Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Aku juga ingin bahagia!


"Jahat kamu!" Ucap Devan dan langsung berlalu dari hadapan Mala dan juga Bima


Mendengar itu membuat Mala melirik Bima dengan kedua mata sayu nya. Bima langsung membawa Mala dalam dekapannya.


"Sudah sayang, Jangan pikirkan apa yang sudah kamu dengar dari kak Devan. Kamu tidak jahat" Ucapnya sambil membelai lembut rambut Mala


Mala cukup terisak dalam dekapan Bima. Perkataan Devan entah kenapa berhasil menyentuh hatinya. Jahat kamu. Kata itu berhasil mengganggu pikiran Mala.


"Apa benar aku jahat. Kenapa rasanya aku begitu luka saat mendengar mas Devan mengatakan hal itu. Ucapan itu terasa sangat dalam. Apa aku memang wanita jahat seperti yang mas Devan katakan" Mala bermonolog dalam batinnya sambil terus terisak dalam dekapan Bima


"Sudah sayang. Jangan menangis lagi. Tidak usah menghiraukan apa yang sudak kak Devan katakan. Karna sama sekali kamu tidak seperti yang dia katakan. Yang terpenting saat ini adalah Bintang" Ucap Bima yang terdengar sangat lembut


Mendengar itu membuat Mala mengangkat wajahnya sambil menatap Bima yang saat ini juga sedang menatapnya"Kamu benar my boy, Yang terpenting saat ini adalah kondisinya Bintang. Aku benar-benar takut jika sampai hal yang tidak-tidak terjadi padanya"


"Tenanglah sayang. Semua akan membaik" Ucapnya lagi


Sedangkan Devan, Setelah keluar dari ruangan IGD, Pria itu memutuskan untuk melihat rekaman cctv yang mengarah pada laboratorium. Perkataan Rendi memang ada benarnya. Kemungkinan memang ada yang menukar sampel atau hasil dari ted DNA itu.


"Mau kemana kak?" Tanya Sifa saat melihat Devan melewatinya tanpa menoleh


Pertanyaan Sifa berhasil membuat Devan menghentikan langkahnya, Pria itu menatap Sifa sejenak"Aku mau ke ruangan cctv" Ucap Devan


"Untuk apa kak? Memangnya mau ngapain kak Devan kesana?"


"Aku penasaran siapa yang sudah menukar sampel nya Langit dan Bintang waktu itu. Bagaimana bisa hasil tes DNA nya negatif"


Deg!


Sifa yang mendengar itu tentu saja merasa tegang. Karna biar bagaimanapun semua itu terjadi karna rencananya. Wajah Sifa menjadi pucat. Apalagi saat melihat raut wajah Devan yang terlihat serius


Devan yang menyadari perubahan raut wajah Sifa tentu saja merasa penasaran dengan raut wajah itu. Kenapa Sifa menjadi tegang dan pucat saat mendengar Devan mengucapkan hal itu.


"Kamu kenapa tegang begitu Sifa?" Tanya Devan sambil menatap Sifa


"T...tidak apa-apa kok kak. Memangnya wajah Sifa terlihat tegang ya? Perasaan biasa saja kak" Alibi Sifa


"Bagaimana ini, Apa memang ini sudah waktunya aku kasih tau jika akulah yang sudah menukar sampel mereka. Apa aku harus jujur" Sifa bermonolog dalam batinnya


"Ya sudah, Kalau begitu aku pergi dulu" Seru Devan dan langsung berlalu dari hadapan Sifa dan juga Wilson.


"Semangat Van" Ucap Wilson pada Devan


"Thanks" Jawabnya pelan


Devan berlalu dari hadapan Sifa dan Wilson. Namun sedetik kemudian langkahnya terhenti saat suara Sifa kembali terdengar pada indra pendengarannya.


"Kak, Tunggu" Panggil Sifa sambil mengejar Devan


Devan yang mendengar suara Sifa langsung menghentikan langkahnya dan kembali membalikkan tubuhnya menghadap Sifa"Iya Sif, Ada apa?" Jawabnya pelan


"A..aku A...aku"


Wanita itu tak langsung menjawab. Dia masih mengambil nafas panjang sambil mempersiapkan diri jika seandainya Devan akan sangat marah setelah mendengar apa yang akan dia katakan.


