Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Bekerja sama dengan musuh


"Jangan lupa nanti kamu bawa alat penyadap suara ini ya Nadia" ucapku sambil memberikan sebuah cip berukuran kecil. Alat yang bisa di gunakan untuk menyadap suara


"Baiklah, Bim. Tapi jangan lupa, Andika orangnya sangat licik. Aku tau betul siapa dia. Dia pria paling brengsek yang pernah aku kenal" jawabnya sambil menoleh ke arahku


Aku melihat ada raut sendu dari wajah Nadia. Tidak ingin bertanya banyak. Tapi yang aku tangkap dari raut wajahnya seperti ada luka di saat kita sedang membicarakan perihal Andika sanjaya. Tidak tau apa yang pernah Andika lalukan pada Nadia, Tapi yang pasti, Sepertinya Nadia pernah di buat kecewa olehnya.


Jet pribadi ku pun take off meninggalkan kota jakarta. Aku menatap bandara itu dari dalam. Melihat cukup banyak orang-orang yang berlalu lalang di bawah saja.


Jujur, Sebenarnya hatiku sangat berat meninggalkan Mala di rumah sakit hanya di jaga oleh Sifa. Biarpun di luar banyak orang suruhan ku yang berjaga, Namun tetap saja, Hatiku tidak bisa tenang. Ku pejamkan kedua kataku sejenak. Mengambil nafas dalam lalu membuangnya kasar. Keadaan ini benar-benar membuatku sakit, Ingin rasanya bisa segera tiba di Aussie dan membalaskan apa yang sudah di lakukan orang suruhan Andika pada wanitaku.


Perjalanan menuju Aussie ternyata cukup lama. Aku menoleh ke arah Leo, Kak Deva yang sudah berkelana dalam mimpinya. Kecuali Nadia masih menatap ke luar arah jendela dengan kedua mata sayu nya. Karna penasaran, Akhirnya aku menanyakan hal yang sejak tadi mengganggu pikiranku.


"Kamu sebenarnya ada masalah apa dengan Andika Nad. Kenapa aku liat seperti ada luka dari kedua sorot matamu setiap kita membahasnya?" tanyaku pada Nadia


Nadia tak langsung menjawab. Dia masih mengambil nafas pelan sambil beralih menatapku. Seperti ada butiran bening dari sudut matanya. Entah apa yang membuatnya seperti itu, Entahlah, Aku juga tidak paham.


Cukup lama Nadia terdiam, Sampai akhirnya dia mau membuka suara dan menjawab pertanyaanku.


"Jujur, Aku sangat dendam pada Andika sanjaya. Karenanya, Aku kehilangan kedua orang tuaku. Bukan hanya itu, Aku juga kehilangan anak kami" ucapnya.


Hal itu tentu saja membuat aku mengerutkan kecil keningku. Anak kami? Apa sebenarnya maksud dari perkataan Nadia.


"Sebentar, Anak kami? Maksudnya bagaimana?"tanyaku sambil menatap Nadia


"Sebenarnya Andika adalah mantan suamiku, Tapi pernikahan kami hanyalah pernikahan yang di lakukan secara sirih. Setahun setelah menikah, Akhirnya aku hamil. Tapi karna Andika, Aku kehilangan bayiku, Dia meninggal seminggu setelah lahir"


"Inalillahi. Bagaimana ceritanya kamu bisa menikah dengan Andika. Bukan kah tadi kamu mengatakan jika Andika adalah dalang dari kematian kedua keluargamu?" tanyaku lagi


"Iya, Memang Andika yang sudah membunuh kedua orang tuaku, Tapi itu aku tau setelah pernikahan kami terjadi. Tidak pernah menyangka jika Andika sendiri yang sudah membunuh mereka"


"Karna Andika juga, Aku kehilangan semua harta milik papaku. Sejak saat itulah, Aku yang sudah terbiasa hidup mewah menerima tawaran Andika untuk menjadi istrinya. Tanpa aku sadari. Ternyata Andika malah menjual ku, Dia sering menjual aku pada rekan bisnisnya. Dan yang lebih membuat aku sakit. Andika melakukan hal itu di saat aku sedang mengandung anaknya" ucap Nadia dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.


