Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Gempa


"Gercep sekali kak. Aku belum lulus sekolah. Masih ada cita-cita yang harus aku wujudkan"Ucap Rani sambil menatap Leon


"Bercanda sayang. Mulai sekarang kita jadian ya. i Love You Rani" Ucap Leon dan langsung mencium kening Rani penuh cinta


"I Love You More kak Leon" Ucap Rani sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


Entah kenapa rasanya Rani begitu bahagia. Apa dia juga sudah mencintai Leon. Biarpun sepertinya memang masih terlalu dini untuk di katakan cinta.


"Ran. Aku mau kamu berjanji akan satu hal"


"Berjanji apa kak?"


"Berjanjilah untuk selalu setia dalam hubungan kita. Karna aku sudah memantapkan hatiku padamu Ran. Mau sampai kapan pun, Aku akan selalu setia menunggu kamu" Ucap Leon sambil menggenggam tangan Rani dengan penuh cinta


"Aku tidak bisa berjanji kak. Tapi aku akan selalu berusaha setia pada kak Leon. Terimakasih karna sudah memilih ku kak"Gumam Rani sambil membalas genggaman tangan Leon


Di Tempat Lain


Bima dan Mala yang baru selesai kejar-kejaran akhirnya memutuskan untuk duduk di atas pasir pantai. Mereka berdua menikmati angin sepoy sepoy juga Sunset yang semakin indah.


Mala tidur di atas paha Bima. Pria itu mengusap lembut rambut Mala dengan penuh rasa sayang.


"Sayang, Apa kamu sebelumnya pernah melihat sunset?" Tanya Bima lembut


Mendengar pertanyaan itu membuat Mala menoleh ke arah Bima yang saat ini sedang menatapnya dengan penuh perasaan.


"Pernah my boy. Waktu itu aku liat sunset bersama dengan teman teman ku. Saat masih sekolah"


"Tapi sunset nya terasa lebih indah hari ini. Karna aku melihat bersama dengan orang yang sangat aku cintai" Ucapnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


Mendengar kata itu membuat Bima merasa sangat bahagia. Karna perkataan Mala terdengar seperti ada ketulusan dari cara dia menyampaikan.


"Aku sangat bahagia sayang. Akhirnya, Harapan yang dulu aku miliki tidak sia-sia. Kini aku sudah bisa merasakan bagaimana cinta dan sayang darimu" Ucap Bima sambil terus mengusap lembut rambut Mala


"Aku juga sangat bahagia my boy. Akhirnya, Aku bisa memiliki suami seperti kamu. Suami yang begitu tulus dan memiliki rasa cinta yang sangat besar. Tidak pernah menyangka jika aku akan merasakan cinta tulus yang kamu miliki" Ucap Mala terus menatap Bima dan mengusap lembut wajahnya


Tanpa terasa sore sudah berlalu. Malam ini Bima mengajak Mala untuk melihat acara penerbangan lampion. Atau biasa di sebut dengan pesta lampion.


Begitu banyak orang yang ikut dalam acara ini. Mereka menerbangkan lampion dengan harapan agar apa yang mereka inginkan bisa terwujud.


"Sayang, Bagaimana. Langit sama Bintang sudah tidur kan?" Tanya Bima lembut saat sudah masuk ke dalam kamar penginapan mereka


Mendengar suara Bima membuat Mala menoleh ke belakang. Wanita itu sedang menidurkan Bintang yang sejak tadi masih membuka kedua matanya. Bocah kecil itu masih tersenyum hangat sambil menggenggam tangan Mala. Seperti sedang ingin mengatakan sesuatu.


"Belum my boy. Ini Bintang sejak tadi tidak tidur. Padahal Langit sudah tidur sejak tadi"


Bima mendekat pada Mala yang saat ini sedang menggendong Langit dan mencoba menidurkan nya"Coba sini. Biar aku yang menidurkan dia. Kamu siap-siap saja sayang" Gumam Bima yang terdengar sangat lembut


"Memangnya kamu bisa?" Tanya Mala sambil menyerahkan Bintang


"Ya bisa lah sayang. Masa gak bisa"


Ternyata apa yang Bima katakan benar. Tak butuh waktu lama, Bintang sudah terlelap dan damai dalam gendongan Bima. Setelah memastikan Bintang benar-benar nyenyak, Bima menidurkan anaknya di sebelah Langit. Kemudian dia langsung keluar dari dalam kamarnya. Namun sebelum itu, Bima masih meninggalkan jejak ciuman singkat pada kening istrinya.


