Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Rumah sakit


Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Devan, membuat Mala semakin enggan untuk membuka kedua matanya. wanita itu masih ingin terus berpura-pura tidak sadar agar bisa mendengar suara yang selalu terngiang pada indra pendengarannya.


Begitu juga dengan genggaman tangan yang selama ini Mala rindukan. tangan kekar yang dulu selalu menggenggam kedua tangan mungilnya. " Maafkan aku mas, aku juga masih begitu mencintai kamu, rasa itu masih tetap sama, aku juga merasakan hal yang serupa denganmu, tapi rasanya ini tidak adil untuk pasangan kita masing-masing, tuhan. apa aku salah jika masih berharap suatu saat bisa bersamanya lagi" Mala bermonolog dalam batinnya.


Saat ini Devan masih terus menggenggam tangan Mala yang terlihat begitu kecil dalam genggamannya. pria itu masih sangat menikmati momen ini, momen yang Devan rindukan selama delapan bulan.


" Kenapa semua ini harus terjadi sayang, kenapa kamu pergi begitu saja tanpa bertanya hal yang sebenarnya terhadapku" lirih Devan pilu


" Apa kamu tidak pernah berfikir, bagaimana perasaanku kala itu. waktu kamu pergi tanpa memberi aku kabar, dan setelah bertemu lagi ternyata tuhan sudah berkehendak lain. kamu sudah menjadi istri dari sepupuku sendiri"


Deg! Devan tau yang sebenarnya. bagaimana bisa? itu yang menjadi pertanyaan Mala untuk saat ini, namun wanita itu masih enggan untuk membuka kedua matanya.


" Seandainya tadi aku tidak mendengar apa yang kamu ucapkan saat di danau. mungkin aku akan menjadi seperti orang bodoh yang tidak akan pernah tau hal yang sebenarnya, ternyata dugaanku memang benar, kamu adalah wanitaku" ucap Devan lagi.


Devan tidak perduli walaupun saat ini Mala masih memejamkan kedua matanya, yang terpenting dia sudah mencurahkan semua isi hatinya.


" Asal kamu tau. sampai kapanpun perasaan ini masih tetap sama, kamu masih tetap menjadi yang pertama di hati ini,"


" Satu hal yang selalu aku harapkan, perasaan kamu masih sama besar sepertiku" lirih Devan pulu dan langsung melepaskan genggaman tangannya,


Devan memalingkan wajahnya dan langsung keluar dari ruangan Mala, langkahnya begitu berat untuk beranjak dari sana, Devan masih ingin terus menghabiskan waktu bersama pujaan hatinya.


Namun kesadarannya mengingatkan pada Bima, biar bagaimanapun Bima berhak tau tentang keadaan istrinya,


Devan mengambil ponselnya dari dalam saku celana, pria itu mencari nomor ponsel kakek Lustama untuk memberitahu tentang keadaan Mala, karna Devan tidak memiliki nomor ponsel Bima.


Setelah menghubungi kakek Lustama, Devan kembali lagi ke ruangan Mala, dan saat ini ternyata wanita itu sudah membuka kedua matanya.


" Delisa, kamu sudah sadar?" Suara berat Devan menyadarkan Mala yang sedang menatap kosong ke arah jendela.


Mendengar itu membuat Mala segera menoleh ke arah suara Devan yang saat ini sedang ada di belakangnya.


"Emmm iya kak, aku sudah sadar, Terimakasih sudah menolong Delisa" ucap Mala canggung.


Di saat seperti ini, entah kenapa membuat mereka berdua terasa begitu canggung. hingga tak lama janin di dalam perut Mala bergerak, Hal itu membuat Devan tanpa sengaja langsung meletakkan tangannya di atas perut buncit Mala. " Awwww" ucap Mala saat bayi itu menendang keras perutnya.


" Apa aku boleh memegangnya.?" ucap Devan pada Mala.


