
π:Halo Sif. Kenapa kamu telpon, Tumben?
π:Ke rumah sakit BERLIAN sekarang kak. Urgen
π:Untuk apa ke rumah sakit Sif. Kamu sakit?
π:Tidak usah banyak tanya kak, Cepat kesini. Kak Devan harus tiba disini dalam waktu 10 menit
π:Apa 10 menit. Bagaimana bisa. Kamu tau sendiri bukan kalau jam segini rawan macet
π:Pakai ojek kak. Pokoknya kak Devan harus tiba disini dal waktu 10 menit. Ini urgen sekali kak, Menyangkut hidup dan mati
Setelah mengatakan hal itu, Sifa langsung memutuskan sambungan telponnya. Sedangkan Devan yang melihat panggilan sudah berakhir hanya mengerutkan keningnya. Apa maksud Sifa memintanya untuk segera ke rumah sakit BERLIAN dan harus tiba dalam waktu 10 menit.
"Sebenarnya ada apa. Kenapa Sifa memintaku untuk segera datang ke rumah sakit BERLIAN. Memangnya siapa yang sakit" Ucapnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah mencuci wajah dan juga sikat gigi. Devan baru menyadari jika tadi Sifa sempat mengatakan Urgen dan menyangkut hidup dan mati.
Mengingat perkataan itu membuat Devan dengan cepat mengganti pakaiannya dan memesan ojek online lewat Aplikasi. Sejenak Devan menatap Nadia yang terlihat sangat lelap dalam tidurnya.
Setelah itu, Devan keluar dari dalam penginapan karna ojek pesanannya sudah tiba dan menunggu di depan.
"Sesuai aplikasi ya pak" Ucap Devan pada driver itu
"Baik mas"
"Ngebut pak. Kalau bisa kita harus sampai di sana dalam waktu 7 menit. Bisa kan?"
Tukang ojek yang mendengar itu tentu saja merasa sangat terkejut. Bagaimana caranya ke rumah sakit BERLIAN hanya dengan waktu 7 menit.
"Maaf mas, saya gak berani. Apalagi jalanan cukup macet pagi ini" Ucap tukang ojek itu
Devan mendesah pelan"Kalau begitu biar saya yang bawa motornya" Ucap Devan sambil mengambil alih motor itu
"Masnya serius. Bisa bawa motor?"
"Bisa. Bapak diam saja. Nanti kalau rusak saya ganti rugi"
Setelah mendengar itu, Tukang ojeknya tak lagi menjawab perkataan Devan. Pria paruh baya itu langsung naik pada motornya.
Devan yang sudah sangat paham dengan motor langsung melajukan motor itu dengan sangat cepat. Bahkan Devan menyalip setiap kendaraan yang menghalangi jalannya.
Bahkan tukang ojeknya sampai di buat merem karna takut saat Devan membawa mobilnya dengan sangat cepat. Hingga tak butuh waktu lama, Devan sudah tiba di rumah sakit BERLIAN.
Devan turun dari motornya dan menatap tukang ojeknya yang sudah terlihat sangat pucat. "Aduh mas, Mas bikin saya spot jantung" Ucapnya sambil mengambil nafas panjang
"Maaf maaf ya pak. Saya benar-benar buru-buru soalnya. Ini ongkosnya pak. Terima Kasih ya pak. Sekali lagi saya minta maaf" Ucap Devan dan langsung masuk ke dalam rumah sakit itu.
Dari kejauhan Devan bisa melihat adanya Sifa, Wilson, Leon dan juga Rani di sana. Tapi tidak dengan Bima dan Mala. Karna saat ini mereka berdua sedang ada di dalam ruangan IGD.
Sifa yang melihat kedatangan Devan langsung mengangkat kedua sudut bibirnya. Setidaknya Devan benar-benar datang kesana dan memenuhi permintaannya.
"Sifa, Sebenarnya ada apa kamu meminta kakak untuk datang ke rumah sakit. Siapa yang sakit memangnya?" Tanya Devan penasaran saat sudah tiba di sana
"Golongan darah kak Devan AB- kan?"
