Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Perasaan Sifa


"My boy jangan seperti itu. Leon ini sahabat terbaik loh. Saat kamu tidak ada, dia selalu memberikan bahu ternyaman nya untukku bersandar" Ucap Mala sambil melirik ke arah Leon


"Iishh, Benar kah begitu sayang. Kau ini dasar, Mengambil kesempatan dalam kesempitan" Ucap Bima sambil menatap tajam Leon


"Biarkan saja, Selagi ada kesempatan ya aku manfaatkan. Lumayan kan dapat memeluk wanita cantik istri sahabatku" Ucap Leon tanpa sadar


Sedetik kemudian, Pria itu menutup mulutnya saat sudah menyadari apa yang baru saja dia katakan pada Bima. Jika seperti ini yang ada Bima dan Mala akan mencurigai perasaan yang sempat Leon miliki untuk Mala.


Mendengar perkataan Leon membuat Bima menatapnya tajam "Jangan macam-macam sama istriku, Kalah tidak mau kepalanya aku penggal" Ucap Bima pada Leon sambil menatapnya


"Slow brother. Itu aku hanya menggantikan posisi mu sesaat saja" Ucap Leon lagi tanpa sadar


"Astaga, kenapa ini mulut lemes banget" Batin Leon sambil tersenyum ke arah Bima


"Apa katamu. Menggantikan posisiku? Mau aku patahkan tangan nya"


"Jangan marah-marah teruslah Bim. Nanti kamu cepat tua loh. Dan kalau sudah tua, Mala gak mau deh"


"Leeoooon"Ucap Bima yang terlihat begitu kesal dengan apa yang Leon katakan.


Leon yang melihat raut wajah Bima hanya terkekeh. Ini baru pertama kalinya seumur hidup melihat Bima seperti itu. Apa itu karna Bima sudah sangat bucin pada Mala.


"Gak nyangka" Ucap Leon sambil melirik ke arah Bima


"Apanya yang gak nyangka?"


"Gak nyangka, Kalau keturunan mafia juga bisa bucin seperti dirimu. Hahahh"


"Anjay kau" Ucap Bima dengan tatapan tajamnya.


Mala yang sejak tadi memperhatikan Bima dan Leon hanya bisa tersenyum. Ini juga baru pertama kalinya Mala melihat Bima seperti itu.


"Sudah my boy. Jangan tatap Leon tajam seperti itu"


"Biarin sayang. Dia itu sahabat laknat sayang"


"Biar bagaimanapun, Dia itu baik my boy, Sudah ayo cepat makan. Bentar lagi kamu minum obat"Ujar Mala sambil menguapkan makanan pada Bima


"Iya istriku yang paling cantik. Biarin aja yang jomblo, Biar tutup mata sama tutup telinga" Ucap Bima yang sengaja bermanja-manja sama Mala


"Leon gak denger kok" Ucap Leon sambil memalingkan wajahnya


"Kasian jadi obat nyamuk"


"Nananananannaann"


"Kasian ya sayang. Leon dari dulu memang suka jomblo" Ucap Bima lagi


"Nanananananana. Gak dengar" Ucap Leon lagi


Di temp Lain


Saat ini Sifa baru saja pulang dari rumah sakit. Wanita itu masih mengingat jelas apa yang sudah Sifa lakukan. Tapi semua itu hanya karna ingin melihat Bima tetap bahagia bersama dengan Mala. Mengingat keadaan Bima saat ini yang sedang tidak baik-baik saja.


"Maafkan aku kak Devan. Maafkan aku. Aku terpaksa melakukan semua ini. Aku benar-benar minta maaf kak" Ucap Sifa sambil memejamkan kedua matanya.


Jika di tanya apakah Sifa menyesal? Tentu saja jawabannya tidak. Sifa tidak pernah merasa menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan. Justru Sifa bangga pada dirinya sendiri. Karna dia sudah melakukan hal yang tepat.


"Maafkan aku kak. Tapi ini masih belum saatnya kak Devan tau kebenarannya"


Flashback


*Saat sedang di rumahnya pak Hendra. Sifa menatap Devan yang terlihat begitu mencurigakan. Wanita itu mengikuti Devan yang keluar setelah menerima panggilan telfon.


