
" Mbk...." rendi menggantungkan ucapannya masih mengingat siapa nama wanita itu.
" Loh dokter rendi" ucap mala cepat. " Ini beneran dokter rendi ya?" ucapnya lagi
" Iya mbk, kayaknya kita pernah bertemu ya, tapi dimana ya, dan siapa nama mbk saya lupa"
" Kita memang pernah bertemu hampir satu tahun yang lalu dokter. saya delisa, anaknya bapak abraham, korban kecelakaan yang waktu itu dokter tangani" jelas mala lagi,
Rendi tak menjawab, pria itu hanya mengangguk paham sambil menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. soalnya seingetnya namanya mala bukan delisa, Tapi rendi memilih tidak mempertanyakan hal itu. " Kok delisa, bukannya namanya maka ya" batinnya
Dokter itu melirik ke arah mala yang terlihat mengedipkan sebelah matanya sambil menggeleng. melihat itu membuat rendi paham apa maksud wanita yang ada di depannya. " Ada apa sebenarnya, kenapa dia mengubah namanya menjadi delisa" batinnya lagi. ada banyak pertanyaan yang terbesit dalam hati rendi, namun pria itu memilih diam. karna merasa tidak punya kewajiban untuk mengetahui semua jawaban dari setiap pertanyaannya.
Setelah selesai makan malam, mereka semua berkumpul dan mengobrol di ruang tengah, mala tak langsung ikut bergabung, wanita itu memilih pergi ke dapur untuk membuat kue sebagai pelengkap obrolan mereka" Bim.kamu langsung ke ruang tengah saja temui kakek, aku ke dapur dulu, mau buat kue buat kalian" ucap mala dengan nada kecil, yang hanya terdengar oleh bima
" Tapi sayang, bukankah dokter sudah bilang agar kamu tidak kecapean hmm?"
" Cuma buat kue doang kok bim, cepet gak bakal bikin aku capek, boleh ya, kali ini aja" balas mala memohon
" Baiklah. jangan lama-lama ya sayang. apa perlu aku temenin"
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut bima membuat mala menggeleng cepat, " tidak perlu bim. sana kamu temui kakek dan sifa" mala mendorong tubuh. ina agar segera berlalu dari hadapannya.
Setelah bima pergi. mala benar-benar berjalan ke arah dapur. wanita itu akan membuat kue brownies coklat kesukaan bima, memang selama ini mala tidak pernah membuatkan kue untuk bima, namun wanita itu tau jika bima menyukai brownies coklat.
" Dimana istrimu bim?" tanya kakek lustama yang melihat kehadiran bima hanya seorang diri
" Ada kek, lagi di belakang. oh iya kek, bagaimana kabar kakek?"
" Oh yasudah, kabar kakek alhamdulilah sehat bim, hanya saja setiap hari kakek merasa sangat kesepian tinggal seorang diri di rumah sebesar ini" balas kakek lustama sendu
Mendengar itu membuat bima mengerutkan keningnya" Kok sendiri. bukannya sifa tinggal di sini sama kakek?" tanya bima sambil menoleh ke arah sifa yang sedang duduk berdampingan dengan rendi.
Kakek lustama mengambil nafas panjang, memang selama ini bima dan kedua orang tuanya tidak tau jika sifa tinggal di tempat yang berbeda, karna yang mereka tau adalah sifa tinggal bersama kakek lustama, memang dulu setelah keluar dari panti asuhan sifa tinggal dengan kakek lustama selama kurang lebih lima bulan, karna setelah itu sifa kembali lagi ke aussie untuk melanjutkan kuliahnya di sana,
Setelah kembali dari aussie sifa memilih untuk tinggal di kontrakan agar lebih dekat dengan tempatnya bekerja. " Tidak bim, sifa tinggal di kontrakan dekat rumah sakit tempatnya bekerja" ucap kakek lustama pelan
Tak lama kemudian mala datang dengan membawa nampan yang berisi kue juga minuman untuk semua orang yang ada di sana. " Kak delisa bawa apa?" tanya sifa sambil membantu mala mengambil minuman itu
" Oh ini kue brownies sifa, kakak yang buat, semoga suka ya" ucap mala sambil duduk di samping bima.
Mala tidak membawa semua kue brownies yang dia buat. wanita itu masih menyisakan satu piring buat bima yang dia taruh dalam lemari pendingin. " Ini enak sekali kuenya kak" pungkas sifa sambil memasukkan kue itu ke dalam mulutnya.
Bima yang tadi masih asik mengobrol dengan rendi pun langsung ikut mengambil kue brownies buatan istrinya, mata bima membelalak saat merasakan kue itu, " Ini bukan hanya enak sifa, tapi enaaaaaakkk banget"
Mendengar pujian yang terlontar dari suami dan adik iparnya membuat mala tersenyum malu. " Ternyata selain cantik cucu mantuku juga pintar memasak" ucap kakek lustama yang ikut memuji mala, baru pertama datang kerumah ini, namun mala merasa hatinya bahagia,
Di tempat lain. saat ini devan dan kedua orang tuanya sudah bersiap untuk datang ke kediaman kakek lustama sesuai kesepakatan tiga hari yang lalu. mereka ingin memastikan informasi yang mereka dapat dari orang suruhan wijaya kala itu. Raut bahagia sudah terpancar jelas dari wajah yasmine, " Semoga sifa benar-benar naura kita ya pa" lirih yasmine
" Iya ma, papa juga sangat berharap semoga dia adalah naura. anak kita"
" Yaudah, ayo kita berangkat sekarang ma agar tidak kemalaman," Timpal devan
Di saat mereka sudah mau memasuki mobil, suara adelia menghentikan langkah mereka" Ada apa adelia?" tanya devan dingin. " Aku ingin ikut" jawabnya
Mendengar itu membuat devan melanjutkan langkahnya tanpa menjawab ucapan adelia, sedangkan adelia masih berdiri tanpa melanjutkan langkahnya karna tidak mendapat jawaban dari suaminya. namun saat wanita itu hendak berbalik untuk masuk lagi ke dalam rumah, suara dingin itu kembali menerpa indra pendengarannya
" Masuk. dan jangan banyak bicara, cukup ikut saja" suara dingin itu berhasil membuat adelia mengukir senyum bahagia, pasalnya ini kali pertama adelia bisa ikut bersama devan dan kedua mertuanya.
" Nanti kalau sudah sampai, jangan banyak bicara, tutup mulutmu itu" ucap yasmine dengan lirikan tajamnya
" B....baik ma"
Sepanjang perjalanan adelia tidak berani membuka suara setelah mendapat tatapan tajam seperti itu dari mama mertuanya, selama ini yasmine memang tidak pernah menganggap adelia sebagai menantunya, bagi yasmine adelia tak lebih dari seorang asisten di rumah mereka. untungnya pernikahan antara devan dan adelia hanya di hadiri beberapa orang saja, hingga tidak ada satu orangpun yang tau jika adelia adalah menantu di rumah itu, dan tidak ada orang yang tau jika devan dan mala sudah bercerai sejak 6 bulan yang lalu.
1Jam kemudian mobil yang devan bawa sudah tiba di kediaman kakek lustama, Mereka semua keluar dengan devan yang jalan lebih dulu, " Assalamualaikum" ucap devan.
" Suara itu, kenapa seperti familiar, seperti suara mas devan" batin mala.
Hingga akhirnya mala melihat pantulan devan dari kaca lemari yang ada di depannya, " Mas devan!!"batinnya lagi