
Setelah sampai ke dalam kamar, mala belum juga bisa tidur, wanita itu masih terus terjaga hingga jam menunjukkan pukul 01:00 dini hari.
mala memandang devan yang sudah terlelap dalam mimpinya, memperhatikan wajah damai sang suami, lalu mendaratkan satu kecupan di pipi laki-lakinya.
" selamat tidur mas" setelah mengucapkan hal itu, mala pun kembali merebahkan tubuhnya di posisi semula, hingga tak lama dia pun ikut terlelap dan tenang dalam tidurnya.
Malam berlalu, pagi ini devan bangun lebih awal dari pada mala, melihat jam masih menunjukkan pukul 5 pagi pria itu pun kembali memeluk tubuh ramping istrinya,
menelusup kan wajahnya di belakang tengkuk leher mala, mencium wangi rambut khas wanitanya yang selalu bisa membuatnya tenang,
" terimakasih sudah memberikan rasa nyaman sayang," ucap devan dengan mencium leher istrinya.
karna perlakuan devan, membuat mala menggeliat kecil, wanita itu terbangun karna devan yang selalu mencumbui leher bagian belakangnya.
" mas, kamu sudah bangun?"
" hem, aku sudah bangun dari tadi sayang. tapi aku males beranjak dari sini. masih ingin terus meluk kamu seperti ini"
" ya udah, lakukan apapun yang bisa membuatmu nyaman mas"
devan mengangguk, pria itu sudah biasa tidur dengan memeluk mala dari belakang,
" mas" panggil mala dengan suara seraknya, khas orang bangun tidur.
" iya, kenapa sayang?"
devan melepaskan pelukannya, dan membalikkan tubuh mala untuk menghadap ke arahnya.
" jangan pernah temuin adelia lagi ya, aku gak suka" lirih mala dengan nada sendu
" iya sayang, aku janji, aku gak kan pernah temuin adelia lagi, aku gak akan ikut campur urusan adelia dengan rendi, maafkan aku yang sudah mengabaikan mu kala itu"
devan kembali mendekap mala, mencium lembut pucuk rambutnya, meyakinkan jika memang saat ini pria itu sudah benar-benar mencintainya.
" terimakasih mas, aku mencintaimu"
" aku lebih mencintaimu sayang"
setelah mengatakan hal itu, devan memandang mala lekat, begitu juga dengan mala, pandangan mereka pun bertemu, namun tidak ada satupun yang mengakhirinya.
pria itu mencium lembut bibir mala, yang awalnya mala hanya diam saja, namun beberapa detik kemudian mala pun ikut membalas ciuman suaminya,
melihat mala membalas ciumannya, pria itu menginginkan yang lebih lagi, hingga akhirnya pagi ini menjadi pagi yang panas buat keduanya,
buliran keringan sudah membasahi kedua manusia yang sedang melakukan pergulatan panas di pagi hari,
Setelah menyelesaikan aksinya, devan merebahkan tubuhnya di samping tubuh polos mala yang sudah di tutupi selimut,
" terimakasih sayang"
ucap devan sambil mencium kening mala,
" aku mandi duluan atau kita mandi bareng"
" no no no, gak ada mandi bareng, yang ada nanti bukannya mandi malah aneh-aneh"
" aneh-aneh? tapi kamu suka kan sayang" devan mengedip-ngedip kan matanya sambil menggoda mala.
" mas devan" teriak mala geram sambil mendorong tubuh suaminya,
" kamu sudah pandai membalas goyangan ku" Bisik devan tepat di daun telinga mala dan langsung berlari ke dalam kamar mandi.
mendengar itu mala menutup wajahnya dengan selimut, merasa malu dengan apa yang dia lakukan beberapa saat yang lalu.
setelah sama-sama bersiap mala dan devan turun bersama, ternyata di meja makan semua orang sudah berkumpul untuk sarapan bersama.
" selamat pagi baby satria, ututu pagi-pagi udah wangi, udah mandi ya sayang" sapa mala sambil mengambil alih baby satria dari gendongan nara.
" iya dong aunty satria sudah mandi" balas nara
" oia bunda, hari ini aku mau ziarah ke makamnya mama papa" jelas nara
" memangnya devan gak ke kantor nak"
" ke kantornya nanti siang setelah dari makamnya papa mama bunda, kebetulan pagi ini aku free," terang devan lembut
" Kapan-kapan bunda mau ikut ya nak, hari ini bunda masih ada janji"
" iya bunda, lain waktu kita ziarah sama-sama"
setelah beberapa saat menunggu akhirnya sarapan sudah tertata rapi di meja makan, pengasuh baby satria mengambil bocah kecil itu dari dekapan mala.
