Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Maksudnya?


" Baik dokter, Lakukan apa saja yang terbaik untuk istri saya." Lirih Devan sendu. entah kenapa mendengar keadaan Adelia pria itu merasa sangat bersalah dengan yang terjadi saat ini.


Melihat Devan seperti itu Wijaya dan Yasmine mendekat dan langsung memeluk anak bungsu mereka. " Ini semua salah Devan ma, pa" lirihnya pilu


" Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu Van, itu karma Adelia sendiri, Karma atas apa yang dia lakukan selama ini" Ucap yasmine pada Devan.


Sebenarnya Yasmine juga merasa iba terhadap cobaan yang sedang menimpa Adelia. Namun saat mengingat apa yang sudah pernah Adelia perbuat membuat rasa iba Yasmine menghilang saat itu juga.


Yasmine masih belum bisa menerima perbuatan Adelia yang sudah menyebabkan wanita paruh baya itu kehilangan Menantu yang paling dia sayangi.


" Sudahlah Van, kamu harus ingat, Gara-gara wanita itu kita harus kehilangan Mala." ucap Yasmine dingin dan langsung mengajak Wijaya untuk pergi dari tempat itu.


Wijaya hanya bisa menuruti keinginan sang istri, Pria paruh baya itu menepuk pelan bahu Devan sebelum mengikuti langkah istrinya. " Papa pergi dulu ya Van. kalau ada apa-apa hubungi papa, Dan sebaiknya kamu hubungi keluarga Adelia." ucap wijaya pelan.


Devan tak menjawab perkataan yang keluar dari mulut papanya, " Maafkan aku Adelia" pekik devan sendu.


Di tempat lain. saat ini Bima dan Mala sedang menuju ke arah pemakaman umum jakarta selatan. Pemakaman tempat terakhir papa dan mamanya.


Bima menghentikan mobilnya di sebuah toko bunga untuk membeli bunga buat papa dan mamanya Mala. " Mbk pesen bunga mawar putih dua ya," ucap Mala pelan.


Mereka melihat-lihat bunga-bunga yang tertata rapi di garden itu." Bunganya bagus-bagus ya my boy"


" Iya sayang. ini bunganya segar-segar, kamu mau?" tanya Bima lembut.


" Nggak my boy, kapan-kapan saja kita kesini lagi"


" Yasudah"


Di saat Bima dan Mala masih menikmati keindahan garden itu. Suara karyawan di sana tiba-tiba menghentikan mereka. " Mas, mbk. ini bunganya sudah selesai,"


" Oh iya, Jadi berapa?"


" Totalnya 350rb mas"


Bima tak lagi menjawab, pria itu langsung mengeluarkan dompetnya lalu mengambil beberapa uang lembar berwarna merah. " Ini mbk. kembaliannya ambil aja"


" Terimakasih mas,"


Mala dan Bima sudah kembali melanjutkan perjalanan mereka, Tak butuh waktu lama mobil itu sudah tiba di tujuan mereka berdua,


Mala keluar lebih dulu. karna Bima masih harus memarkirkan mobilnya, setelah mobilnya terparkir sempurna. Bima menyusul Mala dan mengekor di belakangnya,


" Selamat pagi ma,pa. Maaf ya Mala baru bisa ziarah kesini lagi, hari ini Mala datang bersama laki-laki yang selalu setia menemani Mala, laki-laki yang saat ini sudah menjadi suami Mala, laki-laki yang selalu menyediakan bahu ternyaman untuk Mala bersandar."


" Oh iya ma, Saat ini Mala sedang hamil. doakan Mala ya supaya Mala bisa menjadi orang tua yang baik seperti kalian. Terimakasih selama ini sudah merawat Mala dengan sangat baik. terimakasih atas pengorbanan kalian berdua."


" Mala bangga bisa menjadi anak papa dan mama. Mala janji akan mengambil kembali perusahaan papa, perusahaan yang sudah susah paya papa bangun dengan jerih payah papa sendiri. Mala janji, suatu saat nanti akan membalas apa yang sudah om irawan lakukan pada keluarga kita."


Saat ini Mala sudah tidak bisa lagi membendung air matanya, Dadanya mulai sesak dan tak lama tangis Mala pecah dalam dekapan Bima. Dekapan yang selalu terasa nyaman baginya, Dekapan yang selalu mampu membuat hatinya begitu tenang.


