
Mendengar ucapan sang mama membuat Devan terlihat begitu terkejut. Ini adalah pertama kalinya Devan mendengar kabar buruk tentang Bima. Tapi ada hal yang membuat Devan mengangkat kedua sudut bibirnya.
Kelahiran Mala. Ya, Kelahiran Mala sudah membuat Devan kembali bisa mengangkat kedua sudut bibirnya yang selama ini terasa begitu kaku untuk sekedar sedikit membentuk senyum.
Setelah perpisahannya dengan Mala membuat Devan kembali berubah menjadi sosok yang dingin. Sangat dingin. Bahkan tidak pernah ada lagi seulas senyum merekah dari kedua sudut bibirnya.
"Aku ikut ma. Aku akan menyiapkan semuanya" Ucap Devan
"Baiklah. Kita akan berangkat besok jam 12:00. Jangan lupa mengabari Alex untuk mengurus semua pekerjaan kamu selama kita di sana"
"Kalau hanya soal kerjaan, Mama tidak perlu khawatir. Devan bisa mengerjakan lewat online"
"Baiklah. Terserah kamu saja"
Setelah itu, Devan melangkahkan kakinya menaiki anak-anak tangga untuk segera ke dalam kamarnya dan menyiapkan barang-barang yang akan di bawa besok siang ke Aussie.
Bukan hanya Devan dan kedua orang tuanya yang akan terbang ke Aussie. Tapi Wilson juga akan terbang ke sana untuk menemani sang ayah yang kondisinya kembali menurun.
Di dalam kamar. Devan mengambil beberapa pakaian yang akan dia bawa ke Aussie. tiba-tiba saja Devan melihat baju Mala yang masih tersimpan rapi di sebelah baju-bajunya.
Melihat itu membuat Devan mengambil ponselnya dan membuka galeri untuk melihat gambar Mala yang sudah dia simpan sejak Mala masih menjadi sekertaris nya. Lebih tepatnya saat dimana Devan dan Mala sedang pergi ke butik untuk fiiting baju buat pernikahan mereka.
Setelah dari butik, Devan membawa Mala kesebuah taman pusat kota. Saat itu Mala mengangkat kedua sudut bibirnya saat melihat anak-anak yang sedang asyik bermain.
Melihat Mala tersenyum entah kenapa membuat Devan menyalakan ponselnya dan langsung mengambil gambar Mala.
Inilah foto Mala yang selalu Devan simpan dalam ponselnya. di saat sedang merindukan Mala, Devan memang akan selalu memperhatikan gambar wanita itu.
"Kenapa rasanya aku sangat sulit untuk melupakan kamu sayang. Kamu terlalu berharga buat aku" Ucap Devan begitu sendu
"Apa aku salah jika aku masih berharap suatu saat nanti kita akan dipersatukan kembali dengan ikatan pernikahan" Ucapnya Lagi
Di kediaman Kakek Lustama
"Kakek, kita jadi kan ke Aussie untuk melihat keadaannya kak Bima?" Tanya Sifa pada sang kakek
"Tentu saja jadi cucuku. Kita akan melakukan penerbangan besok siang jam 12:00. Jangan lupa siapkan barang-barang yang akan kamu bawa ke Aussie ya" Ucap kakek Lustama
"Baiklah kek. Hari ini Sifa akan ke rumah sakit dulu untuk meminta izin cuti selama 1 minggu. Dan kalau soal packing, Sifa bisa packing nanti malam sepulang dari rumah sakit"
"Terserah kamu saja cucuku. Kamu boleh ajak Rendi"
Mendengar nama Rendi membuat raut wajah Sifa berubah masam saat itu juga. Bagaimana tidak. Wanita itu masih bisa mengingat jelas saat Rendi mengatakan jika mau menikah dengan Sifa karna Tania anaknya.
"Rendi sedang sibuk kek" Ucap Sifa yang sengaja berbohong dan langsung berlalu dari hadapan sang kakek
Tuan Lustama yang menyadari perubahan raut wajah Sifa hanya bisa membuatnya geleng kepala.
