
Di saat Bima masih panik mencari keberadaan sang istri yang tidak tau ada dimana. tiba-tiba ponsel kakek Lustama berdering, ada panggilan masuk dari Devan. Dengan cepat Kakek Lustama mengusap tombol hijau di layar ponselnya.
[ Iya cucuku ada apa telfon kakek? ]
[ •••••••••• ]
[ Apa, baiklah kakek dan Bima akan segera kesana, tolong jagain Delisa sebelum kami berdua tiba di sana ]
Setelah mengatakan hal itu Kakek lustama mengakhiri sambungan telfonnya. Bima yang melihat langsung mendekat ke arah sang kakek yang wajahnya terlihat begitu panik.
" Ada apa kakek?"
" Kita kerumah sakit sekarang Bim, istri kamu ada di sana"
Mendengar berita tentang istrinya membuat Bima segera melangkahkan kakinya keluar dari restoran itu, Kakek Lustama mengikuti langkah Bima dan mengekor di belakangnya,
Karna rasa panik yang begitu menggebu dalam hatinya membuat Bima membawa mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi. hingga hanya memerlukan waktu dua puluh menit untuk tiba di sana.
Entah kenapa setiap mendengar istrinya kenapa-napa selalu membuat Bima khawatir yang berlebihan, apa mungkin karna rasa sayangnya yang teramat dalam.
Bima keluar dari dalam mobilnya berjalan sedikit berlari, hanya perlu dua menit Bima sudah tiba di ruangan IGD, Dengan cepat pria itu melangkahkan kakinya ke arah Delisa yang saat ini sedang berbaring di atas ranjang IGD.
" Sayang, kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Bima khawatir
" Aku gak papa kok mu boy, hanya saja tadi perutku sedikit kram" balas Mala dengan nada yang masih lemas.
" Kamu bikin aku panik sayang, apa kamu tau bagaimana paniknya aku saat tidak mendapati kamu di restoran itu"
" Aku takut kamu kenapa-napa sayang. dan itu benar, sekarang kamu malah masuk rumah sakit. Aku benar-benar merasa bersalah" ucapnya lagi
" My boy dengarkan aku, aku tidak apa-apa. aku sama anak kita baik-baik saja. kamu tidak perlu merasa bersalah ya sayang. aku baik-baik saja" pekik Mala sambil mengusap kedua pipi Bima,
Devan yang melihat itu langsung memalingkan wajahnya, pria itu sangat sakit saat melihat pemandangan yang begitu menyayat batinnya, karna saat ini Bima dan Mala terlihat seperti pasangan yang saling mencintai.
Bima meletakkan telinganya di atas perut buncit Mala, " Hai sayang anaknya papi. Maafkan papi ya yang tidak bisa menjaga kamu dengan baik, papi janji, mulai hari ini papi akan lebih lagi menjaga kamu dan mami."
" Terimakasih papi sayang" ucap Mala menirukan suara anak kecil.
Mulai hari ini Mala memang sudah berjanji akan belajar mencintai Bima, walaupun Mala tau hal itu akan sangat sulit untuknya. apalagi setelah sering bertemu dengan Devan membuat Mala semakin susah melupakan pria itu.
" Kak Devan terimakasih sudah menolong istri Bima" ucap Bima lembut
" Hmm sama-sama Bim, semoga pernikahan kalian bahagia selalu" ujar Devan pura-pura tegar. padahal didalam lubuk hatinya saat ini Devan merasa bagaikan di tusuk oleh ribuan jarum.
Mala melihat Devan dengan raut wajah tak menentu, wanita itu bisa melihat dari sorot mata Devan. ada goresan luka dan kesedihan yang mendalam. " Maafkan aku mas, maafkan aku harus melakukan semua ini, mungkin jika kamu melihat aku dan Bima seperti ini akan membuat kamu dengan cepat melupakan aku. atau kamu memang sudah melupakan aku?' Mala bermonolog dalam batinnya.
