Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Kenapa dunia tidak adil


"Tapi kenapa kamu harus terlihat menyerah seperti itu Bim. Aku mohon, Berjuang demi aku dan mereka" Ucap Mala yang terdengar begitu lirih


Bima mendekat Mala dan membelai lembut rambutnya. Melihat Mala seperti itu membuat Bima juga ikut merasa sakit, Sakit yang lebih terasa dari pada rasa sakit yang saat ini sedang Bima derita.


Bima mengangkat wajah Mala sambil terus membelai rambutnya"Sayang, Apa kamu lupa dengan apa yang sudah aku katakan padamu. Jangan pernah menjatuhkan air matamu lagi, Alu tidak suka hal itu sayang. Apalagi air matamu jatuh karna ku, Aku janji, Aku akan berusaha bertahan dengan apa yang saat ini aku derita" Pungkas Bima sambil mencium kening Mala


"Aku akan berjuang demi kalian. Jangan nangis lagi sayang, Aku tidak suka air mata mu terbuang hanya karna menangisi ku" Ucap Bima yang terdengar begitu lembut


"Tapi aku juga tidak suka dengan kamu yang gampang menyerah seperti itu my boy. Apa kamu lupa jika aku sudah sangat bergantung hidup sama kamu my boy. Kamu adalah segalanya my boy, Aku mohon jangan pernah menyerah"


"Iya sayang, Aku berjanji. Demi kamu dan juga kedua anak kita"Ucapnya sambil membelai lembut rambut Mala


Leon yang sejak tadi menyaksikan Bima dan Mala ikut merasakan apa yang saat ini sedang Mala dan Bima rasakan. Pria itu menatap Bima dan Mala yang tanpa mereka sadari akan berciuman.


"Ya ampun, Di saat seperti ini masih bisa-bisa nya mereka akan berciuman. Di hadapanku lagi. Apa mereka tidak memikirkan bagaimana perasaanku yang menjadi nyamuk disini. Astaga, Dasar bucin" Bima bermonolog dalam batinnya sambil memalingkan wajahnya.


"Ehem" Ucap Leon dan berhasil membuat Bima dan Mala menghentikan kegiatannya.


"Ganggu aja" Umpat Bima yang terlihat menahan kesal pada Leon


"Biarkan saja. Lagian kalau mau ciuman ingat teman dong. Aku tidak ada gandeng. Kenapa kalian tega sekali pada sahabat sendiri"


"Makanya cari pendamping. Jangan kelamaan jomblo. Nanti yang ada kamu gak laku Leon"


"Eitz. Jangan salah, Gini-gini aku mantan most wanted di sekolah. Apa kamu lupa"


"Iya, Tapi itu semua karna efek kamu berteman dengan ku"Ucap Bima sambil menatap tajam Leon


"Sok tampan" Cibir Leon


"Memang aku tampan. Iya kan sayang" Pungkasnya pada Mala


Mala yang mendengar itu hanya bisa mengulum bibir. Terkadang Bima dan Leon memang suka bertingkah seperti anak kecil saat sedang bersama.


"Sudah. Tidak usah di teruskan. Lebih baik sekarang kita istirahat. Perjalanan masih panjang" Ucap Mala pada Leon dan Bima


"Baiklah calon istri masa depan" Ucap Leon yang seketika menerima tatapan tajam dari Bima.


Leon yang melihat tatapan tajam Bima langsung menundukkan wajahnya. Bima memang paling over jika sudah bersangkutan dengan wanita yang sangat di cintanya.


"My boy. Jangan seperti itu, Nanti Leon nangis loh my boy" Ucap Mala sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


"Kamu benar sayang. Dia kan cengeng, Suka nangis"


Leon yang mendengar perkataan Mala dan Bima langsung mengangkat wajahnya"Hello. Apa saya tidak salah dengar. Bukan kah anda berdua yang cengeng. Tidak sadar mengatai diri sendiri" Ucap Leon sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya.


