
Melihat api yang semakin besar membuat petugas keamanan itu semakin panik dan langsung memanggil warga sekitar. Entah kenapa malam ini perumahan itu begitu terlihat sepi. Padahal masih jam 22:05
"Kebakaran Kebakaran" Ucap petugas keamanan
Tak lama kemudian. Ada beberapa orang datang dan langsung mencoba memadamkan api yang semakin menjalar kemana-mana. Yasmine yang menyadari adanya asap langsung membuka kedua matanya.
Dan ternyata api sudah mulai masuk ke dalam kamarnya. Wanita paruh baya itu berteriak minta tolong karna begitu shock saat melihat api yang semakin menjadi.
"Astagfirullah api. Ya allah kebakaran" Ucapnya panik
Mayang mengambil ponselnya dan menyempatkan diri untuk menghubungi Devan. Karna hanya Devan yang saat ini ada di jakarta. Adiwijaya memang sedang ada urusan di luar kota.
π: Halo ma. Ada apa?
π: Tolong mama Van. Tolong mama. Rumah kita kebakaran Van
π: Apa!! lalu mama bagaimana?
π: Mama masih terjebak di dalam kamar Van. Tolongin Mama
Mendapat kabar seperti itu membuat Devan dengan cepat memutuskan sambungan telponnya dan langsung keluar dari kamar tersembunyi yang ada di dalam ruangannya.
Beruntung hujan sudah reda sejak 3 jam yang lalu. Devan membawa mobilnya dengan sangat cepat. Pria itu begitu menghawatirkan ke adaan sang mama yang masih ada di dalam kamar rumah mereka.
Karna jalanan tidak terlalu macet. Akhirnya Devan bisa tiba di sana dengan sangat cepat. Jalanan yang sepi memudahkan Devan untuk segera tiba di rumahnya.
Di depan rumahnya sudah terlihat begitu banyak orang yang berlalu lalang menyiram api yang semakin kemana-mana. Pria itu masih belum menemukan keberadaan sang mama di antara mereka.
"Pak RT mama saya kemana?" Tanya Devan pada RT di sana
"Loh Van. Memangnya mama kamu di dalam? Tadi ada yang mengatakan jika kedua orang gua kamu sedang tidak ada di jakarta"
"Iya pak. Mama saya masih di dalam. tadi mama yang sudah menelpon saya dan mengabarkan jika di sini kebakaran.
Di dalam rumah
"Ya allah kenapa apinya semakin besar. Bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari kamar ini" Ucap Yasmine sambil menutup hidungnya dengan kain yang sudah dia basahi dengan air minum miliknya.
Beruntung Yasmine selalu membawa air minum ke dalam kamarnya. Sehingga bisa di gunakan di saat sedang dalam masalah seperti ini
Yasmine mencoba membuka pintu kamarnya. Dan pintu itu langsung terbuka. Dengan cepat Yasmine berjalan ke arah pintu keluar. Namun saat sudah mau sampai di pintu utama. Kakinya terpeleset dan terjatuh lalu pingsan.
Di Luar
"Saya harus masuk dan menyelamatkan mama saya pak" Ucap Devan pada pak RT
"Jangan Devan. Ini apinya sudah sangat besar. Nanti yang ada malah kamu kenapa-napa"
"Saya tidak perduli pak. Yang penting saya bisa menyelamatkan mama saya. tolong jangan halangi saya" Ucap Devan dan langsung masuk ke dalam rumah yang sudah di penuhi dengan api.
Tak lama kemudian. Petugas kebakaran datang dan langsung mencoba memadamkan api yang sudah menyebar.
"Pak, di dalam masih ada 2 orang" Ucap oak RT pada petugas kebakaran
"Baik pak. kami akan mencoba menyelamatkan mereka
10 menit kemudian. Devan keluar dengan membawa Yasmine yang sudah tak sadarkan diri. pria itu membaringkan tubuh sang mama di atas tanah di depan rumah mereka.
