
Setelah mengatakan hal itu, mala langsung bangkit dari duduknya, memasuki apartemen andra yang dia tempati saat ini, udara sudah semakin dingin. bahkan rasa dingin itupun masuk sampai ke tulang dan sangat di rasakan oleh mala, wanita itu menutup pintu balkon, Merebahkan tubuhnya di atas kasur, waktu sudah menunjukkan jam 00:00 dini hari, namun mala tak kunjung bisa menutup matanya.
Teringat akan kebaikan yasmine dan juga wijaya, yang sudah memperlakukannya seperti anak sendiri,
" Maafkan mala ma, pa, aku akan selalu mengingat kalian berdua"
Mala menghidupkan ponselnya kembali, melihat foto kelurganya. disaat menemukan fotonya bersama devan yang mereka ambil saat bulang madu ke lambeng beberapa hari yang lalu, Wanita itu memilih semua foto yang bersama devan lalu memindahkan ke sampah. tak terasa air matanya kembali meluruh, rasa cinta mala sudah terlalu dalam buat devan, akan tetapi dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak mengingat soal deva kembali.
" Jangan nangis mala, jangan nangis,! bener apa kata kak andra. aku harus menjadi mala yang dulu, mala yang kuat, mala yang tangguh. jangan menjatuhkan air matamu untuk suami seperti devan, Tapi kenapa rasanya sesakit ini, bahkan lebih sakit dari apa yang pernah aku rasakan saat mengetahui perselingkuhan bili dengan vira, apa karna rasa sayangku terhadap mas devan sudah terlalu dalam," Mala memukul dadanya sendiri.
Jam sudah menunjukkan pukul 02:00 pagi, itu tandanya sudah 2 jam setelah masuk dari balkon, selama itulah mala kembali menangis, hatinya terlalu sesak, hingga air mata itu tak dapat dia bendung lagi, air matanya selalu meluruh tanpa permisi. siapa sih yang tidak sakit hati saat mengetahui suaminya menghamili wanita lain.
Kepalanya sudah mulai sakit karna terlalu lama menangis, dari sore sampai dini hari. Hingga perlahan mala sudah bisa memejamkan matanya, wanita itu tertidur setelah menghapus semua foto-foto devan, bahkan nomor kontak devan juga sudah di blacklist. Mulai saat ini tidak ada lagi rasa yang dia simpan untuk suaminya yang tak pantas mendapatkan perasaan itu.
Malam berlalu, sinar matahari sudah mulai masuk ke dalam kamar devan. melalui celah gorden jendela yang terletak tepak di sebelah timur, Devan masih terlelap dalam tidurnya. hingga beberapa saat kemudian pria itu mulai menggeliat dan mengerjab beberapa kali, setelah kesadarannya sudah penuh, dan penglihatannya juga mulai terang devan duduk dan menyandarkan kepalanya pada sisi ranjang,
" Aku dikamar? ah pasti fino yang sudah membawaku pulang, awhk kenapa kepalaku terasa begitu berat" Ungkapnya sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit
" Apa karna terlalu banyak minum sampai aku tidak bisa mengingat apa-apa lagi" pungkasnya lagi
" dimana mala ya, apa mungkin dia sedang di dalam kamar mandi"
Devan mencoba memanggi-manggil nama mala, namun tidak ada jawaban sama sekali. yasmine yang menyadari jika devan sudah bangun langsung memasuki kamar anaknya dengan mata sebab dan wajah terlihat sendu.
" Kamu sudah bangun van?"
" Iya ma, oia mala kemana ma, kenapa aku panggil dari tadi tapi tidak ada sahutan sama sekali, apa mala sudah pergi ke kampus?"
Namun yasmine bukan menjawab pertanyaan anaknya, malah wajahnya jadi semakin sendu, pelupuk matanya pun sudah di penuhi kabut putih yang perlahan jatuh membasahi pipinya. Devan yang melihat itu pun sontak langsung bangun dari duduknya, menghampiri sang mama dan membawa wanita yang sudah mempertaruhkan nyawa dalam dekapannya,
" Ma, mama kenapa malah nangis, ada apa ma?," tanya devan yang mulai penasaran.
Yasmine tak menjawab, wanita paruh baya itu mengambil secarik kertas yang dia taruh dalam saku. kemudian memberikan pada sang anak. Setelah membaca isi dari surat itu, seketika kaki devan melemas, dadanya mulai sesak, hingga tanpa diketahui butiran bening itu mulai turun dan semakin deras,
" Kenapa kamu tinggalkan aku sayang" lirihnya pilu
" Maafkan aku sudah membuatmu kecewa, tolong kembali sayang"
sudah menangis cukup lama, devan menghidupkan ponselnya dan mencoba menghubungi istrinya, tapi hasilnya nihil. devan tidak bisa menghubungi nomor ponsel mala. setelah beberapa kali mencoba, pria itu baru menyadari satu hal, jika nomor ponsel Whatshap sang istri tidak ada foto profilnya, melainkan hanya tampilan abu-abu. yang menandakan jika nomornya sudah di blacklist oleh istrinya.