" Baik pak"
****
" mas sebelum ke makamnya mama, nanti kita berhenti dulu di pemakaman umun depan sana ya mas"
" iya sayang"
setibanya di sana mala menghampiri nisan dengan tertulis nama, " ALUNA ATMAJA"
" aluna atmaja, nama itu, apa itu dia," batin devan
melihat nisan dengan tertulis nama aluna atmaja membuatnya ingat akan gadis cupu yang dulu telah mencintainya dalam diam saat jaman SMA.
" selamat pagi kak, bagaimana kabar kak aluna,?"
" maaf ya kak, sudah lama aku gak datang kesini,"
" terimakasih berkat kak aluna, aku masih hidup sampai saat ini"
aluna menangis tanpa suara, membuat devan yang melihat itu langsung membawa mala dalam dekapannya.
setah beberapa saat menangis akhirnya mala pun putuskan untuk segera ke makam orang tuanya.
" mala pergi dulu ya kak, lain kali aku datang kesini lagi kak"
Tanpa mereka sadari, ternyata kegiatan mereka tak lepas dari pandangan seseorang yang berada tak jauh dari tempat mala juga devan,
dia adalah wilson atmaja, ya wilson adalah adik kandung aluna atmaja, umur mereka berpaut jarak 7 tahun.
namun mala tidak pernah mengetahui jika wilson adalah adik dari aluna,
aluna meninggal 3 hari setelah mengalami kecelakaan, namun sebelum kepergiannya, wanita itu meminta untuk memberikan jantungnya untuk mala, wanita yang dia temui sejak 2tahun yang lalu,
aluna sudah menganggap mala seperti adik sendiri, oleh karena itu dia menginginkan jantungnya hidup dalam diri mala yang saat itu sedang mengidap penyakit kangker jantung,
itu juga salah satu alasan wilson ingin selalu ada di dekat mala, karna jantung kakaknya juga masih hidup dan berdetak dalam diri mala.
" mala, setiap melihatmu, aku seperti melihat sosok kak aluna" lirihnya pilu.
setelah memastikan mobil devan benar-benar pergi wilson menghampiri makam kakaknya, satu-satunya saudara yang dia punya.
"mas, terimakasih sudah nemenin aku hari ini"
" iya sama-sama sayang, tapi kalau boleh tau makan siapa yang kamu datangi tadi sebelum ke makamnya mama"
devan mulai penasaran dengan makam yang nisannya tertulis aluna atmaja, terbesit dalam ingatannya seorang gadis culun yang dulu selalu memperhatikannya.
" oh, dia kak aluna mas, dia yang sudah mendonorkan jantungnya buat aku."
" jantung..?"
" iya jantung mas, dulu aku mengidap penyakit kanker jantung, saat aku masih sekolah menengah pertama"
" dokter meminta aku untuk segera mencari donor, kalau tidak nyawaku tidak akan bisa tertolong,"
" hingga suatu hari saat kondisiku melemah, aku di rawat di rumah sakit beberapa hari, aku sempat kritis, kata mama kak aluna sering datang menjengukku. dia sudah seperti kak nara"
" kasih sayangnya begitu tulus, biarpun dia culun tapi dia wanita yang sangat baik,"
deg!!!
mendengar perkataan culun membuat devan menghentikan laju mobilnya, semakin yakin jika aluna yang di maksud mala adalah aluna yang sama dengan yang dia kenal.
" aku bertemu kak aluna saat dia sedang di kejar oleh beberapa pria, aku datang menolong kak aluna, dari saat itu pun hubungan kami seperti saudara, tapi_"
mala menjeda perkataannya, wanita itu menghela nafas panjang,
" tapi apa sayang?"
" tapi setelah aku bangun dari tidur panjang ku, aku sudah tidak bisa melihatnya lagi,"
mala merasa dadanya begitu sesak, matanya memanas, hingga tak lama air mata itu pun jatuh tanpa permisi, membasahi pipi mulus mala,
melihat itu dengan cepat devan membawa mala dalam dekapannya, menenangkan wanitanya. dan membelai mala,
" menangis lah, jika itu bisa membuatmu tenang sayang"