
"Move on" Ucap Mala tanpa melihat wajah Devan
Setelah mengatakan hal itu. Mala benar-benar berlalu meninggalkan Devan yang masih mematung. Pria itu masih mencerna perkataan Mala. Move on! Apakah dia bisa?
"Aaaaaaarrrggh. Kenapa rasanya ini begitu menyiksa ku" Teriak Devan dan bisa terdengar jelas oleh Mala
Sedangkan Mala yang mendengar itu hanya terus melangkahkan kakinya menuju penginapan"Maafkan aku mas. Semua ini mungkin sudah yang terbaik.Kita sudah tidak di takdirkan untuk berjodoh. Semoga kamu bisa bahagia" Ucap Mala sambil memejamkan kedua matanya yang terasa panas.
Setelah tiba di penginapan, Mala menatap wajah Bima yang masih begitu terlelap dalam tidurnya. Kemudian Mala mengambil piyama dari dalam tasnya, Karna baju yang dia kenakan sudah basah karna air pantai.
Wanita itu masuk ke dalam kamar mandi dan memilih untuk berendam di bathtub sambil memasang pewangi ruangan aroma bunga Lily.
Mala memejamkan kedua matanya dan mencoba menikmati aroma bunga kesukaannya. Tiba-tiba saja dia teringat akan perkataan Devan.
Ajari aku bagaimana caranya melupakanmu.
Kata kata itu melintas dalam pikiran Mala. Apalagi ciuman yang sudah Devan berikan untuknya selalu terbayang jelas dalam ingatannya.
Mala mengambil nafas panjang sambil memejamkan kembali kedua matanya, Berusaha melupakan kejadian yang seharusnya tidak pernah terjadi antara dia dan juga Devan. Karna untuk saat ini itu adalah sebuah kesalahan.
Mengingat akan hal itu membuat Mala semakin merasa bersalah pada Bima. "Maafkan aku Bim. Bukan maksudku melakukan ciuman dengan mas Devan. Itu semua terjadi karna sebuah insiden saja" Ucap Mala sendu
Sedangkan Bima membuka kedua matanya saat merasakan tidak ada siapapun di samping tubuhnya. Pria itu mengerjab untuk beberapa saat guna menyesuaikan pencahayaan yang masuk pada indra penglihatannya.
"Kemana Mala?, Kenapa tidak ada di sini" Ucap Bima sambil menatap tempat Mala yang kosong
Pria itu bangun dan langsung mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan jika wanitanya ada di dalam kamar mandi itu.
Tok...tok..tok..
"Sayang. Apa kamu di dalam?" Panggil Bima dengan suara khas bangun tidur tapi masih terdengar sangat lembut
"Sayang. Kamu di dalam kan?" Panggil Bima lagi saat dia tidak mendengar jawaban dari Mala.
Beberapa saat kemudian. Saat Bima mah membuka pintu kamar mandi, Mala menjawab pertanyaan Bima dan mengatakan jika dia sedang ada di dalam kamar mandi.
"Iya my boy. Aku disini"
"Ngapain kamu di dalam sayang?"
"Aku tadi gerah, Makanya aku berendam di bathtub. Sebentar lagi selesai kok" Ucap Mala dari dalam kamar mandi
Mendengar perkataan Mala membuat Bima mengerutkan keningnya. Perasaan malam ini udaranya dingin. Kenapa Mala mengatakan kegerahan.
"Oooh yasudah. Jangan lama-lama ya sayang. Nanti kamu masuk angin. Aku gak mau kamu sakit"
"Iya my boy. Terimakasih ya sudah mau peduli sama aku"
"Ya tentu aja aku perduli sayang, Kamu kan istriku. Wanita yang amat aku cintai"
Mendengar kata itu membuat Mala bungkam. Tidak tau harus menjawab apa. Pasalnya malam ini Mala sudah melakukan sebuah kesalahan yang tidak pernah Bima ketahui. Biarpun hanya sebatas ciuman, Namun Mala sudah merasa sangat bersalah akan hal itu.
