
" Maafkan papa wi" Hanya kata maaf yang mampu keluar dari mulut kakek lustama,
" Papa hanya takut jika sifa menjadi bahan untuk mereka membalas papa, papa tidak mau sampai hal itu terjadi. Maafkan papa" lirihnya sangat pilu
Tanpa di sadari air mata wijaya keluar begitu saja, rasa bahagia menyelimuti hatinya saat ini. anak yang amat di rindukannya ternyata selama ini ada, " Putriku " ucap wijaya dan langsung memberikan pelukan hangat pada naura nya, begitu juga dengan sifa yang sudah terisak setelah mendapatkan pelukan hangat yang selama ini iya rindukan. pelukan yang selalu menjadi candu buat naura kecil.
" Maafkan naura pa, maafkan naura, sebenarnya selama ini naura juga tau tentang hal ini, " ucap sifa yang saat ini masih dalam dekapan Wijaya
Mendengar itu membuat pria paruh baya itu melepas pelukan antara mereka, " Maksudnya nak" tanya nya yang mulai penasaran dengan ucapan yang keluar dari mulut sifa
" Iya pa, sebenarnya selama ini sifa sudah tau tentang hal ini. sifa selalu memperhatikan papa,mama juga kak devan dari arah kejauhan untuk sekedar mengobati rasa rinduku. rasa rindu yang teramat dalam. rasa rindu yang selama ini selalu menyiksa ku, apalagi saat mobil papa hampir menabrak ku waktu itu, aku cukup shok. namun rasa sakit yang aku rasakan seketika sirna setelah aku melihat wajah papa dan mama yang keluar dari mobil itu"
" Bahkan aku berpura-pura pingsan saat mama membawaku dalam pangkuan mama, aku sangat merindukan masa kecilku ma,pa."
Tangis haru bercampur bahagia menggema di ruang tengah kediaman kakek lustama. Melihat itu ada rasa bahagia yang mendalam dari hati pria tua itu. rasa bersalah yang selama ini menyelimuti hatinya bisa hilang perlahan, " Akhirnya aku bisa melihat cucuku berkumpul kembali dengan kedua orang tuanya" kakek lustama bermonolog dalam batin.
Tanpa mereka sadari. ternyata sedari tadi Mala menyaksikan semua yang terjadi di ruang tengah itu. karna sebenarnya mala tidak benar-benar tidur. mala hanya berpura-pura tidur di depan bima. dan setelah bima berlalu dari dalam kamarnya, tanpa sepengetahuan bima wanita itu mengikuti langkahnya dengan sangat pelan. Hingga bima tidak menyadarinya.
" Ternyata bima sepupuan sama mas devan, ya ampun... kalau seperti ini apa itu artinya cepat atau lambat aku akan bertemu dengan mas devan" lirih mala dalam batinnya
Mala terus memandangi pria yang sudah beberapa bulan ditinggalnya, namun perasaan yang ada dalam hati Mala ternyata masih sangat besar. air mata yang sudah menumpuk perlahan jatuh dari kedua pelupuk matanya. hatinya terlalu sakit saat melihat keberadaan adelia di antara mereka, "Wanita itu" batinnya lagi.
Di saat mala menatap ke arah adelia ternyata wanita ular itu menyadari keberadaan mala yang ada dibalik gorden. "Siapa perempuan itu. sepertinya aku tidak asing dengan wajahnya, Kayak pernah melihatnya, tapi dimana ya. " ucap Adelia pelan hingga nyaris tidak ada yang mendengarnya, hanya Devan yang sedikit mendengar ucapan adelia,
Mendengar itu membuat Devan melihat ke arah gorden yang tadi sempat di perhatikan adelia, karna mala belum menyadari jika Devan juga adelia melihat keberadaannya, wanita itu masih terus memandang Devan dengan tatapan intents. hingga manik mata mereka bertemu untuk beberapa detik, karna dengan cepat mala langsung pergi dari tempat itu.
Deg, jantung Devan bertalu saat melihat mata indah itu, biarpun hanya beberapa detik namun pria itu bisa merasakan getaran yang dulu sering dia rasakan. " Siapa wanita itu, kenapa jantungku bergetar saat tadi melihat kedua manik matanya" ucap Devan dalam hatinya.
" Kenapa berdiri saja, ayo silahkan duduk semuanya" ucap kakek lustama setelah puas melihat wijaya juga yasmine melepas rasa rindu mereka pada putrinya.
Sedangkan devan masih terus memperhatikan gorden yang ternyata sudah tidak ada siapa-siapa di sana, " Kenapa kamu masih berdiri van, apa yang kamu perhatikan" suara yasmine mengalihkan perhatian devan.
" Oh itu tadi... em tidak ada apa-apa" jawabnya dan langsung duduk di samping bima
Hingga tak lama devan meminum kopi yang tadi sudah di siapkan oleh asisten rumah tangga kakek lustama. setelah meminum setengah cangkir kopi pria itu mengambil kue brownies yang selalu mengingatkannya pada mala, devan terdiam beberapa saat setelah merasakan kue yang ada di tangannya, " Kue ini, kenapa rasanya begitu mirip dengan buatannya" Lagi-lagi mala bermonolog dalam batinnya
Hal itu tentu saja membuat ingatan devan melalang buana pada saat-saat kebersamaannya dengan mala, masa dimana mereka masih tinggal berdua di apartemen, masa dimana hal indah itu selalu terjadi, hal yang selalu membuatnya mengukir senyum dari sudut bibirnya, namun semua hal itu sirna setelah kedatangan adelia dalam hidupnya kembali. hal indah yang selalu mewarnai hari-hari devan hilang dalam sekejap karna ulah adelia.
Mengingat semua itu membuat jantung devan seakan berhenti sejenak. rasa sakit itu kembali hadir menyelimuti hatinya yang sudah terlalu rapuh karna kehilangan mahkotanya,
Adelia yang menyadari adanya perubahan dari raut wajah devan membuat wanita itu semakin menundukkan wajahnya, Adelia bisa merasakan apa yang membuat suaminya tiba-tiba seperti itu. beruntung saat ini mereka lagi ada di kediaman kakek lustama, kalau tidak. mungkin devan sudah menyiksa adelia seperti yang sudah-sudah.
Ya, disaat devan mengingat mala, itu selalu membuat hatinya kembali merasakan sakit, sakit yang dia buat karna ulahnya sendiri. rasa sakit yang tidak pernah terbayang oleh devan sebelumnya. di saat seperti itu, devan akan selalu melampiaskan kemarahannya pada adelia, karan adelia devan kehilangan wanita yang sudah membuat hidupnya lebih berwarna.
Devan mengambil nafas berat. terlalu sakit mengingat kejadian itu, kejadian dimana dirinya benar-benar kehilangan istrinya. saat-saat bagaimana devan melewati hari yang menurutnya adalah mimpi buruk yang tak pernah devan harapkan sebelumnya.
" Devan, kamu kenapa cucuku" tanya kakek lustama yang sedari tadi memperhatikannya
" T..tidak apa-apa kek, hanya saja devan terlalu lelah hari ini, bolehkah devan menginap malam ini"
" Tentu cucuku, kamu sangat boleh menginap di kediaman kakek,"
" Kalau gitu nanti devan tidur sama bima boleh gak kek,?"
Mendengar itu membuat kakek lustama mengulum bibir menahan tawa," Tidur sama bima, tapi di kamar bima ada istrinya. apa kamu mau menjadi nyamuk di antara mereka?"
Semua orang yang ada di sana memang belum mengetahui jika bima sudah punya istri, " Istri?" ucap mereka secara bersamaan