Di Tempat Lain


"Memangnya aku tidak mengatakan ya Van. Kalau hasil tes DNA itu akan keluar dalam 1 minggu lagi" Jawab Nadia sambil melirik ke arah Devan yang saat ini sedang menggendong Langit dan membelai wajah mungilnya


"Oh. Ya sudah, Aku tidak sabar menunggu hari itu"


"Tapi aku penasaran. Kenapa kamu mau melakukan tes DNA dengan anak orang. Bukan kah kamu sudah tau pasti apa hasilnya. Ya pasti mereka berdua adalah anak dari ayahnya lah. Kamu perhatikan wajah mereka, Bukankah wajah mereka terlihat begitu mirip dengan Bima" Ujar Nadia pada Devan


"Berhenti berkata mereka berdua sama dengan Bima. Karna aku sangat yakin, Jika mereka berdua adalah anak-anakku"


"Sejak tadi kamu hanya berkata seperti itu. Kamu belum menjawab pertanyaan ku Devan. Apa yang membuat mu begitu yakin?" Tanya Nadia lagi


"Karna Mala adalah mantan istriku. Mantan istri yang hingga saat ini masih begitu aku cintai" Ucap Devan yang terdengar begitu sendu


Nadia yang baru mengetahui fakta ini langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Tidak pernah menyangka jika istri Bima adalah mantan istri dari Devan.


"Kamu serius. Kamu sedang tidak bercanda kan?" Tanya Nadia yang terlihat begitu penasaran


"Menurutmu bagaimana, Memangnya wajahku terlihat seperti orang bercanda?"


"Tidak sih. Terlihat sangat serius malah. Tapi apa kamu tidak memperhatikan wajah mereka berdua. Itu benar-benar terlihat seperti wajahnya Bima loh Van " Jawab Nadia


Devan yang mendengar perkataan Nadia langsung menatapnya tajam. Devan tidak menyukai perkataan itu" Bisa diam kan. Jangan terus-terusan mengatakan jika mereka berdua mirip dengan Bima. Aku tidak suka itu" Ucap Devan dingin


"Memang kenyataannya seperti itu"


"Berisik. Berkata sekali lagi aku tidak akan membantu masalahmu"


"Baiklah baiklah. Sensi sekali. Seperti wanita yang sedang datang bulan saja" Cibir Nadia pada Devan


Entah kenapa perkataan Nadia berhasil mengganggu pikiran Devan. Karna mau bagaimana pun apa yang Nadia katakan memang ada benarnya. Wajah kedua bayi mungil itu terlihat seperti copy paste dari wajah B


"Kenapa wajah kalian begitu mirip dengan Bima. Apa kalian memang benar-benar anaknya. Tapi kenapa saat menatap kalian seperti ini papa merasakan seperti ada ikatan batin yang sangat kuat" Ucap Devan dalam batinnya sambil menatap kedua bayi itu


Kemudian. Devan memejamkan kedua matanya sejenak. Tiba-tiba saja terbesit rasa takut dalam benaknya. Devan mulai takut jika anak itu benar-benar bukan darah dagingnya.


"Aku tidak sanggup jika sampai terbukti jika kalian berdua bukan anakku. Tapi apakah salah jika aku berharap untuk itu. Apakah aku salah jika mengharapkan hal itu" Ucap Devan yang terdengar begitu lirih


Nadia yang mendengar ucapan Devan seketika mendekat dan langsung memeluknya begitu saja. Entah ada dorongan dari mana Nadia memeluk Devan sambil menepuk pelan punggung pria itu.


"Aku tau apa yang sedang kamu rasakan Van. Terkadang memang hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kamu harus bersyukur, Seenggaknya masih bisa melihat mereka walaupun seandainya nanti hasil tes DNA itu negatif" Ucap Nadia sambil memeluk Devan


"Tapi kenapa dunia harus tidak adik terhadapku Nadia. Aku juga ingin bahagia bersama dengan wanita yang aku cintai" Ucap Devan lirih


Entah kenapa pria itu diam saja saat Nadia memeluk tubuhnya. Devan terdiam membeku dalam pelukan Nadia" Jangan pernah beranggapan jika dunia itu tidak adil. Apakah kamu pernah berfikir di luar sana banyak orang yang hidupnya jauh lebih tidak adil dari pada kita"