Istri Kontrak Sang CEO

Istri Kontrak Sang CEO
Masa lalu devan


Mala merasa dadanya begitu sesak, matanya memanas, hingga tak lama air mata itupun jatuh membasahi pipi mulusnya tanpa permisi.


melihat itu akhirnya devan membawa mala dalam dekapannya, menenggelamkan wajah cantik istrinya dalam dada bidangnya, membiarkan mala menenangkan diri di sana, devan membelai rambut panjang mala yang tergerai,


" menangis lah jika itu bisa membuatmu tenang sayang"


" hatiku terasa begitu sesak mas, hiks...hiks..."


" kenapa aku tidak bisa melihat kak aluna pada saat terakhirnya," tangis aluna pecah dalam dekapan devan.


" ikhlaskan dia, dia sudah tenang di alam sana sayang"


melihat istrinya sudah mulai tenang, devan pun melepas dekapannya,


wanita itu mengeluarkan ponselnya yang dia simpan di dalam tasnya, kemudian membuka galeri dan memperlihatkan fotonya bersama seorang gadis cantik yang menggunakan kacamata, dengan rambut di kepang dua.


di foto itu mala sedang menggunakan seragam smp, sedangkan wanita yang berkecamata menggunakan dress berwarna hijau toska.


mala memperlihatkan foto selfi yang dia ambil beberapa tahun yang lalu.


deg!!


melihat foto wanita yang bersama mala jantung devan terasa berhenti sejenak, dia membisu, lidahnya seakan kelu untuk bicara.


" aluna? dia kan aluna yang dulu jadi korban bullyng karna telah menyukaiku, astaga, jadi dia sudah meninggal" devan bermonolog dalam hati.


Melihat wajah suaminya yang terlihat shock membuat mala sedikit penasaran.


" Kenapa mas?"


" tidak apa-apa sayang"


" apa mas devan kenal sama kak aluna"


tak langsung menjawab, devan mengambil nafas panjang untuk beberapa saat.


" iya sayang aku kenal, sebenarnya tadi saat kamu menghampiri makam dengan nama nisan aluna atmaja, aku sudah merasa tidak asing dengan nama itu, tapi aku pikir nama kan boleh sama, namun ternyata dia adalah orang yang sama," lirih devan pilu


" dia adalah teman sekolahku sejak SMA, waktu itu dia pernah di bully karna ketahuan diam-diam mencintaiku."


" hah, terus mas"


" waktu itu"


beberapa tahun yang lalu


devan berjalan di koridor sekolah bersama dengan andra dan nara, mereka bertiga sudah bersahabat sejak awal masuk sekolah menengah pertama,


saat itu diam-diam ternyata aluna memperhatikan devan dari jauh, wanita itu melukis wajah devan dan menuliskan tentang perasaannya dalam buku harian yang selalu dia bawa.


bahkan setiap lembar buku harian milik aluna penuh dengan tentang devan, aluna yang murid baru itu pun duduk seorang diri, tidak ada teman yang mau berdekatan dengannya, gadis miskin dan culun.


memang aluna terlahir dari keluarga yang tidak berpunya, ayahnya hanyalah seorang kuli bangunan, sedangkan ibunya sudah meninggal karna kecelakaan 1tahun yang lalu.


aluna bisa sekolah di sana karna beasiswa, dia memang anak yang pintar.sepulang sekolah wanita itu bekerja paruh waktu di sebuah restoran.


namun saat aluna sedang menulis tiba-tiba ada seseorang yang mengambil buku itu dan membacanya dengan keras.


Buku harian aluna...


hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah, tak nyangka jika hari pertama ini aku bertemu dengan laki-laki yang langsung membuat jantungku berdebar, setiap melihatnya rasanya hatiku bertalu-talu.


dia adalah devan, laki-laki tampan, pintar tapi dingin. mungkin dia adalah idaman setiap wanita,


mencintai dalam diam, hanya itu yang bisa aku lakukan,


mungkin masih terlalu dini untuk di bilang cinta, tapi itulah yang aku rasakan, cinta pada pandangan pertama.


