Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Rela melepaskan


"Atau apa mas. Apa yang akan kamu lakukan jika aku tidak mau mencabut laporan itu, Cepat katakan apa yang akan kamu lakukan mas?" Ucap Mala sambil terus menatap Devan


Deg!


Devan melihat tatapan Mala entah kenapa merasa lidahnya begitu kelu. Tatapan itu baru kali ini Devan lihat dari seorang Mala. Dan hal itu membuat Devan bingung harus mengatakan apa.


Devan terdiam. Dia cukup bingung dengan apa yang harus dia katakan. Entah kenapa Devan selalu merasa tak berdaya jika sudah di hadapkan dengan Mala. Rasa cintanya ternyata masih begitu dalam.


"Apa yang harus aku katakan. Entah kenapa aku masih tidak ingin membuat Mala kecewa. Padahal aku sendiri tau jika saat ini Mala sudah benar-benar melupakan tentang kita" Devan bermonolog dalam batinnya


"Ayo jawab mas. Apa yang akan kamu lakukan jika sampai aku tidak mau mencabut laporan itu. Hahhh, Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Mala lagi dengan tatapan tajamnya


Dengan berat hati akhirnya Devan menjawab karna teringat akan janjinya terhadap Nadia."Kalau sampai kamu tidak mau mencabutnya. Aku akan mengambil salah satu dari mereka" Ucap Devan dengan sangat terpaksa


Mendengar perkataan Devan membuat Mala tertawa" Apa kamu bilang. Mau mengambil salah satu dari mereka. Apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu katakan mas? Apa kamu sadar dengan kata-kata itu mas!" Ucap Mala sambil terus menatap Devan


"Aku sadar. Kenapa memangnya. Ada yang salah dengan kata-kata itu? Hah! Sekarang aku tanya sama kamu Mala. Apa salah jika aku ingin bersama dengan salah satu anakku. Bukan kah mereka kembar. Adil kan jika kita berbagi. Kamu bersama Bintang, Dan Langit bersama denganku"


Mala semakin terlihat marah mendengar kata itu"Enak ya kamu ngomong seperti itu, Apa kamu pernah tau bagaimana sakitnya aku saat berjuang mempertaruhkan nyawa untuk mereka berdua. Apa kamu juga tau, Bagaimana perasaan aku saat waktu itu aku tau hamil anak kamu. Anak dari laki-laki yang tidak punya perasaan seperti mu. Aku menyesali semua tentang apa yang pernah kita lewati mas." Ucap Mala dengan kedua mata yang berkaca-kaca


"Apa kamu pernah berpikir. Bagaimana aku melewati hari dan bulan seorang diri Di negri orang. Selama berbulan-bulan, Aku menjadi penunggu balkon karna merenungi hubungan kita yang sangat di sayangkan. Bahkan aku sempat ingin menyerah, Menyerah untuk hidup yang menurutku tidak adil. Untung saja saat itu ada Bima yang selalu setia menemani ku"


"Aku terluka, Sakit. Dan semua itu karna ulahku mas. Lalu saat ini dengan mudahnya kamu mau mengambil salah satu dari mereka. Tidak akan pernah aku biarkan mas, Langit dan Bintang hanyalah milikku. Tidak ada siapapun yang boleh mengambil mereka, Termasuk kamu" Ucap Mala penuh penekanan


Devan sempat terdiam. Pria itu masih mencerna apa yang baru saja Mala katakan. Tanpa Mala sadari, Ternyata dia menumpahkan semua yang mengganggu hatinya.


"Apa kamu pikir aku tidak terluka dengan kepergianmu. Aku lebih terluka Mala, Bahkan luka tak berdarah ini sudah membuatku terlihat seperti orang bodoh karna hingga detik ini aku masih begitu mencintaimu" Ucap Devan yang terdengar sangat lirih


Bima dan Nadia hanya memperhatikan Mala dan Devan yang sedang berdebat. Mereka berdua memilih diam karna merasa tidak berhak untuk ikut campur atas apa yang saat ini menjadi pusat permasalahan perdebatan mantan suami istri ini.


