
Bima yang melihat raut wajah takut Mala langsung membawa wanita itu dalam dekapannya."Tenanglah, Semua akan baik-baik saja sayang" Ucap Bima begitu lembut sambil membelai rambut Mala penuh sayang
"Bagaimana jika hasil tes DNA itu keluar Bim. Kamu sudah pasti tau apa hasilnya. Aku takut my boy" Ucap Mala yang terdengar begitu pilu
"Sayang. Akan aku pastikan jika semua akan baik-baik saja. Kalau pun kak Devan memang sudah harus tau hasil yang sebenarnya aku gak papa sayang, Mungkin ini memang seharusnya dia tau siapa Langit dan Bintang sebenarnya" Ujar Bima sambil terus membelai Mala
Perkataan Bima membuat Mala melepaskan dirinya dari dekapan Bima. Seketika wanita merasa begitu tidak percaya jika Bima mengatakan hal itu. "Apa maksud kamu mu boy. Jadi kamu mau membiarkan mas Devan mengambil mereka. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan aku Bim. Hah!"
"Bukan seperti itu maksud ku sayang. Kamu salah paham" Pekik Bima begitu lembut sambil menggenggam tangan Mala
"Sudahlah. Kamu memang tidak pernah bisa mengerti perasaan ku Bim" Ucap Mala dan langsung menoleh ke lain arah
Wanita itu menundukkan wajahnya saat merasa kedua matanya sudah mulai terasa panas. Dadanya terasa begitu sesak saat mendengar perkataan Bima. Hingga butiran bening itu kembali jatuh dan membasahi kedua pipi Mala
Melihat Mala merajuk seperti itu membuat Bima mengambil nafas panjang. Akhir-akhir ini Mala memang lebih sering merajuk hanya karna hal yang sepele. Jujur saja, Bima tidak tau harus bagaimana lagi menjelaskan pada wanita itu. Entah kenapa, Akhir-akhir ini Mala lebih sensitif. Apapun yang Bima katakan selalu saja membuat wanita itu tersinggung.
Dtttt Dtttt Dtttt
Mendengar ponselnya bergetar, Bima langsung membuka pesan yang ternyata dari Leon. Membaca pesan yang Leon kirimkan membuat Bima menoleh sekilas ke arahnya. Sedangkan Leon hanya mengangguk pelan.
[ Sudah, Biarkan saja Mala sebentar. Seharusnya kamu tidak mengatakan hal itu Bim, Dia itu saat ini sedang merasa sangat takut. Takut akan kata kehilangan, Mala takut jika kedua anaknya di ambil oleh Devan. Kami harus bisa ngertiin istri kamu Bim. Jangan memancing emosinya, Sepertinya Mala terkenal Baby blues syndrome ]
[ Apa itu Baby blues syndrome?. Aku tidak paham Leon ] Send
[ Perubahan suasana hati yang cepat. Hal itu biasanya terjadi pada wanita yang baru selesai melahirkan. Dan sepertinya saat ini Mala sedang mengalaminya ]
Setelah membaca isi pesan dari Leon, Bima hanya menatap Mala yang saat ini sedang menatap ke arah luar jendela sambil menitikkan air matanya.
Melihat Mala seperti itu tentu saja Bima juga ikut merasakan sakit. Sakit yang lebih terasa dari pada rasa sakit yang selama ini Bima rasakan akibat penyakitnya.
"Kenapa aku tadi malah mengatakan itu. Maafkan aku sayang, Maafkan aku yang selalu membuat mu sedih seperti ini" Bima bermonolog dalam batinnya
Bima memejamkan kedua matanya yang juga terasa panas. Namun sebisa mungkin Bima tidak menangis di hadapan Mala. Walaupun Bima juga merasakan apa yang saat ini sedang Mala rasakan.