"Dasar anak jaman sekarang" Ucapnya
1 Jam kemudian Sifa sudah tiba di rumah sakit tempatnya bekerja. Hari ini Sifa memang akan meminta ijin cuti untuk menjenguk keadaan Bima sekaligus healing.
Sifa turun dari dalam mobilnya dan berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Tiba-tiba langkah kakinya terhenti saat suara yang sangat familia memanggil namanya. Awalnya Sifa pura-pura tidak mendengarnya. Namun ternyata Rendi masih terus mengikuti langkah kakinya
"Dokter Sifa" Panggil Rendi lagi
"Ada apa?" Balas Sifa ketus
Melihat itu membuat Rendi mengambil nafas berat. Ternyata membujuk seorang wanita lebih berat dari pada menangani seorang pasien.
"Kamu marah karna hal itu? Sifa. Lihat aku. Aku memang belum bisa mencintai kamu.Tapi aku akan selalu berusaha mencintai kamu"
"Tidak perlu. Aku tidak mau menikah hanya karna alasan yang tidak terlalu masuk akal" Ucap Sifa masih ketus dan langsung berlalu dari hadapan Rendi. Namun sebelum itu Sifa masih mengatakan jika dia akan mengambil cuti selama 1 minggu
"Oh iya dokter. Saya mau ambil cuti selama 1 minggu ke depan. karna mau melihat keadaan kak Bima yang sedang sakit" Ucap Sifa pada Rendi
Mendengar nama Bima membuat Rendi mengangkat sebelah alisnya. "Bima suaminya Mala kan?"
"Iya. Dia adalah kakak sepupu saya. Saya permisi"
Di Aussie
Setelah merasa cukup istirahat. Mala mengerjab beberapa kali dan kembali ke ruangan ICU untuk melihat keadaan Bima sekaligus menemani pria itu
Melihat Bima terbaring lemah seperti itu membuat dada Mala terasa kembali sesak. Dunianya seakan berhenti berputar. tanpa Mala sadari ternyata butiran bening itu kembali memenuhi kedua pelupuk matanya.
"Bangun my boy. Tolong jangan seperti ini" Ucap Mala di sela isak tangisnya
"Aku mohon bangun my boy. Apa kamu tidak ingin melihat senyum anak-anak kita yang begitu mirip sama kamu"
Mala menatap Bima sambil menggenggam tangannya. Ini pertama kalinya Mala merasa sangat takut kehilangan Bima. Tanpa Mala sadari ternyata rasanya begitu sakit saat melihat pria yang sudah mulai di cintanya terbaring lemah seperti itu.
"Bangun my boy. Aku sudah memberikan anak-anak kita nama sesuai dengan apa yang sudah kita rencanakan. Langit dan Bintang. Sebuah nama yang selama ini sudah kamu siapkan.
Melihat Bima terbaring lemah seperti itu membuat Mala mengingat setiap kejadian saat awal-awal Mala datang ke Aussie. Saat dimana kemana saja Mala di antar dan di temani olehnya.
Flashback On
"Bim, aku pengen nonton film horor yang judulnya 'Antara duka dan Luka' kamu mau gak temani aku. Itu sih kalau kamu bukan penakut"
Mendengar itu membuat Bima mengangkat sebelah alisnya. jangan sampai Mala tau jika memang dirinya sangat takut dengan hal yang berbau horor.
"Kok diam Bim. kamu bukan penakut kan Bim. Jika itu benar hahhahah. Kamu berarti cemen"
"Siapa yang takut. ayo kita pergi nonton film yang kamu mau" Ucap Bima saat mendengar perkataan Mala.
'Jangan sampai Mala tau jika aku memang benar-benar takut. Untung aku sayang sama kamu Mala. Kalau tidak mana mau aku menonton acara horor seperti itu
Selama ini Bima tidak pernah menginjak kakinya di bioskop. apalagi menonton acara horor. Sebuah film dengan judul 'Antara duka dan Luka' Sebuah film yang menceritakan tentang seorang wanita yang di bunuh oleh kekasihnya sendiri
Bima dan Mala sedang mengantri untuk membeli 2 buah tiket. mereka berdua menggunakan baju yang senada. Baju yang mereka beli di perjalanan. Karna baju Mala ketumpahan minuman saat sedang makan di cafe.