"Ada apa dengan kak Devan. Kenapa dia terlihat begitu mencurigakan" Ucap Sifa dalam batinnya


Kemudian, Wanita itu mengikuti Devan yang sengaja mengangkat telfon menjauh dari mereka semua. Dan hal itu membuat Sifa semakin menaruh rasa curiga.


"Kamu mau kemana Sifa?" Tanya Yasmine saat melihat Sifa keluar dari dalam kamar itu


"Sifa kebelet ma. Di sini gak enak banyak orang" Ucapnya yang sengaja berbohong


"Ooooh, Yaudah cepat sana"


Setelah itu, Sifa melanjutkan kembali langkahnya dan mendengarkan pembicaraan Devan dari balik tembok. Dari situ, Sifa bisa mendengar jelas apa yang sedang Devan katakan.


"Apa maksudnya. Kedua bayi itu ada di indonesia? Apa itu maksudnya anak dari kak Mala" Ucap Sifa dan langsung pergi dari tempat itu agar Devan tidak mencurigainya.


Setelah tiba di dalam kamar. Sifa diam dan pura-pura tidak tau apa-apa. Wanita itu juga tidak mengatakan apa-apa terhadap semua anggota keluarganya, Terutama Mala dan Bima.


Tak lama kemudian, Devan sudah kembali masuk ke dalam kamar itu. Dan ternyata apa yang sempat terbesit dalam benar Sifa memang benar. Devan tidak mengatakan informasi yang baru saja dia dapatkan dari orang suruhannya.


"Ada apa dengan kak Devan. Ini sepertinya ada yang tidak beres. Sebaiknya aku ikuti saja dia" Batin Sifa lagi


Beberapa saat setelah kepergian Devan. Sifa juga pamit kepada mereka semua dengan alasan ada pasien yang mendadak membutuhkannya. Dengan cepat Sifa langsung memesan tiket pesawat ke indonesia saat itu juga.


Beruntung, Karna tepat 30 menit setelah Sifa keluar dari kediaman pak Hendra, Dia baru mendapatkan kabar jika ada penerbangan ke indonesia 1 jam lagi. Tanpa berpikir ulang. Sifa langsung membooking tiket itu*.


*Setelah tiba di indonesia. Sifa masih terus mengikuti Devan yang ternyata datang menemui seseorang. Yaitu Nadia dan kedua bayinya Mala. Sifa bisa mendengar semua yang sudah Devan katakan pada Aliya.


"Maaf kak, Aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Kak Bima lebih membutuhkan mereka" Ucap Sifa dan langsung pergi dari tempat iri sebelum ada yang melihat*


Flashback off


"Aku benar-benar minta maaf kak. Tapi ini demi kebaikan kak Bima. Biar bagaimana pun, Kondisinya saat ini sangat menghawatirkan. Biarkan dia bahagia dengan sisa hidup yang dia miliki" Ucap Sifa lagi.


Tak lama kemudian. Sifa mendengar ada panggilan masuk dari Wilson. Melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya membuat Sifa merasa jantungnya entah kenapa berdegup sangat kencang.


Apalagi setelah mendengar perkataan Wilson saat itu. Sifa mengangkat kedua sudut bibir nya saat sudah mendengar suara khas laki-laki yang sudah berhasil mengambil hatinya.


Ya, Memang sepertinya Sifa sudah mulai jatuh cinta terhadap laki-laki itu. Laki-laki yang sudah dengan berani mengatakan perasaannya di depan semua keluarga Sifa.


πŸ“ž:Halo mas. Ada apa?


πŸ“ž:Aku sudah di jakarta, Apa kamu ada waktu untuk kita bertemu. Aku ingin membahas lebih lanjut perihal hubungan kita, Bisa kan?


πŸ“ž:Bisa mas. Dimana dan kapan?


πŸ“ž:Besok malam. Aku akan menjemput mu. See you bidadariku


Tut...tut..tut..


Setelah mengatakan hal itu, Sifa mengangkat kedua sudut bibirnya. Perkataan Wilson benar-benar membuat Sifa tersenyum tanpa henti.


"Kenapa aku sebahagia ini. Apa aku sudah benar-benar jatuh cinta?" Ucap Sifa sambil memegang dada kirinya