
" Asal kamu tau mas, karna mencintaimu aku kehilangan anakku. mulai sekarang aku bebaskan kamu untuk, pergilah, Aku sudah mengikhlaskan kamu" ucap Adelia yang terdengar begitu sendu.
" Maafkan aku Adelia. maafkan aku. dulu kamu memanglah pemilik hati ini, tapi setelah kamu pergi di hari pernikahan kita, semua rasa cinta itu sudah aki kubur dalam-dalam" ucap Devan pada Adelia.
Mendengar itu membuat Adelia semakin merasa terluka, luka batin yang selama ini dia rasakan, sudah mengakibatkan kehilangan anaknya, anak yang sebenarnya masih hidup bersama Rendi.
" Kalau memang cinta itu sudah hilang, kenapa waktu itu kamu mengatakan jika masih sangat menyayangiku?" pekik Adelia yang sudah mulai terisak.
" Waktu itu aku hanya mengelabuhi Rendi,"
" Jahat kamu Mas, asal kamu tau. selama ini perasaanku terhadap kamu masih tetap sama, kamu masih tetep menjadi yang pertama di hatiku"
" Dan bahkan aku rela tidak di anggap dirumah itu, hanya agar bisa bersamamu" ujar Adelia yang terdengar begitu sendu
" Maafkan aku" Hanya kata maaf yang mampu keluar dati mulut Devan
" Sudahlah Mas, tidak ada yang harus di maafkan. semua sudah usai. ceraikan aku sekarang"
" Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan Adelia?" tanya Devan setelah mendengar Adelia mengucapkan kata cerai.
" Sangat mas, lebih baik aku jadi janda dari pada punya suami tapi tidak pernah di anggap keberadaannya."
" Apa kamu tau mas, bagaimana rasanya menjadi aku. sakit mas, sakit. apalagi saat kamu mengatakan aku hanyalah orang asing yang terpaksa harus hidup bersamamu," Adelia menjadi semakin terisak setelah mengatakan hal itu pada Devan.
Devan yang mendengar menjadi iba, ada rasa bersalah yang mendalam, Pria itu membawa Adelia dalam dekapannya, " Sekali lagi maafkan aku Adelia." pekik Devan sambil membelai rambut Adelia.
" Lepas mas, aku gak butuh rasa kasihan kamu, aku tau. kamu melakukan ini hanya karna kasihan terhadapku bukan.!"
Devan melepaskan dekapannya." Aku talak kamu Adelia, maafkan aku" lirih Devan dan langsung pergi meninggalkan Adelia yang sudah semakin terisak.
Setelah kepergian Devan, Adelia jadi semakin terisak sambil memegang kedua lututnya, hatinya begitu sakit, inikah balasan atas rasa cinta yang begitu tulus dia berikan untuk Devan, tapi ini semua juga karna ulahnya sendiri,
" Jahat kamu Van, kita lihat saja nanti, akan ada masanya kamu merasakan apa yang saat ini aku rasakan." ucap Adelia di sela tangis isaknya.
Entah apa yang saat ini ada dalam pikiran Adelia. " Tidak semudah itu kamu lepas dari aku mas, kamu akan tau akibat dari rasa sakit hati yang kamu berikan untukku"
Setelah keluar dari rumah Adelia, ternyata Devan tidak langsung pulang kerumahnya. pria itu masih melajukan mobilnya ke arah danau, karna memang tempat itu yang bisa menenangkan pikirannya.
Devan membawa mobil dengan kecepatan tinggi, hanya memerlukan waktu tiga puluh menit, pria itu sudah tiba di pinggir danau. Devan mengacak rambutnya kasar, hidupnya jadi semakin sulit,
" Akgghhhh" teriak Devan frustasi.
Tak lama kemudian, Devan mendengar suara dering ponsel yang letaknya tak jauh dari tempatnya. pria itu melihat kesana, kemari. namun tidak ada satu orangpun di danau ini kecuali dirinya.
Akhirnya Devan memutuskan untuk mencari sumber dering ponsel itu, Devan menemukan ponsel yang bergeletak begitu saja di atas rumput danau itu,
Mata Devan memicing saat melihat nama yang tertera di layar ponsel itu " My boy" ucap Devan pelan.
