
" Apa benar kamu masih mencintaiku sayang?" Lirihnya pilu
" Sesuatu apa yang akan membuatku menyesal, apa yang tidak aku ketahui sayang."
Semua perkataan Wilson kembali terngiang pada indra pendengaran Devan,
Flashback Restoran.
Setelah kepergian Waiters yang mengantarkan pesanan Devan dan Wilson, mereka kembali melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda, pembicaraan tentang Mala. Lebih tepatnya tentang perasaan Wilson pada Mala, dan perasaan Mala pada Devan.
" Jadi maksudnya kamu mengatakan tentang perasaan mu pada Mala saat malam itu, malam di mana kamu bertamu pada kediaman kedua orang tua Mala" tanya Devan lagi pada Wilson
" Iya, kamu masih ingat kan, waktu itu aku masih cukup lama yang mau masuk ke dalam rumah" jawab Wilson
" Iya, aku masih ingat semuanya, memang nya apa yang kamu katakan pada Mala?"
" Ya aku cuma mengatakan hal yang sejujurnya tentang perasaanku, tentang perasaan yang selama 7 tahun lamanya aku pendam"
Devan menghentikan makannya saat mendengar ucapan Wilson" 7 tahun, selama itu?" tanya Devan penasaran
" Iya, selama 7 tahun aku mencintainya dalam diam, dulu aku dan Mala satu sekolah saat kelas 1 SMP, saat itu aku pernah di bully karna ketahuan menyukai Mala,"
" Sampek begitu?"
" He'em, karna waktu itu aku masih cupu. miskin dan gak pantas buat seorang Mala yang anak dari seorang pengusaha besar"
" Lalu?"
" Di saat semua orang membuly aku habis-habisan, tapi tidak dengan Mala, dia masih tetap bersikap baik, walaupun anak dari orang kaya, namun Mala tidak pernah memilih teman, tapi dia terkenal dengan anak yang sangat manja"
" Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk pindah sekolah karna sudah tidak sanggup dengan semua bullyan itu, di sisi lain, aku juga tidak mau perasaanku terhadap Mala jadi semakin besar, karna waktu itu Mala sedang menjalin hubungan dengan kakak kelas kita, namanya Bili"
" Bili,? sepertinya aku pernah bertemu dengannya" ucap Devan pelan
" Oh ya, dimana?"
" Di restoran waktu aku makan malam pertama sama Mala, lanjutkan ceritanya"
" Sejak saat itu aku memutuskan untuk pindah sekolah, walau pun aku pindah, tapi aku masih sering memperhatikan nya saat pulang sekolah tanpa sepengetahuan Mala, hingga suatu hari, entah bagaimana ceritanya Mala sering bersama dengan alm kakakku, Aluna"
Devan hanya mengangguk paham dengan semua cerita Wilson. " Tunggu, Aluna? sepertinya aku pernah ziarah ke makam yang tertulis nama Aluna atmaja, jangan bilang itu kakak kamu?"
" Iya, itu Aluna atmaja adalah kakak perempuan ku, dia meninggal karna kecelakaan beberapa tahun yang lalu, dan satu hal yang membuat aku selalu memperhatikan Mala dalam diam"
" Satu hal, maksudnya?"
" Jantung kak Aluna masih berdetak dalam diri Mala,"
" Jadi itu alasan kenapa Mala sering datang ziarah ke makan kakak kamu?" ucap Devan
" Iya, mungkin Mala merasa sangat berhutang budi dengan mendiang kakakku"
" Lalu?"
" Di saat aku sudah mulai bisa melupakan Mala, aku harus kembali satu sekolah yang sama dengannya saat SMA, dan hal itu membuat perasaanku kembali seperti semula, semua usaha yang aku lakukan selama 2tahun lebih hilang begitu saja" ucap Wilson lagi
" Setelah lulus SMA, aku tidak lagi bertemu dengannya, tapi kita bertemu lagi beberapa bulan yang lalu, waktu itu aku tidak sengaja melihat wanita nangis di pinggir danau, dan saat aku perhatikan, ternyata dia adalah Mala, aku kembali di pertemukan dengannya"
" Dan malam itu, aku sudah tidak bisa lagi menahan perasaan yang selama 7 tahun lamanya aku pendam, akhirnya aku memutuskan untuk mengungkapkan semuanya, biarpun aku tau Mala tidak akan pernah bisa membalas perasaanku, jawaban dia sudah membuat aku menyerah"
" Jawaban?"