"Sif, Kok diem. Ada apa?" Tanya Devan saat Sifa tak kunjung menjawab


"Maafkan Sifa kak. Sifa benar-benar minta maaf" Ucap Sifa dan langsung memeluk Devan sangat erat


Melihat tingkah Sifa membuat Devan semakin merasa bingung. Ada apa sebenarnya. Kenapa Sifa harus minta maaf? Memangnya dia sudah melakukan kesalahan apa?


Hal itu tentu saja terbesit dalam benak Devan. Cukup lama diam, Akhirnya Devan membalas pelukan adiknya"Maaf. Maaf untuk apa memangnya Sif? Memangnya kamu memiliki salah sama kakak?" Tanya Devan sambil membelai lembut rambut Sifa


Sifa masih terdiam. Dia terlalu bingung dengan apa yang harus Sifa katakan pada Devan. Ada rasa takut sekaligus merasa bersalah dalam hatinya. "Sifa mohon maafkan Sifa kak. Sifa benar-benar minta maaf kak" Ucap Sifa lagi


Lagi-lagi hanya kata maaf yang bisa Sifa katakan pada Devan. Dan hal itu semakin membuat Devan bingung. Sebenarnya ada apa dengan Sifa?


"Hei, Sejak tadi kamu hanya mengatakan maaf. Memangnya kesalahan apa yang sudah kamu buat? Hmmm" Tanya Devan yang terdengar sangat lembut


Sifa mengangkat wajahnya. Kedua katanya sudah penuh dengan air mata. Melihat Sifa sampai menangis seperti itu Devan jadi semakin penasaran.


"Sudah jangan menangis. Apapun yang kamu lakukan, Akan kakak maafkan. Tapi tidak usah menangis seperti itu" Ucapnya sambil mengusap mengusap kedua mata Sifa


"Janji ya kak, Apapun kesalahan Sifa kak Devan harus memaafkan Sifa ya. Janji" Gumannya sambil mengangkat jari kelingkingnya


"Iya janji. Memangnya apa yang sudah kamu lakukan?" Tanya Devan lagi


Sifa mengambil nafas berat sambil menatap Devan. "Sifa yang sudah menukar sampel mereka kak. Maafkan Sifa" Ucap Sifa yang terdengar begitu lirih


Betapa terkejutnya Devan saat mendengar pengakuan Sifa. Sempat tidak percaya jika ternyata adiknya sendiri yang sudah melakukan nya.


"Apa! Jadi kamu yang sudah melakukan itu Sifa. Apa kamu tau bagaimana kecewanya saat kakak lihat hasil tes DNA itu. Kenapa kamu harus lakukan itu Sif? Apa karna memang kamu lebih menyayangi Bima dari pada kakak"Ucap Devan sambil menatap Sifa


Melihat tatapan itu membuat Sifa menundukkan wajahnya dan kembali menangis"Maafkan Sifa kak. Tapi bukan itu alasannya. Antara kak Devan juga kak Bima, Aku sama-sama menyayangi kalian berdua. Kalian adalah saudaraku kak"


"Lalu apa alasan kamu melakukan itu Sifa?"


"Aku melakukan semua itu karna kak Bima lebih membutuhkan mereka kak. Apa kakak tau bagaimana kondisi kak Bima saat ini."


"Tidak. Memangnya ada apa dengannya?" Tanya Devan


"Penyakit kak Bima sudah sangat parah kak. Jadi aku mohon, Biarkan kak Bima bahagia dengan sisa hidup yang dia miliki."


"Lalu bagaimana denganku Sifa. Kenapa kalian tidak pernah memikirkan perasaan aku, Aku juga ingin bahagia. Tapi kenapa kalian semua begitu tega" Ucap Devan lirih


"Ayolah kak, Jangan Egois. Kakak masih memiliki begitu banyak waktu untuk bahagia, Sedangkan kak Bima, Waktu dia sudah tidak banyak lagi kak. Jadi aku mohon biarkan dia bahagia dengan sisa waktu yang kak Bima miliki"


Mendengar perkataan Sifa membuat Devan terdiam. Pria itu memejamkan kedua matanya, Ternyata bukan hanya dunia yang tidak adil, Tapi adiknya sendiri juga tidak adil dalam hal ini.


"Tapi aku juga ingin bahagia" Ucapnya dan langsung berlalu dari hadapan Sifa


Sifa terdiam tak lagi menjawab perkataan Devan. Dia membiarkan Devan pergi dengan wajah yang terlihat sangat terluka karna fakta ini.