Tanpa sadar air mata Mala berhasil lolos begitu saja. Saat membayangkan bagaimana raut kecewa Bima saat tau hal yang sebenarnya. Jika Mala mandi bukan karna kegerahan, Tapi karna sudah terlanjur basah semua karna menolong Devan beberapa saat yang lalu.
"Maafkan aku yang tidak jujur Bim. Aku hanya tidak mau melihat raut kecewa dari wajah kamu" Ucap Mala sendu sambil mengusap air matanya
Di dalam kamar, Bima berjalan ke arah box bayi saat mendengar suara tangis Langit. Bima mendekat dan langsung menggendong Langit dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Mencoba menenangkan bocah kecil itu dengan cara yang Bima bisa. Bima menatap kedua mata bulat Langit yang sudah tenang dalam dekapannya.
"Anaknya Dady kenapa bangun sayang? Langit haus ya? Sebentar ya, Dady buatkan susu dulu" Ucapnya lembut dan meletakkan Langit pada tempat tidur mereka
"Sabar ya sayang. Dady buatkan susunya dulu" Ucap Bima dan langsung berjalan mengambil susu formula milik Langit yang ada di atas nakas. Beruntung karna di sana sudah ada air panas untuk Bima gunakan membuat susu.
Tak butuh waktu lama, Bima sudah kembali dengan membawa susu di tangannya. Pria itu menggendong Langit lagi dan memberikan susunya.
"Sekarang Langit minum susunya ya" Ucapnya lembut sambil mengelus pipi Langit penuh sayang.
Mala yang sejak tadi memperhatikan Bima mengurus anaknya seperti anak sendiri memejamkan matanya saat merasa kedua mata pedih.
"Terimakasih ya allah. Engkau sudah memberikan hamba sosok yang begitu tulus sepertinya" Ucap Mala dalam batinnya.
Mungkin benar apa yang pernah Mala dengar dari Leon, Jika buat Bima, Mala adalah dunianya. Dunia yang ingin selalu Bima bahagiakan.
Setelah cukup puas memperhatikan Bima yang sedang asik memberikan susu kepada anaknya. Mala mendekat pada mereka, Namun kedua matanya masih terus menatap Bima yang saat ini sedang mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Langit bangun my boy?" Tanya Mala yang pura-pura tidak tau
Mendengar suara wanitanya membuat Bima menoleh ke samping"Iya sayang. sepertinya Langit haus. Ini aku buatkan susu udah mau habis sama dia" Jawab Bima sambil terus mengangkat kedua sudut bibirnya
"Terimakasih ya my boy" Gumam Mala tiba-tiba
Bima menoleh dan menatap Mala"Terima Kasih untuk apa sayang?" Jawabnya sangat lembut
"Terimakasih atas segala hal yang kamu lakukan untuk aku. Terimakasih juga karna kamu sudah memperlakukan mereka seperti anak sendiri" Seru Mala sambil membalas tatapan Bima
"Kamu itu bicara apa sih sayang. Bukankah sudah tugas aku sebagai suami dan juga ayah untuk melakukan semua itu. Tidak perlu berterimakasih sayang, Karna apa yang aku lakukan sudah menjadi tanggung jawabku atas kalian bertiga. You are everything in my life. Dan aku mau kamu tau itu" Ucap Bima lembut sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
"So, Berhenti mengatakan terimakasih"
Mendengar jawaban Bima membuat Mala mendekat dan langsung memeluknya erat. Rasa syukur karna bisa memiliki Bima muncul dalam benaknya.
"I Love you my boy" Ucapnya sambil memeluk Bima erat
"Love you more my Queen"
Di Pantai
Setelah kepergian Mala. Ternyata Devan masih enggan untuk kembali ke penginapan. Pria itu masih begitu merenungi nasib nya yang begitu malang. Sebuah nasib yang tak pernah terbayang oleh Devan sebelumnya.
Memiliki kisah percintaan yang cukup rumit. Mencintai wanita yang saat ini menjadi adik iparnya sendiri. Cinta segitiga, Itulah kata yang pas untuk kisah mereka yang seperti drama korea.
