
" A..aapa!!! menantu saya koma dokter" ucap lina sambil menutup mulutnya
" Iya nyonya, keadaan nona mala saat ini sedang koma, beruntung dia di bawa tepat waktu, kalau tidak. mungkin kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya juga janin dalam kandungannya" terang dokter itu lagi
Mendengar itu kedua lutut nyonya lina menjadi lemas seketika." Menantuku " ucapnya sendu
" Bunda kenapa?" Tanya nara yang melihat sang bunda sedang duduk melamun di taman rumah mereka
" Entahlah nak, tiba-tiba perasaan bunda tidak enak, bunda kepikiran sama adikmu mala"
" Bunda sudah menelponnya?"
" Belum sayang, tolong ambilkan ponsel bunda di ruang tengah ya"
Nara tak langsung menjawab, wanita itu langsung melangkah kan kakinya menuju ruang tengah untuk mengambil ponsel milik alundra sang bunda. " Dania anak mama udah tambah pinter ya" ucap nara pada anaknya yang sedah semakin aktif.
Setelah tiba di ruang tengah, nara mengambil ponsel itu dan langsung kembali ke tempat alundra yang tadi, " Ini bunda"
Alundra langsung mencari nomor anaknya dan langsung menelfon mala. nomornya aktif namun tidak ada jawaban, " Bagaimana bun?"
" Gak di angkat nak, kamu punya nomor suaminya mala gak?"
" Nara gak punya bun, tapi kayaknya mas andra punya, nanti aku akan meminta mas andra untuk menghubungi suaminya mala ya"
Hari hari berlalu, saat ini keadaan bima sudah membaik. pria itu membuka kedua matanya dan melihat sosok dokter leon yang ada di sampingnya" Akhirnya kamu sadar juga bim, sudah satu minggu kamu berbaring di tempat ini" ucap dokter leon pada bima yang baru membuka kedua matanya.
" Memangnya aku tak sadar berapa lama leon?"
" Satu minggu"
" Aaaapa!! Satu minggu, astaga aku harus segera pulang, pasti istriku sangat menghawatirkan ku, tolong cepat buka semua alat ini dari tubuhku leon"
" Bim, kamu baru saja sadar, tunggu satu jam lagi"
" Baiklah, mana ponselku. aku ingin memberi kabar pada mala, pasti dia menghawatirkan keadaanku"
Dokter leon memberikan ponsel bima yang dia simpan di atas meja, namun dokter muda itu melupakan sesuatu, dokter leon belum menghapus foto-foto penyekapan mala yang ada di dalam ponsel bima.
" My wife "
[ Bim, kamu baik-baik saja kan, kenapa tidak menjawab telponku, aku khawatir bim ]
[ Bim aku kerumah mami ya, nanti kalau kamu sudah pulang langsung jemput aku di sana saja ]
Setelah membaca isi pesan yang ada di dalam ponselnya, bima mengambil nafas panjang, " Maafkan aku sudah membuatmu khawatir sayang" ucapnya sendu
Setelah itu bima keluar dari chat istrinya, matanya membulat saat melihat ada nomor tidak di kenal mengirim sebuah pesan gambar, Dokter leon yang baru menyadari itu langsung menepuk jidadnya pelan " Ya ampun. aku lupa belum menghapus semua itu" ucapnya dalam batin.
" Leon, aku minta buka semua ini sekarang, ada hal yang aku selesaikan" ucap bima dingin
" Bim, istri kamu sudah selamat, tapi saat ini dia masih koma di rumah sakit cinta kasih, kedua orang tuamu sedang menunggunya di sana " terang leon pada bima
" Apa!!! istriku koma?"
Mendengar itu membuat bima menjadi naik pitam, kali ini bima benar-benar marah, entah apa yang akan pria itu lakukan, bima orangnya memang lembut. tapi sisi lain yang tidak pernah orang lain tau tentangnya. bima yang lembut akan menjadi kejam saat ada orang yang mengusik hidupnya. bahkan bima tidak segan-segan membunuh orang itu layaknya psikopat. " Kalian akan merakan balasan dari apa yang sudah kalian lakukan pada wanitaku" ucap bima sambil mengepal kedua tangannya.
Bima berlalu dari hadapan dokter leon, ternyata angga masih setia menunggu bima di sana, melihat kedatangan bima dengan mata merah membuat angga menelan ludahnya kasar, " Antar saya ke rumah sakit tempat mala dirawat" ucapnya dingin dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan yang keluar dari mulut keduanya, angga sendiri merasa ngeri dan takut saat melihat ada kemarahan yang tersirat dari raut wajah bima.
" Siapa yang menyelamatkan mala" suara dingin itu akhirnya keluar dan menerpa indra pendengaran angga.
" Tuan sunder dan geng black flower pak" ucap angga pelan.
Bima kembali diam, tak lagi bertanya. cukup paham dengan penjelasan yang di berikan oleh angga, 1 jam kemudian mobil yang di tumpangi bima sudah tiba di rumah sakit CINTA KASIH tempat mala di rawat, pria tampan itu berjalan setengah berlari agar segera tiba di ruangan sang istri.
Dari kejauhan bima sudah melihat kedua orang tuanya yang menjaga sang istri, ". Mami, papi. bagaimana keadaan istrinya bima?"
" Kamu kemana aja bim, kenapa baru pulang" ucap lina dengan suara serak, karna wanita paruh baya itu tidak berhenti menangis, apa lagi saat melihat wajah mala yang penuh luka karna tamparan yang di lakukan lendri.
" Maafkan bima mi, bima ada urusan penting, mala di mana?"
" Kamu langsung saja masuk" ucap sunder lembut
Setelah itu bima masuk ke dalam ruangan tempat mala, lututnya melemas ketika melihat wanita yang amat di cintainya sedang tertidur lemah di atas ranjang rumah sakit, Bima mendekat ke arah mala. amarah pria itu semakin memuncak saat melihat ada luka di wajah cantik istrinya. " Beraninya kalian melukai wajah wanitaku" ucapnya sambil mengepal keras kedua tangannya.
" Maafkan aku sayang, maafkan aku yang tidak ada di saat mereka melakukan itu sama kamu"
" Aki janji. akan memberi pelajaran yang setimpal dengan apa yang mereka perbuat sama kamu"
Melihat keadaan lemah istrinya, membuat dada bima terasa sangat sesak, hingga tak lama butiran bening itu berhasil lolos dari kedua mata elangnya. " Maafkan aku sayang, Jika saja aku tidak lemah, semua ini tidak akan terjadi," Lirih bima sangat pilu
" Kenapa kamu baru baru pulang bim, sepenting apa pekerjaan yang kamu lakukan, asal kamu tau nak. mereka hampir melayangkan nyawa istri dan calon anakmu" suara lina tiba-tiba menerpa indra pendengaran bima. mendengar itu membuat bima membalikkan tubuhnya. " Maksud mami" tanya bima penasaran
" Iya nak, istri kamu sempat di berikan racun oleh mereka, beruntung papi datang tepat waktu, dan anggota black flower yang lain segera membawa pergi mala kerumah sakit ini, kalau tidak....." Lina menghentikan ucapannya
" Kalau tidak apa ma?"
" Mungkin istri dan anakmu tidak akan bersama kita lagi" lanjut lina sendu
" LENDRI" teriak bima sambil kembali mengepal kuat kedua tangannya.
Setelah itu bima melangkah kan kakinya keluar, namun sebelum pergi pria itu mencium kening mala dan perut buncit wanita itu" Cepat sadar sayang, aku akan segera kembali" ucapnya dan berlalu dari ruangan itu