
"Aku rela melepas mu Mala, Sepertinya kamu memang lebih bahagia bersama dengan Bima. Tidak sepertiku yang hanya bisa membuatmu luka" Ucap Devan san langsung pergi dari sana membawa sejuta luka yang teramat sakit.
Sakit karna melihat wanita yang di cintanya menangis karna ulahnya sendiri. Hingga tanpa sadar air mata Devan terus saja mengalir sampai dia tiba di dalam mobil.
Nadia yang melihat Devan seperti itu mengambil nafas berat, Sepertinya ini semua juga karna Nadia. Karna terlalu ingin menepati janjinya terhadap Nadia membuat Devan harus rela tidak di perbolehkan bertemu dengan anaknya.
"Maafkan aku Van. Maafkan aku" Ucap Nadia yang terdengar lirih
Mendengar perkataan Nadia membuat Devan mengusap air matanya dan menoleh pada wanita itu. "Sudahlah. Mungkin memang seperti ini jalannya. Aku sudah memutuskan untuk merelakan Mala untuk Bima. Mungkin kita memang sudah tidak berjodoh" Ucap Devan lirih
"Kalau jodoh, Tidak akan kemana. Bagaimana pun kalian terpisahkan, Suatu saat nanti akan aja jalan yang akan mempersatukan kalian kembali. Percayalah" Ucap Nadia lembut
Devan tak menjawab. Di hanya mengangkat kedua sudut bibirnya walaupun sangat berat. Hingga tak berselang lama ada sebuah panggilan masuk dari Vino. Dengan cepat Devan menjawab panggilan itu.
π:Halo Vin. Ada apa?
π:Kenapa kamu Van?, Kok lemes begitu. Are you oke?
π:Entahlah. Ada apa kamu telpon? Tumben
π:Apa kita bisa bertemu, Ada sesuatu hal yang mau aku kasih tau sama kamu
π:Sherlock sekarang
Setelah itu Devan langsung memutuskan sambungan telponnya. Devan baru teringat akan Vino. Mungkin jika dia bercerita pada Vino tentang apa yang saat ini mengganggu pikirannya, Devan bisa sedikit rileks.
"Kamu mau ikut aku apa pulang?" Tanya Devan pada Nadia sebelum melajukan mobilnya
"Ikut sih kalo boleh"
Devan tak menjawab. Dia hanya menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobil sport hitam itu menjauh dari gedung rumah sakit. Entah kenapa ucapan Mala selalu terngiang pada indra pendengarannya.
Egois kamu mas. Bisa bisanya kamu membela wanita yang sudah jelas-jelas mengambil anakmu sendiri. Jangan harap setelah ini aku akan mengijinkan kamu untuk bertemu dengan mereka
Kata-kata itu berhasil mengganggu pikiran Devan dan membuatnya tidak fokus. Hingga mobil yang Devan bawa hampir saja menabrak pengendara bermotor di depannya.
Beruntung Nadia masih melihatnya. Kalau tidak, Mungkin saat ini pengendara di depannya sudah menjadi sasaran mobil Devan.
"Devan awas" Teriak Nadia dan langsung berhasil menyadarkan Devan
Mendengar suara Nadia membuat Devan menginjak remnya cepat. Hampir saja pengendara yang ada di depannya menjadi korban Devan.
"Astaga Van! Kamu itu mikirin apa sih. Hampir saja orang lain celaka karna kamu yang tidak fokus mengemudi. Sudah geser, Biar aku yang nyetir" Ujar Nadia dan langsung turun dari dalam mobil Devan
Kali ini Devan memang benar-benar tidak bisa fokus. Karna semua perkataan Mala selalu terngiang pada indra pendengarannya. Selain merasa bersalah, Devan juga merasa terluka melihat Mala menangis karna ulahnya.
"Maafkan aku Mala. Mungkin memang sebaiknya aku menyerah dengan perasaan ini. Kamu sudah seperti bintang yang sangat sulit untuk aku gapai kembali" Lagi-lagi Devan bermonolog dalam batin
Di tempat Lain
Seorang wanita sedang menatap sebuah foto. Di foto itu sangat terlihat jika dia sedang bahagia, Bahagia karna bisa memiliki kedua orang tua yang begitu menyayanginya. Memanjakannya, Dan melakukan apapun yang dia inginkan.
