
"Kak Leon raja gombal deh" Ucap Rani pada Leon dengan wajah yang sudah bersemu merah
Leon menatap Rani sambil mengangkat kedua sudut bibirnya"Kok gombal sih sayang, Ini itu jujur tau. Saat ini yang ada di pikiran aku hanya kamu. Beneran deh. Kalau kamu tidak percaya. Ya harus percaya sayang" Ucapnya sambil tersenyum
"Gimana ya kak. Wajah kak Leon itu seperti tidak meyakinkan saja" Ucap Rani pada Leon
Mendengar perkataan Rani membuat Leon terkekeh. Entah kenapa pria itu benar-benar merasa ada yang lucu dengan kata itu.
"Kok ketawa kak?"
"Bagaimana tidak ketawa. Kamu seperti tidak yakin dengan wajahku"
Di Dalam IGD
"My boy, Kejadian hari ini membuat aku takut"
Bima mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Mala"Takut untuk apa sayang?" Tanya nya sambil menatap Mala
"Aku taku mas Devan akan mengambil mereka berdua. Apalagi saat ini dia sudah tau jika Langit dan Bintang adalah anak kandungnya. Aku tidak mau jika hal itu sampai terjadi my boy" Ujarnya yang terdengar sangat lirih
"Tidak akan ad yang bisa mengambil mereka dari kamu sayang, Kamu yang sudah mengandung dan berjuang untuk melahirkan mereka. Kamu yang berhak atas Langit dan Bintang"
"Tapi aku benar-benar takut my boy. Aku takut jika mas Devan suatu saat nanti akan mengambil mereka"
"Itu tidak akan pernah terjadi sayang. Memang mereka anak kandung mas Devan, Tapi aku tidak akan membiarkan kak Devan mengambil mereka dari kamu. Kalau hanya ingin bertemu, Mungkin kita ijinkan. Setidaknya sebulan sekali itu boleh"
"Oh ya Bim. Apa kamu sudah meminta Reno untuk mengurus Nadia dan melaporkannya ke kantor polisi?"
"Aku hampir lupa sayang. Aku telpon sekarang ya"
Setelah itu. Bima langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Reno. Tak butuh waktu lama, Reno langsung mengangkat sambungan telponnya.
π:Halo tuan muda. Ada apa? Apa ada yang bisa saya bantu?
π:Aku mau kamu melakukan sesuatu.
π:Apa itu tuan?
π:Tolong kamu urus Nadia. Mala mau dia menerima hukuman atas apa yang sudah Nadia lakukan
π:Maksudnya bagaimana tuan. Saya tidak paham?
π:Laporkan Nadia ke polisi. Atas tuduhan penculikan anak. Kamu pasti tau bagaimana caranya
π:Baik tuan. Akan saya lakukan sesuai dengan apa yang tuan muda mau
π:Secepatnya
Setelah itu, Bima langsung memutuskan sambungan telponnya. Reno yang melihat sambungan terputus langsung memasukkan ponselnya kembali pada saku celananya.
Kemudian Reno memanggil salah satu rekannya untuk ikut membantu apa yang sudah Bima perintahkan padanya.
"Ikut aku" Ucap Reno pada salah satu temannya
"Kemana?"
"Sudah ikut saja"
Mereka langsung keluar dari penginapan. Namun kali ini Reno tidak langsung ke kantor polisi, Mereka berdua memutuskan untuk mencari bukti yang kuat buat melaporkan Nadia ke polisi.
Di Tempat Lain
"Kenapa aku merasa khawatir sama Devan ya?" Ucap Nadia sambil terus melajukan mobil itu cepat
"Aku tau. Pasti karna kita memiliki nasib yang sama, Mencintai seseorang yang ternyata adalah pasangan suami istri. Sangat menyedihkan" Ucapnya lagi pada dirinya sendiri
Tak lama kemudian, Mobil itu sudah tiba di apartemen itu. Dengan cepat Nadia memarkirkan mobilnya dan langsung masuk ke dalam apartemen. Wanita itu menanyakan pada resepsionis unit apartemen milik Devan adiwijaya.