"Aku jauh lebih terluka jika seandainya tes DNA itu sampai keluar sayang. Tapi aku bisa apa! Cepat atau lambat aku akan meninggalkan kalian semua. Seenggaknya kedua anak itu tau siapa ayah kandungnya sebelum kepergian ku" Batinnya lagi
Tanpa terasa 1 jam sudah berlalu. Mobil yang menjemput Bima, Mala dan Leon tiba di kediaman kakek Lustama. Ternyata di sana sudah ada Sifa yang menunggu di depan rumah.
Melihat mobil jemputan sudah datang, Sifa langsung bangun dari duduknya. Sudah 30 menit wanita itu duduk di depan rumah dan menunggu kedatangan mereka bertiga.
"Iya Sifa. Terimakasih ya sudah menyambut kakak dengan baik" Ucap Mala masih dengan wajah yang berbeda
"Aku langsung masuk ya Sif. Rasanya aku sangat lelah dan ingin istirahat" Ucap Mala lagi dan langsung masuk ke dalam rumah kakek Lustama.
Sifa yang menyadari raut wajah Mala langsung mengerutkan keningnya. Wanita itu begitu penasaran dengan kakak iparnya. "Kak Mala ke apa kak? Tumben seperti itu. Aku yakin itu bukan karna lelah kan?' Tanya Sifa pada Bima
Pertanyaan Sifa membuat Bima mengambil nafas panjang. Pria ifu merasa sangat sedih saat melihat wanita yang amat di cintanya seperti itu. Bima seperti tidak mengenal Mala.
"Mala terkenal Baby blues syndrome" Timpal Leon sambil melirik ke arah Sifa
"Apa! Kasian sekali kak Mala. Pantas saja aku seperti melihat aneh. Tidak seperti biasa" Ucap Sifa
Di Dalam Kamar
Setelah tiba di dalam kamarnya, Mala langsung keluar dan berdiri di atas balkon. Wanita itu menatap ribuan bintang yang berkilau di atas langit. Malam ini, Semua bintang itu terlihat lebih berkilau dan lebih indah dari pada malam-malam biasanya.
"Kenapa semuanya harus jadi seperti ini. Aku tidak mau jika harus sampai kehilangan mereka berdua. Aku belum sanggup untuk itu" Ucap Mala sambil terus memandang bintang di atas langit
Air matanya terus saja mengalir dan tidak bisa di bendung. Rasanya begitu sesak saat membayangkan akan hal itu. Mala benar-benar belum siap untuk itu
Bima yang baru saja masuk ke dalam kamarnya langsung mencari keberadaan Mala. Karna Mala tidak ada di dalam kamar itu. Bima langsung berjalan ke arah Balkon. Sudah seperti yang Bima duga. Wanita itu memang sering berdiam di atas balkon sambil menatap bintang di saat hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa harus ada hujan di saat pelangi sudah mulai datang" Ucap Mala yang terdengar begitu lirih
Lagi-lagi air mata itu terus mengalir tanpa henti. Kedua mata Mala sampai terlihat sedikit membengkak. Hingga tak lama kemudian, Bima mendekat dan langsung melingkarkan tangannya pada perut Mala.
"Jangan seperti ini sayang. Bersabarlah, Setelah hujan deras akan ada pelangi yang jauh lebih indah. Kamu harus percaya itu sayang" Ucap Bima tepat di telinga kanan Mala yang terdengar begitu lembut
"Maafkan aku sayang. Maafkan aku yang sudah tidak memahami perasaan mu. Aku berjanji tidak akan pernah mengatakan hal itu lagi, Maafkan aku sayang. Cup"
Mala membalikkan tubuhnya dan menatap Bima yang saat ini sedang tersenyum begitu manis sambil menatapnya dalam.
"Kenapa hujan harus datang lagi di saat pelangi sudah mulai datang my boy. Aku sudah tidak tau harus bagaimana lagi my boy" Ucapnya yang terdengar begitu pilu
"Bersabarlah sayang. Pelangi yang jauh lebih indah sudah menunggu kita. Kita hanya perlu lebih bersabar lagi" Ucapnya sambil membelai lembut rambut Mala