
" Kamu beruntung Bim punya istri cantik dan pintar masak" ucap kakek lustama lembut
" Dan rasanya pun sama dengan masakan Malaku" Batin Devan sambil melanjutkan makannya.
Sarapan pagi itu hanya di lewati dengan keheningan tanpa ada percakapan di antara mereka, Semua orang memilih fokus pada makanan masing-masing. hanya terdengar suara bising alat makan saja.
Saat acara sarapan itu selesai, tiba-tiba Adelia mengatakan sakit di bagian perutnya. Apa iya Adelia mau melahirkan.,? " Awww, perutku sakit sekali, tolong mas" ucap Adelia sambil memegang perutnya, Wajahnya juga terlihat pucat, Rendi yang melihat itu ingin sekali menggendong Adelia. Namun dia urungkan niatnya karna tidak ingin membuat masalah di antara mereka lagi.
" Kita kerumah sakit" Ucap devan dingin sambil menggendong tubuh Adelia,
Melihat itu, entah kenapa Mala merasa dadanya begitu sesak, jika di tanya sakit. maka jawabannya adalah iya, Karna hingga detik ini, Mala masih sangat mencintai Devan.
Bima yang dari tadi memandang Mala langsung paham dengan apa yang dia lihat, Pria itu mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaan yang selalu terngiang di benaknya, " Sekarang aku paham, jadi laki-laki yang kamu cintai selama ini adalah sepupuku sendiri sayang" ucap bima dalam batinnya.
Bima memilih pergi dari meja makan, pria itu langsung naik dan masuk ke dalam kamarnya, setelah tiba di dalam kamar, Bima membuka pintu kamar mandi lalu menguncinya dari dalam. Emang ada seorang mafia menangis? Ada. dia adalah Albima, pria itu menangis didalam kamar mandi.
" Kenapa aku harus bersaing dengan kakakku sendiri. tuhan.. tolong tumbuhkan lah rasa sayang itu pada diri istriku, wanita uang sudah menjadi separuh jiwaku, wanita yang sudah menjadi duniaku."
" Apa aku salah ingin di cintai oleh wanita yang sangat berharga dalam hidupku, kenapa rasa itu harus sebesar ini" Bima memukul dadanya sendiri, sakit tapi Bima tak bisa jauh dari Mala,
Satu-satunya alasan bertahan hidup adalah wanita itu, melihatnya tersenyum, sudah lebih dari cukup untuk Bima, Tapi apakah salah jika Bima menginginkan perasaannya terbalas?
Bima masih terus menangis di dalam kamar mandi itu, beruntung, selama dua hari ini penyakit yang di derita Bima tidak kambuh secara tiba-tiba, karna memang dokter Leon sudah memberikan obat penahan rasa sakit buat persediaan selama di indonesia,
" My boy, kamu di dalam?" suara itu menghentikan Bima yang sudah setengah terisak, dengan cepat Bima mencuci wajahnya agar Mala tidak tau jika dirinya habis menangis.
" Iya sayang aku di dalam, Maaf ya tadi gak sempat pamit. soalnya tiba-tiba aku sakit perut" bohong Bima
" Oh iya gak papa my boy"
Mendengar suara Mala, entah kenapa selalu mampu membuat Bima membuang jauh rasa sedih itu, " Oke, tidak boleh menangis Bim, dari awal bukankah kamu juga sudah tau jika istrimu masih mencintai pria lain. kamu pasti bisa, semangat Bima" Ucap Bima pada dirinya sendiri
" Tapi kenapa rasanya sesakit ini" ucapnya lagi.
Lima menit kemudian Bima keluar dari dalam kamar mandi, dan di luar ternyata sudah ada Mala yang menunggunya, entah angin apa yang sudah merasuki wanita itu. karna dengan tiba-tiba memeluk erat tubuh Bima. " Kenapa sayang, ada apa?" tanya Bima penasaran.
