devan.


"Jawab Nadia. Mereka berdua kemana?" Tanya nya lagi dengan nada tinggi


Seketika Nadia bungkam. lidahnya terasa begitu kelu walaupun hanya untuk sekedar mengatakan jika baby twin hilang. Nadia masih bisa mengingat jelas pesan Devan semalam.


Jaga mereka baik-baik. Jangan sampai hal yang tak di inginkan terjadi. Kalau sampai terjadi yang tidak-tidak. Siap-siap kamu akan aku bunuh


Kata-kata itu seketika terngiang pada indra pendengaran Nadia. Hal itu juga membuat Nadia jadi semakin takut untuk mengatakan hal yang sebenarnya.


"Jawab Nadia. Mereka kemana?" Tanya Devan lagi


"M...mereka. M...ereka" Ucapnya terbata


"Bicara yang jelas! Di mana kedua anakku?"


"Mereka hilang" Ujar Nadia cepat


Karna mau bagaimanapun Nadia memang harus mengatakan hal ini pada Devan. Wanita itu sudah menyiapkan mental jika seandainya Devan memang akan membunuhnya.


"Apa!!!"