Namun saat Devan berniat mengangkat telfonnya, tiba-tiba ponsel itu mati. karna kehabisan baterai. " Yah mati. kira-kira ini ponsel siapa ya. tapi tunggu, My boy. bukankah itu nama panggilan Mala buat Bima?"
Setelah mengatakan hal itu, Devan berjalan setengah berlari agar bisa segera tiba ke dalam mobilnya. pria itu mengisi daya ponsel yang baru saja dia temukan.
Mata Devan memicing saat melihat isi dari ponsel itu. kata sandinya ternyata masih sama. tanggal pernikahan konyol itu berlangsung.
" Mala, kenapa kata sandinya masih sama, Hanya ponselnya saja yang berbeda, apa kamu masih mencintaiku?" ucap Devan sambil terus membuka aplikasi yang kemungkinan besar akan menjawab semua pertanyaan yang ada dalam benaknya.
" Bagaimana my boy, apa ponselku nyambung?" Tanya Mala pada Bima
" Nyambung sayang, tapi gak diangkat, dan sekarang sudah tidak aktif"
" Duh, itu pasti tadi jatuh saat aku tenggelam di danau" ucap Mala tanpa sadar,
Mendengar itu membuat Bima mendekat ke arah Mala dengan tatapan tak menentu, " Tenggelam di danau. apa maksud kamu sayang?"
Mala masih terdiam, wanita itu masih mencari alasan apa yang pas untuk dia katakan lada Bima, Karna memang Mala tidak mengatakan jika tadi sore tenggelam di danau sampai masuk rumah sakit,
" Kok gak dijawab sayang?" tanya Bima lagi.
" Tapi kamu jangan marah ya my boy"
" Aku mana bisa maraj sama kamu sayang,"
" Iya, tadi sore aku tenggelam, dan untungnya ada kak Devan yang bantuin aku. kalau tidak ada dia. aku gak tau lagi apa yang terjadi padaku"
Bima langsung terpaku dengan ucapan yang keluar dari mulut Bima, lagi-lagi dirinya tidak ada di saat wanitanya ada dalam bahaya, " Maafkan aku sayang" ucapnya sendu
" Maaf buat apa my boy"
" Maafkan aku yang tidak ada di saat kamu dalam bahaya"
Mala mendekat dan langsung memeluk Bima. " Aku tidak apa-apa my boy, kamu tidak perlu merasa bersalah ya"
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 23:00. Bima meminta Mala untuk tidur lebih dulu, karna pria itu masih ingin mengecek pekerjaannya yang sudah tiga hari dia tinggalkan.
Tak lama kemudian ada panggilan masuk dari asisten pribadinya, Dengan cepat Bima mengusap tombol hijau di layar ponselnya.
[ Ada apa Rio? ]
[ •••••••••••• ]
[ Apa!!? ]
[ ••••••••••• ]
[ Berani sekali mereka, baiklah, aku kembali malam ini juga ]
Setelah mengatakan hal itu, Bima memutuskan sambungan telfonnya, pria itu menuju ke arah tempat tidur yang saat ini sudah ada Mala tengah terlelap dalam tidurnya.
Rasa cinta Bima, membuat pria itu tidak tega untuk sekedar membangunkan wanitanya. apalagi Mala batu memejamkan matanya beberapa menit yang lalu.
Bima keluar dari dalam kamarnya. Beruntung. karna saat ini kedua orang tua Mala masih menonton siaran televisi. " Assalamualaikum, ayah, bunda"
" Waalaikum salam, kamu belum tidur nak?"
" Belum yah, Bima dapat kabar, Bahwa ada masalah besar di perusahaan Bima. oleh karena itu, Bima harus kembali ke Aussie malam ini juga" ucap Bima sopan.
" Malam ini, lalu Mala ikut gak nak?"
" Iya malam ini bunda, Mala lagi tidur, Bima gak tega buat bangunin dia, Bima pulang sendiri bunda. satu minggu lagi Bima akan kesini dan menjemput istri Bima"