Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Siapa wanita itu?


"Ternyata cinta kamu sudah sedalam itu sama Mala Van" Ucap Vino yang memang sengaja mengikuti Devan ke ruangannya.


"Aku yakin, pasti kalian masih sama-sama saling mencintai" Ucap Vino lagi.


Devan mengambil ponselnya lalu menelfon Andara. Pria itu akan memberitahukan Andra tentang hal yang menyebabkan Mala sampai lumpuh. Karna memang kemungkinan besar ada dalang dari kecelakaan itu.


Tut....tut...tut...


Tak butuh waktu lama. Sambungan telpon itu langsung di angkat oleh Andra.


πŸ“ž: Halo Van, Ada apa? tumben telfon"


πŸ“ž: Sorry ya Nda, Aku telpon cuma mau mengatakan hal penting


πŸ“ž: Hal penting! Apa itu Van?


πŸ“ž: Ini soal kecelakaan Mala tempo hari


πŸ“ž: Kenapa memangnya Van?


πŸ“ž: Semua itu ada yang merencanakan


πŸ“ž: Apa! kok kamu bisa bicara seperti itu Van?


πŸ“ž: Aku tau dari Vino Dra. Dia bilang katanya orang bengkel yang memberitahu. Bahwa, mobil Doni sudah ada yang sabotase


πŸ“ž: Apa kamu sudah tau siapa pelakunya?


πŸ“ž: Belum Dra, Aku belum sempat ke parkiran kemarin tempat kami nenonton.


πŸ“ž: Maksudnya Kami menonton! Kamu sempat bertemu Mala sebelum kecelakaan itu?


πŸ“ž: Iya Dra, kami gak sengaja bertemu dan nonton bersama di bioskop


πŸ“ž: Kalau kamu sudah tau siapa pelakunya, Hubungi aku Van


πŸ“ž: Baiklah


Setelah mengatakan hal itu, Sambungan telponnya di putus oleh Devan. ingin tidak perduli pada hal yang menimpa Mala. Tapi hatinya tidak bisa membohongi jika Devan sebenarnya sangat penasaran dengan pelaku yang sudah membuat Mala kecelakaan. Terlebih lagi setelah mendapat paket seperti kemaren malam.


"Sebenarnya siapa yang sedang ingin bermain-main denganku!"


Di tempat lain


Setelah mendapat kabar dari Devan, Andra yang kebetulan masih di rumah langsung memberitahu Nara tentang apa yang baru saja di dengar dari Devan. Bukan hanya Nara, di sana juga ada Winarto dan Alundra yang ikut mendengarkan cerita Nara.


"Apa! jadi ada seseorang di balik kecelakaan Mala?" Tanya Winarto yang terdengar Marah


"Iya yah. Devan barusan memberitahu Andra jika orang bengkel mengatakan, Bahwa mobil milik Doni ada yang sengaja memotong kabel remnya.


"Mereka berurusan dengan orang yang salah. ayah akan memberikan pelajaran pada siapapun yang sudah berani mengusik anak papa"


Setelah mengatakan hal itu. Winarto mengambil ponsel dari dalam saku jasnya. pria itu menelpon seseorang untuk mencari tahu siapa yang sudah berani melakukan hal ini pada putrinya. hingga membuat Mala lumpuh seperti saat ini.


πŸ“ž: Halo tuan, Ada apa?


πŸ“ž: Cepat lihat CCTV di parkiran Mall plaza. pada tanggal 1 dua minggu lalu.


πŸ“ž: Untuk apa tuan?


πŸ“ž: Tidak usah banyak tanya, cepat kasih tau apa yang kamu lihat. kalau perlu copy


Setelah mengatakan hal itu, Winarto langsung memutus sambungan telponnya. Pria paruh baya itu benar-benar terlihat marah saat mendengar kabar tentang kecelakaan yang terjadi pada putrinya.


"Sabar yah, jangan Emosi seperti itu" Ucap Alundra sambil menepuk pundak Winarto


"Ini sudah menyangkut keselamatan anak kita bunda, ayah tidak bisa toleransi lagi kalau soal ini"


Alundra hanya mengangguk. Memang seperti itulah suaminya. dia seperti singa tidur yang akan sangat marah jika ada orang yang berusaha mengusik tidurnya.