Menyadari itu membuat devan semakin bingung,
" Seandainya malam itu aku tidak menemui adelia, semuanya tidak akan jadi seperti ini, Aakkkggghhh"
Devan mengusap wajahnya kasar, sebuah penyesalan memang akan datang di saat kita sudah benar-benar kehilangan, Kehilangan orang yang paling berharga dalam hidup kita, itulah yang devan rasakan saat ini, Menyesal karna sudah menyianyiakan kepercayaan dan kesempatan kedua yang di berikan oleh istrinya. Terlebih lagi saat melihat kondisi sang mama yang merasa begitu kehilangan, Matanya sudah bengkak karna sudah menangis semalaman, ya yasmine sudah menangis setelah membaca secarik kertas yang mala tinggal di atas nakas tempat tidurnya, Wanita itu berkali-kali meminta pada sang suami untuk bisa membawa sang menantu, namun sampai pagi ini belum ada satu pun anggota yang mereka kerahkan untuk mencari mala memberikan sebuah informasi.
" Semua ini gara-gara kamu van, gara-gara kamu menantu kesayangan mama pergi, hiks...hiks..."
" Maafkan devan ma" Lirih devan dengan nada sendu
Sedangkan di apartemen elite jakarta, Mala sudah selesai mandi dan bersiap, karna hari ini mala akan mengajukan gugatan cerai sekaligus ziarah ke makam mama dan papanya, dan tak lupa juga untuk ziarah ke makam aluna, wanita yang sudah dia anggap seperti kakak sendiri.
" Ma bisa bantu mala untuk membawa masakan kita ke meja makan?" tanya mala pada sang mama mertua
" Tentu sayang, sini mama bantu bawa ya, oia sayang, habis ini mama di ajak papa untuk nengok rekan kerjanya di rumah sakit, kamu kalau sudah lapar makan duluan saja ya, gak perlu tunggu mama,papa dan suamimu"
" Iya ma, tapi mala belum lapar kok, nanti nunggu kalian saja"
" Ya sudah terserah kamu saja sayang, kalo gitu mama ke kamar dulu ya nak. mau siap-siap"
Setelah kepergian yasmine, ponsel mala berdering. ada satu chat masuk dari nomor tidak di kenal, " Siapa ya" gumam mala lalu memutar video yang dia terima. setelah melihat isi dari video itu. tiba-tiba dadanya terasa sesak, air matanya hampir meluruh namun dengan cepat dia seka. sebelum dilihat oleh orang lain.
" Sayang. mama dan papa pamit dulu ya nak, jaga diri baik-baik dirumah kalau perlu apa-apa panggil saja pelayan ya"
" Iya ma, mama dan papa hati-hati di jalan ya" ucapnya lembut dan mengambil menyalami tangan kedua mertuanya.
" Selamat tinggal,ma, pa" gumamnya dalam hati,
Yasmine dan wijaya yang melihat sang menantu menyalami tangannya sampai menitikan air mata pun sontak langsung menanyakan, apa yang membuat sang menantu sampai menangis,
" Sayang, kamu kenapa nak?,"
" Emm tidak apa-apa pa, papa dan mama hati-hati di jalan ya, mala sayang sama kalian berdua," pungkas mala sambil memeluk kedua mertuanya.
" Terimakasih selalu memperlakukan mala seperti anak kalian sendiri ma,pa, mala akan sangat merindukan saat-saat seperti ini.. hiks..." batinnya lagi.
" Sudah, jangan menangis nak, kami juga sangat menyayangimu, buat kami, setelah kamu menikah dengan devan, sejak saat itu juga kamu sudah menjadi anak perempuan papa dan mama"
" Papa kamu benar sayang, sejak saat itu kita berdua sudah menganggap kamu sebagai anak perempuan yang selama ini kita impikan,"
Mendengar hal itu membuat dada mala semakin sesak, namun dia menahan sebisa mungkin untuk tidak menumpahkan air matanya di depan kedua mertuanya.
" Mama dan papa hati-hati ya" Ucap mala lembut
Setelah kepergian sang mertua, dengan cepat mala naik ke lantai 2 dan mengunci pintu kamarnya, wanita itu menangis, sejadi-jadinya, hatinya terlalu sesak. merasa mendapatkan celah untuk segera pergi dari sana, sebelum kedua mertuanya kembali. dan sebelum itu mala sudah menuliskan pada secarik kertas yang dia letakkan di atas nakas samping tempat tidur.
"Kamu sudah siap dek?" suara lembut andra menyadarkan lamunan mala,
" Eh, iya kak, aku sudah siap. setelah dari pengadilan agama nanti aku masih mau ziarah ke makamnya mama papa, aku mau pamit sebelum aku pergi" terang mala pada andra
" baiklah, tapi kakak gak bisa ikut ziarah ke makam papa dan mama, kakak ada pasien soalnya nanti jam 11 siang"
" tidak apa-apa kak, aku akan naik taksi, kira-kira kapan aku bisa berangkat kak?"
" Besok, besok malam kamu sudah bisa pergi ke ausi dek, orang suruhan kakak sudah mengurus semuanya, nanti bibi flo akan ikut untuk menemani kamu selama di sana"
" Baiklah kak, terimakasih ya kak"
Ucap mala lalu memeluk andra erat.