" Menangislah jika itu bisa membuat hati kamu terasa tenang" ucap Bima lembut sambil membelai rambut Mala.


" Rasanya begitu sakit saat mengingat bagaimana sikapku dulu Mu boy, Hiks...hiks..."


" Aku tau sayang. tapi itu semua sudah berlalu, sudah tidak ada gunanya disesali, saat ini kamu hanya perlu berdoa buat mereka"


" Buktikan kepada mereka, jika kamu bisa menjadi seperti yang mereka harapkan" ucap Bima lagi.


" Kamu benar my boy, aku harus buktikan pada mereka, jika aku bisa merebut kembali perusahaan itu,"


" Itu baru istrinya Albima."


[ Tante yasmine?]


[ ••••••••••••••• ]


[ Tante dapet nomor Bima dari mana tante? ]


[ •••••••••••••••• ]


[ Oh kakek. ini aku sama Mala sedang menuju ke mall, kalau tante mau kita ketemuan di sana aja ]


[ •••••••••• ]


[ Baiklah. see you tante ]


Setelah mengatakan hal itu, Bima memutuskan sambungan telfonnya. sedangkan Mala sudah mengerutkan keningnya saat mendengar Bima menyebutkan tante dan kakek.


" Ada apa my boy?" ujar Mala penasaran


" Kita ke mall ya sayang. kemaren kan sudah terlanjur janji sama tante Yasmine, itu barusan yang telfon tante Yasmine"


" Baiklah, Aku ikut apa kata kamu saja my Boy"


Setelah mendapatkan jawaban dari Mala. Bima melajukan mobilnya ke arah mall yang sudah dia sepakati dengan Yasmine.


Hari ini cuaca begitu indah, Matahari terik dan angin yang begitu sepoi-sepoi menyapu wajah Mala yang saat ini sedang menatap ke arah jendela dan membiarkan jendela itu terbuka agar bisa merasakan udara segar pagi menjelang siang.


" Sayang, wajahnya jangan kayak itu, nanti kamu masuk angin" Ucap Bima sangat lembut


" Tapi aku masih ingin menikmati cuaca hari ini my boy, boleh ya, sebentar saja" balas Mala dengan nada manjanya,


Mendengar nada Manja istrinya entah kenapa selalu mampu membuat seorang Bima luluh begitu saja. " Baiklah, tapi hanya sebentar ya"


Wanita itu mengangguk cepat, Melihat istrinya mengukir senyum bahagia membuat Bima ikut merasakan hal yang serupa.


Satu jam kemudian mobil yang Bima bawa sudah tiba di basement mall itu, setelah keluar dari dalam mobil, Bima menggenggam tangan mungil istrinya seperti biasa,


" Kita tunggu tante Yasmine dimana my boy?"


" Aku juga gak tau ya sayang, kita tunggu sambil main boneka capit mau gak?" tawar Bima sambil menunjuk ke arah boneka capit yang tak jauh dari posisi mereka.


" Boleh, ayo."


" Sebentar ya sayang. aku beli koinnya dulu" pekik Bima dan meminta Mala menunggu di dekat boneka capit itu.


Gak sampai lima menit. Bima sudah kembali dengan membawa beberapa koin di tangannya, " Aku mau boneka yang minion my boy" ucapnya dengan nada manja.


" Baiklah sayang, doain aku ya agar bisa mencapit boneka minion itu buat kamu"


Bima sudah mulai menggerakkan mesin capitnya, namun usaha untuk mendapatkan boneka minion yang diinginkan Mala gagal, tapi Bima bisa mendapatkan boneka boba warna Pink,


" Yah gak dapat boneka minionnya sayang, malah dapat boneka boba" ucap Bima sedih


" Tidak apa my boy, ini saja aku sudah seneng, usaha kamu tidak sia-sia, terimakasih ya my boy."


Tak lama kemudian terlihat Yasmine dan Wijaya sudah memasuki area mall itu. Bima melambaikan tangannya kepada mereka berdua, " Kalian sudah lama?" tanya Yasmine dengan nada lembut


" Tidak kok M-" ucapan Mala terpotong saat wanita itu menyadari perkataannya, dan hal itu membuat Yasmine juga Wijaya mengangkat sebelah alisnya, bukan hanya mereka berdua, Bima juga ikut penasaran dengan ucapan wanita itu.


" Maksudnya" ucap mereka bersamaan