****


dia adalah salah satu penyemangat ku saat berada di sekolah, biarpun dia tidak tau tentang perasaanku, tapi aku cukup senang karna pernah mendapat senyuman saat aku baru masuk ke dalam kelas, senyuman itu selalu terbayang dalam benakku.


minggu dan bulan berlalu, hari ini adalah hari kelulusan ku,


tak terasa sudah 2tahun aku mencintai devan dalam diam, apa setelah ini aku tidak bisa melihatnya lagi, entahlah. rasanya semakin hari rasa ini semakin tak bisa aku kendalikan lagi,


" wah wah wah. ternyata si culun suka sama devan" Ucap salah satu siswa.


" tolong balikin buku harian ku, jangan baca lagi, hiks..hiks.."


Takut, malu, itulah yang aluna rasakan,


mendengar namanya di sebut, devan pun datang menghampiri mereka, dia pun mengambil buku harian mala, dan membacanya.


setelah selesai membaca semua isi dari buku harian aluna, devan merobek dan membuangnya,


setelah itu, devan mengucapkan satu hal yang mungkin membuat aluna sakit hati.


" jangan pernah tulis tentang ku lagi, aku tidak suka " dengan nada dingin tanpa belas kasihan.


bagaikan tersambar petir di siang hari, hati aluna teramat sakit,


setelah mengatakan hal itu devan pun berlalu meninggalkan aluna yang sudah terisak. jadi bahan tontonan semua siswa yang ada di sana.


" devan," panggil andra dan nara yang mengikuti devan dari belakang


jahat, memang devan jahat, dia terlalu gengsi untuk mengakui jika dirinya memiliki perasaan yang sama terhadap aluna,


" Maafkan aku aluna, aku terpaksa mengatakan hal itu, sebenarnya aku juga mencintaimu, tapi kita tidak mungkin bisa bersama, karna akulah yang sudah menyebabkan ibumu meninggal, maafkan aku" batin devan.


devan pergi dengan rasa bersalah yang menyelimuti hatinya,


hingga suatu hari devan di tahan polisi karna ketahuan menabrak seseorang sampai meninggal, walaupun itu sebuah ketidak sengajaan,


devan di bebaskan karna keluarga aluna yang mengambil jalan kekeluargaan,


tahun berlalu, sejak saat itulah devan sudah tidak pernah bertemu dengan aluna lagi,


hingga akhirnya devan bertemu dengan adelia,


wanita cantik yang sudah mampu mengambil hati devan dalam pandangan pertama, kisah cinta mereka pun berlangsung hingga beberapa tabun dan memutuskan untuk menikah,


namun adelia pergi tepat di hari pernikahannya.


" gitu sayang, aku rasa tidak perlu menutupi hal ini dari kamu, kamu gak papa kan tentang masa laluku?'


" iya aku gak keberatan tentang masa lalu kamu kok mas, semua itu hanya masa lalu, kita doakan semoga kak aluna tenang di sana ya mas"


" iya sayang" ucap devan sambil memeluk mala.


" mas hari ini aku gak bisa ke kantor, soalnya ada kuliah jam 11 sampek sore, "


" iya sayang, maaf ya nanti aku gak bisa jemput kamu sayang, soalnya aku ada beberapa meeting, insyaallah sampek malem, kamu pulang ke rumah mama ya"


" iya mas gpp, nanti aku pesan taksi online"


Sepanjang perjalanan hanya di lalui dengan keheningan, devan fokus mengemudi, sedangkan mala menatap ke arah jendela.


" jadi kak aluna pernah ada dalam hati mas devan" lirih mala dalam batin.


Setelah sampai di depan kampus, mala pun turun dari dalam mobil devan, kening devan mengerut saat tiba-tiba seseorang memanggil mala dengan sebutan " Honey"


Mala menghampiri orang itu, terlihat dari dalam mobil jika mala cukup akrab dengan laki-laki yang memanggilnya honey,


" Siapa laki-laki itu, berani sekali memanggil istriku dengan sebutan honey" gumam devan kesal.


devan hendak turun dari dalam mobil, namun telfonnya berdering. ada panggilan masuk dari fino.