" Iya jawaban, saat aku mengatakan semuanya, Mala mengatakan bahwa dia memang sudah tau tentang perasaanku sebenarnya, tapi Mala hanya bisa menganggap ku sebagai sahabat, tidak lebih dari itu, Mala hanya mencintai kamu Van,"
" Kenapa kamu dari tadi mengatakan bahwa Mala mencintaiku?" tanya Devan yang memang sudah begitu penasaran
" Mala sendiri yang mengatakan malam itu, dia bilang bahwa kamu sudah berhasil membuatnya jatuh cinta, hanya kamu satu-satunya laki-laki yang terbaik menurut Mala, asal kamu tau Van, cinta Mala begitu besar, tapi kenapa kamu membuatnya kecewa"
" Apa maksud kamu Wilson?"
Wilson tak langsung menjawab, pria itu masih mengambil nafas panjang sebelum kembali melanjutkan ceritanya,
" Saat pertemuan kedua kita di Aussie, Mala mengatakan semuanya. tentang kami dan Adelia"
" Apa yang dia katakan?"
"Semuanya, waktu itu Mala sedang periksa kandungannya ke rumah sakit, dan kebetulan Mala datang sendiri tidak ada Bima yang menemani. Mala menceritakan semuanya. tentang luka hatinya"
" Dia bilang. terlalu bodoh karna masih mencintai kamu begitu dalam"
" Dia mengatakan itu?"
" Iya, Mala masih sangat mencintai kamu Van, suatu saat kamu akan menyesali sesuatu" ucap Wilson dan langsung pergi meninggalkan Devan yang masih menyimpan sejuta pertanyaan.
Flashback off
Devan mengusap kasar wajahnya, " Seandainya waktu itu aku tidak datang menemui Adelia, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi" ucapnya dengan penuh penyesalan
Hari hari berlalu, sudah dua minggu Mala di perbolehkan pulang oleh dokter, sudah dua minggu juga Mala hanya bisa berdiam di atas kursi roda, namun Bima begitu telaten merawat istri yang amat di cintainya.
" Sayang, apa kamu sudah siap kembali ke Aussie?" tanya Bima lembut.
Bima memang sudah mengatakan kepada kedua orang tua Mala bahwa akan membawa Mala kembali ke Aussie, karna biar bagaimanapun semua pekerjaan Bima ada di negara itu.
" Aku siap my boy. tapi apa kamu tidak kerepotan kalau aku ikut kesana?"
" Nggak lah sayang, malah kamu adalah sumber semangatku, kamu segalanya sayang" ucap Bima sambil mencium kening Mala,
" Kalau memang kamu sudah siap, bagaimana kalau kita berangkat besok malam saja?"
" Boleh my boy, kapan pun itu aku siap, asal kamu selalu bersamaku"
" Aku akan selalu membawa kamu kemanapun aku pergi sayang, aku begitu mencintaimu"
" Terimakasih my boy. aku sayang kamu" ucap Mala sambil mencium tangan Bima
Karna kebersamaan mereka selama dua minggu, juga perhatian dan ketelatenan Bima merawat Mala, membuat wanita itu sedikit luluh, rasa sayang itu sudah mulai ada dan tumbuh dari dalam hatinya.
Sudah sepantasnya Bima mendapatkan perasaan yang terbalas dari istrinya,
Bima membawa Mala berjemur di taman belakang seperti biasa, hal itu sudah rutin mereka lakukan setiap pagi hingga jam 9. namun tiba-tiba Bima kembali merasakan sakit, namun pria itu masih menahan di depan Mala, Bima tidak mau Mala mengetahui tentang penyakit yang dia alami selama ini,