Tanpa berfikir lama, Mala langsung mengiyakan ucapan Devan. memang hal ini yang selalu Mala inginkan,


Mendapat jawaban seperti itu, membuat Devan segera meletakkan tangannya di atas perut buncit Mala. Mata Devan berbinar saat merasakan tendangan kedua bagi kembar yang entah kenapa sore ini begitu aktif. Apa mereka bisa merasakan keberadaan ayah kandungnya.? Apa sekuat itu hubungan batin di antara mereka?


Di saat Devan masih menikmati tendangan di atas perut Mala, tiba-tiba suara langkah kaki membuat Devan segera menarik tangannya.


Flashback off.


" Sayang" suara lembut Bima membuyarkan lamunan Mala dari kejadian tiga puluh menit yang lalu.


" Iya my boy"


" Ayo kita pulang sekarang, aku sudah selesai ngurus administrasinya"


" Iya my boy"


" Tidak bisa sayang, aku harus menggendong kamu, keadaan kamu masih belum terlalu sehat"


" Baiklah my boy, tapi aku berat"


" Siapa yang mengatakan kamu berat, buat aku, tubuh kamu sangat pas dalam gendonganku" ucap Bima yang terdengar begitu lembut menyapu indra pendengarannya.


Hal itu yang selalu mampu membuat Mala merasa nyaman saat bersama Bima. kasih sayang Bima yang begitu tulus, namun entah kenapa cintanya masih tertinggal bersama Devan. kenapa sampai saat ini Mala masih belum bisa mencintai Bima.


" My boy"


" Hmmm, ada apa sayang?"


" Ajari aku bagaimana caranya mencintaimu" ucapan Mala membuat Bima menghentikan langkahnya.


" Memangnya kamu mau belajar mencintaiku sayang?"


" Kenapa tidak, kamu berhak mendapatkan cintaku Bim"


" Aku akan berusaha membantu kamu untuk bisa mencintaiku ya"


" Terimakasih my boy" ucap Mala dan terus meletakkan tangannya di leher Bima, lalu satu kecupan mendarat pada pipi kiri Bima.


Mendapat kecupan mendadak dari wanita yang amat di cintainya. membuat Bima merona menahan Malu. karna ini pertama kali Mala menciumnya dalam keadaan sadar.


Jantung Bima seakan mau lepas dari tempatnya. Untungnya saat ini mereka masih ada di ruangan IGD dan hanya ada mereka berdua di sana.


Bima mengambil nafas panjang lalu lembali melangkahkan kakinya keluar ruangan IGD, mereka berdua menyusuri koridor rumah sakit yang sore itu cukup ramai orang yang berlalu lalang,


Bima dan Mala terlihat seperti pasangan yang sangat romantis, bahkan ada beberapa dari mereka menatap iri pada Mala yang saat ini ada dalam gendongan Bima.


" Uuuuuuu mereka sweet banget ya, liat deh cowoknya. gantengggg banget. pengen deh di gendong kayak wanita itu" ucap salah satu dari mereka.


" Iya, mereka sweet banget ya, tapi mereka cocok banget ya. liat deh itu ceweknya juga cantik benget."


" Eh tapi liat deh, kayaknya itu istrinya deh. liat tuh perutnya besar. kayaknya lagi hamil"


" Oh iya. duuuh pengen deh punya suami seperti dia" ucap salah satunya.


Bima dan Mala yang mendengar itu hanya bisa senyum-senyum. terutama Bima. pria itu merasa bahagia mendengar ucapan mereka semua.


Tak lama kemudian Bima sudah tiba di parkiran, pria itu mendudukkan Mala di samping pengemudi.


" My boy, apa kita jadi menginap di rumah bunda?"


" Tentu sayang, Aku sudah mengatakan pada kakek jika malam ini kita menginap di kediaman orang tua kamu"


" Terimakasih ya my boy"


Bima menyalakan mesin mobilnya dan menjauh dari area gedung rumah sakit, sepanjang perjalanan tidak ada obrolan di antara mereka berdua, Bima memilih fokus pada jalan, sedangkan Mala memilih menikmati sore hari yang terlihat begitu indah,