"Iya, Memangnya kenapa, Ada apa?" Tanya Devan yang masih begitu penasaran
Betapa terkejutnya Devan saat melihat adanya Mala dan Bima di dalam. Devan semakin tak mengerti saat melihat keberadaan mereka di sana. Apalagi saat Devan melihat Mala terisak dalam dekapan Bima.
Sebenarnya ada apa? Pikirnya
Bima yang melihat kedatangan Devan langsung melepaskan dekapannya pada Mala. Rasanya Bima bisa bernafas lega saat melihat kedatangan Devan di sana.
"Ada apa ini?" Tanya Devan yang begitu penasaran
Mendengar suara Devan membuat Mala mengangkat wajahnya. Rasa paniknya seketika hilang saat mendengar ada suara Devan di sana.
"Tolong aku mas" Ucap Mala dengan suara seraknya yang terdengar begitu lirih
Devan tak langsung menjawab. Pria itu masih itu masih menatap Bima dan juga Sifa secara bergantian.
"Iya kak, Aku mohon bantu kita" Timpal Bima cepat
"Ada apa memangnya. Minta bantuan apa. Kenapa tadi Sifa bilang urgen dan menyangkut hidup dan mati. Sebenarnya ada apa?" Tanya Devan sambil terus menatap mereka secara bergantian
Mala diam tak menjawab pertanyaan Devan. Begitu juga Dengan Sifa yang ikut diam tanpa mau ikut menjelaskan. Hingga Akhirnya Bima yang mengangkat suara dan mengatakan semuanya pada Devan. Biarpun sebenarnya dia juga masih ragu untuk mengatakan pada saudara sepupunya itu.
Namun sebelum menjawab, Bima masih mengambil nafas berat sambil menggenggam tangan Mala erat.
"Bintang kena DBD kak. Dan trombositnya sangat rendah. Oleh karena itu, Dokter menyarankan agar Bintang segera melakukan transfusi darah" Terang Bima ragu-ragu
"Iya, Lalu hubungannya dengan aku apa? Kenapa kalian minta tolong. Minta tolong untuk apa?" Tanya Devan lagi
"Dengarkan dulu kak. Bima belum selesai berbicara"
"Lalu?"
"Golongan darah Bintang ternyata di rumah sakit ini kosong. Di seluruh rumah sakit jakarta juga tidak ada golongan darah itu" Terang Bim lagi
"Iya lalu masalahnya di mana. Kalau di rumah sakit tidak ada, Kenapa tidak kamu saja yang mendonorkan darah untuk Bintang. Bukankah kamu adalah ayah kandungnya, Tentu saja pasti memiliki golongan darah yang sama kan?"
Mendengar itu membuat Bima terdiam beberapa saat."Karna Bintang bukan anak kandungku kak" Ucap Bima sendu
Betapa terkejutnya Devan setelah mendengar apa yang baru saja Bima katakan."A..apa maksud kamu Bim?" Tanya Devan lagi
"Bintang bukan anak kandungku kak. Tapi dia anak kandungnya kak Devan"Pungkas Bima lagi sambil menundukkan wajahnya
"Apa!!"
Tak berselang lama, Rendi kembali lagi ke ruangan IGD. Pria itu mengatakan jika Bintang harus segera melakukan transfusi darah secepatnya.
Bukan hanya Devan. Bahkan Rendi juga merasa sangat terkejut saat mengetahui fakta yang selama ini di sembunyikan oleh Mala dan Bima.
"Apa sudah ada pendonor darahnya?" Tanya Rendi pada mereka
"Sudah dokter Rendi. Tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya" Ucap Mala dengan sangat lirih
"Saya akan melakukan yang terbaik. Kalian tunggu di luar dulu ya"
Setelah Bima, Mala dan juga Sifa keluar dari ruangan IDG. Rendi meminta Devan untuk tidur di brankar yang ada di sebelah Bintang. Pria itu menatap Bintang yang saat ini sedang menutup kedua matanya.
"Anakku. Ternyata Feeling ku selama ini tidak pernah salah, Kamu benar-benar anak kandung papa" Ucapnya sambil terus menatap Bintang