
Mala seketika terdiam saat mendapatkan satu tamparan keras dari Bima. Kedua matanya semakin berkaca-kaca, Masih sulit di percaya jika Bima tega menampar Mala seperti itu.
Bima yang baru menyadari apa yang sudah dia lakukan langsung tercengang sambil menatap tangannya"Apa yang sudah aku lakukan" Ucapnya pelan sambil menatap Aliya yang semakin menangis tanpa suara.
"Maaf kan aku sayang. Maafkan aku yang tanpa sengaja menampar kamu. Aku benar-benar minta maaf sayang" Ujar Bima sambil membawa Mala dalam dekapannya.
Mala hanya diam tak mau menjawab sepatah katapun. Rasanya cukup kecewa saat tangan Bima melayang begitu saja.
"Aku benar-benar minta maaf sayang. Bukan maksudku melakukan itu. Aki hanya tidak suka kamu mengatakan itu. Aku tidak suka dengan kata pembawa sial" Ucap Bima lagi sambil membelai lembut rambut Mala
Saat ini mereka berdua sudah di guyur oleh air hujan yang semakin deras. Tak ada satu katapun yang bisa Mala jawabkan pada Bima.
"Kita pulang ya sayang" Ucapnya sangat lembut
Tanpa mereka sadari, Ternyata ada Devan yang sejak tadi melihat semuanya. Kedua tangan Devan mengepal kuat saat melihat Bima menampar Mala.
"Bisa-bisanya kamu menampar Mala Bim. Jangan salahkan aku jika aku akan kembali merebut Mala dari kamu. Aku tidak rela wanita yang amat aku cintai kamu tampar seperti itu" Ucap Devan sambil terus menatap Bima dan Mala
"Sepertinya keputusan ku untuk merelakan Mala buat kamu adalah keputusan yang salah. Jika kamu melakukan hal itu lagi. Aku benar-benar akan mengambil Mala dari pelukan mu" Ucap Devan lagi dan langsung berlalu dari sana.
Sejenak Devan memejamkan kedua matanya. Hatinya berdenyut nyeri saat melihat wajah sayu Mala. Dan hal itu mengingatkan Devan pada pertemuan pertama mereka satu tahun yang lalu.
"Malam ini adalah malam yang seharusnya menjadi malam indah buat kamu Mala. Tapi lagi-lagi hari indah itu harus terganti dengan hari yang menyesakkan" Ucap Devan sendu
Mas, Kenapa aku harus kehilangan kedua orang tuaku tepat di hari ulang tahunku. Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia malah berganti dengan air mata
Tiba-tiba saja perkataan itu terngiang pada indra pendengaran Devan. Suara Mala yang terdengar sangat lirih saat itu. Tepatnya setelah pernikahan konyol itu terjadi.
Mengingat kata itu membuat dada Devan terasa sangat sakit. Dan hari ini, Mala harus kembali mengulang mimpi buruk itu lagi.
"Kasian kamu Mala. Hari yang seharusnya menjadi hari spesial malah menjadi hari yang paling menyedihkan dalam hidupmu. Aku tau apa yang saat ini kamu rasakan." Ujar Devan sambil memejamkan kedua matanya yang terasa panas
"Kalau aku melihat Bima seperti itu lagi. Aku akan mengambil Mala kembali" Ucap Devan dan langsung kembali melangkahkan kakinya naik ke atas mobil
Sedangkan Bima dan Mala. Saat ini mereka sudah masuk ke dalam mobil Bima. Sebelum melakukan mobilnya, Bima masih menatap Mala yang terdiam dengan tatapan kosongnya.
Bahkan wanita itu tidak menghiraukan bekas tamparan Bima yang terlihat merah. "Kenapa ayah sama bunda juga ikut meninggalkan Mala. Kenapa kalian tinggalkan Mala sendiri" Ujar Mala dalam batinnya
Melihat Mala seperti ini membuat Bima merasa sangat bersalah. Apalagi melihat pipi kirinya yang merah bekas tamparannya beberapa saat yang lalu.
"Maafkan aku sayang. Maafkan aku yang sudah menyakitimu" Ucap Bima lembut sambil menggenggam tangan Mala
"Tidak usah di bahas lagi. Antar aku ke rumah bunda" Jawab Mala yang terdengar dingin.
Bima terdiam. Dia bingung harus menjawab apa. Hingga akhirnya Bima memutuskan untuk melajukan mobilnya membiarkan Mala menatap ke arah jendela sambil menikmati rintik hujan yang semakin deras.
Di Kediaman kedua orang tua Mala
Di sana masih banyak orang yang datang untuk takziah. Kedua orang tua Devan ternyata juga sda di sana. Beberapa saat yang lalu. Saat Devan mengabarkan jika kedua orang tua Mala meninggal karna kecelakaan mereka berdua yang baru tiba di jakarta langsung datang ke rumah kedua orang tua Mala.