"Sifa, bagaimana tentang pertanyaan ku tadi malam?" Tanya Rendi pada Sifa. karna semalam Sifa tidak menjawab apapun pertanyaan Rendi. mungkin karna Sifa merasa sakit hati.


"Pertanyaan yang mana?" Ucap Sifa dengan nada yang terdengar dingin.


"Tentang pernikahan"


Mendengar itu membuat Sifa melihat ke arah Rendi "Kalau pernikahan ini hanya demi Tani, sebaiknya jangan pernah mengajak aku untuk menikah. aku tidak mau menikah dengan laki-laki yang tidak mencintaiku"


"Kalau hanya soal menjadi mama bagi Tania. kamu tenang saja. aku akan selalu ikut membantu membesarkan Tania"Ucap Sifa dan langsung berlalu dari hadapan Rendi


"Aku berangkat dulu, semua keperluan Tania sudah aku siapkan" Ujar Sifa yang pagi ini bersikap sangat dingin terhadap Rendi.


Sifa keluar dari apartemen Rendi dengan menahan air mata yang sudah mulai memenuhi kedua kelopak matanya. "Kenapa kamu jahat Rendi. Ternyata selama ini aku sudah salah mengartikan kebaikanmu" Ucap Sifa dalam batinnya.


Di saat satu Sifa masih sibuk mengusap air matanya, fan satu tangannya ingin memencet tombol liff, Tiba-tiba ada tangan lain yang lebih dulu memencet tombol itu.


Karna merasa ada tangan lain, Akhirnya Sifa menurunkan tangannya dari wajahnya. "Wilson, Sifa" ucap mereka secara bersamaan.


Ya, orang itu adalah Wilson.Pagi ini Wilson tidak terlalu sibuk, oleh karena itu pergi ke kantor agar siangan.


Tak lama kemudian, Pintu liff terbuka. Mereka berdua masuk secara bersamaan. Karna hanya berdua, Entah kenapa membuat mereka merasa begitu canggung.


Hingga tiba-tiba liff itu macet dan lampunya mati. Hal itu membuat Sifa tanpa sadar memeluk tubuh Wilson dengan sangat Erat.


Mendapat pelukan seperti itu, Entah kenapa Wilson merasa jantung berdetak lebih cepat dari pada biasanya. Wilson yang reflek malah ikut mendekap Sifa dan membawa kepalanya pada dada bidang milik Wilson.


Sifa membulat kan kedua matanya dan langsung melihat ke arah Wilson. begitu juga dengan pria itu yang ikut menatap Sifa. Kedua manik mata mereka saling bertemu dan saling pandang untuk beberapa saat.


"Ah maaf-maaf Wilson. aku reflek" Ucap Sifa sambil menahan malu


"Iya tidak apa-apa Sifa, aku juga minta maaf tadi gak sengaja malah ikut balas pelukan kamu"


Tak lama kemudian, Liff sudah kembali normal. Sifa dan Wilson merasa begitu canggung setelah kejadian tadi.


Di Aussie


Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 16:00. Bima mencoba menghubungi Mala namun tidak ada balasan ataupun jawaban dari wanita itu.


"Mala kemana ya, aku WA tidak di balas, di telpon juga tidak di angkat" Ucap Bima yang terlihat bingung karna istri tercintanya belum juga membalas pesannya.


Karna kebetulan semua pekerjaan Bima hari ini sudah selesai, Akhirnya pria itu memutuskan untuk segera pulang karna menghawatirkan keadaan Mala yang tidak membalas pesannya.


1 jam kemudian. Mobil Bima sudah tiba Apartemen miliknya. Namun saat masuk pria itu masih belum menemukan keberadaan Mala di ruangan Apartemen itu.


"Sayang, kamu diaman?" Panggil Bima dengan suara lembutnya.


Mendengar itu membuat Mala kembali menahan amarah. Saat pintu kamar terbuka, Mala benar-benar bersikap dingin pada Bima.


"Ngapain pulang!"


Mendengar itu membuat Bima mendekat sambil mengerutkan keningnya.


"Apa maksud kamu sayang? Kamu gak mau aku pulang, Hmm?"


"Tidak perlu sok manis. Siapa wanita itu?" ucapnya yang terdengar begitu dingin.