"I Love You sayang" Ucapnya lembut


Mala yang mendapatkan ciuman serta kata-kata lembut itu seketika langsung membalikkan tubuhnya. Wanita itu mengejutkan keningnya saat sudah tidak melihat Bintang dalam gendongan suaminya.


"Loh. Bintang mana my boy?"


"Dia sudah tidur sayang. Tepat seperti yang tadi aku katakan" Ucapnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


"Kamu serius? Secepat itu my boy? Bahkan aku belum selesai bersiap"


"Bagaimana, aku jago kan kalau soal menidurkan anak. Oh iya, Kalau begitu aku tunggu di depan ya sayang. Sekalian mau mengabarkan pada ART untuk bergantian menjaga mereka berdua"


"Iya my boy"


***


Saat ini Bima, Mala, Leon, Rani, Sifa dan Wilson sudah tiba di tempat acara. Mereka semua berjalan sambil terus menatap kesekeliling.


"Wahh. Acaranya meriah sekali ya. Banyak orang yang datang" Ujar Sifa sambil memperhatikan semua orang


"Iya Sif. Apa kamu dan Wilson sudah menyiapkan lampion?" Tanya Mala pelan


"Sepertinya belum" Jawab Sifa cepat


Bima yang mendengar perkataan Mala langsung pamit untuk membeli Lampion. Bukan hanya Bima, Tapi Leon dan Wilson juga ikut mengekor di belakangnya.


Setelah kepergian Bima. Entah kenapa tiba-tiba saja Mala kebelet pipis dan sudah tidak bisa di tahan lagi.


"Sifa, Rani. Aku ke toilet sebentar ya. Nanti kalau Bima tanya bilang aku ke toilet"


"Apa mau aku temenin kak?" Tawar Sifa dan Rani secara bersamaan


"Tidak perlu, Kalai kalian ikut menemaniku, Nanti yang ada mereka akan kebingungan. Sudah tidak masalah, Aku pergi sendiri saja. Titip tas ku ya"


Setelah itu Mala berjalan menyusuri setiap pinggiran pantai. Ada rasa sedikit takut, Tapi dia kesampingkan karna memang sudah tidak bisa di tahan lagi.


Di Tempat Lain


"Van. Kayaknya seru juga ya kalau kita ikut terbangin lampion" Gumam Nadia lada Devan yang sejak tadi lebih banyak diam


"Devan adiwijaya" Panggil Nadia lagi


Mendengar itu membuat Devan tersadar"Iya ada apa Nad?" Tanya Devan yang sejak tadi tidak fokus


"Astaga Devan. Tadi aku bilang, Sepertinya seru kalau kita ikut menerbangkan Lampion. Apakah kamu mau menerbangkan Lampion bersamaku?" Tawar Nadia sambil menatap Devan


"Kali aja rasa sedih kamu bisa ikut terbang Van. Mau ya, Kalau mau biar aku yang beli. Kamu tinggal tunggu dan duduk manis disini" Ucap Nadia dan hanya menerima anggukan dari Devan


Setelah melihat Devan setuju, Akhirnya Nadia mencari penjual Lampion di sana. Hingga netranya melirik tepat pada sekumpulan orang yang ternyata juga sedang membeli Lampion.


"Akhirnya ketemu" Ucap Nadia dan mempercepat langkahnya


Namun seketika langkah itu terhenti saat dia tak sengaja melihat sosok Bima yang ada di tempat itu. "Bima" Gumamnya pelan


Karna takut untuk bertemu dengan Bima. Akhirnya Nadia meminta seseorang untuk membelikan lampion itu untuknya. Beruntung. Karna saat Nadia sedang mencari orang untuk dia suruh, Tiba-tiba ada anak kecil yang lewat di depannya.


"Dek, Sini bentar" Ujar Nadia sambil melambaikan tangannya


"Iya kak, Ada apa?"


"Tolong belikan lampion itu ya. Nanti kakak kasih duit"


"Beneran kak. Yasudah. Kakak tunggu disini ya"


Di saat yang bersamaan. Tiba-tiba saja ada gempa yang cukup besar. Mala yang baru keluar dari dalam toilet langsung merasa sangat panik. "Astaga, Gempa" Ucap Mala sambil terus berjalan ke tempat yang tadi


Namun ternyata gempa itu bukannya berhenti malah semakin besar dan membuat tubuh Mala cukup oleng. Hingga tanpa Mala sadari, Gempa itu sudah membuatnya berlari ke arah yang salah.


Mala yang begitu panik tanpa sengaja menabrak tubuh seseorang dan membuatnya hampir terjatuh. Namun dengan cepat orang itu menangkap tubuh Mala dan membuatnya membawa tubuh Mala dalam dekapannya.