Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Penyesalan Nathan


"Tapi aku juga ingin bahagia" Ucap Devan dan langsung berlalu dari hadapan Sifa


Wanita itu membiarkan Devan pergi dengan wajah yang terlihat sangat terluka. Ternyata bukan hanya dunia yang tak adik padanya, Namun adiknya sendiri ternyata juga tidak adil dalam hal ini.


"Maafkan aku kak. Aku terpaksa melakukan hal ini. Bukannya aku tidak sayang sama kak Devan. Hanya saja kak Bima lebih membutuhkan kebahagiaan ini" Ucap Sifa sambil menatap Devan yang sudah semakin menjauh


Melihat semua itu membuat Wilson mendekat pada Sifa dan membawa tubuh Sifa dalam dekapannya"Sudah. Jangan merasa bersalah, Menurutku apa yang kamu lakukan memang salah, Tapi di balik kesalahan itu ada alasan tersendiri. Aku yakin jika sebelumnya kamu sudah memikirkan matang-matang tentang hal ini" Ucap Wilson sambil membelai lembut rambut Sifa


"Aku benar-benar merasa sangat bersalah mas. Tapi alsan ku melakukan semua itu hanya karna ingin membuat kak Bima bahagia dengan sisa waktu yang dia miliki. Karna aku tau, Seberapa parahnya kondisi kak Bima saat ini" Ucap Sifa di sela isak tangisnya


"Iya aku tau..Sudah tidak usah menangis lagi, Setidaknya kamu melakukan hal itu untuk Bima. Biarkan saja Devan pergi, Biarkan dia menenangkan diri dulu" Ucap Wilson sangat lembut


"Tapi aku benar-benar merasa bersalah mas. Pasti kak Devan sangat terluka saat tau jika aku yang sudah menukarnya" Ucap Sifa lagi


"Sudah biarkan saja. Aku tau bagaimana Devan. Nanti dia juga bakal mengerti bagaimana maksud kamu" Ucap Wilson lagi


"Iya mas. Tapi aku bisa melihat dari raut wajah kak Devan jika dia sangat terluka"


Setelah keluar dari rumah sakit, Ternyata Devan tidak lagi kembali ke penginapan. Pria itu memutuskan untuk pulang ke apartemen dengan menggunakan ojek online.


Entah kenapa di saat hatinya terluka seperti ini, Devan ingin segera tiba di apartemen miliknya.


Pria itu memesan ojek online dengan menggunakan aplikasi yang memang dia gunakan di saat seperti ini. Tak berselang lama, ojek yang baru saja Devan pesan ternyata sudah tiba di depan rumah sakit.


Dengan cepat Devan naik dan meminta tukang ojek itu untuk segera jalan dan mengantarnya ke alamat sesuai aplikasi.


"Jalan pak, Sesuai aplikasi" Ucapnya pelan sambil menahan rasa sakit yang begitu menusuk


45 Menit kemudian. Devan sudah tiba di apartemen miliknya. Buru-buru Devan masuk dan naik lift agar bisa segera tiba di unitnya.


Setelah tiba di sana, Devan langsung masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu sangat kasar. Masih terlalu sakit saat mengingat jika pelakunya adalah adiknya sendiri.


"Kenapa semua orang harus tidak adil dengan ku. Bahkan aku juga ingin bahagia" Ucap Devan sambil mengambil sebuah foto di dalam laci.


Devan menatap foto itu dengan wajah yang terlihat sangat sedih"Kamu tega Mala. Kamu benar-benar tega. Mungkin ini memang saatnya aku untuk melupakan semua tentang kita. Kamu benar, Aku harus move on. Move on dari perasaan yang begitu menyakitkan ini" Ucap Devan sambil terus menatap foto nya bersama dengan Mala


"Jika aku tau semuanya akan seperti ini, Mungkin aku lebih memilih untuk tidak mengenalmu sama sekali, Dari pada aku harus terjebak perasaan cinta segitiga seperti ini. Ini benar-benar menyakitkan."