"Selamat pagi mbk. Sayang mau tanya, Unit apartemen milik pak Devan adiwijaya di sebelah mana ya?" Tanya Nadia pada resepsionis itu
"Ada di lantai 15 nomor 125 ya mbk" Jawabnya sopan
"Baik mbk. Terimakasih ya"
Setelah tau nomor unit Devan. Nadia langsung naik lift dan mencari unit nomor 125. Saat tiba di lantai 15. Nadia menyusuri koridor sambil mencari unit apartemen nomor 125.
"Ini dia 125" Ucapnya dan langsung menekan bell
Ting...tong.. ting..tong...
Devan yang mendengar suara bell langsung keluar dari dalam kamarnya. Pria itu penasaran dengan siapa yang sudah datang pagi-pagi seperti ini.
Setelah pintu apartemen terbuka, Devan bisa langsung melihat wajah Nadia dengan kedua sudut bibir yang terangkat. "Hai" Ucap Nadia setelah pintu terbuka sambil melambaikan tangannya.
Devan mengurutkan keningnya saat melihat keberadaan Nadia di sana. Wanita itu langsung masuk ke dalam apartemen Devan tanpa memperdulikan Devan yang masih berdiri kena kaget dengan kedatangan Nadia.
"Eh, Ngapain kamu kesini. Datang-datang langsung main masuk aja." Ucap Devan sambil menutup pintu Apartemennya
Nadia tak menghiraukan perkataan Devan. Wanita itu terus masuk dan langsung ke dapur. Sebelum ke sini, Nadia memang sudah membeli makanan untuk Devan dan juga dirinya. Karna Nadia tau, Jika Devan pasti belum makan.
"Ngapain kamu kesana Nadia?" Tanya Devan sambil mengekor di belakang Devan
"Apa sih Van. Aku hanya mau menyiapkan makanan untuk kita. Aku tau kalau kamu pasti belum makan, Iya kan" Ucap Nadia sambil menyiapkan makanan di atas meja
"Gak usah sok tau" Jawab Devan sambil terus memperhatikan Nadia
"Kok sok tau sih Van. Ini tuh Feeling aku kuat"
"Feeling kuat bagaimana?"
"Tau ah. Kamu itu banyak nanya. Sudah sini kamu duduk dan kita makan bersama" Ujar Nadia sambil menarik tangan Devan untuk duduk di kursi sampingnya
Mata Devan memicing saat melihat makanan di atas meja makan. Bagaimana Nadia bisa tau jika Devan menyukai makanan yang sudah Nadia siapkan.
"Sup ayam jahe?" Tanya Devan sambil menoleh pada Nadia
"Iya. Aku sengaja membawakan sup ayam jahe ini. Karna biasanya kalau aku sedang sedih, Aku suka makan sup ini" Ucap Nadia sambil mengambilkan Devan nasi beserta sup nya.
"Oh ya, Kok bisa sama. Aku juga kalau sedang sedih suka minta di buatkan sup ayam jahe sama mama" Sahut Devan sambil terus memperhatikan Nadia
"Benarkah? Kok bisa ya kita memiliki kebiasaan yang sama. Memang kalau sedang sedih dan makan sup ayam jahe, Rasa sedih itu seketika hilang, Walaupun hanya sesaat"
"Ayo di makan. Kamu harus cobain sup ayam jahe ini, Ini aku beli di restoran yang terlihat sangat ramai. Jadinya aku penasaran dan beli 2 porsi. Buat kamu dan juga aku" Ucap Nadia sambil menyuapkan sup beserta nasi ke dalam mulutnya.
Nadia membelalakkan kedua matanya saat sudah merasakan sup ayam jahe itu"Pantas saja restorannya rame, Sup nya seenak ini" Ujar Nadia dan terus melanjutkan makannya.
"Kamu benar Nad. Rasa sup ayam jahe ini sangat enak. Membuat aku teringat dengan sup ayam jahe buatan M...ala" Ucap Devan tanpa sadar
Ternyata begitu banyak hal yang membuat Devan teringat akan Mala. Bagaimana bisa pria itu melupakan Mala. Sedangkan sesuatu yang Devan lewati selalu mengingatkannya dengan Mala.
"Mala lagi. Ayolah Van, Belajar move on"