Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Fakta yang sebenarnya.


Mendengar pernyataan sang ayah, tubuh Adelia melemas, matanya memanas, dadanya begitu sesak. hingga tak lama air matanya berhasil lolos begitu saja dari kedua sudut mata Adelia." Tidak mungkin ayah, hiks...hiks...."


Tangis Adelia semakin terisak, bagaimana bisa hal ini terjadi, bagaikan sebuah mimpi buruk yang tak pernah Adelia harapkan, biarpun belum pernah melihat wajah anaknya. namun Adelia begitu menyayanginya. dunianya seakan berhenti berputar untuk saat ini.


" Kenapa semua ini harus terjadi padaku. hikss..hiks..."


" Sabar sayang, ibu tau. ini sangat berat buat kamu, tapi ini sudah takdir nak, ikhlaskan dia,"


" Bagaimana bisa hal ini terjadi bu, Adelia sangat mengharapkan kehadirannya, tapi kenapa anak Adelia harus pergi. hiks...hiks..."


Adelia semakin terisak. tak lama kemudian Devan datang dengan wajah yang terlihat sangat merasa bersalah, pria itu mendekat ke arah Adelia dan mendekapnya, dekapan pertama yang Devan berikan setelah pernikahan mereka.


" Maafkan aku Adelia. maafkan aku" ucap Devan penuh penyesalan.


Memang hanya kata maaf yang mampu keluar dari mulutnya, tidak ada kata lain selain kata maaf.


Adelia melepaskan dekapan Devan. wanita itu semakin tak terkendali saat Devan berusaha menenangkannya. " Pergi kamu Van, gara-gara kamu aku kehilangan anakku, hikss..hiks.."


" Gara-gara sikap kamu yang membuat aku kehilangan harta yang paling berharga dalam hidupku. kamu jahat Van, hiks..hiks..."


Devan masih terus berusaha menenangkan Adelia. Namun yang ada wanita itu malah semakin menjadi, " Pergi kamu Van, hiks...hiks.."


" Sudah Adelia, kamu harus sabar, lebih baik sekarang kita urus pemakaman anak kamu" ucap ibu Adelia lembut


Mendengar itu membuat Adelia terdiam, wanita itu bungkam tanpa mau berbicara lagi, Air mata yang keluar sudah semakin deras membasahi kedua pipinya.


" Tolong bawa Adelia menemui anak Adelia bu" lirihnya sangat pilu.


orang tua Adelia tak menjawab, kedua paruh baya itu hanya mengikuti perintah putrinya untuk membawa ke kamar jenazah,


Devan mengekor di belakang mereka, melihat keadaan Adelia seperti ini membuat Devan merasa iba,


tak lama kemudian Devan menghubungi kedua orang tuanya, Devan meminta mereka untuk ikut hadir dalam acara pemakaman anaknya Adelia.


Di mall saat ini Yasmine dan Delisa sudah selesai berbelanja, kali ini mereka akan pergi ke salon untuk perawatan, namun rencana Yasmine batal karna Wijaya datang dan mengajak mereka untuk ikut andil dalam acara pemakaman anak Adelia,.


" Ayo ma kita harus segera kembali, anak Adelia akan di makamkan sore ini. dan Devan meminta agar kita hadir disana,"


" Maksud om apa?" tanya Delisa penasaran.


" Anaknya Adelia meninggal dunia Delisa, dan akan dimakamkan sore ini, Sebaiknya kalian juga datang"


" Baiklah om, kita berdua pasti datang" selang Bima.


Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 15:30, banyak orang hadir di acara pemakaman anak dari seorang Adelia,


Adelia sendiri masih terus menangis tanpa mau berbicara, harta yang selama ini dia jaga akhirnya pergi di hari yang sudah di nantikan Adelia, Dihari Adelia menantikan kelahiran anaknya, di saat itu juga Adelia harus kehilangan anak pertamanya,


Proses pemakaman berlangsung begitu cepat, saat ini di area pemakaman hanya sisa beberapa orang saja, hanya ada anggota keluarga Adelia juga keluarga Devan,


" Pergiiiii kamu Van, tidak usah pura-pura baik. kamu jahat Van, gara-gara kamu anak aku meninggal, huuuhuuuuu"


Adelia jadi semakin histeris, wanita itu terlihat begitu membenci Devan untuk saat ini " Aku bilang pergiiiii"


" Kenapa aku harus pergi Adelia, bukankah dia juga anakku"


" Anak, hahahhhaah. DIA BUKAN ANAK KAMU. sebenarnya malam itu tidak ada yang terjadi di antara kita, aku hanya menjebak kamu Devan adiwijaya, jadi aku bilang pergiiiiiiiii hiks...hiks.."