Setelah itu. Devan mengambil semua barang-barang Mala yang masih dia simpan hingga detik ini. Lalu Devan keluar dari dalam kamarnya dan membuang semua barang-barang itu.


"Selamat tinggal masa lalu. Aku akan mencoba membuang semua rasa yang terlalu menyakitkan ini. Perasaan yang begitu membuatku terluka."Ucap Devan sambil membuang barang-barang itu pada tempat sampah


Di Rumah sakit


Melihat jarum yang ada di tangan anaknya membuat Mala merasa sangat sakit. Dia tidak tega melihat anaknya seperti itu. Tiba-tiba saja dia teringat kan Nadia.


Jika seandainya waktu itu Nadia tidak menculik mereka berdua, Mungkin semua ini tidak terjadi. "My boy, Aku mu mau secepatnya laporkan wanita itu ke polisi. Aku tidak akan membiarkan dia bersenang-senang setelah menculik bayiku" Ucap Mala sambil menatap Bima


Bima mengangguk"Baiklah sayang, Aku akan meminta Reno untuk mengurus masalah ini. Kamu jangan khawatir ya, Akan aku pastikan jika Nadia akan di hukum atas apa yang sudah dia lakukan pada anak kita" Ucap Bim sangat lembut sambil menggenggam tangan Mala


"Secepatnya ya my boy. Aku benar-benar terluka melihat Bintang seperti ini. Walaupun ini bukan salahnya Nadia, Tapi karna ulah dia yang menculik mereka, Sekarang kita ada di indonesia" Ucap Mala pelan


"Iya sayang, Kalau perlu hari ini aku akan meminta Reno untuk mengurus semuanya"


Di kediaman Winarto


"Ayah, Bunda. Bagaimana kabar tentang pencarian anaknya Mala?" Tanya Nara pada kedua orang tuanya


"Bunda juga belum tau nak. Tapi terakhir Mala mengatakan jika kedua bayinya ada di indonesia" Balas Alundra sambil menoleh pada Nara dan Andra yang saat ini sedang bersantai di ruangan keluarga seperti biasa.


Setiap hari Weekend mereka memang selalu menghabiskan waktu bersama di rumah sambil sharing.


Hingga tak berselang lama, Ada yang mengetuk pintu utama di rumah mereka. Mendengar itu membuat Alundra meminta Nara untuk keluar dan melihat siapa tamu yang datang.


Tok....tok....tok..


"Sepertinya ada tamu. Siapa ya pagi-pagi seperti ini" Ucap Alundra


"Tolong kamu liat siapa yang datang ya Nar"


"Baik bunda"


Setel itu, Nara bangun dan berjalan ke arah pintu utama. Siapa sangka jika yang datang adalah seseorang yang sangat Nara benci. Siapa lagi kalau bukan ayah dari anaknya.


Saat pintu sudah terbuka, Wajah Nara yang tadinya berbinar seketika berubah. Pagi ini dia harus bertemu dengan seseorang yang amat dia benci. "Nathan. Ngapain kamu kesini" Ucap Nara dengan wajah bencinya


"Aku kesini untuk bertemu dengan Dania. Ijinkan aku masuk untuk menemuinya" Ucap Nathan yang terdengar sangat lirih


Mendengar itu membuat Nara menatap Nathan sangat tajam"Untuk apa, Buat aku dan Dania, Kamu sudah mati semenjak kamu pergi dan tidak mau bertanggung jawab hari itu. Jadi aku minta, Kamu pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi"


"Karna sampai kapan pun, Aku tidak akan pernah membiarkan Dania tau jika kamu adalah ayah kandungnya. Yah kandung pengecut" Ucap Nara dan menutup pintu rumahnya kembali.


Nathan yang melihat pintu di tutup dengan sangat keras membuatnya mengambil nafas berat. Nathan pergi dengan membawa sejuta penyesalan dalam benaknya.


"Seandainya waktu itu aku tidak meninggalkan Nara, Mungkin saat ini aku sudah bisa bahagia bersama dengannya dan juga putriku"