"Buang rasa cintamu itu mas, Karna aku sudah mati rasa terhadapmu. Saat ini aku sudah mencintai Bima. Laki-laki yang sudah menemaniku dengan penuh cinta dan sayang"


Namun langkahnya terhenti saat suara Mala tiba-tiba terdengar pada indra pendengarannya."Tunggu" Ucap Mala dingin


Mendengar itu membuat Devan menghentikan langkah nya dan membalikkan tubuhnya. Sejenak dia menatap kedua mata Mala yang terlihat sayu namun tetep pura-pura kuat.


"Oke fine, Aku cabut laporan itu. Tapi jangan pernah berharap aku akan mengijinkan kamu bertemu dengan mereka. EGOIS! Bisa-bisanya kamu membela orang yang sudah menculik anakmu sendiri mas. Gak habis pikir dengan apa yang ada di otak kamu saat ini. Cepat pergi! Aku sudah muak melihat wajah kamu yang begitu menyebalkan" Ucap Mala pada Devan sambil menoleh ke lain arah


Entah kenapa Mala merasa batinnya terluka saat mendengar perkataan Devan. Kedua matanya sudah sangat berkaca-kaca. Dadanya terasa semakin sesak. Hingga akhirnya tangis Mala pecah setelah Devan keluar dari sana.


Bima yang melihat itu langsung mendekat dan membawa Mala dalam dekapannya"Kenapa kamu menangis sayang, Untuk apa kamu menjatuhkan air mata ini?" Tanya Bima lembut sambil membelai rambut Mala


"Aku sakit hati my boy. Aku benar-benar sakit hati. Bisa-bisanya dia meminta kita untuk mencabut laporan atas Nadia. Itu sama saja dia menukar mereka dengan Nadia. Egois. Akan aku pastikan, Dia tidak akan pernah bertemu dengan mereka lagi" Ucap Mala di sela isak tangisnya


"Sudah sayang. Aku tau kak Devan memang sudah keterlaluan. Sudah biarkan saja. Nanti dia juga akan menyesali apa yang sudah dia katakan" Ucap Bima sangat lembut seperti biasa


"Setelah ini aku mau kita kembali ke Aussie" Ujar Mala lagi


"Iya sayang pasti. Yang penting sekarang kita tungga keadaan Bintang baik-baik saja ya" Serunya sambil terus membelai rambut Mala


Tanpa Mala dan Bima sadari, Ternyata di luar masih ada Devan yang memperhatikan Mala begitu terisak dalam dekapan Bima. Setelah keluar dari ruangan Bintang, Devan memang tidak langsung pergi sari sana. Pria itu masih ingin melihat Mala karna tadi sempat menatap kedua Mata Mala yang terlihat sayu.


Devan memejamkan kedua matanya saat mendengar Mala menangis dalam dekapan Bima. Dadanya juga terasa sakit melihat wanita yang di cintanya menangis karna ulahnya sendiri.


"Maafkan aku Mala. Maaf kan aku yang hanya selalu bisa membuatmu terluka. Aku benar-benar minta maaf. Aku terpaksa melakukan hal ini karna sudah terlanjur berjanji pada Nadia. Aku tau apa yang baru saja aku lakukan salah. Tapi tidak ada cara lain selain itu. Kalau aku tidak mengancam mengambil hak asuh atas mereka, mungkin kamu tidak akan pernah mau mencabut laporan atas Nadia. Aku benar-benar minta maaf. Mungkin sebaiknya mulai hari ini aku harus rela melepaskan mu untuk Bima" Devan bermonolog dalam batinnya.


Pria itu terus menatap Mala yang masih terisak dalam dekapan Bima. Tanpa sadar, Butiran bening itu jatuh membasahi kedua pipinya.


"Ku rela melepas Mala. Sepertinya kamu memang lebih bahagia bersama dengan Bima. Tidak sepertiku yang selalu membuatmu luka" Ucap Devan dan langsung pergi dari sana dengan membawa luka