
"Sial!" umpat Sanjaya sambil membanting ponselnya. Sungguh saat mendengar ancaman yang orang ujung telpon tadi utarakan membuat Sanjaya sedikit menciut, tentu saja dia tidak mau jika sampai harus kehilangan segalanya. Hingga Sanjaya putuskan mungkin untuk saat ini dia harus mengalah dan membiarkan Bima bergerak bebas tanpa pantauannya. Namun tidak dengan nanti, karna Sanjaya hanya mengulur waktu dan mencari rencana lain untuk membalas apa yang sudah Bima lakukan terhadap anaknya.
"Untuk saat ini kalian pergi dulu, nanti saya cari cara lain untuk membalas apa yang sudah Bima si*lan itu lakukan terhadap anak saya"gumam Sanjaya pada kedua anak buah yang ada di hadapannya.
Mereka berdua tak menjawab, hanya mengangguk paham lalu segera pergi dari sana sebelum Sanjaya memberikan mereka hukuman karna sudah menggagalkan rencana semalam yang sudah Sanjaya siapkan.
"Lebih baik saya mencari waktu lain untuk memberikan Bima pelajaran, untuk saat ini biarlah dulu, hartaku masih belum cukup untuk menyaingi Sunder"
Di saat Sunder masih memikirkan cara lain untuk memberikan pelajaran pada Bima, tiba-tiba saja suara bocah kecil memanggil nya serta berlari kecil ke arahnya.
"Kakek, dari tadi aku panggil-panggil ternyata kakek ada disini" ucap seorang bocah kecil yang umurnya kisaran masih tiga tahun, wajahnya cantik dengan rambut panjang. bola matanya berwarna hazel.
"Eeh cucunya kakek manggil ya, maaf ya Kinara, tadi kakek masih ada urusan, makanya gak dengar saat Kinara panggil" balas Sanjaya sambil duduk untuk mensejajarkan tubuhnya dengan bocah kecil yang wajahnya sangat mirip dengan Andika. Melihat wajah itu kembali membuat Sanjaya teringat akan anaknya.
Ya, bocah kecil perempuan itu adalah anak Andika dengan Nadia, karna sebenarnya anak Nadia dengan Andika belum meninggal, hanya saja anak itu di tukar oleh Sanjaya dengan bayi lain. Sedangkan anak itu dia asuh sendiri. Mengingat bagaimana sikap Andika pada Nadia membuat Mirna-istri dari Sanjaya memiliki rencana untuk merawat bayi itu tanpa sepengetahuan Andika dan juga Nadia. Mereka berdua sudah menukar dengan bayi lain saat masih di rumah sakit. namun hingga detik ini Nadia dan juga Andika tidak ada yang tau tentang hal itu, yang mereka tau anaknya sudah meninggal seminggu setelah di lahir kan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah cukup lam menunggu Devan, Akhirnya pria itu pun kembali yang entah dari mana. "Dari mana kak?" tanya Bima sambil memperhatikan Devan yang tengah mengambil ponselnya.
"Oh ini tadi beli sesuatu titipan mama" balas Devan sembari menunjukkan barang yang baru saja dia beli.
"Oohh, kak Devan sudah siap-siap kan? 30 menit lagi kita take off" lanjut Bima pada Devan..
"Sudah kok, Bim."
"Yasudah" balas Bima lalu mengambil ponselnya. Pria itu menghubungi nomor Mala karna sudah tidak sabar ingin mengatakan jika sebentar lagi dia akan kembali ke jakarta.
Tak butuh waktu lama, Mala pun sudah menjawab panggilannya.
📱:Halo, my boy,
📱:Hai, sayang. Bagaimana keadaan kamu? Apa sudah membaik?
📱:Alhamdulillah sudah, bahkan Sifa juga sudah membolehkan ku pulang sore ini
📱:Waah benarkah, aku seneng dengernya, sayang. Pokoknya kamu harus baik-baik disana ya. Oh ya, sore ini aku bakal kembali ke jakarta, kamu mau aku belikan sesuatu?
📱:Iya, my boy. Kata Sifa aku sudah boleh pulang. Tidak perlu, kamu kembali dengan selamat saja sudah lebih dari cukup. jangan lupa makan ya sayang.
Biarpun Bima tidak membesarkan volume panggilannya dengan Mala, Namun Devan masih bisa mendengar biarpun dengan samar-samar. Nadia yang paham menepuk pundak Devan. "Ingat, move on" gumam nya pada pria itu