Aku paham apa yang sedang Nadia rasakan. Mungkin memang selama ini hidupnya sudah banyak terluka karna perbuatan Andika. "Lalu, Bagaimana caranya kamu kabur darinya?" tanya ku lag


"Aku kabur setelah aku mendapatkan ide. Kenapa aku baru kepikiran akan hal itu, Aku memberikan obat tidur pada minuman Andika. Mungkin hari itu tuhan sedang memberikan aku jalan, Karna tidak ad satu orang pun di rumah itu. Sebelum pergi, Aku mengambil beberapa aset yang sempat membuatku mengerutkan keningku"


"Apa memangnya?"


"Semua aset yang aku ambil bukan atas nama Andika sanjaya, Tapi bernama Abraham dan juga Mala maharani"


Cukup terkejut dengan apa yang baru saja Nadia katakan, Abraham, Itu kam nama papa angkat Mala yang sudah meninggal. Lalu Mala maharani. Ifu kan juga nama Mala, Istriku.


"Lalu di mana sekarang semua berkas itu?" tanyaku sambil menatap Nadia


Melihat aku bertanya sambil menatapnya, Nadia mengangkat sebelah alisnya"Ada apa dengan mu Bim, Kenapa tatap aku seperti itu?" tanya nya pelan


"Oh, Maaf maaf! Aku cuka tanya, Dimana semua berkas-berkas itu sekarang?"


"Nad, Apa kamu tau siapa Abraham?'


Nadia menggeleng pelan"Tidak, Memangnya kenapa?"


"Abraham adalah papa angkat dari Mala, Istriku"


"Serius kamu, Bim? Pantas saja aku merasa tidak asing dengan nama Mala. Jadi ternyata Mala adalah nama wanita itu"


****


Yasmine dan Wijaya menggendong Bintang dan juga Langit dengan penuh kasih sayang. Akhirnya mereka bisa merasakan apa yang selama ini mereka harapkan. Memiliki cucu dari Devan.


"Pa. Mama tuh seneng bangat, Akhirnya kita punya cucu. Lucu dan juga sangat tampan seperti mereka" ucap Yasmine dengan senyum merekah dari kedua sudut bibirnya.


"Iya ma, Papa juga bahagia. Sepertinya papa harus buat syukuran deh. Atau papa kasih bonus aja buat para karyawan di kantor?"


"Ide bagus sih pa. Papa kasih bonus semua karyawan di kantor sebagai bentuk rasa syukur kita" timpal Yasmine antusias


"Tapi ya ma, Papa perhatiin kenapa wajahnya mirip sama sama Bima ya, Apa karna wajah Devan sama Bima itu sedikit mirip?"


"Iya sih pa, Mama juga perhatiin wajah mereka berdua sama kayak Bima. Hidungnya, Matanya. Bahkan bibirnya sangat persis sama Bima"


Tanpa terasa, Jam sudah menunjukkan pukul 23:30. Mala masih terjaga, Rasanya masih sangat sulit untuk sekedar memejamkan kedua katanya. Mala memikirkan kedua anaknya.


"Langit, Bintang. Mami sangat merindukan kalian berdua" ucap Mala sambil menatap layar ponselnya yang menunjukkan langit dan juga Bintang di sana.


"Apa kalian berdua sudah tidur, Mami benar-benar tidak tenang saat berjauhan dengan kalian seperti ini" ucap Mala lagi


Tak berselang lama, Sifa dan juga Wilson daru saja kembali dari luar. Karna memang malam ini Sifa sudah mulai bekerja lagi dan mendapatkan jadwal jaga malam.


"Kak, Kenapa kal Mala belum tidur? Ini sudah sangat larut kak" ucap Sifa sambil mendekat pada Mala


"Kakak gak bisa tidur Sif. Kakak menghawatirkan Langit dan juga Bintang" ucap Mala sendu


"Kak. Mereka baik-baik saja di rumah bersama dengan mama dan juga papa. Kakak istirahat sekarang ya. Besok pagi kakak sudah boleh pulang"


"Benarkah. Aku bahagia mendengarnya Sif"


Di Tempat Lain


"Kamu kenapa sih Ren. Aku perhatiin kok dari kemaren lebih banyak bengong. Ada apa? Ada hal yang sedang kamu pikirkan?" tanya Viona pada Reno


"Aku jadi kepikiran dengan perkataan Bima kak. Bagaimana jika memang yang membunuh ayah bukan dia. Melainkan Andika sanjaya. Itu artinya kita sudah bekerja sama dengan musuh kak"