Viona namanya. Seorang wanita cantik dengan postur tubuh yang begitu molek serta kedua mata indah dan juga kulit putih bersih. Anak dari musuh besar Albima sunder yang bernama Lendri.
Melihat foto kedua orang tuanya membuat Viona mengepalkan kuat kedua tangannya. Tujuannya saat ini adalah balas dendam. Balas dendam atas kematian kedua orang tuanya yang sudah disebabkan oleh Albima sunder.
"Aku akan membalaskan apa yang sudah kamu lakukan Bima. Nyawa di balas dengan nyawa. Kita tinggal tunggu kapan waktu itu"Ucap Viona dengan penuh kebencian
Di Tempat Lain
Bima masih terus mendekap Mala dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Pria itu membelai rambut Mala sambil menatapnya dalam.
Hatinya seperti teriris melihat wanitanya menangis seperti itu"Sudah sayang, Biarkan saja Nadia terbebas untuk kali ini. Tapi kalau sampai dia berulah lagi, Aku tidak akan pernah membuat hidupnya tenang" Ucap Bima lembut sambil menghapus kedua mata Mala
"Aku masih tidak nyangka Bim, Mas Devan tega menukar anaknya sendiri dengan wanita itu. Sebenarnya apa yang ada di dalam otaknya"
"Sudah. Jangan di pikirkan. Dari pada kita harus kehilangan salah satu dari mereka, Lebih baik kita mencabut laporan itu bukan"
"Iya my boy" Ucap Mala sambil menatap Bima
Tak berselang lama, Ponsel Mala berdering, Ada sebuah pesan masuk yang ternyata dari sahabatnya, Mega. Memang sudah cukup lama mereka tidak bertukar kabar. Melihat nama Mega tertera di layar ponselnya membuat Mala dengan cepat mengangkat telpon itu.
π:Halo Mega. Apa kabar kamu? Lama gak pernah hubungi aku
π:Aku baik Mal. Maaf ya, Akhir-akhir ini aku sering sibuk. Heheh
π:Iya gak papa. Ngomong-ngomong ada apa kamu telfon? Tumben
π:Kami sekarang ada di mama Mala?
π:Di jakarta. Ada apa memangnya. Tapi aku saat ini sedang di rumah sakit, Anakku sedang di rawat
π:Innalillahi. Rumah sakit mana Mal. Aku kesana deh sekalian mau ngasih kamu sesuatu
π:Rumah sakit BERLIAN Meg
π:Ya sudah, Aku segera otw ya
Setelah sambungan telpon terputus, Mega langsung menghubungi Sindy dan juga Dini. Karna mereka berdua juga pasti akan merasa sangat senang jika tau kalau Mala ada di jakarta.
Di Restoran
Nadia dan Devan sudah tiba di sebuah restoran tempat Devan berjanjian dengan Vino. Dari luar Devan sudah bisa melihat keberadaan Vino di sana.
Melihat itu membuat Devan semakin mempercepat langkahnya. Pria itu ingin segera bercerita tentang apa yang saat ini Devan rasakan.
"Hai Van. Akhirnya sampai juga" Ucap Vino pada Devan
"Hai Vin. Udah lama nunggu?"
"Baru kok Van. Ayo silahkan duduk, Ada sesuatu yang mau aku katakan"
Devan duduk sambil menatap Vino"Apa memangnya Vin?" Tanya Devan penasaran saat melihat raut bahagia dari wajah Vino
Vino tak menjawab. Pria itu hanya mengeluarkan sebuah kartu undangan dan memberikannya pada Devan"Aku mau nikah sama Mega 1 minggu lagi. Dan kamu yang sudah mendapatkan undangan pertama dari aku. Jangan lupa datang ya" Ucap Vino sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
"Nikah. Sama Mega sahabatnya Mala?"
Lagi-lagi nama Mala yang tanpa sengaja Devan sebutkan. Jika seperti ini terus bagaimana caranya Devan move on.
Nadia yang mendengar itu hanya bisa menepuk jidatnya pelan"Terlalu bucin sampai susah move on" Ucapnya sambil melirik Devan