"Sabar ya Nara. Semua ini sudah takdir. Ikhlas kan kedua orang tuamu. Insya allah tempat terbaik buat mereka" Ujar Yasmine sambil menepuk punggung Nara
"Semua ini tidak akan pernah terjadi jika Mala tidak meminta bunda buat antarkan makanan, Semua ini tidak akan pernah terjadi tante. Semua ini karna Mala. Mala yang sudah menjadi penyebab kematian kedua orang tuaku"
"Satu tahun yang lalu mama dan papa yang meninggal karna Mala. Sekarang juga Ayah dan bunda yang meninggal juga karna Mala. Mala pembawa sial!" Ucap Nara keras dan penuh penekanan
Mala yang baru saja tiba di sana langsung mengehentikan langkahnya. Lagi-lagi Mala mendengar kata pembawa sial. matanya kembali meluruh. Sakit memang saat di salahkan seperti itu.
"Maafkan aku kak. Tapi aku tidak tau jika semuanya akan jadi seperti ini. Ini semua juga bahkan bukan keinginan aku. Jika boleh memilih. Lebih baik aku yang tiada dari pada mereka" Ucap Mala dengan suara serak
Mendengar itu membuat semua orang yang ada di sana menoleh pada Mala dan Bima dengan baju yang sedikit basah.
Melihat keberadaan Mala membuat Nara kembali menatap adiknya tajam."Semua ini memang gara-gara kamu Mala. Kamu memang biang dari semuanya. Pergi kamu dari sini. Dan jangan pernah injakkan kaki kamu di tempat ini lagi" Ujar Nara sambil menatap tajam Mala
"Pergi kamu!" Ujar Nara lagi sambil mendorong tubuh Mala hingga terduduk di lantai
Tangis Mala semakin pecah, Hingga dia bangun dan langsung berlari keluar dari rumah itu.
"Sayang. Mau kemana?" Tanya Bima sambil mengejar Mala yang sudah berlari semakin jauh
Yasmine dan Wijaya saling lirik sambil mengambil nafas panjang. Mereka berdua benar-benar merasa sangat kasian terhadap Mala. Karna mau bagaimanapun. Yasmine dan Wijaya sudah menganggap Mala sebagai anak perempuan mereka.
"Kasian Mala ma. Ini pasti sangat berat untuknya" Ucap Wijaya lirih sambil menatap kepergian Mala
"Iya pa. Seharusnya disini tidak ada yang perlu di salahkan. Ini sudah takdir yang di berikan untuk Winarto dan juga Alundra" Jawab Yasmine pelan
Mala berlari menjauh dari kediaman kedua orang tuanya. Semua yang Nara katakan terasa sangat menusuk hati Mala. Wanita itu membiarkan air hujan terus membasahi tubuhnya. Yang ada dalam benak Mala saat ini hanyalah satu. Dia merasa sangat bersalah.
"Aku juga tidak mau menjadi penyebab kepergian kedua orang tuaku sendiri. Kenapa semua ini terjadi terhadapku tuhan. Kenapa masalah dalam hidupku selalu saja datang. Kenapa harus kedua orang tuaku. Kenapa. Hiks...hiks .."
Mala tidak memperdulikan mobil yang berhenti telat di samping tubuhnya. Wanita itu duduk sambil memeluk tubuhnya sendiri di pinggir jalan.
"Kenapa harus aku yang selalu merasakan kehilangan. Kenapa dunia sangat tidak adil untukku. Apa memang karna aku hanya anak" pembawa sial" Ujar Mala di sela isaknya
"Jangan pernah mengatakan kamu pembawa sial. Karna kamu bukan pembawa sial. Kamu adalah permata indah yang pernah mereka miliki"
Mendengar suara itu membuat Mala mengangkat wajahnya. "Masa Devan" Ucap Mala sambil mengusap air matanya
Devan duduk sambil memegang payung di tangan kanannya"Jangan pernah menyalahkan diri sendiri atas apa yang sudah terjadi. Karna semua itu adalah takdir yang sudah tercatat dan di gariskan buat mereka. Sesuai apa yang mereka ingin kan sewaktu masih dalam kandungan" Ucap Devan sambil menatap wajah Mala
Setelah itu. Devan mengangkat tangannya dan mengusap sisa air mata Mala"Jangan menangis lagi. Tidak ada yang perlu di salahkan dan jangan menyalahkan diri sendiri. Semua sudah menjadi takdir dan rahasia tuhan" Ucap Devan sambil terus menatap Mala lembut
Devan menatap dalam kedua mata sayu Mala. Sejenak dia teringat akan malam di mana mereka pertama kali bertemu. "Jangan menangis lagi. Nanti cantiknya hilang" Ucap Devan sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
Tak berselang lama.Bima datang dan langsung dan menyingkirkan tangan Devan dari wajah Mala"Jangan sentuh Mala kak. Mala istrinya Bima" Ucap Bima sambil menatap Devan
"Jangan sampai aku melihat kamu menampar dia lagi. Karna kalau sampai hal itu terjadi, Aku akan mengambilnya lagi dari kamu" Ucap Devan dan langsung berlalu dari hadapan Devan