
Setelah jam kerja selesai, Devan sudah menunggu mala untuk mengajak pulang bersama nya, namun wanita cantik itu tidak memperdulikan ajakan Devan,
Untuk kali ini Mala memang benar-benar marah dan kecewa. sebab Devan sudah pergi dari malam hingga pagi tanpa memberikan kabar sekalipun.
" Ayo sayang, Kamu pulang bareng aku ya?"
Mala masih sedikit acuh sama Devan, Tak menghiraukan ajakan sang suami, wanita itu malah putuskan untuk pulang dengan menggunakan taksi online.
Tanpa menjawab, mala memilih langsung pergi meninggalkan Devan yang masih mematung di tempatnya.
" Mbk Mala ya?" Ucap supir taksi online tersebut.
" Iya pak. Sesuai alamat ya!"
Seperti biasa, Saat lagi sedih mala selalu menyempatkan diri untuk menenangkan pikirannya di sebuah danau, Tempat yang selama ini sering dia kunjungi
" Baik mbk,"
Tanpa banyak bicara supir taksi itu segera melajukan mobilnya, Dan tanpa Mala sadari ternyata Devan sudah mengikuti nya dari belakang,
Sebab Devan masih berusaha untuk mendapatkan maaf dari istrinya.Karena memang jalanan tidak terlalu macet, Akhirnya wanita itu hanya membutuhkan waktu 40 menit untuk sampai di danau pelangi,
Sepanjang perjalanan Devan masih terus berusaha untuk menelfon Mala, Namun hasilnya nihil.
Tak ada satu panggilan pun yang mala jawab, Masih terlalu sakit saat mengingat perkataan Devan tempo hari, Dadanya terasa sesak, air matanya meluruh membasahi pipinya, tangisannya pun mulai terisak kembali,
" Jahat kamu mas!" Lirih Mala dalam batin di sela tangis isaknya, Melihat keadaan Mala, akhirnya supir taksi itu memutuskan untuk bertanya,
" Maaf mbak Mala, Bukannya saya bermaksud lancang, Kalau boleh tau MBK Mala kenapa?"
" Saya tidak apa-apa pak" Jawabannya singkat..
" Tidak usah panggil pak, Panggil saja Angga, Sepertinya kita seumuran"
" Iya Angga aku tidak apa-apa"
" Baiklah jika kamu tidak mau bercerita, aku tidak akan memaksa kamu mala, Menangis lah selagi itu bisa membuat kamu lega" Mendengar perkataan Angga, Akhirnya mala membuka suara,
Karena memang mungkin untuk saat ini supir taksi ini bisa menjadi pendengar yang baik, Tapi wanita itu masih sedikit ragu, dia ingat jika masalah rumah tangga itu tidak boleh di ceritakan pada orang lain, Terlebih lagi dia adalah seseorang yang baru di kenalnya.
" Aku tidak apa-apa Angga, Hanya saja aku sedang mengingat almarhum kedua orang tuaku" Ucap Mala yang sengaja berbohong pada Angga, karena walau bagaimanapun tidak boleh ada yang tau tentang masalahnya sama Devan .
" Innalilahi, Aku bisa mengerti bagaimana perasaan kamu,"
Belum Mala menjawab ternyata mereka sudah sampai pada tujuan Mala, yaitu danau pelangi,
" Terimakasih angga, Kembaliannya buat kamu aja" Lirih Mala pelan
" Terimakasih mala" Sahut supir taksi yang usianya tak beda jauh dengan mala. Mala pun sudah pergi meninggalkan supir taksi yang masih melihat sendu ke arah Mala.
" Kasian sekali Mala, Aku bisa mengerti bagaimana perasaan nya saat ini" Lirihnya dalam batin, Awalnya pria itu ingin menunggu maka, Namun karena ada orderan yang mengharuskan dia untuk segera pergi,
Ditempat lain ternyata Devan sudah memarkirkan mobilnya dan memutuskan untuk segera menyusul sang istri, Namun sebelum itu pria ini sudah membeli es krim kesukaan Mala, Devan berharap kali ini mala mau memaafkan nya.
" Iya aku memang jahat, Tapi aku tidak pernah bermaksud untuk mengecewakan kamu sayang," ucap Devan serta memeluk Mala dari belakang, Seketika membuat Mala sedikit terkejut.
" Mas Devan? Ngapain mas Devan disini?"
" Aku sengaja mengikuti kamu sayang, Aku tidak akan pernah menyerah sebelum dapat maaf dari kamu"
" Aku sudah bawakan kamu eskrim kesukaan kamu, masih sama kan" Ucap Devan dan menyodorkan eskrim rasa strawberry itu untuk Mala,
" Udah gak suka lagi" Jawab Mala ketus
" Tolong maafkan aku sayang, Aku bicara seperti itu hanya untuk membantu Adelia saja"
" Apa!! Membantu Adelia? Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan barusan mas? Yasudah lah mas, lagian kan aku hanya istrimu di atas kertas" Lirih Mala pelan dan meninggalkan Devan
" Sayang, tunggu, Kamu mau kemana?"
" Pulang" sahut Mala singkat
" Kamu pulang bareng aku ya" tawar Devan
" Iya"
Akhirnya mala terpaksa pulang bersama devan, karena cuaca sudah mendung yang kemungkinan akan turun hujan yang deras, dan memang benar, di tengah perjalanan turun hujan deras beserta petir juga angin yang kencang, Seperti biasa wanita itu memang selalu takut akan petir,
Jedarrrr, Suara petir yang begitu kencang membuat Mala kaget dan tanpa sengaja memeluk Devan.
" Mas, Aku takut" lirih Mala pelan dan memeluk Devan dari samping
" Gak usah takut sayang, Ada aku disini" Memang tak bisa di pungkiri jika Mala selalu merasa aman jika berada di samping Devan,
tapi entah kenapa dadanya selalu terasa sesak saat mengingat perkataan Devan pada Rendi, Suami Adelia. Apa mungkin jika Mala sudah benar-benar mencintai Devan??
Satu jam kemudian akhirnya pasangan suami istri ini sampai di kediaman alundra, Orang tua kandung mala, Sebab besok adalah hari pernikahan Anara kakaknya. Setelah masuk rumah Ternyata sudah ada ayah juga bunda nya Mala yang sedang asyik bermain sama Dania anaknya Nara..
" Assalamualaikum bunda, Ayah" Ucap Mala dan mencium Penggung tangan orang tuanya.
" Waalaikum sayang, Sudah pulang nak, sekarang kamu mandi, nanti kita makan sama-sama" lirih alundra pelan
" Mana kak Nara bunda, ?"
" Ada di dapur sayang, Dia lagi bikin susu buat dania"
Akhirnya mala juga Devan masuk ke dalam kamarnya, karena memang belum sholat Maghrib, mereka memutuskan untuk sholat dahulu sebelum turun untuk makan.
Seperti biasa devan selalu menyiapkan 2 sajadah untuknya juga untuk Mala, dan sepertinya amarah Mala sedikit demi sedikit sudah mulai reda,
" Sayang kita sholat jamaah ya" ucap Devan pelan
" Iya mas, Terimakasih sudah menyiapkan sajadah buat aku juga" Lirih Mala lembut
Devan pun memulai sholat dan membaca lantunan surat alfatihah, Seperti biasa bacaan surat yang di bawakan Devan selalu terlihat merdu dan menyejukkan hati Mala,