Deg! Mendengar itu membuat Mala membulatkan kedua matanya, Fakta apa ini? Apa maksud dari perkataan Adelia,? tidak ada yang terjadi malam itu?


Banyak pertanyaan yang terngiang dari benak Mala saat ini, apa perpisahannya dengan Devan hanya sebuah rencana yang Adelia buat sendiri.


" Apa maksud kamu Adelia?" tanya Wijaya yang masih pura-pura tidak tau tentang hal yang sebenarnya.


" Iya pa, anak ini bukan anak Devan, tapi anak Rendi. aku sengaja menjebak Devan saat aku tau kalau aku hamil anaknya Rendi, dan karna kebodohan Devan, aku bisa membuat dia terjebak di dalam hotel. aku mengatakan jika Devan sudah melakukan hal itu padaku. padahal itu hanyalah akal-akalanku saja"


" Kenapa kamu lakukan itu Adelia?"


" Karna aku tidak suka melihat Devan bahagia bersama istrinya" terang Adelia


Mala yang mendengar itu seketika lututnya terasa begitu lemas, jadi selama ini dirinya sudah salah duga. Ingin sekali rasanya menampar Adelia saat ini juga, " Jadi ini semua ulah perempuan itu, ya ampun aku sudah salah paham. apa ini yang di maksud pak Vino waktu itu" Mala bermonolog dalam batinnya.


" Adelia," ucap Devan dan mendekat ke arah wanita itu


Melihat Devan semakin mendekat, membuat Adelia kembali terisak, " Pergi kamu Van, aku benci sama kamu. aku benci, dasar pria jahat "


Kondisi Adelia sangatlah menyedihkan. apa iya Adelia depresi,? Hal itu membuat semua orang melihat iba pada Adelia. termasuk juga Devan.


Dengan berat hati Devan pergi dari hadapan Adelia. pria itu melihat iba Adelia yang terlihat begitu hancur, " Maafkan aku Adelia. kamu benar, aku memang pria jahat yang tidak pernah bisa membuat wanita bahagia, aku jahat" ucap Devan dengan penuh penyesalan.


Kali ini Devan keluar dari area pemakaman anak Adelia, Devan membawa mobilnya tanpa arah tujuan, hingga tak lama pria itu mengingat sebuah tempat yang pernah dia kunjungi saat bersama Mala beberapa waktu yang lalu,


tiga puluh menit kemudian, mobil yang di bawa Devan berhenti di sebuah danau yang entah kenapa saat ini sepi dengan pengunjung, bahkan di tempat itu hanya ada Devan seorang.


" Akkgghhh" Devan berteriak sambil mengacak rambutnya kasar,


" Kenapa hidupku jadi seperti ini. kenapa hidupku jadi berantakan begini"


" Tapi setidaknya Adelia sudah jujur tentang hal yang sebenarnya,"


Tanpa terasa sudah satu jam pria itu hanya diam dan memandang danau yang terlihat begitu tenang, hingga tak lama ada sebuah mobil berwarna hitam yang berhenti tak jauh dari tempat Devan saat ini,


Devan melihat ke arah mobil dan nampak seorang perempuan keluar dari dalam mobil itu, mata Devan memicing saat melihat siapa orang itu. " Mala" ucap Devan tanpa sadar,


Orang itu adalah Mala, saat ini Mala memang datang seorang diri tanpa ada Bima yang menemani, karna Bima sedang ada urusan bersama kakek Lustama di sebuah Restoran, karna bosan menunggu Bima, akhirnya wanita itu keluar dari restoran itu dan memesan taksi online untuk mengantarnya kesebuah tempat.