" Tidak ada apa-apa my boy. hanya saja aku ingin berada di samping kamu. aku suka bau parfum kamu' ucap Mala sambil terus mengeratkan pelukannya,
" Aku siap kapanpun kamu mau memelukku sayang, oh iya hari ini kita kemana?"
" Ke makam papa dan mama ya, habis itu kita kerumah Bunda dan ayahku"
" Baiklah sayang, tapi tante Yasmine gimana?"
" Oh yaudah sayang. bagus kalo gitu, kamu mandi dan siap-siap ya, Aku mau bicara sama kakek dulu, malam ini kita nginep dirumah orang tua kamu saja ya"
" Iya aku setuju my boy, aku kangen banget sama keluargaku" ucap Mala dengan senyum merekah dari kedua sudut bibirnya.
Melihah itu membuat Bima mengukir senyum tipis, rasa sakit yang dia rasa beberapa menit yang lalu seketika hilang saat melihat senyum merekah dari bibir ranum istrinya. " Terimakasih ya allah, terimakasih atas bidadari yang ada di hadapanku ini" Bima bermonolog dalam batinnya.
•
•
•
Devan membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Pria itu menjadi panik saat cairan merah itu terus menerus keluar dari **** ***** milik Adelia. Saat ini Adelia sudah tidak sadarkan diri. Dan ternyata Rendi juga mengikuti mobil Devan dengan kecepatan yang tak kalah cepat,
Setelah Devan memarkirkan mobilnya, Pria itu berjalan cepat sambil membawa tubuh pucat Adelia ke dalam rumah sakit, " Dokter tolong" Ucap Devan dengan nada khawatir.
Seorang suster membawa Adelia masuk ke dalam ruangan IGD, dan tak lama ada seorang dokter yang ikut masuk dalam ruangan itu.
Rendi hanya bisa melihat dari arah kejauhan. Hatinya merasa khawatir dengan wanita yang masih sangat dia cintai. Ingin rasanya ikut menunggu Adelia di depan ruangan IGD, namun kesadarannya masih memikirkan tentang Sifa, karna bagaimanapun mereka adalah keluarga Sifa.
" Tuhan, tolong selamatkan lah mereka, selamatkan Adelia juga anak dalam kandungannya," ucap Rendi sendu
Tak lama kemudian ada seorang dokter yang keluar dari ruangan IGD itu, Dengan cepat Devan menghampirinya, biar bagaimanapun saat ini Adelia adalah istrinya, tanggung jawabnya.
" Bagaimana keadaan istri saya dokter?" Tanya devan pada dokter itu. ini pertama kalinya Devan menyebut Adelia sebagai istrinya. jika saja saat ini Adelia mendengar ucapan Devan, wanita itu pasti akan sangat senang mendapat pengakuan dari suaminya.
Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Devan membuat dokter itu mengambil nafas berat, terlalu sulit untuk memberitahukan hal yang saat ini terjadi pada Adelia.
" Mohon maaf pak, Ibu Adelia harus segera di operasi, janin yang ada di dalam kandungannya sudah meninggal dunia karna pendarahan yang terjadi pada ibunya" terang dokter itu.
Deg, Entah kenapa Rendi mendengar itu merasa lututnya melemas seketika. Anak itu tidak bisa di selamatkan? Mendengar itu kenapa rasanya begitu sakit, Ada rasa kehilangan yang muncul dari lubuk hati Rendi. pria itu mengingat ucapan Adelia beberapa waktu yang lalu.
Sebuah ucapan yang selalu terngiang dalam benak Rendi. " Tidak mungkin anak itu udah meninggal" ucapnya sambil meneteskan air matanya.
" Apa dok, Anak itu sudah tidak ada?" Tanya devan memastikan berita yang baru saja dia dengar.
" Iya pak. Anak dalam kandungan istri bapak sudah tidak bisa kami selamatkan, saya sarankan agar segera melakukan operasi cesar, agar kondisi ibunya tidak semakin melemah" sambung dokter itu lagi.
" Baiklah dokter. lakukan apapun yang terbaik untuk istri saya" lirih Devan sendu. entah kenapa pria itu merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi pada Adelia saat ini