"Bagaimana caranya aku bisa move on dari kamu Mala. Sedangkan kamu saja masih menguasai hatiku. Kamu masih menjadi pemilik dan penghuninya" Ucap Devan sendu sambil menatap bintang di langit yang sudah mulai hilang satu persatu
"Kenapa aku harus terjebak dengan situasi seperti ini. Kenapa"
Tanpa Devan sadari, Jam sudah menunjukkan pukul 03:00 Pagi. Sudah 2 jam setelah kepergian Mala. Devan masih belum beranjak dari tempatnya. Pria itu masih terus merenungi nasibnya yang sangat menyedihkan.
Devan memeluk tubuhnya sendiri saat merasa sudah mulai kedinginan. Hingga tak berselang lama Nadia datang dan menghampirinya.
Beberapa saat yang lalu Nadia membuka kedua matanya dan menatap sekeliling kamar penginapan yang ternyata bukan kamarnya.
Nadia sudah bisa menebak kamar siapa yang saat ini dia gunakan. Wanita itu mencoba mencari Devan, Tapi ternyata Devan tidak ada di mana-mana.
Seketika Nadia kepikiran tentang pantai. Wanita itu keluar dari dalam penginapan dan langsung mencari Devan ke pantai. Ternyata dugaan Nadia benar, Dari kejauhan dia bisa melihat ada sosok laki-laki yang sedang duduk di pinggir pantai dengan posisi memeluk tubuhnya sendiri.
Melihat itu membuat Nadia mempercepat langkahnya. Melihat Devan seperti itu membuat Nadia langsung paham jika saat ini Devan sedang tidak baik-baik saja.
"Ngapain kamu berdiam di sini Van?" Tanya Nadia setelah tiba di sana
Mendengar suara Nadia membuat Devan menoleh ke arah samping tubuhnya"Merenung"Jawabnya yang terdengar sangat lirih
Nadia semakin mendekat pada Devan sambil mengerutkan keningnya"Merenung? Untuk apa? Bukan kah ini adalah waktunya orang istirahat. Ayo kembali ke penginapan, Hari esok masih sangat panjang" Ujar Nadia sambil menepuk punggung Devan pelan.
Devan menatap Nadia"Memang. Tapi sudah tidak ada semangat untuk melanjutkan hari yang begitu menyedihkan ini. Hidupku sudah benar-benat tragis" Ucap Devan sambil menatap wanita itu
Nadia terkekeh sat mendengar jawaban Devan"Bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika hidup hanyalah bagaimana kita menyikapinya." Ucap Nadia pada Devan.
Wanita itu mengingatkan apa yang sudah Devan katakan padanya beberapa saat yang lalu.
"Come on Devan. Jangan buat hidupmu susah dengan cara berpikir mu yang terlalu pendek. Setelah aku pikir-pikir, Ternyata hidup memang tentang bagaimana cara kita menyikapinya. Jika kita menjalani dengan ikhlas, Insya allah suatu saat akan ada jalan kebahagiaan untuk kita"
"So, Jalani saja sesuai dengan alur yang sudah di tentukan. Kita hanya perlu mengikuti alur dari skenario yang sudah tuhan tuliskan. Selebihnya kita hanya perlu berdoa dan berusaha. Semoga apa yang kita harapkan menjadi amin di saat yang sudah di tentukan" Ucap Nadia lagi
Setelah itu Devan menatap Nadia dan langsung memeluknya"Terimakasih sudah memberikan pencerahan terhadap aku yang sudah mulai gelap. Kamu benar Nad, Kita hanya perlu mengikuti alur dari skenario yang sudah di tentukan" Ucap Devan sambil memeluk Nadia erat
"Nadia memang tidak pernah salah. Sekarang kamu hanya perlu melakukan satu hal" Ujar Nadia lagi
"Apa memangnya?" Tanya Devan sambil melepaskan pelukannya
"Move on dan lupakan apa yang membuatmu luka"