Namun nyatanya apa, Melakukan tidak semudah mengatakan. bibir memang dengan mudah bisa berkata. tapi hati sulit untuk melakuka.
" Baiklah kak, hati-hati dijalan.Bima juga berharap pernikahan kakak dengan Adelia juga bahagia selalu"
" Aku tidak pernah mengharapkan pernikahan ini terjadi Bim, karna memang sebelumnya aku sudah melupakan Adelia. saat ini Di dalam hatiku hanya ada seorang wanita. wanita yang sudah meninggalkan aku karna sebuah kesalah pahaman." ucap Devan sambil melirik ke arah Mala.
Bima yang mendengar itu jadi bungkam tidak ingin melanjutkan pembicaraan mengenai hal ini, karna Bima tau jika Mala dan Devan masih sama-sama saling mencintai, apa Bima egois jika menginginkan cinta dari Mala.?
Apa Bina salah jika masih ingin mempertahankan wanita itu, memang Bima tau jika cinta tak harus memiliki. tapi apa iya dia bisa mengorbankan kebahagiaan yang baru dia rasakan?
Bima selalu merasa bahagia saat berada disamping Mala, walaupun pria itu tau jika wanitanya tidak akan pernah bisa mencintainya, tapi bukankah cinta akan datang dengan sendirinya. Bima selalu berharap untuk itu.
Satu hal yang selalu Bima harapkan, yaitu bisa di cintai oleh Mala sebelum kepergiannya tiba. walaupun kecil kemungkinan cinta itu akan hadir dalam diri Mala.
" Aku doakan apapun yang terbaik buat kak Devan"
" Terimakasih Bim, aku pergi dulu" ucap Devan sendu.
Setelah keluar dari ruang IGD, ternyata Devan tidak langsung pulang, pria itu masih terus memperhatikan Mala dan Bima dari luar ruangan. " Kenapa rasanya sesakit ini sayang, aku masih sangat mencintaimu, rasanya tidak sanggup jika aku harus terus-terusan melihat kamu bersama sepupuku sendiri, apa kamu sudah bahagia dengannya, apa kamu sudah benar-benar mencintainya dan melupakan semua tentang kita"
Tak lama kemudian Devan pergi dengan membawa perasaan luka yang semakin perih. seperti goresan yang disiram oleh air garam, teramat pedih.
" Sayang, tunggu sebentar ya, aku akan mengurus administrasi dulu" ucap Bima lembut
" Iya my boy"
Kakek Lustama ikut keluar bersama dengan Bima. pria tua itu pamit lebih dulu karna ada urusan yang sangat penting, kakek Lustama kembali lagi ke restoran itu untuk melanjutkan urusannya disana.
Disaat sendiri seperti itu membuat Mala mengingat kejadian beberapa menit yang lalu, sebelum Devan memberitahu kakek Lustama jika Mala dirawat dirumah sakit.
*Beberapa menit yang lalu.
Mala mendengar suara langkah kaki seseorang yang berjalan ke arahnya, saat Mala mau membuka kedua matanya tiba-tiba dia mendengar suara khas yang sangat dia rindukan,
" Malaku, aku sangat merindukan kamu sayang, aku sangat merindukan saat-saat kebersamaan kita. saat dimana kita merasa begitu bahagia, apa kamu sudah benar-benar melupakan semua tentang kit?" lirih Devan sendu sambil menggenggam tangan Mala.
Mendengar itu membuat Mala mengurungkan niatnya untuk membuka kedua matanya. wanita itu masih ingin mendengar apa saja yang akan Devan utarakan.
" Asal kamu tau, Aku sudah tidak mencintai Adelia lagi, satu-satunya wanita yang aku cintai adalah kamu. maafkan aku yang sudah membuat kamu kecewa,"
" Tapi satu hal yang harus selalu kamu ingat sayang, perasaan itu masih tetap sama, kamu masih menjadi ratu dihatiku*"