
"Kamu benar, Nad. Rasanya memang benar-benar sakit saat melihat orang yang masih kita cintai sudah menjadi milik orang lain. Dan sakitnya, kita susah untuk sekedar membuang rasa itu" ucap Devan yang terdengar sangat lirih.
Nadia menepuk pundak Devan. mengangkat wajahnya serta Menatap kedua bola matanya"Bagaimana kalau kita coba untuk saling menyembuhkan luka" gumam Nadia sambil menatap Devan.
Devan mengerutkan kecil keningnya"Apa maksud kamu, Nad. Aku tidak paham?" tanya Devan sambil membalas tatapan Nadia.
"Aku akan berusaha menyembuhkan luka hati kamu, Dan kamu juga berusaha menyembuhkan luka hati aku. Kita memiliki rasa luka yang sama, Kenapa kita tidak mencoba saling menyembuhkan luka itu" seru Nadia sambil terus menatap kedua mata Devan.
Mendengar perkataan Nadia membuat Devan terdiam untuk beberapa saat, Tidak tau apa yang harus dia katakan atas apa yang baru saja Nadia ucapkan.
"Kenapa kamu diam saja, Van? Apa salahnya kita mencoba saling menyembuhkan luka. Sekedar mencoba saja" ucap Nadia lagi. Karna Devan hanya diam tak menjawab sepatah katapun dari perkataannya.
Mungkin memang apa yang Nadia katakan ada benarnya juga, Kenapa aku tidak mencoba saling menyembuhkan luka dengannya. Bukan kah kesempatan aku untuk memiliki Mala kembali sudah sangat minim. Apa sebaiknya aku coba saja usulan Nadia.
Devan bermonolog sambil menatap ke arah Nadia. Sedetik kemudian, Pria itu menganggukkan pelan"Kita bisa mencobanya" ujar Devan pelan.
Setelah mengatakan hal itu, Devan berlalu dadi hadapan Nadia. Meninggalkannya yang sudah mengangkat kedua sudut bibirnya saat mendengar perkataan Devan tadi.
"Sudah malam, Lebih baik kamu tidur" seru Devan sambil menoleh ke arah Nadia sejenak lalu kembali melangkahkan kakinya.
Sedangkan Nadia, Wanita itu menatap punggung Devan yang sudah semakin menjauh. Entah kenapa jawaban yang Devan ucapkan membuat hatinya merasa sangat senang.
"Kenapa aku malah senyum-senyum sendiri seperti ini" seru Nadia sambil menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.
Nadia naik ke atas ranjang. Merebahkan tubuhnya serta merenggangkan otot-otot tangan serta otot kakinya. Menatap langit-langit kamarnya sambil menikmati aroma bunga Lily yang ada di ruangan itu.
"Aroma ini sangat bisa menenangkan pikiran ku" ucapnya pelan.
Di Tempat Lain
Seorang pria paruh baya sedang mengepalkan kuat kedua tangannya. Matanya memerah serta mengatupkan kuat giginya.
"Kurang ajar! Saya bersumpah, Siapapun yang sudah berani menghilangkan nyawa Andika akan mendapatkan hal yang setimpal. Nyawa di balas dengan nyawa" ucapnya sambil menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin.
Dia adalah Sanjaya. Ayah Andika sekaligus sosok yang dulu sudah membuat Abraham serta Aminah harus kehilangan nyawanya. Sanjaya adalah sosok yang penuh dengan ambisi. Apapun yang dia inginkan harus tercapai.
Tak lama kemudian, Sanjaya mengeluarkan ponselnya. Mencari sebuah nomor ponsel seseorang yang selama ini selalu menjadi kaki tangannya. Tak butuh waktu lama, Orang di ujung telpon sudah menjawab panggilannya.
π²:Halo, Selamat malam, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?
π²:Saya mau kamu melakukan sesuatu. Cari siapa yang sudah berani menghabisi anak saya.
π²:Baik, Tuan. Saya akan berusaha mencari siapa pelakunya
π²:Good.