Di tempat lain
"Kenapa tiba-tiba perasaanku gak enak ya. Apa ada sesuatu hal yang terjadi. kenapa mama gak angkat telfon dari aku. Apa mama sudah tidur ya" Ucap Wijaya sambil melihat benda pipih di tangannya
Entah kenapa sejak tadi Wijaya merasa begitu gelisah. perasaan tak enak menyelimuti hatinya. tak lama kemudian ada panggilan masuk dari nomor Devan.
π: Halo Van
π: Pa. Rumah kita pa
π: Kamu kenapa Van. kok suara kamu seperti sedang tidak baik-baik saja. Rumah kita kenapa?
π: Rumah kita kebakaran pa
π: Apa!!!
Berita tentang kebakaran kediaman Adiwijaya sudah menyebar kemana-mana. Termasuk kepada Sifa dan kakek Lustama.
Sifa dan kakek Lustama langsung mendatangi kediaman Wijaya yang sudah hampir hangus terbakar tanpa sisa.
"Ayo kek. Kita haru segera ke tempat mama" Ucap Sifa pada kakeknya
"Iya Sifa. Siapa yang sudah melakukan hal ini. Mereka akan membayar mahal jika sampai sesuatu terjadi pada mereka bertiga" Ucap Kakek Lustama
"Kamu telpon Bima" Ucap Kakek Lustama lagi
"Iya kek"
Sifa langsung menghubungi Bima. Di Aussie saat ini sudah dini hari.
Telponnya nyambung namun tidak ada jawaban baik dari Bima maupun Sunder.
"Telponnya gak di angkat kek. Papi sama kak Bima tidak ada yang menjawab"
"Mungkin mereka sedang tidur. Kamu kirim pesan saja. Nanti jika mereka sudah bangun, Mereka pasti akan langsung membaca"
"Baik kek"
Sifa
[ Kak, Rumah papa Wijaya kebakaran. Sepertinya ada yang sengaja membakar rumah papa ] Send
Di tempat lain
"Hahahhah, bagus sekali. Kerja kalian memang sangat memuaskan, semoga saja mamanya Devan tewas. biar dia bisa merasakan apa yang aku rasakan" Ucap Adelia setelah melihat sebuah Video yang Bili kirim ke nomornya
"Aku akan pastikan kamu merasakan hal yang sama Devan" Ucapnya lagi
Di Aussie
"My boy. Ponsel kamu bunyi. kom gak di angkat" Ucap Mala pada Bims yang sedang berbaring di sampingnya.
Mereka memang belum tertidur. Karna Mala dan Bima habis mengulangi bercinta mereka hingga dini hari seperti ini.
"Sudahlah sayang, aku lelah. Kita istirahat dulu ya. Besok aku akan menelponnya" Ucap Bima sambil memeluk tubuh Mala
"Kalau penting bagaimana?"
"Kalau memang penting mereka akan terus menelpon sayang. Tapi ini mereka hanya menelpon sekali"
"Baiklah" Mala ikut tertidur di samping Bima.
Tanpa terasa pagi datang dengan sangat cepat. Mala menggeliat saat mentari sudah mulai mengusik tidurnya lewat celah gorden di dalam Apartemen milik Bima.
Mala mengerjab kan kedua matanya untuk menyesuaikan pencahayaan yang masuk pada indra penglihatannya.
Karna terlalu lah Bima dan Mala tidak menyadari jika Sunder dan Lina menghubungi mereka berdua hingga beberapa kali.
"My boy bangun" Ucap Mala sambil menggoyangkan lengan kekar Bima
"Ada apa sayang. Aku masih mengantuk"
"My boy bangun, ini sudah jam 10 pagi. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari mami dan papi"
"Apa!!"
Mendengar itu membuat Bima langsung membuka kedua matanya yang masih terasa begitu berat. Pria itu mengambil ponselnya dan melihat pesan masuk yang belum Mala buka.
Mata Bima melotot saat membaca isi dari pesan itu.
"Ada apa my boy?"
"Rumah kak Devan kebakaran"
"Apa!!" Ucapnya terlihat begitu terkejut